
"Dulu ibunya pernah jadi cleaning service di kantor mama. Jadi aku akan menjadikannya OG disini," batin Rakha.
Sementara itu Gadlyn dan Yure menunggu-nunggu apa yang akan Rakha katakan.
"OG." Jawab Rakha singkat.
"Apa?" Gadlyn dan Yure terkejut bersamaan.
"Ckk...kamu kenapa ikut-ikut berteriak sih?" tanya Rakha pada Yure.
"Rakha. Apa ini tidak kelewatan? bagaimana kalau Om Ezra tahu? kita berdua bisa kena semprot," bisik Yure.
"Kamu tenang saja. Ini akan menjadi urusanku," ujar Rakha.
"Ke-Kenapa OG?" tanya Gadlyn.
"Kenapa memangnya dengan OG? aku sudah bilang, aku ingin melihat kesungguhanmu dulu. Kalau melakukan hal kecil saja tidak bisa, bagaimana mau melakukan hal yang lain?" ucap Rakha.
"Malang sekali nasibku. Ini sama saja menghina ijazahku. OG memang bukan pekerjaan hina, tapi masa iya lulusan terbaik harvard jadi OG? dia ini benar-benar kelewatan ngerjain orang. Aku harus bagaimana? mama sudah berpesan, apapun pekerjaan yang dia kasih, aku harus menerimanya. Tapi nggak gini juga kan ya?" batin Gladlyn.
"Bagaimana? apa kamu mau? kalau nggak mau silahkan keluar dari sini," tanya Rakha.
"Sampai berapa lama saya jadi OG?" tanya Gadlyn.
"Kenapa kamu bertanya begitu? aku ini bosnya disini," ucap Rakha.
"A-Aku kan cuma nanya," ujar Gadlyn lirih dengan kepala tertunduk.
"Sampai kamu bisa membuat kopi atau teh, sesuai dengan seleraku." Ucap Rakha.
"Eh? jadi saya cuma disuruh buat teh dan kopi untuk anda?" tanya Gadlyn.
"Ya." Jawab Rakha.
"Apa dunia ini sudah terbalik? apa ini suatu keajaiban? selama ini Rakha tidak mau dibuatkan teh atau kopi oleh orang lain, termasuk aku. Dia lebih suka membuatnya sendiri. Tapi sekarang dia malah menyuruh gadis ini. Gladlyn, berdo'a saja kalau ini bukan pertanda buruk untukmu," batin Yure.
"Baiklah aku setuju," ujar Gadlyn.
"Tapi ingat, semakin lama kamu tidak bisa membuat kopi dan teh yang enak sesuai seleraku, maka semakin lama pula kamu menjadi OG," ucap Rakha.
"Terlihat sekali dia ini cuma ingin mengerjaiku. Heh...mau membuat aku takut dan mundur, mimpi saja! aku akan memperlihatkan padamu, aku adalah gadis masa kini yang serba bisa. Lagipula ini jaman canggih, aku bisa melihat di media sosial cara membuat kopi dan teh yang enak," batin Gladlyn.
"Aku setuju," ujar Gladlyn.
"Yure. Antarkan dia ketempat pengambilan seragam karyawan!" ucap Rakha.
__ADS_1
"Baik." Jawab Yure.
Yure dan Gladlyn pergi keruangan, dimana tempat untuk penyimpanan pakaian karyawan.
"Kamu jangan ambil hati ucapan dia. Meski dia terlihat galak, tapi sebenarnya dia sangat baik. Hanya saja kalau dengan gadis, dia memang sedikit memiliki kewaspadaan tinggi," ujar Yure.
"Apa kalau dengan pria dia sangat ramah?" tanya Gladlyn.
"Ya. Dia seseorang yang menjunjung sopan santun tinggi. Dengan wanita juga begitu, tapi aku juga heran kenapa dia bersikap begitu denganmu."
"Aku mengerti, tidak masalah." Jawab Gadlyn.
"Nah...ini loker pakaiannya, kamu bisa pilih sendiri sesuai ukuranmu," ujar Yure.
Gadlyn membuka loker itu dan memilih ukuran yang biasa dia kenakan. Setelah itu dia langsung memakainya di ruang ganti.
Rakha memindai matanya dari atas sampai bawah, saat melihat Gadlyn dengan pakaian berwarna biru itu.
"Tes pertama. Buatkan aku teh!" perintah Rakha.
"Kamu sudah tahu letak pantry kan?" sambung Rakha.
"Sudah tuan." Jawab Gadlyn.
"Sana bikin!"
"Pantas saja belum laku. Galaknya mintak ampun. Kalau begitu baiknya dari mana? kalau bukan demi Mama dan menghargai om Ezra, sudah kutinggalkan tempat ini sejak tadi," gerutu Gadlyn.
