
Brakkkkkk
Cetleeeekkk
Ezra menutup dan mengunci pintu dengan tidak sabar. Marinka yang kebingungan hanya bisa menatap, apa yang Ezra lakukan. Namun dirinya baru mengerti, saat Ezra tiba-tiba berbalik dan mendorongnya hingga mengandas ketembok.
Ezra dan Marinka beberpa detik kemudian saling cium, saling lu**t satu sama lain. Perlahan tapi pasti, Ezra menarik resleting gaun yang Marinka kenakan. Hingga gaun itu sudah bersarang dipinggang istrinya itu. Dengan gesit Ezra melepas penyangga dada Marinka dan langsung membenamkan wajahnya dipuncak tertinggi dada itu.
"Ah...bang..."
Marinka menyebut nama kesayangan suaminya, saat pria itu dengan lihai bermain disana. Sungguh Marinka tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya diperlakukan sedemikian rupa, karena ini untuk pertama kalinya dia merasakan dalam keadaan sadar.
Sembari bermain disana, Ezra bergegas melepas kain yang ada dibagian bawah tubuhnya. Setelah itu Ezra menuntun Marinka untuk berbaring diatas tempat tidur seterlah berhasil membuat istrinya itu tidak mengenakan apapun.
"Sempurna," bisik Ezra sembari melepaskan bajunya dan melemparkannya kesembarang arah.
"Bang adek malu," ujar Marinka saat melihat Ezra menatap dirinya dengan lapar.
"Singkirkan tanganmu sayang. Percuma saja, abang sudah pernah melihatnya bahkan mencicipinya," ujar Ezra sembari menarik tangan Marinka, agar menyingkir dari dada dan pusat inti istrinya itu.
"Emmppphhh...ahhh...happp"
Marinka menutup mulutnya saat suara merdunya terdengar asyik ditelinga Ezra. Marinka harus menutup mulutnya dan menggeram dalam hati, saat Ezra membenamkan wajahnya dipusat inti miliknya. Tubuh Marinka sampai bergetar, karena sensasi yang Ezra berikan sungguh luar biasa baginya. Hingga beberapa detik kemudian getaran itu semakin hebat dan membawanya melambung tinggi ke nirwana.
"Abang menginginkanmu," bisik Ezra.
Marinka menatap suaminya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Heggghhhh...eemmmmppttt"
Marinka merasakan sesak penuh, saat benda kebanggaan milik suaminya itu perlahan menyeruak kedalam liang basah miliknya. Tidak berbeda dengan dirinya, Ezra memejamkan matanya saat merasakan cengkraman kuat dibawah sana. Sangat berbeda saat dirinya pernah memasuki liang basah milik Jihan waktu itu.
Perlahan Ezra mulai memompa milik istrinya. Marinka berusaha keras agar tidak menimbulkan suara dari mulutnya. Bukan hanya takut terdengar mertuanya, tapi dia takut membuat anak-anaknya terbangun.
Krietttt
Kriettt
Krieettt
Suara decit ranjang begitu berirama. Marinka hanya bisa memejamkan mata untuk menikmati permainan indah itu. Entah mengapa dirinya merasa malu untuk bertatapan mata dengan suaminya.
"Sayang. Buka matamu," bisik Ezra sembari memompa dengan lembut.
Marinka perlahan membuka matanya, dan menatap dalam mata suaminya.
__ADS_1
"Abang mencintaimu," ujar Ezra lirih disela-sela aktifitas panasnya.
Marinka tidak menjawab ucapan suaminya, sebagai gantinya wanita itu mengalungkan kedua tangannya dileher Ezra dan mengajak suaminya itu saling mengecap satu sama lain. Sungguh hati keduanya sangat berbunga-bunga saat ini. Hingga ciuman yang kian lama kian menuntut itu semakin membangkitkan gairah Ezra untuk semakin mempercepat tempo gerakkannya.
"Ah...bang..."
"Oh... sayang..."
Marinka dan Ezra sama-sama mengerang panjang, saat mereka mendapatkan pelepasan secara bersamaan.
Hosh
Hosh
Hosh
"Adek sungguh luar biasa," bisik Ezra, yang membuat Marinka tersipu.
Ezra membawa Marinka kedalam pelukkannya, karena lelah merekapun tertidur.
*****
"Apa ini benar jalan menuju rumah Lady bangsawan itu?" tanya Marinka.
"Ya. Kenapa?"
"Iya dong, gengsi pasti dia," ujar Ezra terkekeh.
Tidak berapa lama kemudian, Merekapun tiba dikediaman Lady Aceline. Beberapa maid berjejer dari arah pintu depan, untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang tuan dan Nyonya Ezra," sapa Lady Aceline.
Marinka memindai tatapannya pada Lady Aceline. Penampilan gadis itu sangat cantik dan elegant, sangat pantas jika dikatakan dirinya adalah seorang putri bangsawan. Aceline memiliki kaki yang jenjang, jangan ditanya kecantikan kaki jenjang itu, bahkan tak ada noda atau satu gigitan nyamukpun disana.
