Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.50. Hak Abang


__ADS_3

Marinka mengernyitkan dahinya ketika rasa pening dikepalanya berdenyut. Wanita itu terjaga lebih dulu, dan merasakan sakit disekujur tubuhnya. Saat akan berdiri, Marinka baru menyadari bahwa saat ini dirinya sedang dalam tidak mengenakan apapun ditubuhnya, bahkan ada banyak bekas tanda kepemilikkan didadanya.


Marinka menepuk-nepuk pipinya dan berharap dirinya hanya berada dalam sebuah mimpi. Namun semakin keras dirinya menampar pipinya, maka semakin sakit pula yang dia rasakan.


Marinka langsung menoleh seketika kearah Ezra. Dan mendapati pria itu tidak mengenakan pakaian atasnya. Sementara bagian bawah ditutupi oleh sebuah selimut tebal.


Marinia juga menemukan ada banyak tanda kepemilikkan baik dileher maupun dada pria itu. Marinka seketika menutup mulutnya dan meneka-nerka apa yang terjadi sebenarnya.


"Ya Tuhan...Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya?" tutur Marinka lirih.


Marinka mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Dan terakhir yang dia ingat adalah saat Karin memberikan dia dua gelas minuman berwarna merah.


"Kariiiinnnnn...jadi ini semua karena ulahmu? Ya Tuhan...aku tidak tahu bagaimana reaksiku tadi malam sebenarnya. Apa aku sudah memaksa bang Ezra melakukannya? atau jangan-jangan aku sudah memperkosa bang Ezra?" batin Marinka.


"Bagaimana aku bisa memperlihatkan wajahku lagi kalau begini. Aku sangat malu, bang Ezra pasti mengira aku wanita liar. Apa aku memang seganas itu? banyak sekali ****** yang kubuat."


"Dan..."


Marinka melirik kearah bercak darah yang ada disprei, entah mengapa dirinya tidak merasa sakit hati sama sekali meskipun harus kehilangan keperawanannya. Yang ada dirinya merasa bahagia, karena sudah memberikannya pada orang yang diam-diam dia sayangi.


Marinka beranjak dari tempat tidur meskipun merasakan sedikit sakit didaerah selangkangannya. wanita itu segera memungut pakaian yang berserakan dilantai, dan memasukkannya kedalam keranjang. Setelah itu Marinka bergegas membersihkan diri, dan menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya.


Disisi lain Ezra baru saja terbangun dan merenggangkan tubuhnya kekiri dan kekanan. Namun saat dirinya meraba disisi tempat tidur yang lain, dirinya tidak lagi menemukan Marinka yang membuat matanya segera membuka sempurna.


"Kemana dia? sepertinya dia sudah bangun lebih dulu. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat terbangun tadi, apa dia membenciku saat ini? ah...Ezra bodoh, kenapa kamu tidak bisa menahan dirimu itu, biasanya kamu bisa menahannya saat bersama Jihan. Tapi kenapa kamu tidak bisa mengendalikan diri saat bersama Marinka?"


Ezra yang kesal mengacak-acak rambutnya sendiri dan kemudian pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak ada suara teriakan dari Ezra seperti biasanya. Pria itu itu sedang mencoba memasang dasi sendiri saat Marinka masuk kedalam kamar ingin memastikan pria itu.


Mata Marinka dan Ezra beradu saat wanita itu membuka pintu.


"Dek..."


"Bang..."


Kata-Kata itu keluar secara bersamaan dan suasana mendadak canggung seketika.


"Biar adek bantu abang pakai dasinya,"


Marinka mendekati Ezra perlahan, tak ada pembicaraan seperti biasanya ketika Marinka sedang memasang dasi. Ezra menatap Marinka dengan lekat, namun Marinka seolah-olah tidak melihat bahwa dirinya saat ini sedang ditatap dengan intens.


"Selesai," tutur Marinka.

__ADS_1


"Yuk kita sarapan bang, adek juga sudah siapin bekal buat abang,"


Marinka hendak beranjak dari situ, namun tangan Ezra tiba-tiba menarik tangan Marinka lumayan keras, sehingga wanita itu membentur dada bidang pria itu.


"Dek...abang..."


"Sudahlah, anggap saja tidak terjadi apa-apa diantara kita."


"Adek marah sama abang?"


"Tidak. Lagipula bukankah itu hak abang sebagai seorang suami?"


