
"Ini apa tuan?" tanya Gadlyn saat Rakha menyodorkan dua buah paperbag ke hadapannya.
"Buka saja." Jawab Rakha masih dengan gaya cueknya.
Gadlyn membuka paperbag itu dan masih ada kotak di dalamnya. Gadlyn perlahan membuka kotak itu dan dahinya mengerut saat melihat sebuah gaun indah di dalamnya. Meski gaun itu keluaran MD collection, tapi gaun itu adalah gaun untuk kalangan atas dan limited edition.
"Ini untuk saya tuan?" tanya Gadlyn.
"Gunakan gaun itu buat nanti malam. Kamu adalah serketarisku, jadi kamu harus pergi bersamaku di acara pertunangan Yure nanti malam." Jawab Rakha.
"Ta-Tapi saya sudah punya janji dengan Rendy tuan. Saya mau pergi dengan dia nanti malam," ujar Gadlyn takut.
"Rendy? siapa Rendy?" tanya Rakha.
"I-Itu dari departement pemasaran." Jawab Gadlyn.
"Kamu menolak bosmu, demi karyawan bos kamu? sekarang kamu tinggal pilih, kamu mau pergi sama saya, atau sama si Rendy itu," ucap Rakha.
"Apa resiko jika saya membantah tuan?" tanya Gadlyn.
"Tentu saja pekerjaanmu jadi taruhannya." Jawab Rakha.
Gadlyn memutar bola mata dengan malas. Dia tahu betul apa yang akan dikatakan oleh bos arogantnya itu.
"Baiklah saya ikut dengan anda," ujar Gadlyn dengan wajah murung.
"Itu memang harus. Kamu harus belajar pintar kalau ingin selamat. Lagian apa bagusnya si Rendy itu. Kamu akan terlihat keren kalau bisa berjalan beriringan denganku," ucap Rakha.
Lagi-Lagi Gadlyn memutar bola mata dengan malas. Gadlyn meninggalkan Rakha yang tengah mengoceh sendiri, karena pria itu berbicara sembari membelakangi Gadlyn.
"Jadi kamu harus berdandan yang can...."
Kata-Kata Rakha terhenti, saat melihat orang yang sedang dia ajak bicara menghilang entah kemana.
"Apa semua gadis seaneh dia? seharusnya dia senang diberikan hadiah semahal itu. Terlebih diajak pergi oleh pengusaha nomor 1 di kota J. Dasar gadis aneh, malah mau bandingin aku dengan Rendy. Jelas-Jelas rambutku pun tidak bisa pria itu tiru," gerutu Rakha.
__ADS_1
Di ruangan berbeda, Yure yang memutuskan tetap bekerja meski akan mengadakan acara pertunangan, tampak merenung sembari menatap layar ponselnya. Pria itu masih berharap ada keajaiban, dan Ezka menghubungi dirinya di detik-detik pertunangannya.
Tidak jauh berbeda dengan Yure, Ezka juga tengah merenung di meja kerjanya. Meski dia menyadari bahwa perasaannya pada Yure sudah mulai tumbuh, tapi dia sama sekali tidak punya niat menggagalkan rencana pertunangan Yure dengan gadis lain.
"Aku harap kamu bahagia Yure. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuamu yang begitu berharap kamu bisa bertunangan degan gadis itu. Kedua orang tua kita akan bertanya-tanya, kalau kita sampai bersama. Dan kita akan bingung menjelaskannya. Aku tahu alasanku ini sangat tidak masuk akal, dan seharusnya aku berjuang bersamamu. Tapi aku juga tidak mau membuat gadis itu malu dengan batalnya pertunangan kalian," batin Ezka.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," ujar Ezka sembari menyeka air matanya.
"Buk ini makanan yang anda pesan," ujar sang asisten pribadi Ezka.
"Makasih." Jawab Ezka.
Asisten Ezka yang bernama Vilia itu cukup heran, karena akhir-akhir ini nafsu makan Ezka meningkat. Sehingga tanpa gadis itu sadari, pipinya sudah sedikit tembam.
"Maaf bu. Apa ibu sedang ada masalah?" tanya Vilia.
