
Setelah menunggu hampir 20 menit, Gadlyn dan asisten pribadi Yure datang dengan membawa dua buah nampan yang berisi makanan paket 1 ala Rakha.
Sebenarnya saat asisten pribadi Yure menyebutkan menu-menu pesanan Rakha, Gadlyn sudah mengerutkan dahinya. Takutnya pria itu salah memesan makanan. Tapi Pria itu menegaskan, kalau dirinya sudah biasa saat Yure dan Rakha menginginkan menu itu.
Tok
Tok
Tok
Kriekkkkk
Gadlyn melihat Rakha dan Valencia sedang berbincang. Meskipun dia tidak tahu, apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu.
Gadlyn melangkah perlahan menuju meja tempat Rakha dan Valencia mengobrol.
Tap
Tiba-Tiba Valencia meluruskan kakinya saat Gadlyn melangkah menuju meja. Melihat Gadlyn yang hilang keseimbangan, Rakha bergegas berdiri untuk menyelamatkan Gadlyn yang akan tersungkur di depan meja.
Beruntung perhitungan Rakha tidak meleset. Gadlyn tidak jadi terjatuh, hanya saja kuah sayur yang berada di mangkuk sedikit tumpah dibaju Rakha.
"Tu-Tuan. Saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja," ujar Gadlyn terbata.
Rakha menatap Gadlyn dengan tatapan dingin. Sementara Valencia tertawa senang didalam hati.
"Aku tidak percaya kalau Rakha tidak akan memecat gadis bodoh ini. Seperti yang ada si kisah-kisah novel, serketaris selalu berusaha menggoda majikkannya. Tapi maaf, kamu belum layak mendapatkan keberuntungan itu," batin Valencia.
"Letakkan makanannya di meja!" ujar Rakha.
Gadlyn dan asisten Yure meletakkan dua nampan diatas meja.
"Tuan. Apa perlu saya siapkan baju bersih buat anda?" tanya Asisten Yure.
"Tidak perlu. Stok pakaian bersih masih banyak diruangan pribadi saya. Biar saya ganti nanti saja. Kamu boleh kembali bekerja " Jawab Rakha.
Sementara itu Valencia tertegun saat melihat menu yang ada di hadapannya. Menu yang seumur hidup tidak pernah dia makan, namun dia sangat tahu apa yang ada dihadapannya itu.
"Silahkan dimakan nona Valencia. Saya sangat senang, karena anda sangat menghargai makanan favorit saya yang nomor wahid ini," ucap Rakha, sembari menarik nampan makanannya.
"Kamu. Kamu pergilah ke kantin, makan sianglah disana," sambung Rakha sembari melihat ke arah Gadlyn.
"Baik tuan." Jawab Gadlyn yang langsung keluar ruangan itu.
"Ayo silahkan dimakan nona valen!" Rakha kembali menawarkan sembari mulai memakan makanannya.
Glekkk
Valencia meneguk ludahnya saat melihat menu dihadapannya itu. Menu yang menurutnya hanya pantas untuk kalangaan orang bawah. Danndia tidak menyangka kalau Rakha mempunyai selera yang buruk dalam memilih makanan. Gadis itu bahkan tidak percaya saat melihat Rakha makan dengan lahap, makanan itu.
"A-Apa ini sungguh makanan favorit anda?" tanya Valencia.
__ADS_1
"Ya. Sayur asam, sambal terasi, dan ikan asin adalah makanan favorit saya. Apalagi dilengkapi dengan ini,"
Rakha mengacungkan semur jengkol dan sepapan pete segar dihadapannya.
"Ayo silahkan nona Valen. Ini sangat enak, bukankah anda mau memakan apapun yang saya makan? anggap saja ini makan siang perkenalan kita," sambung Rakha.
"Cobalah yang ini. Ini sangat nikmat," ujar Rakha sembari menyodorkan sekeping semur jengkol kedepan mulut Rakha.
Bibir Valencia bergetar saat akan menerima suapan itu. Hidungnya sudah memasang Radar penolakkan, saat mencium aroma makanan yang sama sekali tidak dia sukai.
"Anda akan menyukainya kalau sudah terbiasa. Apa anda tahu? harga jengkol ini lebih mahal dari ikan. Di waktu tertentu, harganya bisa mencapai 100 ribu perkilogram. Bisa mengalahkan harga daging ayam," ujar Rakha sembari mendorong semur jengkol jauh melesak kedalam mulut Valencia.
"Heh...jengkol-jengkolan sekalian. Berani menindas wanitaku, jangan harap hidup dengan tenang," batin Rakha.
Valencia memejamkan matanya. Mata gadis itu bahkan berair, saat menahan gejolak perutnya yang ingin segera muntah. Namun sebisa mungkin dia tahan, dia ingin merebut hati sang pria yang sudah lama dia idam-idamkan itu.
Mungkin cacing dalam perut Valencia akan terkejut, saat mendapat dentuman jengkol yang belum dikunyah dengan sempurna itu. Valencia buru-buru menelannya, karena tidak kuat dengan bau jengkol yang tidak dia sukai itu.
"Nah...ini juga tidak kalah nikmat. Aku sangat senang, karena nona Valencia seleranya hampir sama denganku," ujar Rakha sembari menyodorkan sebutir pete kedepan mulut Valencia.
