Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.192. Pengkhianat Sebenarnya


__ADS_3

"Bunda, ada apa? kendalikan diri bunda, bunda masih sakit," ujar Marinka panik saat melihat Lilian yang begitu histeris.


"Iya bunda kakak benar. Jangan mudah terpengaruh, memangnya siapa laki-laki yang ada di video itu?" tanya Mario.


Lilian tidak menjawab pertanyaan kedua anaknya. Wanita parubaya itu malah menunjuk kearah Satyo dengan tangan dan bibir bergetar.


"Manusia terkutuk kamu Satyo. Dasar manusia durjana, Fir'aun kamu. Jadi selama ini kamulah pengkhianat sebenarnya? tega sekali kamu," Lilian kemudian terisak.


Mendengar cacian Lilian, Satyo malah jadi tertawa keras, hingga Lilian yang hilang kesabaran melepas sendalnya dan meleparkannya tepat mengenai mulut Satyo, sebelum akhirnya sendal itu jatuh ketanah. Mendapat perlakuan seperti itu, jelas saja Satyo merasa dipermalukan. Hingga tawanya pun mereda.


"Begitu senangnya kamu menertawakan penderitaan orang lain selama berpuluh-puluh tahun. Kamu lihat saja, suatu saat kamu akan menerima pembalasan yang setimpal!" hardik Lilian.


"Ketegasanmu saat ini sama sekali ndak berguna mbak yu. Itu malah membuatku semakin senang menyiksa mainanku itu," ucap Satyo terkekeh.


Lilian melepas sendal yang satunya lagi, dan hendak melemparkannya pada Satyo lagi. Namun gerakkan tangannya terhenti di udara, saat mendengar kata-kata Satyo.


"Sekali lagi mbak yu melakukannya, maka aku ndak akan berpikir dua kali untuk melenyapkannya. Aku sudah lama menunggu untuk hari ini, seharusnya mbak yu menghargai jerih payahku ini kan?"


"Dasar manusia biadap kamu!" hardik Lilian.


"Emm...biar aku beritahu rahasia besar yang lainnya lagi. Selain aku yang merancang perpisahanmu dengan Dirham, sebenarnya aku juga yang sudah melenyapkan kakakku sendiri."


"Ap-apa?" Mario nyaris tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Tidak hanya Mario, Lilian, Marinka dan Ezra pun terkejut mendengar pengakuan Berani Satyo.


"Aku juga yang mempengruhi kedua orang tuamu, untuk tidak merestui hubunganmu dengan Dirham dan menawarkan kakakku agar menikahimu."


"Oh...kini aku mengerti. Sejak awal kamu memang sudah mengatur semuanya dalam genggamanmu. Begitu senangnya kamu mempermainkan nasib orang lain?"


"Bisa dibilang begitu. Jadi mbak yu, dari awal hingga akhir, sudah dipastikan aku akan memenangkan permainan ini sampai akhir."

__ADS_1


"Sejujurnya dulu aku sangat menyukaimu, aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Tapi aku sangat kecewa saat tahu kamu mengandung anak orang lain. Itulah aku mengatur agar kamu menikah dengan kakakku yang mempunyai kedudukkan , yang jelas pasti direstui oleh orang tuamu yang mata duitan itu. Aku sangat berharap kamu bisa diajak bermain gila dibelakang kakakku. Tapi sayangnya kamu sok suci,"


"Dasar manusia kotor kamu!" hardik Lilian.


Marinka dan Ezra memang sengaja tidak ingin ikut campur, sebelum mereka tahu apa tujuan Satyo sebenarnya.


"Ya. Anggap saja aku begitu. Jadi kalau kamu menginginkan kekasihmu itu selamat, cepat kamu buat surat-surat pengalihan harta atas namaku. Jangan coba-coba mengelabuhi aku, atau aku tidak segan membuat dia benar-benar mati mengenaskan."


"Tidak! aku mohon jangan lakukan itu. Tolong lepaskan dia, sudah cukup kamu menyiksanya selama ini," ujar Lilian terisak.


"Bunda sebenarnya siapa yang kalian maksud itu?" tanya Marinka penasaran.


Lilian kemudian meraih kedua sisi wajah Marinka dengan beruraian air mata.


"Kamu beruntung nak, kamu masih beruntung. Kamu masih punya kesempatan untuk melihat ayahmu. Dia Dirham Diningrat, yang tak lain adalah ayah kandungmu." Jawab Lilian sembari terisak.


