Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.107. Bantuan


__ADS_3

"Sebenarnya kamu mau minta bantuan apa? kedengarannya sangat mendesak sekali?" tanya Ando setelah meletakkan gelas kopi yang baru saja dia seruput.


"Ada seorang bangsawan memesan berlian kualitas tinggi. Tapi sayangnya disignerku sudah melakukan plagiat karya disigner perhiasan dunia. Bangsawan itu mengembalikan perhiasan kami. Beruntung dia mau menunggu dan minta disign yang baru. Kami cuma punya waktu 1 minggu, itulah sebabnya aku harus menemukan disign yang bagus untuk 3 hari ini."


"Kenapa tidak kamu kerahkan saja disigner yang ada di kantormu? suruh mereka bekerja keras untuk membuat disign yang bagus."


"Sedang kulakukan. Tapi aku juga harus mendapatkan yang terbaik juga kan? Ando, kamu kan seorang disigner, tentu kamu ahli dalam mendisign bukan?"


"Ckk...jangan aneh-aneh, aku ini seorang disigner pakaian, bukan disigner perhiasan. Aku kurang mengerti tentang perhiasan, terlebih menggambar itu harus detail."


"Jadi aku harus gimana dong? apa kamu memiliki kenalan seorang disigner perhiasan handal?"


"Tidak ada. Sebentar, biar aku pikirkan siapa yang bisa menolongmu,"


Ando tampak berpikir keras, namun dipikirkan beberapa kalipun dia merasa tidak yakin. Tapi tidak salahnya di coba.


"Sebentar, biar aku telpon sepupuku dulu. Siapa tahu dia bisa membantumu, kebetulan dia kuliah jurusan disign."


"Tolong ya,"


Ando segera membuat panggilan untuk sepupunya yang tak lain adalah Rehan. Rehan yang tengah berada di kamar, cukup terkejut karena Ando yang super sibuk tiba-tiba menelponnya.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Rehan.


"Tidak ada. Tapi aku membutuhkan bantuannu,"


"Bantuan apa?"


"Sebenarnya bukan aku pribadi yang membutuhkan ini, ada sahabatku yang dalam masalah saat ini."


"Apa yang bisa aku bantu?"


"Dia membutuhkan sebuah disign perhiasan, karena ini pesanan seorang bangsawan. Tempo hari mereka sudah memberikan disign, tapi ternyata disigner mereka telah melakukan plagiat suatu produk disigner dunia."


"Waduh...fatal itu," ujar Rehan.


"Ya makanya, beruntung bangsawan itu mau menunggu dan memberikan waktu seminggu untuk membuat perhiasan baru. Jadi intinya, apa kamu bisa membantu membuat disign perhiasan untuk sahabatku itu?"


"Waduh...gimana ya kak? kakak tahu sendiri, aku ini seorang calon disigner pakaian, bukan disigner perhiasan. Aku kurang mengerti tentang benda itu."


"Hah...sudah kuduga, aku juga sama. Apa kamu tidak memiliki kenalan seorang disigner perhiasan?"


"Sebenarnya dia bukan disigner perhiasan sih, tapi aku pernah melihat dia mendisign beberapa perhiasan, dan hasilnya sangat bagus. Padahal dia juga calon disigner pakaian,"


"Benarkah? apa kami bisa meminta nomor ponselnya? katakan pada temanmu, kami akan membayar hasil kerja kerasnya itu."


"Kalau soal itu kamu bicarakan langsung saja dengan orangnya."


"Baiklah, kirim nomor ponselnya ya?"


"Tidak perlu, kamu datangi langsung saja orangnya. Dia juga ada di Paris kok,"


"Benarkah?"


"Ya."


"Minta alamatnya kalau begitu,"

__ADS_1


"Dia tinggal di salah satu butikmu,"


"Maksudmu A-Arin?"


"Ya.Temanku itu multitalent, kamu tidak rugi memelihara dia."


Ando tersenyum semringah mendengar hal itu. Diapun menyudahi percakapan itu dan kembali berbicara dengan Ezra.


"Ah...akhirnya kita punya sedikit pencerahan,"


"Bagaimana? apa sepupumu itu bisa membantuku?"


"Kalau dia tidak bisa, tapi kalau Arin mudah-mudahan bisa."


"Arin? siapa dia?"


"Ckk...apa kamu sudah pikun? aku kan pernah membicarakan tentang dia padamu dan Yuda."


"Siapa? janda incaranmu itu? bagaimana? apa kalian sudah berhubungan spesial?"


"Belum. 3 hari lagi jadwal operasinya, di akan melahirkan 3 hari lagi. Aku akan menyatakan perasaanku setelah itu. Aku rasa sudah cukup beberapa bulan ini, aku melakukan pendekatan padanya."


