Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.38. Bantuan


__ADS_3

"Bagaimana? jadi kita akan menggunakan disign siapa?" tanya Marinka.


"Tentu saja disignmu, ya nggak teman-teman?" tanya Arumi.


"Iya Ka. Dari semua disign, hanya disignmu yang paling bagus menurut kami," ujar Rehan.


"Apa kalian yakin ingin menggunakan disignku? aku takut tim kita akan kalah dan mendapat nilai yang buruk," ujar Marinka.


"Jangan pikirkan hasilnya, sudah bagus kita memiliki disign yang bisa kita buat sebagai karya nyata. Apapun hasinya, kita tidak boleh saling menyalahkan, yang penting kita sama-sama sudah bekerja keras," timpal Mela.


"Benar kata Mela, kita nggak akan menyalahkanmu kok. Nanti apapun kekurangan dari disign, kita bisa memperbaikinya saat akan menjadikannya karya nanti," ujar Fandi.


"Baiklah kalau begitu, sepakat!" ucap Marinka sembari mengulurkan tangannya.


"Sepakat," tangan teman-temannya yang lain menimpa tangan mungilnya.


"Nah, sekarang kita mulai mencari bahan apa yang bagus digunakan untuk pembuatan baju pengantin ini, juga pernak perniknya," ujar Marinka.


"Apa kamu tidak mempunyai kenalan orang yang menjual atau penyewa baju pengantin?" tanya Mela.


"Memangnya kenapa?" tanya Marinka.


"Tentu saja kita bisa bertanya padanya, walau bagaimanapun orang seperti itu pasti memiliki segudang pengalaman. Kita bisa bertanya-tanya tentang bahan yang bagus, bukan meminta dia membuatkan karya kita." Jawab Arumi.


"Benar juga. Sepertinya aku punya seseorang yang bisa kita tanyai, tapi aku tidak bisa memastikan dia mau membantu kita atau tidak," ucap Marinka.


"Kenapa begitu?" tanya Fandi.


"Ya walau bagaimanapun ini ladang bisnis orang, siapa tahu dia keberatan memberitahu kita." Jawab Marnika.


"Tapi ada baiknya kalau kamu mencobanya dulu," ucap Arumi.


"Ya nanti saat pulang aku akan bertanya detail dengannya. Kalau jam segini pasti orangnya sangat sibuk." Jawab Marinka.


"Ya sudah begini saja, kalau kamu sudah bertanya dan mendapatkan jawabannya, kita akan berbagi tugas untuk mencari semua bahan-bahan yang diperlukan. Jangan lupa perincikan semua biayanya," ujar Mela.


"Baiklah, begitu juga bagus. Semoga saja proyek kita berjalan lancar, dan hasilnya memuaskan," ucap Marinka.


"Amiin." Teman-Teman Marinka menjawan bersama.


Marinka melirik kearah jam tangan yang ia kenakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore saat ini.


"Kira-Kira kalau aku minta ditemani bang Ezra ketempat kak Yuanita, keberatan nggak ya? aku nggak berani kalau datang menanyakannya sendiri," batin Marinka.


"Tapi kalau aku nggak nanya, waktu kami sangat terbatas. Apa sebaiknya aku telpon saja dia?"


Setelah mempertimbangkan begitu lama, akhirnya Marinka memberanikan diri membuat panggilan untuk Ezra. Ezra yang kini tengah mengadakan sebuah rapat, melirik kearah ponselnya yang berderit.


"Marinka? selama kami menikah, baru kali ini dia menelpon duluan, apa terjadi sesuatu?" batin Ezra.


Ezra menghentikan sejenak rapatnya, orang-orang yang mengikuti rapat sedikit merasa heran, karena tidak biasa Ezra mengangkat telpon ditengah-tengah rapat berlangsung. Pria itu biasanya selalu mengabaikan siapapun yang menelponnya.

__ADS_1


"Ya Dek?" tanya Ezra.


"Apa abang sedang sibuk?"


Ezra menatap orang-orang yang tengah menatap kearahnya.


"Tidak. Abang sedang senggang, ada apa?"


"Emm. Sebenarnya adek butuh bantuan abang, tapi adek takut mengganggu pekerjaan abang."


"Katakan saja, apa yang bisa abang bantu buatmu?"


"Ini masalah proyek dikampusku kemarin, jadi teman-teman memutuskan akan menggunakan disignku untuk hasil karya nyata. Masalahnya kami tidak memgerti bahan apa yang bagus untuk membuat baju pengantin. Adek pengen menanyakan hal itu pada kak Yuanita, tapi nggak berani datang sendiri tanpa abang."


"Bagitu? kamu sekarang ada dimana?"


"Masih di kampus."


