Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.36. Main Catur


__ADS_3

"Dekkk...." seru Ezra.


"Ya bang,"


Marinka yang baru selesai menyiapkan bekal untuk Ezra, tergesa-gesa saat pria itu memanggil namanya.


"Ada apa bang?" ucap Marinka sesaat setelah nongol didepan pintu kamarnya.


"Pasangin abang dasi."


Marinka menyunggingkan senyumnya dan kemudian mulai memasangkan dasi untuk Ezra


"Sudah. Udah cakep,"


"Makasih adeknya abang," ujar Ezra sembari mengacak rambut Marinka.


"Sama-Sama abangnya adek,"


"Yuk sarapan? hari ini kamu buat sarapan apa?"


"Omelet."


"Pasti enak."


"Ya dong. Adek juga udah nyiapin bekal buat abang,"


"Makasih ya?"


"Emm."


Marinka dan Ezra menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan. Pemandangan itu kini sudah menjadi makanan hari-hari untuk para pelayan. Mereka sangat senang, Ezra mendapatkan istri yang rajin, ramah dan perhatian seperti Marinka.


"Ini omelet terenak yang pernah abang makan."


"Benarkah?"


"Ini bisa menjadi sebuah ancaman buat abang,"


"Kenapa?"


"Kalau kamu selalu memanjakan abang dengan masakan enak setiap hari, bisa-bisa tubuh abang akan menjadi gendut,"


"Biarkan saja gendut, itu tandanya abang hidup senang."


"Teori darimana kalau gendut hidupnya senang? bisa jadi gendut sarangnya penyakit,"


"Ya pokoknya selama adek disini, abang tidak boleh terlihat kurus. Nanti kalau abang udah sama kak Jihan, baru boleh diet."


Ezra terdiam. Entah mengapa perasaannya jadi tidak menentu saat Marinka membahas tentang perpisahan mereka.


"Abang berangkat ya?"


"Hati-Hati ya bang?"


Marinka mencium tangan Ezra, dan pria itu mengusap puncak kepala Marinka. Setelah Ezra pergi ke kantor, Marinka bersiap pergi ke kampus karena hari ini dia akan mulai mendapat proyek mendisign dikampusnya. Disign yang dibuat perkelompok, yang akan langsung mereka wujudkan menjadi sebuah barang sesuai dengan yang mereka disign.


Satu kelas sudah dibagi menjadi 7 kelompok, sebelum menggambar, mereka terlebih dahulu mengambil nomor undian masing-masing pada sebuah gelas kaca. Mereka akan mendisign sesuai tema yang mereka dapat dari nomor undian tersebut.

__ADS_1


"Astaga...kita sial sekali, ini proyek pertama kita, tapi sudah mendapat disign serumit ini," ujar Arumi salah seorang tim dari Marinka.


"Iya. Coba dapat yang lebih mudah sedikit," timpal teman Marinka yang lain.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi. Mau tidak mau kita harus mengerjakan ini, anggap saja ini tantangan buat kita. Kalau kita berhasil menyelesaikan proyek ini, untuk kedepannya kita tidak akan kesulitan saat memperoleh proyek yang mudah," ucap Marinka.


"Iya kamu benar. Tapi untuk menbuat gaun pengantin yang bagus, apa cukup dengan hanya menggunakan waktu dua minggu?" tanya Rehan.


"Kita kerjakan semampu kita saja, tapi jangan terlalu santai juga. Tetap kita harus mengerjakan dengan Maksimal." ujar Marinka.


"Lalu dari kita berlima, siapa yang akan mendisign baju pengantinnya! terus terang aku belum PD," tanya Arumi.


"Bagini saja, kalau kita langsung menunjuk diantara kita, itu akan terasa tidak adil dan membebani. Lagi pula kita belum tahu kemampuan menggambar untuk disign baju pengantin. Jadi menurutku biar adil, bagaimnaa kalau kita berlima sama-sama menggambar disign untuk proyek ini? besok kita akan bertemu kembali untuk memperlihatkan hasil gambar kita masing-masing. setelah itu kita baru tentukan gambar mana yang layak kita jadikan untuk proyek ini," usul Marinka.


"Usul yang bagus, jadi semuanya bisa dibilang tidak ada yang saling mengandalkan," sahut mela.


"Sepakat," ujar Arumi sembari mengulurkan tangannya dan langsung ditimpa dengan tangan teman-temannya yang lain.