"Tapi abang sudah..."


"Tidak masalah, yang namanya menikah pasti akan mengalaminya juga."


"Tapi abang merasa bersalah padamu, seharusnya abang tidak memanfaatkan kondisimu yang sedang mabuk. Tapi tadi malam abang benar-benar..."


"Adek tahu, semalam adek yang mabuk. Jadi sudah dipastikan itu bukan kesalahan abang, ada kemungkinan adek yang sudah memaksa abang bukan? apa semalam adek mengatakan hal yang tidak-tidak?" tanya Marinka gugup.


"Ti-Tidak ada." Dusta Ezra.


"Baguslah, adek lega mendengarnya. Adek takut berkata hal-hal yang memalukan."


"Tidak ada."


"Dek...apa kamu sungguh-sungguh tidak marah? terus terang abang tidak bisa menjanjikan apapun padamu,"


"Bang. Adek ini istri sah mu, bahkan jika abang memintanya sekarang juga, adek harus wajib melayani abang. Jadi lupakan saja, anggap semalam adalah sebuah kecelakaan yang tidak disengaja."


"Sebenarnya terbuat dari apa hati wanita ini, kenapa hatinya lembut sekali. Bahkan dia tidak marah meskipun aku sudah merenggut hal yang berharga dari dirinya," batin Ezra.


"Ya sudah, ayo kita sarapan. Nanti abang kesiangan loh," ujar Marinka.


Ezra menyunggingkan senyumnya dan menggenggam tangan Marinka. Pasangan yang sudah menyatu itu menuruni tangga dengan bergandengan tangan.


"Abang pergi ya?" ujar Ezra setelah selesai sarapan dan diantar oleh Marinka hingga depan teras.


"Ya."


Ezra sejenak melangkah, namun beberapa saat kemudian dia berbalik badan dan mencium kening Marinka.


"Dah,"

__ADS_1


Marinka melambaikan tangannya, Ezrapun pergi menghilang dibalik pagar bersama mobil sportnya.


"Ehemm...ehemmm"


Yuda berdehem dengan sengaja saat melihat ada beberapa tanda merah dileher pria itu.


"Ada apa? kamu batuk?"


"Apa semalam sudah terjadi sesuatu?"


"Tidak ada."


"Lalu apa tanda merah dilehermu itu?"


"Tanda merah?"


Ezra yang memang tidak sempat melihat cermin, sama sekali tidak menyadari apa yang ada dilehernya. Pria itu kemudian melihat lehernya melalui kamera ponsel.


Wajah Ezra memerah seketika, dia jadi teringat saat Marinka membuat tanda-tanda itu. Dan itu membuat darahnya tiba-tiba berdesir.


"Hanya kesalahan teknis. Marinka semalam mabuk, dan tidak sengaja membuatnya."


"Ganas sekali dia, apa kamu yakin hanya itu saja yang terjadi diantara kalian?"


"Yakinlah. Lagian kenapa kamu ingin tahu urusan orang."


"Namanya juga usaha, siapa tahu ada kemajuan diantara kalian. Terus, kenapa Marinka bisa mabuk begitu?"


"Ini semua gara-gara Karin. Dia yang sudah memberikan minuman itu pada Marinka. Marinka yang tidak tahu apa-apa mengira itu hanya minuman biasa."


"Wanita itu benar-benar. Semua orang dia anggap sama."


"Aku sedang memikirkan cara untuk memberi wanita itu pelajaran."


"Sayangnya dia sedang hamil bukan? kita tidak bisa memberinya pelajaran untuk saat ini,"


"Itulah yang aku pikirkan. Tidak ada puasnya dia membuat Marinka menderita. Rasanya ingin sekali kupatahkan tangannya itu."


Sementara itu, Marinka yang tidak pergi kekampus sedang membereskan tempat tidur mereka. Marinka juga mencuci seprei yang banyak terkena noda dengan tangannya sendiri.


"Beruntung sekali hari ini hari jum'at dan tidak ada mata kuliah. Kalau tidak, bagaimana aku menyembunyikan semua tanda ini?" tutur Marinka.


Marinka bergegas menyelesaikan pekerjaannya, karena dia ingin segera beristirahat lagi. Tubuhnya masih benar-benar merasakan sakit dan lelah sehingga dia membutuhkan banyak istirahat.

__ADS_1


__ADS_2