Krieeekkkkk
Gadlyn masuk keruangan itu dan melihat adegan suap menyuapi itu.
Hap
Karena ada Gadlyn, tanpa pikir panjang Valencia melahap pete itu dan langsung mengunyahnya. Gadlyn bergegas memalingkan wajah dan segera duduk di mejanya kembali.
"Bolehkah saya menyuapi tuan Rakha juga?" tanya Valencia.
"Gadis ini benar-benar ingin memprovokasi Gadlyn. Apa dia pikir aku memiliki hubungan khusus dengan Gadlyn? jadi apa sebenarnya yang dia pikirkan? apa dia mengira Gadlyn akan cemburu? tunggu! cemburu? apa aku manfaatkan saja situasi ini, untuk mengetahui perasaan Gadlyn padaku," batin Rakha.
"Tentu saja." Jawab Rakha.
"Apa kekasih tuan Rakha tidak keberatan? aku takut akan jadi masalah," tanya Valencia.
"Aku belum memiliki kekasih." Jawab Rakha.
Gyuuuuttttt
Gadlyn mengepalkan tangan dibawah meja. Namun ekspresinya tetap datar, seperti sedang tidak perduli dengan apapun yang ada di sekitarnya.
"Eh? dia tidak bereaksi apapun. Apa dia benar-benar tidak menyukaiku?"
Wajah Rakha terlihat kecewa, setelah Valencia menyuapi makanan kedalam mulutnya. Setelah selesai makan siang, Rakha tidak ingin membuang waktu lagi. Pria itu bergegas untuk membahas kerjasama yang mereka sepakati. Setelah selesai, Rakhapun mengusir Valencia dengan cara halus. Dengan alasan akan kedatangan rekan bisnis lainnya.
"Ikut aku," ujar Rakha dengan wajah dingin.
"Kemana? apa kita memiliki meeting diluar hari ini? tapi menurut jadwal tidak ada," tanya Gadlyn.
Rakha yang hilang kesabaran langsung menarik tangan Gadlyn, dan membawanya ke ruang pribadinya.
__ADS_1
Brakkkkk
Rakha menutup pintu itu dengan lumayan kasar, hingga Gadlyn terjengkit kaget.
"Tu-Tuan. Kenapa anda mengajak saya keruangan pribadi anda?" tanya Gadlyn gugup.
"Tentu saja ingin menuntut tanggung jawabmu." Jawab Rakha.
"Ta-Tanggung jawab apa? salah saya apa tuan?" tanya Gadlyn.
"Ganti pakaian saya yang kamu tumpahkan kuah sayur." Jawab Rakha.
"Tapi tuan bisa menggantinya sendiri. Ini tidak pantas tuan," ujar Gadlyn yang ingin segera keluar dari ruangan itu.
Tap
Rakha menarik tangan Gadlyn dengan cukup kuat. Hingga tubuh gadis itu membentur dada Rakha yang bidang. Sejenak tatapan mata mereka bertemu, Rakha sungguh tidak tahan untuk tidak bertanya pada Gadlyn.
"Bagaimana perasaanmu saat melihatku disuapi oleh gadis lain?" tanya Rakha.
"Ya tidak apa-apa. Itu kan hak tuan. Masa iya saya harus melarangnya? hak saya apa?" ujar Gadlyn.
"Apa kamu tidak merasakam hal lain sedikitpun?" tanya Rakha.
"Hal lain? hal lain seperti apa yang tuan maksud?" tanya Gadlyn.
Rakha terdiam. Untuk beberapa saat mereka larut dengan tatapan mata yang memiliki arti tersendiri.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan? apa kata yang dia maksud adalah kata cemburu? tapi mana berani aku mengatakannya. Bagaimana kalau dugaanku salah, aku kan bisa dipermalukan oleh harimau ganas ini," batin Gadlyn.
"Menurutmu bagaimana pendapatmu tentang Valencia," tanya Rakha.
"Dia cantik, sexy, dan juga smart." Jawab Gadlyn.
"Apa dia sangat cocok denganku? rencananya aku akan mendekatinya," tanya Rakha.
Gyutttttt
Lagi-Lagi Gadlyn mengepalkan tangan tanpa Rakha ketahui.
"Tentu saja kalian sangat serasi. Dia sudah melebihi untuk standar menjadi kekasih, atau bahkan menjadi istri anda." Jawab Gadlyn dengan tenang.
"Keluarlah!" ucap Rakha dengan memalingkan muka.
"Eh? dia ini kenapa lagi sih? nggak tahu terima kasih sekali. Sudah dijawab malah ketus. Dasar aneh," batin Gadlyn sembari melangkah keluar ruangan itu.
"Dasar tidak peka. Apa otaknya itu otak udang? apa dia tidak mengerti dari bahasa tubuh dan perhatianku selama ini?" gerutu Rakha.
"Sepertinya perjuanganku ini masih sangat panjang. Tapi bagaimana kalau dia tetap tidak menyukaiku,"
Rakha memijat keningnya. Pria yang merasa sudah mengejar Gadlyn dengan cara benar, tentu saja merasa pusing sendiri. Berbeda dengan Gadlyn, gadis itu jadi kebingungan mengartikan sikap Rakha pada dirinya selama ini.
__ADS_1
To be continue...🤗🙏