
"Dasar harimau. Bisakah dia merayu dengan benar? ini namanya bukan membujuk orang sakit, tapi mengancam orang sakit agar tambah sekarat," batin Gadlyn.
"Cukup tuan. Saya benar-benar tidak sanggup, saya jadi membayangkan makan muntahan kucing," ujar Gadlyn sembari menutup mulutnya.
Mata Rakha melotot seketika, yang membuat Gadlyn jadi takut.
"Tuan. Anda tidak boleh begini, kalau saya sampai muntah bagaimana?" tanya Gadlyn.
"Berani kamu lakukan itu, aku akan melemparkanmu kedalam kandang buaya. Mau?"
Gadlyn menggeleng cepat. Rakha kembali menyuapi Gadlyn meski dengan uraian air mata gadis itu. Setelah selesai, Rakha membuka obat untuk Gadlyn dan di minum oleh gadis itu.
"Istirahatlah!" ujar Rakha.
"Tu-Tuan. Saya mau rawat jalan saja. Saya baik-baik saja kok," ucap Gadlyn.
"Jangan cerewet. Aku belum membuat perhitungan atas kebodohanmu ini. Apa kamu itu nggak punya mulut? sudah tahu punya penyakit magh, malah nahan lapar?" omel Rakha.
"Tuan. Kalau begini caranya saya nggak akan cepat sembuh," ujar Gadlyn.
"Kenapa?" tanya Rakha.
"Saya kan lagi sakit. Kenapa tuan memarahi saya? sekarang tidak hanya lambung saya yang sakit, sepertinya hati saya juga sakit." Gadlyn berupaya agar dirinya tidak lagi dimarahi oleh pria yang dianggapnya harimau itu.
Mendengar ucapan Gadlyn, Rakha lagi-lagi menghela nafasnya.
"Menurutlah. Tinggallah dirumah sakit, minimal sampai besok," ujar Rakha dengan suara selembut mungkin.
"Tapi mama pasti akan khawatir, mama belum tahu kan kalau saya ada di rumah sakit?" tanya Gadlyn.
"Kamu bisa menelponnya, agar dia menjagamu di rumah sakit. Pada intinya kamu harus tetap dirawat, dan tidak boleh membantah. Awas saja kalau kamu berani keluar tanpa perintah dariku," ujar Rakha.
Rakha kemudian pergi keluar untuk kembali ke kantor.
"Dasar harimau. Ngeselin banget jadi orang. Matilah aku kalau dipaksa makan bubur terus. Ini namanya nggak mati karena penyakit, tapi mati karena makan bubur," gerutu Gadlyn.
__ADS_1
Gadlynpun akhirnya memberitahu Karin, bahwa dirinya dirawat di rumah sakit saat ini.
*****
Sudah satu bulan lebih Yure selalu mengganggu ketenangan hidup Ezka yang selalu menghindarinya itu. Dan untuk terakhir kalinya Yure berharap Ezka mau menemuinya, untuk memberi kesempatan terakhir baginya.
"Aku ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya," chat Yure
Ezka mengerutkan dahinya saat membaca chat dari Yure. Sudah sebulan terakhir pria yang menurut doktrin pikirannya sebagai adik itu, mengganggu dirinya dengan mengirim berbagai jenis hadiah. Mulai dari bunga mawar, makanan, pakaian, dan yang terakhir sebuah boneka beruang berukuran jumbo, Yure kirimkan ke kantor. Jelas saja perlakuan Yure itu jadi perbincangan hangat di kantor Ezka. Dan hari ini dia mendapat chat dari Yure yang menyatakan ingin bertemu dia untuk terakhir kalinya.
"Apalagi yang mau di lakukan bocah ini. Ini pasti hanya modus dari dia, agar aku mau menemuinya," ujar Ezka.
"Tapi baiklah. Aku juga ingin menegaskan pada dia, kalau aku tidak memiliki perasaan apapun padanya," ujar Ezka.
"Kamu ingin bertemu dimana? mari kita selesaikan semuanya. Aku tidak ingin kamu mengganggu hidupku lagi," chat Ezka
Yure tersenyum miris saat membaca isi chat dari Ezka. Sudah sebulan lebih dia mengejar Ezka, gadis yang sudah berhasil mencuri hatinya itu. Namun sepertinya usaha itu harus berakhir sia-sia.