"Tinggal buat teh, apa susahnya? meskipun aku tidak pernah membuat teh atau kopi, dia tidak mungkin mati kan dengan meminum teh percobaanku?" ujar Gadlyn terkekeh sendiri.
"Apa salah gadis itu? kenapa kamu memperlakukan dia begitu?" tanya Yure.
"Dia tidak salah. Aku hanya ingin menggemblengnya saja. Lulusan terbaik Harvard juga harus tahu melakukan hal yang sederhana." Jawab Rakha sembari meletakkan amplop coklat yang berisi CV dari Gadlyn.
Yure memutar bola mata dengan malas. Dia tahu betul itu hanya klise.
"Bulan ini ada puluhan karyawan yang baru masuk, tapi tidak ada seorangpun yang kena gembleng seperti Gadlyn. Ini sangat jelas bukan itu alasan sebenarnya," batin Yure.
Selang menunggu hampir 10 menit, Gadlyn kembali dengan membawa secangkir teh diatas nampan.
"Butuh waktu 10 menit untuk membuat secangkir teh? sementara air panas sudah tersedia, gula juga tidak perlu lagi beli ke super market," sindir Rakha.
"Tapi tidak apa. Aku hargai usaha pertamamu, mungkin kamu grogi membuatkan teh seorang bos berkharisma sepertiku. Letakkan tehnya diatas meja!" sambung Rakha.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? dia yang mau minum, tapi aku yang gugup," batin Yure.
__ADS_1
Rakha meraih tangkai cangkir teh yang Gadlyn buat, dan mulai meletakkan mulut cangkir di tepi bibirnya, dengan mata menatap kearah Gadlyn.
Namun baru sesapan pertama, mata Rakha langsung melotot seketika.
"Sudah kuduga. Dia langsung keenakkan dengan teh buatanku," batin Gadlyn bangga.
"Sudah kuduga. Aku tahu betul ekspresi wajahnya saat dia tidak menyukai sesuatu. Ini benar-benar buruk buatmu Gadlyn," batin Yure.
Rakha meraih selembar tisu dan menyapu lidahnya dengan benda itu.
"Eh? apa memang kebiasaannya menyapu lidah setelah minum teh?" batin Gadlyn.
Rakha menatap Gadlyn dengan tatapan yang tidak bisa gadis itu artikan.
"Bagaimana aku mau menikah dengan cepat? kalau begini caranya untuk apa mama mendesakku segera menikah, sementara gadis jaman sekarang bikin tehpun tidak bisa. Bisa-Bisa racun tikus dikira gula," batin Rakha.
"Apa kamu ingin membuatku terkena diabetes? berapa kilo kamu memasukkan gula kedalam secangkir teh?" tanya Rakha.
"Nggak sampai berkilo-kilo kok, cuma 5 sendok." Jawab Gadlyn dengan 5 jari dia acungkan kedepan.
"5 sendok? apa orang tuamu tidak pernah mengajari bekerja di dapur selama hidup 25 tahun?" tanya Rakha.
Mata Gadlyn kembali berkaca-kaca. Karena dirinya memang tidak pernah belajar apapun dari orang tuanya. Sementara Rakha jadi terdiam, dia lupa kalau kedua orang tua Gadlyn tidak mendampingi gadis itu hingga tumbuh besar.
Rakha menghela nafas panjangnya, kemudian mendorong cangkir teh itu menjauh.
"Hari ini cukup disini saja. Berlatihlah membuat teh dan kopi dirumah, besok harus bisa lebih baik lagi." ucap Rakha dengan tidak melihat kearah Gadlyn.
"Baik." Jawab Gadlyn.
"Satu lagi. Jangan pernah menangis lagi dihadapanku, aku tidak suka melihatnya. Hilangkan kebiasaan cengengmu itu," ujar Rakha.
"Iya." Jawab Gadlyn sembari menyeka air matanya.
"Pergilah!"
Gadlyn berbalik badan dan keluar dari ruangan itu.
"Kamu awasi dia. Aku tidak mau dia membuat masalah. Walau bagaimanapun orang tuanya pernah membuat masalah dengan keluargaku, aku tidak mau kebaikkan keluargaku membuat dia memiliki kesempatan untuk balas dendam," ujar Rakha.
"Aku mengerti." Jawab Yure.
"Oh...jadi perlakuan kasarnya pada Gadlyn hanya ingin mewaspadai gadis itu?" batin Yure.
"Perintahkan supir untuk menyiapkan mobil. Kita harus ke grand hotel untuk menemui Mr. Jonathan klien kita dari kanada. dia mengajak kita meeting disana," ucap Rakha.
__ADS_1
"Baik." Jawab Yure.
Yure segera pergi melaksanakan perintah. Sementara Gadlyn terlihat pulang, namun dia membiarkan seragam OG tetap melekat di tubuhnya.