
"Ehem," deheman Marinka melerai pelukkan antara Lilian dan Dirham.
Lilian menyeka air matanya sembari tersipu. Kini dia baru merasakan yang namanya puber kedua.
"Mas. Itu Marinka, putri kita." Lilian menarik jari telunjuk Dirham dan membawanya tepat didepan Marinka.
Dirham menatap mata Marinka, sesaat kemudian dia tersenyum. Dia yakin itu memang putrinya, karena bola mata yang dimiliki oleh Marinka, sudah dipastikan itu adalah gen darinya.
Mata Marinka kembali berkaca-kaca, sesaat kemudan dia berhambur kepelukkan Dirham, yang sudah lebih dulu merentangkan tangannya.
"Ayah. Hikz...." Marinka terisak.
"Maafkan ayah. Maafkan ayah yang tidak pernah melihatmu dan mengajarimu banyak hal. Hikz...." Dirham kembali tergugu.
"Tidak ayah. Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk membuat kenangan baru, kenangan yang lebih indah, karena keluarga kita sekarang sudah sangat lengkap. Ayah memiliki anak, menantu, dan juga kedua cucu yang sangat menggemaskan.
"Hallo kakek," sapa Ezka yang berjalan beriringan dengan Rakha.
"Mas. Mereka kembar. Sama sepertimu yang memiliki saudara kembar," ujar Lilian.
"Benarkah?" Dirham bahagia.
"Hai...cucu-cucu kakek. Kalian tumbuh dengan sangat baik," ujar Dirham sembari mengusap puncak kepala Ezka dan Rakha.
"Jadi keturunan kembar itu berasal dari keluarga ayah?" tanya Ezra.
"Iya. Selain ayah mempunyai saudara kembar yang sudah meninggal, orang tua ayah juga mempunyai saudara kembar. Jadi keluarga kita memang punya keturunan itu." Jawab Dirham.
"Ya sudah. Sekarang lebih baik kita makan siang bersama. Inka sudah menyuruh pelayan dapur untuk menyiapkan hidangan istimewa untuk hari ini," ujar Marinka.
"Oh...jadi kamu sudah tahu kalau ayahmu akan pulang? kalian mengerjai bunda ya?" tanya Lilian yang dijawab kekehan oleh mereka.
Merekapun kemudian menuju meja makan, dan mulai menyantap hidangan di hadapan mereka. Marinka menyolek paha Ezra, karena ingin memperlihatkan pasangan yang tengah di mabuk rindu itu.
Dirham dengan telaten menyuapi Lilian, sesekali Lilian juga menyuapi Dirham. Dan tatapan mata mereka sudah sangat jelas sekali, tatapan orang yang tidak ingin dipisahkan.
"Kalian tidak bisa seperti ini. Selain bisa membuat kami iri dengan kemesraan kalian, sebaiknya kalian harus segera menikah. Tidak lucu kan kalau sampai di gerebek tim kamtip?" goda Marinka yang membuat pasangan berumur itu jadi tersipu malu.
Ezra kemudian merogoh saku celananya, sesuatu yang sudah dia siapkan karena moment ini sudah lama mereka tunggu-tunggu.
"Ayo lamar pacarmu, nanti keburu di embat orang lagi," ujar Ezra sembari menyodorkan sebuah kotak cincin berlian pada Dirham yang menggaruk kepalanya namun tidak gatal.
Dirham meraih cincin indah itu, kemudian melirik ke arah Lilian.
"Mau?" tanya Dirham sembari mengacungkan kotak cincin itu.
"Ayah...kok ngelamarnya nggak romantis gitu? tadi aja kalian memperlihatkan sisi romantis kalian itu. Nah sekarang? mau ngelamar kayak mau ngajak perang," ujar Marinka.
"Mau bagaimana lagi. Ayah ini sudah banyak ketinggalan peradaban dunia. Ayah sudah tidak tahu bagaimana cara pria musim ini menyatakan cinta. Lagipula, apa bundamu masih mau sama ayah?" ujar Dirham tertunduk.