"Silahkan duduk, saya sengaja mengajak kalian langsung kemeja makan, karena sudah menunjukkan waktunya untuk makan siang."
"Tidak masalah, kita bisa berbincang setelahnya," ujar Ezra.
"Siapkan menu pembukanya," ujar Aceline pada pelayan.
"Hemm...sepertinya ilmu table manner yang kupelajari waktu itu, akan berguna sekarang ini. Tapi aku heran, apa cara makan keluarga bangsawan memang seperti ini? kenapa semua menu pembuka, utama, dan penutup tidak dihidangkan bersamaan? inikan mejanya besar sekali, pasti muat kan?" batin Marinka.
"Gawat...aku lupa mengajarkan Marinka table manner, bagaimana kalau tujuan utaman gadis ini mengundang makan siang untuk mempermalukan Marinka didepan pelayan," batin Ezra.
Jarak kursi yang diatur sedemikian rupa, tidak memungkinkan Ezra untuk berbisik agar wanitanya itu tahu kode yang dia berikan. Namun saat menu pembuka dihidangkan, Marinka dengan sikap luwes memperagakan ilmu yang dia dapat saat dirinya bekerja paruh waktu disebuah restauran mewah, bersama Sera sewaktu SMA dulu.
__ADS_1
Ezra menyunggingkan senyumnya, ternyata kekhawatirannya sama sekali tak berdasar. Pria itu bertekad ingin mengetahui istrinya itu lebih dalam lagi. Banyak hal yang Marinka perlihatkan, yang membuat pria itu semakin mengagumi sosok istrinya itu.
Hingga sampai kehidangan penutup, Marinka memainkan perannya dengan sangat baik. Bahkan Lady Aceline pun tidak menyangka, Marinka bisa mengerti table manner dengan sangat baik tanpa ada cela sedikitpun.
"Apa keluarga anda juga berasal dari keluarga pengusaha?" tanya Lady Aceline yang mulai mengorek sisi sensitif dari Marinka.
Ezra merasa takut kalau-kalau Marinka jadi rendah diri karena mendapat pertanyaan sensitif itu, terlebih orang yang bertanya bisa dikatakan adalah saingan cintanya. Namun diluar dugaan Ezra, Marinka menanggapinya dengan senyuman lembut sebelum wanita itu membuka suara.
"Bahkan saya tidak memiliki keluarga satupun selain keluarga suami saya." Jawab Marinka.
"Maksud anda?" tanya Aceline.
"Ya. Saya seoarang anak yatim piyatu, yang dibesarkan dari pantu asuhan." Marinka menjelaskan dan bisa membuat Aceline sedikit terkejut.
"Itulah saya sangat beruntung, karena wanita seperti saya bisa mendapatkan permata berharga seperti suami saya." sambung Marinka.
Greeepppp
Lagi-Lagi Ezra menggenggam tangan Marinka, yang bisa dilihat oleh Aceline.
"Tidak masalah kita berasal darimana, yang penting kita mendapatkan pasangan yang saling melengkapi bukan?"
"Ya. Lady Aceline benar, seperti yang istri saya katakan. Dia merasa beruntung memiliki saya, tapi sebenarnya sayalah yang merasa beruntung memiliki dia. Entah mengapa, saya selalu merasa jatuh cinta pada istri saya setiap harinya," ujar Ezra.
"Kalian sungguh pasangan yang serasi. Saya Do'akan semoga hubungan kalian langgeng."
"Terima kasih Lady. Kami Do'akan anda juga cepat menyusul," ucap Marinka.
"Terima kasih atas Do'anya."
"Sepertinya kami harus segera pergi, kasihan anak-anak kami masih membutuhkan asi ibunya." ujar Ezra.
"Baiklah, terima kasih sudah berkunjung "
"Sama-Sama. Kami juga merasa senang bisa berkunjung kerumah anda," ujar Ezra.
Ezra dan Marinka membungkukkan badan dan kemudian melenggang pergi dari sana. Sementara itu ditempat berbeda, Lilian ning beberapa kali memutar ulang video saat Marinka dan Ezra melakukan konfrensi pers. Saat ini dirinya memang sedang berada di Paris untuk merayakan kebebasannya. Kebebasan yang dia dapatkan karena suami diktatornya sudah mangkat satu setengah bulan yang lalu akibat serangan jantung, setidaknya itulah yang dikatakan adik iparnya karena saat itu sama sekali tidak ada saksi yang melihat kejadian itu.
Tapi Lilian tidak perduli, karena dengan kematian suaminya dirinya bisa bebas tanpa merasa terkekang lagi. Dan saat ini dirinya dan orang kepercayaannya tengah mendiskusikan sesuatu.
"Kamu sudah lihat kan orangnya? ambil sample rambutnya, lalu lakukan uji DNA. Aku ingin tahu apa Marinka Diningrat yang ini adalah putriku atau bukan."
"Baik Nyonya,"
Lilian sangat berharap orang yang ada di video itu adalah putrinya. Agar pencariannya selama sepekan ini tidak berakhir sia-sia seperti ketika dirinya mendatangi panti asuhan itu.
__ADS_1
TO BE CONTINUE....🤗🙏