"Hah...mau bagaimana lagi. Aku sudah berusaha semampuku. Kalau kamu tidak mau juga melihat kearahku, aku bisa apa? lagi pula cinta memang tidak bisa di paksakan. Mungkin hubungan kita memang harus jadi adik dan kakak selamanya," ujar Yure lirih.
"Aku tunggu kamu di danau buatan EH Group," chat Yure.
"Oke. Aku OTW sekarang juga," balas Ezka.
Yure bergegas pergi menuju danau buatan dengan menggunakan motor sport miliknya. Setelah sampai di tempat tujuan, Yure menunggu di sebuah kursi panjang sembari menatap danau yang terdapat banyak ikan disana.
"Yure," sapa Ezka dari belakang pria itu.
Yure menoleh kearah Ezka. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun selutut yang dia kenakan.
"Duduklah!" ujar Yure.
Ezka menjatuhkan bokongnya dan duduk disebelah Yure. Ezka melihat ada sebuket bunga mawar merah di kursi yang mereka duduki, dan membuat gadis itu jadi menghela nafas.
"Yure. Aku mohon hentikan kegilaanmu ini. Aku benar-benar tidak bisa menganggapmu lebih dari saudara, meskipun kita tidak memiliki ikatan darah," ujar Ezka.
__ADS_1
"Apa yang akan om dan tante Yuda pikirkan tentang kita nanti, terlebih orang tuaku." Sambung Ezka.
"Jadi kamu menolakku hanya karena takut mendengar pendapat mereka tentang kita?" tanya Yure.
"Eh? ti-tidak juga." Jawab Ezka cepat.
Yure menyodorkan sebuket bunga mawar untuk Ezka. Gadis itu meraih bunga itu dengan helaan nafas panjang.
"Tidak bisakah kamu memberiku kesempatan?" tanya Yure.
"Maaf Yure, aku benar-benar tidak bisa." Jawab Ezka.
Yure menghela nafas dengan wajah sedih. Pria itu kemudian berdiri, dan menggenggam erat kotak cincin yang bersembunyi di balik saku celananya.
"Sebulan lebih aku berusaha mengejarmu. Tujuanku bukan hanya karena ingin bertanggung jawab atas perbuatanku padamu, tapi itu karena aku benar-benar mencintaimu."
"Tapi kalau kamu sudah berkata seperti ini, maka mulai hari ini aku akan mundur. Hari ini adalah hari terakhir aku mengejarmu. Bukan karena aku lelah dan menyerah, tapi itu karena permintaanmu sendiri. Aku hargai keputusanmu. Maaf kalau sebulan terakhir ini sudah mengganggu dan membuatmu tidak nyaman," sambung Yure.
Yure lagi-lagi menghela nafas panjangnya dan mendekati Ezka yang menatapnya lekat. Yure sama sekali tidak bisa mengartikan tatapan gadis itu, terlebih air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata gadis itu.
Pukkk
Yure yang meraih tangan Ezka, kemudian meletakkan kotak cincin ditelapak tangan gadis itu.
"Anggap ini kado perpisahan kita. Mulai hari ini kamu tidak akan melihatku berkeliaran lagi disekitarmu. Aku juga tidak akan melakukan hal gila lainnya, seperti memasuki kamarmu ditengah malam. Ezka, apapun pilihanmu nanti, dengan siapapun kamu memilih bersama, aku akan selalu mendo'akan kamu bahagia," ujar Yure.
Cup
Yure mencium kening Ezka, dan kemudian langsung beranjak pergi dari situ.
Tes
Air mata Ezka dan Yure jatuh bersamaan, namun mereka tidak melihat satu sama lain. Yure kemudian pergi dengan motor sportnya, sementara Ezka menatap kotak yang ada ditangannya. Perlahan Ezka membuka kotak berwarna merah itu, dan melihat sebuah cincin yang tampak indah dan manis berada di dalamnya.
Tubuh Ezka bergetar karena isak tangisnya. Gadis itu kemudian menyematkan cincin itu di jari manisnya, dan menciumnya. Tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan gadis itu saat ini, yang pasti dengan semua keegoisan dan keras kepalanya, dia sudah menghancurkan hati Yure. Sementara itu, disepanjang perjalanan pulang, air mata Yure membasahi wajahnya. Kali pertama dirinya jatuh cinta, namun untuk kali pertama pula dirinya merasakan patah hati yang dalam. Pria itu memutuskan untuk pergi berlibur keluar negeri.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