__ADS_1
Lilian menyunggingkan senyumnya. Dirham sama sekali tidak berubah dimatanya, tetap lugu dan manis.
"Perasaanku ke kamu sama sekali tidak berubah mas. Meski kita sudah sama-sama termakan usia. Meski aku sudah pernah jadi milik orang lain. Yang ku khawatirkan malah kamu tidak bisa menerimaku yang sudah bekas orang lain, dan memiliki putra dengan pria lain."
"Tidak Li. Mas tidak mempermasalahkan itu. Mas tahu kamu terpaksa melakukannya, mas tahu kita sama-sama tidak berdaya waktu itu. Jadi, kamu mau kan mengulang kisah yang tertunda bersamaku?" tanya Dirham.
"Emm" Lilian mengangguk." Aku mau mas," ujar Lilian dengan mata berkaca-kaca.
Diham sangat bahagia mendengar jawaban Lilian. Pria parubaya itupun menyematkan cincin dijari manis Lilian, dan kemudian mencium kening wanita itu.
Tepuk tangan meriah itupun pecah dari anak-anak dan cucu mereka. Dan setelah magrib, merekapun melangsungkan prosesi ijab qobul sederhana untuk menyatukan cinta sepasang kekasih yang sudah senja itu.
*****
Satu minggu telah berlalu, Dirham sekeluarga tengah berada dipengadilan, untuk mendengar hasil putusan hakim untuk Satyo. Keluarga Satyo juga berada disana. Karena memiliki banyak istri, tentu Satyo juga memiliki banyak keturunan. Hingga sidang berakhir ricuh, saat hakim memutuskan Satyo dikenakan hukuman mati atas pembunuhan berencana terhadap kakaknya sendiri. Dan juga penganiayaan yang dilakukan Satyo selama bertahun-tahun.
Karena tidak tahan mendengar keributan, terlebih ruang sidang itu dihadiri oleh banyak orang, mata Marinka mendadak berkunang-kunang. Marinka kemudian tidak sadarkan diri.
Marinka segera dilarikan kerumah sakit, karena wajah wanita itu terlihat sangat pucat. Dan ketika sudah mendapat penanganan, dan mengikuti serangkaian pemeriksaan, Marinka kini sedang berada diruangan dokter kandungan.
"Selamat ya pak. Ternyata ibu Marinka tengah mengandung sekarang. Lihatlah! kalian mendapat anugerah yang luar biasa, karena ibu Marinka mengandung bayi kembar," ujar Dokter.
"Ap-Apa? kembar?" Marinka terkejut. Sementara Ezra hanya bisa menutup mulutnya karena terharu dan rasa tak percaya.
Ezra kemudian mencium kening Marinka sembari meneteskan air mata.
"Sangat. Terima kasih sudah hadir dalam hidup abang. Kalau kamu tidak menjadi istriku, sudah pasti abang tidak akan bertemu hal yang membahagiakan seperti ini," ujar Ezra yang ditanggapi senyuman oleh Marinka.
Setelah Marinka pulih, Marinkapun diperbolehkan pulang. Kabar bahagiapun langsung mereka bagikan pada keluarga mereka.
"Sayang. Apa kamu sudah si...." kata-kata Ezra menggantung, saat melihat dua wanita keluar dengan anggun.
Wanita itu tidak lain Lilian dan Marinka. Namun ada yang beda dari penampilan keduanya, karena mereka tengah mengenakan gamis syar'i yang membungkus tubuh indah mereka.
"Apa abang ridho kalau adek menutup aurat?" tanya Marinka.
"Sangat. Jadi abang tidak perlu khawatir lagi karena cemburu." Jawab Ezra sembari terkekeh.
"Lagipula kamu terlihat cantik dan anggun dengan pakaian itu," sambung Ezra yang membuat Marinka tersipu.
Merekapun pergi jalan-jalan ke tempat pariwisata yang ada disana. Ini semua karena Marinka mengidam ingin makan strawberry langsung dari perkebunan.
