
"Zra. Ada masalah dicabang kita yang ada di Paris," ujar Yuda.
"Ada apa?"
"Ini tentang bahan mentah berlian dari pemasok yang tiba-tiba pengirimannya terhambat."
"Apa sudah tahu penyebabnya apa?"
"Belum bisa dipastikan. Para rekan bisnis khawatir kalau kali ini akan terjadi tindak penipuan."
"Berapa kerugian kita, kalau sampai itu terjadi?"
"Kita harus mengganti dana para investor hampir 900 milyar."
"Siapkan tiket keberangkatanku siang ini,"
"Apa kamu ingin pergi sendiri?"
"Ya. Aku tidak mungkin membawamu, kamu harus mengurus semua pekerjaan disini selama aku pergi."
"Maksudku apa kamu tidak ingin mengajak Marinka?"
"Tidak. Dia sedang sibuk kuliah, lagipula aku tidak tahu sampai berapa lama berada disana."
"Benar juga. Ya sudah, aku akan mengurus tiket nya untukmu."
"Emm." Ezra mengangguk sembari tangannya bergerak lincah diatas laptop.
Setelah selesai, Ezra menghubungi Marinka, Marinka yang tengah berada dikantin kampus menerima panggilan itu dengan semringah.
"Dek, kamu dimana?"
"Dikantin kampus bang. Ada apa?"
"Abang tidak pulang kerumah hari ini. Abang akan melakukan perjalanan bisnis ke Paris."
"Ke Paris?"
"Ya. Cabang perusahaan disana sedang mengalami masalah besar, jadi harus segera abang tangani."
"Berapa lama?"
"Abang tidak tahu. Mungkin bisa seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan."
Marinka terdiam seketika, dia jadi membayangkan hari-hari kedepannya sangat berat tanpa Ezra disisinya.
"Dek? kok diam?"
"Eh? kapan abang berangkat?"
"Dua jam lagi."
"Apa abang tidak bisa mampir kekampusku?"
"Ada apa?"
"Eh? tidak apa-apa, tidak jadi. Abang pergi saja, hati-hati ya?"
__ADS_1
"Iya. Kamu baik-baik diruamah ya?"
"Emm." Hanya kata itu yang mampu Marinka ucapkan, karena dirinya sedang menghapus air matanya yang dengan lancang sudah membanjiri wajahnya.
"Ya sudah, abang tutup telponnya,"
"Ya."
Arumi dan Mela saling berpandangan, mereka tidak tahu kenapa sahabatnya itu menangis.
"Kamu kenapa?"
"Bang Ezra mau pergi ke Paris."
"Jadi?" tanya Mela.
"Tentu saja aku pasti akan merindukannya. Terlebih dia bilang tidak tahu kapan pulangnya,"
"Ih...so sweet banget deh kalian ini. Kamu sabar saja, dia pergi juga untuk cari nafkah. Kamu sebaiknya Do'ain saja semoga urusannya cepat selesai, dan cepat pulang. Jadi kalian bisa ehem...ehem lagi deh," goda Arumi.
"Apaan sih rum, ngomonya kok jadi ngawur kesitu?"
"Ngawur apaan? jangan kamu kira kami ngak lihat bekas tanda kissmark dilehermu. Meskipun sudah memudar, tetap aja keliatan." Jawab Arumi.
Wajah Marinka jadi bersemu merah, meskipun dia tidak ingat bagaimana proses percintaan panas dan panjang itu, tapi terus terang dirinya jadi sering menghayalkannya dan jadi ikut penasaran juga.
Menerima panggilan telpon dari Ezra membuat mood Marinka jadi benar-benar buruk. Hingga dirinya begitu sulit menyerap apa yang dosen katakan. Pikirannya hanya melayang dan tertuju pada satu orang saja, yaitu Ezra.
"Ah..beruntung hari ini pulang cepat, karena nggak ada bang Ezra, lebih baik main kerumah mama saja," ujar Marinka ketika sang dosen sudah mengakhiri mata pelajarannya.
"Ya bang?"
"Abang menunggumu diluar pagar."
"Sungguh?"
"Kemarilah, abang tidak banyak cukup waktu. 40 menit lagi pesawatku akan lepas landas."
Tanpa banyak kata Marinka berlari sekencang mungkin kearah luar pagar. Ezra yang menunggu didalam mobil, melihat Marinka yang berlari kearah mobilnya.