"Hanya kamu yang bisa merasakan kalau kamu bakal ditolak atau diterima."


"Aku tahu. Tapi paling tidak dia tahu dulu tentang perasaanku padanya,"


"Hah...baiklah, jadi bagaimana? apa kita menemui Arin secara bersama?"


"Kurasa tidak perlu. Lagipula aku harus bertanya dulu padanya, apa dia mau atau tidak. Masalahnya dia juga seorang disigner pakaian, aku takut dia tidak percaya diri menunjukkan disignnya yang lain."


"Aku sangat berharap dia bisa membantuku,"


"Baiklah. Aku serahkan semuanya padamu, kabari aku kalau Arin setuju. Katakan padanya, aku akan memberikan hadiah untuk anaknya nanti."


"Ingat. Kalau mau kasih hadiah jangan satu ya?"


"Kenapa?"


"Arin kan sedang mengandung anak kembar."


"Oh gitu? baiklah. Hah...sepertinya aku harus cabut dulu Ndo, udah malam ini. Aku harus bangun pagi, masih banyak pekerjaan kantor yang mau aku urus."


"Baiklah. Berhati-Hatilah, apa kamu masih menggunakan taksi kalau pergi kemanapun?"


"Ya."


"Pakailah mobilku, kamu bisa mengembalikannya saat akan pulang ke tanah air."


"Apa kamu ada motor?"


"Ada. Buat apa?"


"Aku pinjam motormu saja,"


"Ckk...dasar aneh. Di kasih enak, malah mau yang susah."


"Rasanya lebih enak naik motor, ngak ribet kalau mau kemana-mana."

__ADS_1


"Baiklah, kamu tinggal pilih saja mau motor yang mana,"


"Yang biasa saja. Matic juga boleh,"


"Terserah saja."


Ezra akhirnya memutuskan untuk meminjam motor matic milik Ando. Setelah Ezra pulang, Ando segera membuat panggilan untuk Marinka.


"Hallo?"


"Ya."


"Arin mana?"


"Maaf kalau aku yang angkat telponnya, Arin sudah tidur. Dia sangat kelelahan, dan tidur lebih awal."


"Apa dia sudah makan malam?" tanya Ando.


"Sudah. Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan? biar aku bangunkan dia,"


"Tidak usah biarkan saja. Kasihan, dia pasti sangat lelah. Biar aku bicara langsung saja dengannya besok. Kamu juga harus istirahat,"


"Baiklah. Kalau begitu aku tutup telponnya,"


"Emm."


Ando dan Sera mengakhiri percakapan itu. Sera menghela nafas panjang. Bisa dibilang Ando adalah cinta pertamanya, tapi dia merasa kurang beruntung karena cinta pertamanya itu bertepuk sebelah tangan.


*****


"Bangun bumil, sudah subuh kok bobok lagi?"


"Nggak tahu ini, badan aku rasanya sakit semua. Kalau dinegara kita enak punya tukang pijat tradisional. Disini paling juga di SPA kan ya?"


"Ho'oh. Aku nggak pernah dengar kalau disini punya tukang pijat yang begitu. Oh ya, semalam Ando nelpon, kamunya udah tidur jadi terpaksa aku yang ngangkat."


"Ada apa? apa dia mau restok barang baru lagi?"


"Nggak tahu. Saat aku tanya, dia bilang ingin menemuimu langsung nanti."


"Ada apa ya? biasanya kalau menyangkut urusan butik, dia nggak begitu."


"Ya mungkin aja ada hal penting lainnya. Menyatakan perasaan misalnya," ujar Sera terkekeh.


Pukk


Marinka memukul pundak Sera pelan.


"Asal aja. Giliran beneran, ntar patah hati loh."


"Aku sudah nyiapin itu dari jauh hari. Karena aku tahu, memang itu endingnya."


"Ckk...sok tegar, ujungnya mewek."


"Rin. kalau kamu sudah berhasil melepaskan sosok Ezra dari hidupmu, sebaiknya kamu terima Ando sebagai gantinya. Ando pria yang baik, yang bisa memberimu kebahagiaan untukmu. Siapapun yang memiliki dia, wanita itu sangat beruntung. Aku rela melepaskan dia, asal wanita itu adalah kamu."


"Maaf Ra, untuk saat ini aku belum kepikiran. Aku mau fokus membesarkan anakku dulu. Tapi aku juga tidak memungkiri takdir, kalau suatu saat memang dia jodohku, aku bisa apa?"

__ADS_1


Sera tersenyum. Dia tahu tidak mudah bagi Marinka melepas bayang-bayang masa lalunya. Dan diapun tidak mungkin memaksa sahabatnya itu untuk berpindah ke lain hati.


__ADS_2