"Ayah jadi penasaran, bagaimana kalian bisa mendapatkan rekaman video itu. Sementara di video, ayah melihat kalian sudah lengkap berada di tempat kejadian," ujar Dirham sembari menggandeng salah satu tangan Rakha, sementara tangan yang lain digandeng oleh Ezra.
"Tidak ayah. Ayah melewatkan dua orang yang tidak ada disana," ujar Ezra.
"Siapa?" tanya Dirham.
"Rakha dan Ezka. Karena yang merekam video itu adalah Rakha." Jawab Ezra.
__ADS_1
"Be-Benarkah?" Dirham terkejut dan nyaris tak percaya.
"Kenapa kamu bisa sepintar itu. Hem?" Dirham mengusap puncak kepala Rakha.
"Kenapa Lakha sepintal itu? itu kalena Lakha adalah penelus EH Glup. Lakha halus lebih pintal dali papa. Kalena Lakha ingin menggenggam dunia."Jawab Rakha dengan sebuah seringai. Seringai yang tembus hingga 21 tahun kemudian.
*****
"Kata papamu jangan galak-galak. Perlakukan dia dengan baik," bisik Yure.
"Oh...jadi ini rupa pengemis dikeluargaku?" Rakha menghempaskan sebuah pena yang baru Yure belikan seharga 2 juta.
Yure menepuk dahinya, karena baru beberapa detik yang lalu dia memperingatkan Rakha, agar bisa memperlakukan gadis di hadapannya dengan baik.
"Pengemis?" gadis cantik dan seksi yang membawa sebuah map coklat tampak bingung mendengar ucapan Rakha.
"Kalau bukan pengemis apa namanya? bukankah kamu kuliah di luar negeri karena belas kasihan dari keluargaku?" tanya Rakha.
Kini Gadlyn mengerti arah ucapan Rakha yang sangat tidak enak di dengar itu. Meski ucapan pria itu benar, tapi dia sama sekali tidak terima dihina seperti itu.
"Saya kesini atas rekomendasi Om Ezra. Kalau tidak percaya, anda silahkan telpon dia. Saya juga ingin bergabung dengan niat baik. Saya ingin mengabdi disini, itung-itung balas budi." Jawab Gadlyn dengan tangan bergetar.
"Heh...balas budi. Apa kamu pikir EH Group tidak bisa mencari orang yang lebih berkompeten? kamu terlambat kuliah dua tahun bukan? umurmu juga hanya beda 6 bulan denganku. Tidak perlu mengerutkan dahimu begitu, aku bahkan tahu seperti apa keluargamu itu sejak aku berusia 4 tahun."
Gadlyn menghela nafas panjang. Dia jadi teringat ucapan Ezra yang tidak perlu meladeni ucapan sarkas yang Rakha lontarkan.
"Jadi aku harus bagaimana tuan Rakha yang terhormat?"
"Apanya yang bagaimana? jangan karena kamu dapat rekomendasi dari papaku, jadi aku harus menerimamu bekerja disini? aku ini sangat selektif, aku tidak bisa membiarkan anak seorang residivis dan anak dari orang gila berkeliaran disekitarku. Bisa jadi kamu memiliki niat terselubung."
Mata Gadlyn berkaca-kaca mendengar hinaan yang Rakha lontarkan, dan Rakha paling tidak suka melihat wanita menangis.
"Keluar!" hardik Rakha yang membuat Gadlyn dan Yure terjengkit kaget.
"Rakha. Kamu..."
"Apa kamu ingin mengajariku?" tanya Rakha pada Yure.
"Tapi Om Ezra..."
"Ah...ya sudah, kalau kamu memang ingin bekerja disini. Kamu bisa bekerja dari titik nol. Aku nggak mau kamu mengadu pada papaku karena tidak diberi pekerjaan."
Gadlyn seketika menyeka air matanya. Karin sudah berpesan banyak padanya, meski Rakha bersikap kasar jangan pernah mengambil hati.
"A-Aku bekerja sebagai apa?" tanya Gadlyn.
Rakha menyeringai, seringai yang membuat Gadlyn jadi takut.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1