Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.110. Ikan Terbang


__ADS_3

"Maafkan aku Zra. Mungkin aku jadi ikut-ikutan kejam seperti Marinka. Maafkan aku yang tidak bisa memberitahumu, kalau bayi yang kamu sentuh dan kamu adzani itu adalah anakmu sendiri.Sungguh aku benar-benar tidak berdaya. Bukan sekali dua kali aku membujuk Marinka agar bertemu denganmu dan memberitahumu tentang kehamilannya, tapi dia bersikeras karena banyak hal yang ingin dia capai dengan tangannya sendiri."


Flashback On


"Coba temui dia sekali saja Rin. Mumpung dia juga ada di Paris. Walau bagaimanapun dia berhak tahu tentang anak-anaknya."


"Tidak Ra. Buat apa? dia sudah memiliki Jihan disisinya, sementara aku hanya memiliki anak-anakku saja. Lagipula ada banyak misi yang belum aku capai saat ini. Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri, dengan menjadi designer ternama dunia. Dengan begitu aku bisa membalaskan rasa sakitku pada pasangan pembunuh itu,"


"Jangan mereka mengira aku tidak mengingatnya, dan tidak membuat perhitungan pada mereka. Biarkan saja mereka bersenang-senang saat ini, dan mengira aku sudah mati terbakar. Suatu saat aku akan menjadi hantu yang akan mengacaukan hidup mereka, atau bahkan jadi malaikat pencabut nyawa mereka."


"Apa itu artinya kamu selamanya tidak akan mempertemukan Ezra dengan anak-anaknya?"


"Apa menurutmu aku sejahat itu? entah itu 3 atau 5 tahun lagi, aku pasti mempertemukan anak-anakku dengan Papanya. Tapi tidak saat ini, aku takut mereka diambil dariku sementara anakku belum mengenalku. Kamu tidak tahu seperti apa Jihan itu, aku tidak mau anak-anakku mati di tangannya."


"Hah...terserah saja, yang penting aku sudah mengingatkanmu."


"Ra. Aku tahu kisah hidupku ini sudah seperti sinetron ikan terbang, atau seperti kisah novel yang ingin mempertemukan anak dengan ayahnya setelah 5 atau 7 tahun kemudian. Tapi aku tidak perduli tentang pendapat orang lain tentang kisah hidupku ini. Mereka tidak merasakan ada diposisiku, wanita yang tersingkirkan berkali-kali. Mereka tidak tahu aku memiliki pemikiran sendiri dan punya misi sendiri,"


"Hah...aku tidak perduli kalau dia marah, saat aku memberitahu dia tentang anak-anak setelah bertahun-tahun. Lagipula apa dia akan percaya kalau itu anak-anaknya? kejadian yang tidak disengaja, dan hanya melakukan sekali saja. Aku malah takut saat aku memberitahunya, dia malah menyangkalnya. Sebab apa? dia sudah memiliki Jihan dan anak-anak dari wanita itu."


"Maafkan aku Rin. Selama ini aku tidak paham dengan apa yang kamu pikirkan untuk masa depanmu. Tapi sekarang tidak lagi, apapun yang kamu inginkan aku akan selalu mendukungmu sesuai keinginanmu. Aku akan selalu berada disisimu, termasuk dalam aksi balas dendammu itu."


"Makasih Ra,"


"Emm." Sera mengangguk sembari tersenyum.


Flashback Off


"Nona," seru Ezra yang sudah berulang kali memanggil Sera yang sedang larut dalam lamunannya sendiri.


"Eh? maaf,"


"Tidak masalah. Itu, saya sudah selesai mengadzankan bayinya."


"Apa tuan tidak keberatan jika berfoto dengan si kembar?"


"Buat apa?"


"Kami akan menunjukkannya pada ayah si bayi, biar dia tahu orang yang sudah menolong istrinya berkali-kali."


"Ah...saya rasa tidak perlu, itu juga kewajiban saya untuk membantu mengadzankan mereka."

__ADS_1


"Tidak apa-apa tuan, anggap ini kenang-kenangan. Kita tidak tahu kedepannya, mungkin kita akan bertemu lagi,"


"Ah...baiklah," ujar Ezra.


Ezra kemudian menggendong bayi dikiri dan kanannya, dibantu oleh Sera. Moment langka itu sudah Sera abadikan melalui ponselnya.


