
Ruangan Yure tampak ramai dikunjungi keluarganya. Saat ini Yuda, Yugie, Regia, dan calon istri Yugie sudah berada diruangan itu untuk menjenguk Yure. Sementara itu saat ini Keluarga Ezra baru tiba dirumah sakit, untuk melihat keadaan Yure.
Kriekkkkkk
Ezka yang tidak sabar, langsung menekan handle pintu. Tatapan matanya langsung bertemu, saat pertama kali membuka pintu itu. Air mata Ezka sudah seperti air mancur. Wanita itu langsung berhambur kepelukkan Yure.
"Hikz... aku sangat takut," ujar Ezka terisak.
"Sudah. Aku baik-baik saja. Mana mungkin aku mati semudah itu. Aku sudah berjanji akan menemanimu saat melahirkan anak-anak kita, jadi aku harus menepatinya bukan?" ucap Yure sembari membelai rambut panjang Ezka.
"Pokoknya sampai aku lahiran nggak boleh pergi-pergi lagi. Diam aja di kantor sini," ujar Ezka.
"Iya." Jawab Yure yang ingin menenangkan perasaan Ezka.
"Sebenarnya bagaimana caranya kamu bisa selamat dari kecelakaan itu?" tanya Ezra yang penasaran.
Sebenarnya tidak hanya Ezra, Semua orang yang ada disitu juga ikut penasaran. Pasalnya dari 102 penumpang, hanya Yure dan Gadlyn yang selamat.
"Itu merupakan mujizat dari Tuhan. Aku sempat berpikir, bahwa aku tidak akan bertemu kalian lagi. Terutama bertemu istri dan anak-anakku. Tapi karena teringat Ezka dan anak-anak, aku jadi punya keinginan yang kuat agar bisa selamat dari musibah itu," ujar Yure sembari mengelus pipi Ezka.
Flashback On
"Kepada para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan melewati cuaca dengan hujan dan petir. Para penumpang dipersilahkan duduk ditempat masing-masing, dan kencangkan sabuk pengaman anda," ujar Co Pilot.
Gadlyn duduk disebelah Yure dan berada di dekat jendela dan juga pintu darurat, melihat kearah luar jendela. Awan mendung memang terlihat sangat menggumpal, beserta hujan dan petir yang terasa dekat dari wajahnya.
Yure tahu saat ini Gadlyn sangat takut, namun ketakutan Gadlyn ternyata memang terbukti saat tiba-tiba bagian ekor pesawat terkena sambaran petir. Seluruh penumpang mendadak panik, terlebih saat Pilot dan Co Pilot memberitahu ada kerusakan dibagian belakang pesawat, dan jika memungkinkan akan melakukan pendaratan darurat.
"Tu-Tuan. Aku takut," ucap Gadlyn yang sudah terisak.
Gadlyn bertambah takut dan panik saat terdengar ada sebuah ledakan dibagian ekor pesawat. Pesawat mulai hilang keseimbangan, jerit tangis penumpang sudah memenuhi ruang pesawat.
Pilot dan Co pilot akhirnya memberitahu bahwa pesawat diperkirakan akan jatuh ke laut, dan pesawat sudah berada di ketinggian 3000 kaki.
"Tuan. Kita mau kemana?" tanya Gadlyn, saat Yure melepaskan sabuk pengaman miliknya.
"Gadlyn. Maukah kamu bertaruh hidup dan mati bersamaku? Apa kamu ingin mati dalam kondisi meledak bersama pesawat?" tanya Yure.
"Tidak." Jawab Gadlyn dengan gelengan kepala yang sangat cepat.
__ADS_1
"Kita tidak punya banyak waktu lagi. Kita harus melakukan petualangan ekstrim sekarang juga. Minimal jasad kita masih utuh dan mudah dikenali," ujar Yure yang membuat air mata Gadlyn mengucur deras.
Pesawat tiba-tiba menukik kebawah, Yure segera menyeret Gadlyn agar segera maju. Yure tidak mengidahkan peringatan pramugari, yang menyuruhnya agar tetap berada di tempat duduk.
Srettttt
Dengan cepat Yure membuka pintu darurat. Melihat Yure membuka pintu, sepasang suami istri jadi ikut membuka sabuk pengaman mereka. Saat ini ketinggian pesawat diperkirakan tidak sampai 1000 kaki lagi.
"Tu..."
Belum sempat Gadlyn berkata-kata, Yure sudah menyambar tubuh Gadlyn, agar terjun kebawah bersamanya. Tubuh Yure dan Gadlyn sempat terombang ambing di udara, namun Yure semakin mengencangkan pelukkannya pada Gadlyn.
