
Tok
Tok
Tok
"Ya," Marinka yang sedang mendisign tugas dikertas gambar terpaksa menghentikan gerakkan tangannya, karena mendengar ada suara ketukan diluar pintu.
"Maaf Nyonya. Ada tamu dibawah yang mencari anda."
Marinka menoleh kearah Ezra yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Temui saja. Siapa tahu teman kampusmu," ujar Ezra tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Ya udah adek turun kebawah dulu ya bang?"
"Emm."
Marinka membuka pintu kamar dan bergegas turun kebawah untuk mengetahui siapa tamu yang datang. Melihat ada suara jejak kaki ditangga, tamu itu menyunggingkan senyumnya.
"Hai..." Sapa Karin.
Langkah Marinka sedikit melambat, saat mengetahui tamu yang mencari dirinya adalah musuh terpendamnya.
"Kamu?"
"Ya ini aku. Kebetulan aku lewat, jadi sekalian mampir."
Seorang pelayan membawakan dua cangkir teh dan camilan, kemudian meletakkannya diatas meja.
"Darimana?" tanya Marinka basa-basi.
"Baru pulang dari Mall, bosan dirumah, jadi ngabisin uang suami dulu." Karin terkekeh.
"Bawa mobil sendiri?"
"Ya. Ngapain naik taksi atau diantar supir kalau kita punya banyak mobil dan bisa nyetir sendiri,"
Marinka tersenyum tipis mendengar jawaban Karin. Wanita itu fikir semua orang kaya mempunyai pola pikir yang sama dengannya.
"Bukankah kamu sedang hamil?"
Marinka melirik kearah perut Karin yang sudah membuncit.
"Hamil jangan dijadikan alasan untuk kita mengurangi aktifitas. Belanja juga bisa mengurangi stres saat masa kehamilan."
"Silahkan diminum tehnya."
"Emm." Karin mengangguk sembari meraih cangkir tehnya.
"Kamu kapan dong bisa belanja bareng aku," tanya Karin yang mulai kembali sok akrab.
"Aku benar-benar sibuk. Akhir-Akhir ini tugas kuliahku sangat banyak."
"Gimana kalau weekend nanti kita belanja bareng. Jangan bilang suamimu nggak ngizinin,"
__ADS_1
"Aku memang harus minta izin dulu dengan suamiku. Nanti akan aku kabari kalau diperbolehkan," elak Marinka.
"Baiklah. Tapi ngomong-ngomong suamimu kemana?" tanya Karin.
"Ngapain dia nanyain suamiku? penyakit bibit pelakor rupanya memang sudah mendarah daging," batin Marinka.
"Ada diatas. Lagi ngerjain pekerjaan kantor,"
"Ya ampun rajin banget ya suamimu. Sampai-Sampai pekerjaan kantor aja dibawa kerumah, pengusaha nomor satu memang beda."
"Ya mau gimana lagi, namanya juga cari rejeki buat nafkahin istri."
"Jadi kepo nih, emang berapa sih nafkah yang dikasih suamimu sebulannya?"
"Ini maksud karin apa ya nanya-nanya gitu? apa dia mau bandingin pemberian suamiku dengan suaminya? aku mana tahu bang Ezra kasih berapa? sampai detik ini aku belum pernah ngecek isi ATM yang dia kasih waktu itu. Apa sebaiknya aku panasin Karin aja ya? biar dia syok berat,"
"Nggak banyak, cuma 5 milyar sebulan."
"Li-Lima milyar?" Karin terkejut hingga mulutnya menganga.
"Memangnya berapa suamimu memberikan nafkah sebulan?"
"Aku jadi malu menyebutkannya, karena kami memang mempersiapkan untuk kelahiran anak kami. Jadi suamiku cuma memberikan sekitar 100 juta sebulan."
"Heh. 100 juta cuma? saat menjadi suamiku bahkan uang belanja sehari-hari tidak lebih dari 10 juta dia kasih selama sebulan. Bajingan itu memang keturunan Fir'aun," batin Marinka.
"Sialan. Enak banget hidupnya dapat 5 milyar sebulan. Padahal cuma modal cantik doang," batin Karin.
"Wah...enak banget ya kalau dapat 5 M sebulan, pasti puas banget ngabisinnya. Jadi iri deh, kalau aku dikasih segitu pasti aku shopingnya keluar negri."
"Karin ini benar-benar nggak cocok menjadi teman. Dia bisa membawa pengaruh buruk buat siapapun,"
"Huh...naif, itu namanya bego. Nggak bisa nikmatin idup," batin Karin.