Karena sudah mendapatkan proyek masing-masing, hari ini Marinka jadi cepat pulang. Karena merasa rindu dengan mertuanya, Marinka memutuskan untuk datang kesana.


Tidak lupa Marinka juga membeli beberapa jenis kue untuk buah tangannya saat datang kerumah mertuanya itu.


"Marinka?" Masayu terkejut saat melihat kedatangan Marinka.


"Mama?"


Marinka langsung mencium tangan Masayu dan mencium pipi kanan dan pipi kiri wanita parubaya itu.


"Kamu datang sendiri?" tanya Masayu setelah menutup pintu.


"Iya. Bang Ezra lagi di kantor, Inka kangen mama papa, jadi datang kemari. Lagian bosan dirumah nggak ngapa-ngapain,"


"Ini Inka tadi mampir ke toko kue, nggak tahu deh apa mama dan papa suka apa nggak,"


"Wahh...cocok nih buat camilan bersama teh sore nanti."


"Papa mana ma?"


"Ada. Bentar lagi pasti turun,"


"Nahh...itu dia," ujar Marinka yang melihat Baskoro sedang menuruni anak tangga.


"Ada Marinka,"


"Pa," Marinka mencium tangan Baskoro.


"Udah lama?"


"Baru datang Pa." Jawab Marinka.


"Kamu datang sendiri? Ezra kemana?"


"Belum pulang ngantor Pa, Inka baru pulang kuliah langsung kesini."


"Sering-Sering datang kemari, biar rumah ini sedikit ramai."


"Ya Pa."

__ADS_1


"Kamu sudah makan belum?"


"Sudah Pa."


"Iya. Tadi Marika juga bawa kue buat kita Pa, tahu aja mama lagi pengen makan kue sembari minum teh."


"Jam segini enaknya makan yang seger-seger, tapi apa ya?" ujar Baskoro.


"Apa mama papa mau Inka buatin es buah atau salad buah?" tanya Marinka.


"Nahh...ide bagus itu," ujar Baskoro.


"Kalau gitu tunggu sebentar, inka buat es buah dulu untuk kita,"


"Ah...memang menyenangkan punya anak perempuan," ujar Masayu.


Marinka hanya menyunggingkan senyum dan berlalu pergi kedapur.


"Beruntung sekali putra kita mendapatkan Marinka, semoga saja ketakutan kita itu tidak terjadi ya Pa?"


"Makanya jangan bahas masalah anak dulu untuk sementara waktu, biarkan mereka menikmati kebersamaan mereka dulu saat ini."


"Mama nggak rela kalau sampai mereka pisah, Marinka adalah wanita yang tepat untuk Ezra putra kita."


"Emm. Main catur yok ma? sekalian nungguin Marinka."


"Ogah. Mama kalah terus, noh ajakin si Udin aja. Lagian apa Papa nggak bosan main catur terus?"


"Namanya juga hoby,"


"Taraaaa...es buahnya sudah jadi,"


Marinka tiba-tiba muncul dengan membawa 3 gelas besar es buah.


"Cepat sekali," ujar Masayu.


"Sepertinya keberuntungan ada di pihak kita, Inka lihat sudah ada potongan buah didalam kulkas, jadi Inka pakai itu saja."


"Ah...segerrr," Baskoro yang mencicipi lebih dulu merasakan sensasi segar saat potongan-potongan buah dan air es mengalir ditenggorokkannya.


"Papa suka catur?" tanya Marinka saat melihat papan catur diatas meja.


"Bukan suka lagi, papamu ini kayak orang gila saking sukanya dengan catur." Jawab Masayu.


"Papa mau main denganku?"


"Kamu bisa?"


"Tidak begitu mahir, tapi Inka bisa kok,"


"Cocok deh kalau gitu, Papa memang pengen main catur, tapi nggak punya lawan."


"Kalau gitu ayo kita main,"


Marinka meletakkan gelas es buahnya setelah menyendokkan beberapa potongan buah kedalam mulutnya.


Marinka dan Baskoro mulai menyusun bidak catur, sementara Masayu hanya jadi penonton untuk permainan itu.

__ADS_1


Baskoro sangat senang karena Marinka bukan lawan yang mudah dikalahkan. Bahkan pertarungan itu terlihat begitu sengit diantara keduanya. Baskoro mengakui kebolehan Marinka dalam bermain catur, meskipun pada akhirnya Marinka harus kalah, tapi permainan itu cukup lama berlangsung hingga memakan waktu hampir satu jam.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2