Yure bahkan masih bisa mendengar, saat Gadlyn bergumam menyatakan perasaannya pada Rakha.
Boom
Pesawat yang menukik tajam itu meledak di udara, padahal sudah hampir mencapai laut.
Ntuuuuuummmmm
Tubuh Yure dan Gadlyn jatuh berdentum dilaut, disusul dengan suara dentuman lainnya. Yure dan Gadlyn yang jatuh ke laut sempat terpisah. Bahkan Yure dan Gadlyn tidak sadarkan diri karena tubuh mereka sempat terbentur sesuatu di dalam laut.
Yure yang terdampar dibibir pulau perlahan membuka matanya. Pria itu melihat ada langit yang membentang luas dihadapannya.
"Heh...apa aku masih hidup? atau sudah berada disurga?" ucap Yure.
Yure menolehkan kepalanya dan melihat Gadlyn yang juga terdampar tidak jauh dari tempatnya terbaring.
"Gadlyn...." ucap Yure lirih.
Yure perlahan mencoba berdiri. Dia ingin menghampiri Gadlyn yang berwajah sedikit pucat itu.
"Gadlyn...Gadlyn...hey...bangun!"
Yure menepuk-nepuk wajah Gadlyn, dan kemudian memeriksa nadi Gadlyn. Dia cukup lega karena Gadlyn masih hidup.Yure kemudian menekan-nekan dada Gadlyn, dan sesaat kemudian gadis itupun terbatuk dengan mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya.
"Tuan. Kita selamat?" wajah Gadlyn semringah seketika. Gadis itu bahkan berhambur kepekukkan Yure, karena terlampau senang.
Namun pandangan mata mereka kemudian tertuju pada dua orang yang ikut terdampar bersama mereka.
__ADS_1
"Tuan. Apa mereka juga korban pesawat yang kita tumpangi?" tanya Gadlyn.
"Mungkin." Jawab Yure.
"Ssstttt...sakit..." Gadlyn meringsis kesakitan. Karena ada banyak luka yang menggores kulitnya.
"Bersabarlah. Tim SAR pasti akan segera membantu. Sekarang lebih baik kita pastikan kondisi dua orang itu," ujar Yure.
"Emm." Gadlyn mengangguk.
Yure dan Gadlyn kemudian menghampiri kedua orang yang sedang terdampar bersama mereka. Melihat wajah kedua orang itu, Yure dan Gadlyn teringat bahwa mereka adalah penumpang yang duduk berada disamping tempat duduk mereka.
Namun sayang. Kedua orang itu tidak seberuntung mereka. Kedua orang itu sudah tidak bernyawa. Mengetahui hal itu, tentu saja Gadlyn jadi histeris. Saat jatuh dari pesawat saja dirinya sudah mengalami syok, karena sebenarnya Gadlyn cukup takut ketinggian. Dan sekarang dia harus melihat dua mayat yang mengenaskan, tepat berada di depan matanya.
"Tuan. Bagaimana ini?" tanya Gadlyn sembari menangis.
"Mau bagaimana lagi. Kita harus tetap membiarkan mereka disini. Kita tidak mungkin membuaangnya ke laut kan?"
"Tapi aku takut tuan." Jawab Gadlyn.
Dan ketakutan itu semakin menjadi saat malam sudah tiba. Tanpa penerangan sedikitpun, Yure dan Gadlyn tidak berani berjauhan satu sama lain. Tidur berdekatan dengan mayat, tanpa penerangan, belum lagi resiko diganggu binatang buas. Membuat Yure dan Gadlyn tidak berani menjauhi satu sama lain.
Flashback Off
"Siapa Gadlyn?" tanya Ezka yang tiba-tiba menghentikan tangisnya dengan mata yang menyelidik.
"Serketaris Rakha." Jawab Yure dengan panik.
"Jadi berapa malam disana, kalian tidur berdekatan? atau mungkin berpelukkan?" tanya Ezka.
"Eh? mana ada seperti itu." Jawab Yure yang kemudian melihat kearah Rakha untuk meminta bantuan.
Glekkkk
Yure menelan ludahnya, karena ternyata Rakha sudah memasang wajah datar dan dingin.
"Dasar si kembar. Cemburu juga lihat-lihat situasi. Beruntung aku ini masih bernyawa. Kalau kalian menemukan aku dalam keadaan jadi mayat, apa bisa menatapku dengan seperti itu?" batin Yure.
Sementara orang-orang yang menyaksikan kesialan Yure, hanya bisa mengulum senyumnya. Terlebih saat Ezka mengatakan, Yure tidak akan mendapatkan jatah selama 3 bulan lamanya.
__ADS_1
To be continue...🤗🙏