"Kenapa kamu mikirnya gitu?" tanya Ezka sembari mengganti menu makanannya dengan bakso bakar ekstra pedas.
"Biasanya ada orang yang mengalihkan masalah dengan banyak makan atau malah mogok makan. Saya perhatikan badan ibu juga sedikit berisi, mungkin ibu terlalu banyak ngemil akhir-akhir ini." Jawab Vilia.
"Benarkah?" tanya Ezka yang kemudian memegang pipi dan lengannya yang sedikit besar.
"Oh iya. Kayaknya aku benaran sedikit gemuk. Tapi aku benar-benar nggak bisa ngontrol nafsu makanku," sambung Ezka.
Vilia terkekeh saat mendengar ucapan Ezka.
"Nggak apa bu. Daripada nggak mau makan sama sekali? bisa-bisa kayak zombie. Lagian beruntung ibu belum menikah, kalau sudah menikah pasti dikira orang sedang hamil alias ngidam," ujar Vilia terkekeh.
Deg
__ADS_1
Jantung Ezka terasa berhenti seketika. Raut wajahnya berubah pucat pasi, dan makanan yang dia pegang terlepas seketika. Ezka kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan kata sepatah katapun.
"Bu Ezka kenapa? apa dia tersinggung dengan ucapanku? tapi seharusnya dia tahu, kalau aku sedang bercanda saat ini," tutur Vilia lirih.
Sementara itu Ezka bergegas memasuki mobilnya. Kepalanya tertunduk di stir mobil. Gadis itu mengingat-ingat kapan terakhir kali dirinya mendapatkan haid. Jatungnya berdegup kencang saat ingat , bahwa dirinya tidak mendapatkan haid di bulan lalu. Sementara saat ini sudah pertengahan bulan, dan dirinya juga belum mendapatkan haid.
"Tidak mungkin kan? nggak mungkin aku hamil kan?" Ezka membenturkan kepalanya dengan pelan di stir mobil.
Ezka kemudian pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Dia ingin memastikan sendiri, tanpa seorangpun tahu apa yang dia lakukan.
Deg
Deg
Deg
Jantung Ezka berdegup dengan kencang, saat menunggu hasil dari test kehamilan yang baru saja dia celupkan pada urinenya. Dan tidak hanya satu, Ezka mencelupkan benda dengan merk berbeda pada urinenya.
Air mata Ezka meleleh, saat semua alat test kehamilan menunjukkan saat ini dirinya sedang positif hamil. Tangan Ezka gemetar, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Masih terngiang di telinganya saat Yure mengatakan meskipun dia berlutut ingin meminta Yure kembali, pria itu tidak akan menoleh lagi padanya.
"Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan? apa aku harus membatalkan pertunangan Yure dengan gadis itu? lalu apa yang akan Yure pikirkan tentangku? dia pasti akan menertawakanku. Setelah mati-matian aku menolaknya, aku malah muncul dengan kabar kehamilanku. Apa dia akan berpikir itu sudah terlambat?" batin Ezka.
"Haruskah aku mempermalukan gadis itu? dia dan keluarganya pasti akan di permalukan, karena gagal bertunangan di detik-detik acara itu akan di gelar,"
Ezka meremas rambut dengan kedua tangannya. Gadis itu benar-benar bingung dengan keputusan yang harus dia ambil.
"Kamu mau kemana nak?" tanya Marinka saat melihat Ezka menyeret sebuah koper ditangannya.
Ezka memejamkan matanya, kali ini dia harus kembali berbohong untuk menutupi masalahnya.
"Aku harus terbang ke Paris ma." Jawab Ezka.
"Mana bisa tiba-tiba gitu. Yure malam ini akan bertunangan, tidak enak kalau kamu tidak hadir. Lagipula ada urusan apa kamu tiba-tiba ke Paris?" tanya Marinka.
"Ada masalah di pabrik sana. Tidak masalah tidak datang ke pertunangan Yure, nanti saat pernikahannya aku akan usahakan datang." Jawab Ezka.
__ADS_1
Marinka menghela nafas. Dia tahu saat Ezka mengatakan hal demikian, tidak seorangpun dapat mencegah. Dia hanya bisa memberikan restu, agar putrinya itu sampai pada tujuan.