"Siapa yang datang dek?"
Ezra tiba-tiba turun dari kamar, yang bermaksud ingin membuat minuman segar. Pria tampan itu turun dengan hanya menggunakan celana pendek selutut dan baju kaos berwarna hitam.
"Dia tampan sekali," batin Karin yang tak berkedip saat melihat kedatangan Ezra.
Marinka melirik kearah Karin dan tersenyum sinis saat melihat Karin yang menatap suaminya tanpa berkedip.
"Ini ada nyonya Galang."
Ezra duduk disamping Marinka dan melingkarkan tangannya dibahu istrinya. Ezra tidak tahu, diperlakukan seperti itu membuat jantung Marinka berdegup dengan kencang. Terlebih saat Ezra tiba-tiba mencium puncak kepalanya didepan Karin.
"Baik banget sih nasib wanita ini, punya suami kaya dan terlihat penyayang sekali.Tapi bukankah pria kaya suka bosan dengan satu wanita saja? aku sumpahin suamimu selingkuh nantinya,"
"Apa nyonya Galang datang kesini sendiri?"
"Ya. Baru pulang belanja, kebetulan lewat sini, jadi sekalian mampir."
"Kelihatannya anda sedang hamil, apa itu tidak jadi masalah untuk suami anda pergi sendiri?"
"Saya tidak suka merepotkan suami, saya tipe wanita yang mandiri."
__ADS_1
"Bagus dong. Pasti suami anda sangat bangga punya istri mandiri seperti anda."
"Saya rasa istri anda juga begitu kan?"
"Tidak. Saya tidak suka dia melakukan pekerjaan berat atau pekerjaan rumah. Tugas dia hanya perlu menghabiskan uangku saja, dan melayaniku layaknya seorang istri."
Marinka mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban Ezra yang dibuat-buat itu.
"Eughhh...enak banget sih idup betina ini. Tunggu saja sampai Ezra bosan, kamu pasti akan ditendang dari rumah ini."
"Anda sayang sekali ya dengan istri anda,"
"Tentu. Siapapun wanita yang ada dihidupku, harus kubuat senang."
"Ini maksud Ezra apaan ya? kata-kata dia seperti menyiratkan tidak hanya memiliki satu wanita saja. Apa sebenarnya dia tidak bahagia hidup dengan Marinka? atau jangan-jangan pernikahannya hanya formalitas saja? kalau dipikir-pikir orang hebat dan kaya seperti dia, pasti ingin mendapatkan lebih bukan?"
"Anda sangat beruntung nyonya Marinka, sudah dapat suami tampan, kaya dan penyayang."
"Tentu. Itu merupakan bonus buatku." Jawab Marinka.
"Baiklah sudah sore, suamiku pasti sudah pulang. Saya pamit pulang dulu ya?"
"Silahkan!" ujar Ezra.
Karin beranjak dari duduknya, dan melenggang pergi setelah diantar hingga depan teras.
"Abang kenapa bersikap begitu didepan Karin?" tanya Marinka.
"Kata-Kata abang juga banyak menyiratkan sesuatu," sambung Marinka.
"Kenapa emangnya? adek kan istriku, aku bisa melakukan apa saja sesuka hati abang."
Ezra melenggang pergi menuju dapur, seolah cuek dengan apa yang sudah dia katakan.
"Bang Ezra yang seperti ini apa dia tidak tahu? semua perkataan dan tindakkannya membuat bentengku perlahan goyah. Sudah susah payah aku bertahan, tapi kalau begini caranya iman siapapun akan roboh," batin Marinka.
"Abang mau buat apa?" Marinka menghampiri Ezra yang tengah mengupas mangga, dengan gerakkan tangan yang sangat kaku.
"Pengen jus mangga."
"Ckk...biar adek yang buat milkshake mangga buat abang, mau?"
"Mau."
"Haduhh..bukan begitu cara ngupas mangganya bang, abang membuat adek takut, pisau itu lumayan tajam. Sini biar adek saja,"
Ezra menyerahkan mangga dan pisau pada Marinka, wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kupasan pada mangga yang masih terlihat hijau didaging buahnya.
"Pelit sekali abang ngupas mangganya,"
"Kenapa?"
"Noh masih pada ijo didaging buahnya. Harusnya agak tebal sedikit ngupasnya, jadi bersih dan enak dimakan."
"Begitu?"
__ADS_1
"Iya. Nanti adek akan buka kursus kupas mangga buat abang," Marinka terkekeh.
Ezra ikut terkekeh dan mengusap puncak kepala Marinka.