"Terima kasih tuan, bantuan anda sangat berarti. Saya mewakili teman saya, mengucapkan banyak terima kasih karena sudah membantunya berkali-kali,"


"Sama-Sama. Titip salam saja sama temanmu itu, maaf saya tidak bisa menjenguk karena saya sedang buru-buru."


"Apa anda terluka?"


"Ya. Saya jatuh dari motor tadi,"


"Kalau begitu berhati-hatilah."


"Emm. Saya pergi dulu,"


"Ya."


Sera memandang punggung Ezra yang makin lama makin menjauh dah hilang dibalik pintu.


"Cara Tuhan memang indah, bahkan Tuhan mengirimkan dia yang buru-buru, agar sempat mengadzani anaknya sendiri. Aku percaya apapun yang terjadi kedepannya nanti, Tuhan memiliki rencananya sendiri," ucap Sera lirih.


"Apa kamu sudah melihat anak-anakku? bagaimana keadaan mereka? apa mereka terlahir sempurna?"


"Sangat sempurna, karena mereka berasal dari bibit yang unggul." Jawab Sera.


Marinka sedikit meringis kesakitan, karena tawanya membuat perutnya sedikit kencang dan membuat sedikit nyeri.


"Tapi sayang, keluarganya tidak sempurna," ujar Marinka dengan wajah mendung.


"Itu perkara gampang. Kamu cantik, kamu bisa membuat keluargamu sempurna dengan mendatangkan kepala keluarga yang baru."


"Ckk...kamu ini, baru juga mereka lahir, kamu sudah kepikiran buat mencarikan mereka bapak tiri," Sera terkekeh mendengar keluhan Marinka.


"Aku ada sesuatu untukmu,"


"Apa?"


"Lihatlah ini," ujar Sera.

__ADS_1


Marinka meraih ponsel Sera. Matanya terbelalak saat melihar foto-foto Ezra bersama bayi kembarnya.


"Apa kamu merindukan suara pujaan hatimu itu?"


"Emm. Bahkan melihat fotonya saja, hatiku masih bergetar. Ternyata aku masih sangat mencintainya," ujar Marinka.


"Dengar, dan lihatlah ini."


Sera mengklik tombol play dilayar ponselnya. Marinka dapat melihat dan mendengar suara merdu Ezra saat mengadzankan putra dan putrinya.


Tes


Tes


Tes


"Tuhan. Terima kasih sudah mengabulkan do'aku. Meskipun dia tidak tahu kalau itu anaknya, tapi aku percaya engkau memiliki cara sendiri untuk menyatukan mereka nanti. Maafkan mama nak, semoga suatu saat kalian tidak marah dengan keputusan yang mama buat. Semua yang mama lakukan, demi mama bisa selalu dekat dengan kalian. Mama tidak ingin dipisahkan dengan kalian,"


Marinka menyeka air matanya, berulang kali dia memutar video itu dengan mata terpejam. Suara Ezra yang merdu sangat merasuk kedalam jiwanya.


"Abang, adek sangat merindukanmu. Saat ini pasti Jihan tengah mengandung anakmu kan? kalian pasti sangat bahagia tanpa aku. Aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kebahagiaan abang,"


"Rin. Ando bilang belum bisa menjengukmu hari ini, soalnya malam nanti dirumahnya ada acara keluarga,"


"Nggak masalah. Lagipula itu bukan kewajiban dia. Oh ya, kapan anak-anakku dibawa kemari?"


Baru saja Marinka menanyakan itu, anak-anaknya sudah dibawa masuk oleh seorang suster.


"Ah...mereka benar-benar sempurna," air mata Marinka menetes kembali karena terharu.


"Apa kamu sudah memikirkan nama-nama mereka?"


"Emm. Aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari."


"Siapa nama mereka?"


"Rakha Putra Hawiranata dan Ezka putri Hawiranata."


"Emm. Bagus juga," ujar Sera.


"Aku tidak akan menghilangkan nama keluarga papanya, karena itu memang hak anak-anak. Lagipula aku tidak membenci mereka, justru aku sangat bahagia pernah masuk dalam keluaga luar biasa itu."

__ADS_1


"Aku akan mendukung apapun keputusanmu,"


Marinka kembali menatap anak-anaknya yang terlihat tenang didalam kain pembalut tubuh mereka. Anak-Anak yang membuat semangat hidupnya jadi bergelora.


__ADS_2