"Ap-Apa?" Marinka dan Mario terkejut.


"Ja-Jadi ayah masih hidup?" mata Marinka berkaca-kaca.


Marinka menoleh kearah Satyo dengan tatapan nyalang. Melihat tatapan istrinya yang begitu mengerikan, Ezra jadi tahu apa yang harus dia lakukan. Ezra kemudian mendorong Satyo, dengan tangannya sudah mencekik leher pria itu.


"Aku akan melenyapkanmu sekarang juga. Kami bisa mencari keberadaan ayah tanpa kamu beritahu sekalipun," ucap Ezra.


"Lakukan saja. Tapi anak buahku akan langsung membunuh ayah mertuamu itu jika sampai terjadi sesuatu denganku," ucap Satyo sembari menahan sakit di lehernya dan juga susah bernafas.


Mendengar hal itu Ezra langsung melepaskan tangannya, hingga Satyo terbatuk dan pernafasannya bisa lega kembali.


"Sekarang tidak ada gunanya kehebatanmu disini. Karena aku juga memiliki kekuatanku sendiri. Sekarang lebih baik kamu bantu ibu mertuamu mengurus surat pengalihan harta, agar urusannya cepat kelar dan kalian bisa kembali berkumpul," ucap Satyo.


Ezra mengepalkan tangannya, kalau saja Satyo tidak mengancam akan melenyapkan ayah mertuanya, tentu leher Satyo sudah dia buat patah sejak tadi.

__ADS_1


"Baiklah mbak yu. Aku pergi dulu ya? ingat, lakukan secepatnya, kalau kamu ingin melihat dia secepatnya pula," sambung Satyo yang kemudian mengambil ponselnya yang jatuh ditanah dan pergi sembari bersiul-siul.


Bugh


Ezra yang kesal langsung meninju pohon yang ada di dekatnya.


"Bunda maafkan aku, karena tidak bisa berbuat banyak untuk bunda," ujar Ezra.


"Tidak apa. Itu bukan salahmu, karena posisi kita memang sedang tidak berdaya saat ini. Butuh waktu bagi kita untuk mencari keberadaan ayah kalian, dan bunda tidak ingin mengambil resiko berlama-lama membuat ayah kalian berada di tangannya. Satyo itu orang yang sangat kejam, bunda tidak bisa membayangkan kalau ayah kalian lebih lama lagi berada di tangan dia," ujar Lilian sedih.


"Jadi apa bunda akan menuruti semua kemauannya?" tanya Marinka.


"Kita tidak punya pilihan lain bukan?" ujar Lilian.


"Untuk sementara bersikaplah seolah bunda benar-benar sibuk mengurus surat-surat itu. Aku akan menyuruh orang-orangku untuk mencari keberadaan ayah," ujar Ezra.


"Tidak perlu nak. Sudahlah, bunda juga sudah lelah dengan semua ini. Bunda hanya berharap rakyat bisa mengerti dengan keadaan bunda sekarang ini," ujar Lilian.


"Kenapa malah rakyat yang begitu bunda pikirkan?" tanya Ezra.


"Karena mereka sangat khawatir, saat mendengar Satyo berniat ingin menguasai perkebunan. Mereka tahu betul bagaimana nasib mereka nanti." Jawab Lilian.


"Andai saja kita memiliki semua bukti kejahatannya, pasti semua kesulitan ini akan berakhir," sambung Lilian terduduk di kursi sembari terisak kembali.


"Bunda. Bunda jangan sedih ya? Inka yakin semua badai ini akan segera berlalu, dan kita bisa kembali berkumpul dengan ayah."


"Ah...bunda tidak bisa membayangkan. Bagaimana caranya ayahmu melalui waktu selama puluhan tahun ini, dia pasti sangat menderita," ujar Lilian.


"Sial. Pekerjaannya sangat rapi, hingga bukti kejahatannya selama ini sama sekali tidak ada yang mengetahuinya," ucap Ezra.


"Apa video ini bisa membantu?" tanya Rakha yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.

__ADS_1


Semua orang terkejut saat mengetahui Rakha ada disekitar mereka, tanpa mereka ketahui.


"Uda? apa yang kamu lakukan disana nak? ap-apa kamu menyaksikan semuanya?" tanya Marinka panik.


__ADS_2