Ceklek
Ezra membuka pintu mobilnya, dan Marinka langsung masuk kedalam. Satu hal yang Marinka lupa, saat ini Ezra sedang diantar seorang supir. Tapi karena wanita itu terlalu bersemangat, dia tidak perduli sang sopir cengar cengir melihat dirinya langsung berhambur kepelukkan Ezra.
"Kenapa kamu berlari begitu. Hem? bagaimana kalau kamu sampai terjatuh?" Ezra membalas pelukkan Marinka.
"Abang jangan lama-lama perginya,"
"Kenapa?"
"A-Adek...tidak apa-apa, pokoknya jangan lama aja,"
Marinka tidak sanggup jika harus mengatakan, kalau dia takut rindu berat dengan pria yang ada dalam dekapannya itu.
"Abang akan usahakan pulang cepat, adek baik-baik dirumah ya?"
"Emm." Marinka mengangguk.
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa segera hubungi abang, atau hubungi Yuda."
"Ya."
"Istri pintar," Ezra mencium dan mengusap puncak kepala Marinka.
"Abang sering-sering kasih kabar,"
"Ya. Ya sudah, abang pergi dulu. Takutnya abang terlambat,"
"Emm." Marinka melepaskan pelukkannya meskipun terasa berat.
Bisa Ezra lihat mata Marinka yang sudah berkaca-kaca, ingin rasanya dia membawa wanita itu kembali masuk dalam pelukkanya hingga membuat istri kecilnya itu tenang.
Setelah Marinka turun dari mobil, dan kereta besi itu melaju. Air mata Marinka sudah tidak tahan lagi untuk terjun bebas. Ini kali pertama dia berpisah dengan Ezra selama mereka menikah.
"Kamu tidak boleh seperti ini Marinka, ingat waktumu sudah kurang dari dua bulan lagi. setelah itu kalian akan berpisah selamanya, jadi kamu tidak boleh lemah dan memiliki perasaan lebih pada pria itu. Jangan memanfaatkan kebaikkannya demi egomu sendiri, Kamu akan menghancurkan hati wnaita lain jika sampai kamu melakukannya. Lalu apa bedanya kamu dengan Karin?"
Marinka segera mengusap air matanya dan menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya.
"Sudah puas cipokkannya?" tanya Arumi.
"Apaan sih rum? kami nggak gitu," ucap Marinka tersipu.
"Yah...kok nggak sih?" tanya Mela.
"Kamu percaya saja omongan Marinka. Mana mungkin nggak cipokkan, apa lagi kang mas prabunya mau pergi jauh. Jangan-Jangan tadi coblos kilat didalam mobil," timpal Arumi.
"Kamu kalau ngomong ngawurnya kebangetan Rum, emang supir suamiku mau dikemanakan?"
"Jadi tadi ada supir? berarti beneran nggak cipokkan dong?" tanya Mela.
"Kan aku udah bilang nggak, cuma...cuma peluk doang." Jawab Marinka tersipu.
"Itu juga lumayan Ka. Daripada nggak sama sekali?" ujar Arumi.
"Ho'oh Ka. Minimal buat bekal selama 3 hari," timpal Mela sembari cekikikkan.
"Jangankan 3 hari, bahkan sedetik saja berpisah dengannya, rasanya aku nggak sanggup." Batin Marinka.
"Ya udah kita pisah disini saja ya? aku mau main kerumah mertuaku dulu,"
"Duh...istri idaman banget deh. Udah cantik, sayang suami, sayang mertua lagi," ledek Mela.
"Harus dong. Kalian juga harus gitu nantinya,"
"Padahal kita-kita mau ajak kamu shoping hari ini, mumpung pulang cepat."
"Lain kali aja ya? udah niat soalnya, nanti weekend aja kita perginya, biar puas jalannya."
"Oke deh, janji ya?" tanya Arumi.
"Emm." Marinka mengangguk.
Akhirnya mereka berpisah digerbang kampus. Marinka bergegas menyetop sebuah taksi untuk pergi berkunjung kerumah mertuanya. sementara itu ditempat berbeda, Ezra tengah melakukan pemeriksaan, karena sebentar lagi burung besi yang akan membawanya mengudara akan segera lepas landas.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1