"Tunggu abang 30 menit lagi, abang akan datang menjemputmu disana."


"Sungguh? apa abang benar-benar tidak sibuk?"


"Tidak. Jangan khawatirkan itu,"


"Baiklah, adek akan menunggu abang disini. Abang hati-hati ya?"


"Emm."


"Meeting kita tunda sampai besok, kalian boleh melanjutkan pekerjaan yang lain sampai jam pulang kerja," ujar Ezra yang kemudian langsung bangkit dari tempat duduknya.


Yuda menyunggingkan senyumnya, dia sangat senang Ezra sedikit berubah sejak Marinka hadir dalam hidup pria yang terkenal galak dikantor.


Sementara itu para peserta rapat berbisik-bisik juga ada yang merasa senang, karena rapat segera berakhirnya. Setiap kali rapat, mereka selalu dilanda ketegangan.


"Kamu mau pergi sama Marinka? kemana?" tanya Yuda kepo.


"Marinka butuh bantuanku, dia ingin minta ditemani ke galery Yuanita untuk menanyakan hal tentang proyek kampusnya."


"Kenapa kamu harus repot datang kesana? bukankah kamu bisa menyuruh Yuanita untuk menelpon Marinka? dia pasti akan menjelaskan semuanya dengan detil,"


"Benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku?" batin Ezra.


"Marinka minta ditemani kesuatu tempat," Ezra mengelak karena tidak ingin terlihat bodoh didepan Yuda.


"Ya baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang," ujar Yuda.


Baru akan melangkah pergi, ponsel Ezra berdering kembali, dan itu berasal dari Jihan. Namun diluar dugaan Yuda, Ezra malah mengabaikan panggilan itu dan segera pergi menuju mobilnya.


"Aku sangat berharap kamu akan mengabaikan Jihan selamanya Zra, ini merupakan suatu kemajuan untuk hubunganmu bersama Marinka. Aku sangat berharap Marinka bisa benar-benar membuatmu jatuh cinta selamanya," ucap Yuda lirih.


Sementara itu Ezra memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin terlambat menjemput Marinka. Saat tiba didepan kampus, Ezra melihat Marinka sedang duduk disebuah kursi sembari meminum sesuatu disebuah cup plastik. Marinka tampak mengayun-ayunkan kakinya sembari sesekali melihat kearah ponsel ditangan Kananya.

__ADS_1


"Udah lama nunggu?" Ezra mengusap puncak kepala Marinka.


Senyum semringah terbit dari bibir Marinka, saat melihat pria itu datang.


"Apa yang kamu minum itu?" tanya Ezra.


"Es cendol."


"Cendol?"


Ezra meraih cup minuman itu, tanpa aba-aba langsung menyeruputnya dari sedotan yang sama dengan Marinka.


"Eh...bang," Marinka yang tidak sempat mencegah hanya bisa pasrah saat Ezra menyeruput dengan nikmat es cendol yang dia miliki.


"Rasanya enak dan segar," ujar Ezra setelah puas menyeruput es cendol milik Marinka.


"Abang kalau mau kenapa nggak bilang? adek bisa membelikan yang baru buat abang,"


"Kenapa?"


"Kan jorok bang, itu bekas adek."


"Tidak apa-apa, bekas istri sendiri ini," ujar Ezra.


Lagi-Lagi perkataan Ezra membuat perasaan Marinka menghangat. Dirinya seolah merasa mendapat pengakuan dari pria yang diam-diam selalu membuatnya gelisah akhir-akhir ini.


"Marinka, kamu nggak boleh baper, kalau sampai kamu salah faham, itu akan membuat kamu kembali sakit hati nantinya. Kamu harus membentengi diri kamu mulai sekarang," batin Marinka.


"Apa kita jadi pergi?" tanya Ezra.


"Jadi dong." Jawab Marinka.


"Yuk,"


Ezra mengulurkan tangannya, Marinka meraih tangan itu kemudian pergi kearah mobil sembari bergandengan tangan.


"Apa kira-kira kak Yuanita tidak akan keberatan bang?"


"Kenapa kamu berpikiran begitu?" tanya Ezra sembari memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Ya kan ini ladang usahanya, adek takut dia berpikir yang tidak-tidak tentangku."


"Dia tidak akan punya kesempatan berpikir seperti itu, job nya sangat banyak. Lagipula dia bukan tipe orang yang pelit dengan ilmu, kamu adalah generasi penerus dimasa depan, tentu dia tidak keberatan untuk berbagi ilmu denganmu."


"Benarkah?"


"Emm. Kamu jangan khawatir ya?"


"Ya."


Perasaan Marinka sedikit lega, karena mendapat penjelasan dari Ezra. Marinka berharap proyeknya berjalan dengan sukses

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2