
Sepanjang perjalanan pulang Ezra diam membisu. Tidak ada kesan romantis ataupun haru yang pria itu perlihatkan seperti saat di layar kaca. Dan Marinka sudah tahu pasti penyebab kenapa suaminya itu bisa bersikap seperti itu.
"Sepertinya malam ini aku harus tampil ekstra untuk membujuk suami yang sedang merajuk. Dan tubuhku pasti terasa remuk keesokkan harinya," batin Marinka yang sudah membayangkan betapa letihnya saat suaminya itu sudah menghukum dirinya.
"Bang. Pengen makan bakso langganan kita," rayu Marinka yang mencoba mencairkan suasana.
"Ya." Jawab Ezra singkat.
"Abang marah?" tanya Marinka.
"Tidak." Jawab Ezra dengan wajah datar.
"Nggak jadi makan baksonya. Adek mau pulang saja," ujar Marinka dengan wajah mendung.
Biasanya Ezra akan bertanya kenapa tidak jadi ini dan itu. Tapi kali ini pria itu bahkan tidak merayu Marinka juga tidak mengalah sama sekali.
"Sepertinya dia benar-benar marah padaku," batin Marinka.
Dan benar saja, Marinka benar-benar di bawa pulang kerumah. Wajah pria itu masih saja masam. Sampai saat akan makan malam pun, Ezra tidak mau turun meski dibujuk.
"Bang. Makan malam yuk? adek sudah lapar ini," bujuk Marinka.
"Duluan saja. Abang masih kenyang." Jawab Ezra yang berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Marinka mendekati Ezra dan berbaring di pangkuan suaminya itu. Ezra memejamkan matanya, sejujurnya dia tidak bisa marah pada Marinka, karena memang istrinya itu tidak bersalah.
Marinka memainkan punggung tangan Ezra yang masih berpura-pura sibuk bermain dengan ponselnya.
"Adek tahu abang sedang marah saat ini. Tapi adek juga minta pengertian abang, tidak mudah bisa sampai ke titik ini. Adek ingin bicara dengannya, karena ingin menuntaskan segalanya untuk terakhir kalinya. Kalau abang takut dia mengambil keuntungan saat bertemu denganku, abang boleh ikut serta nantinya," ucap Marinka.
Ezra masih dalam mode diam. Sejujurnya memang itu masalah yang ada didalam benaknya saat ini. Dia sangat takut Galang menggunakan segala cara agar bisa menaklukan Marinka kembali. Ezra tidak ingin membagi kekhawatirannya itu, karena takut Marinka salah paham dan mengira dirinya tidak mempercayai Marinka.
"Sepertinya abang sedang membenciku saat ini, abang sama sekali tidak sudi melihat wajahku. Apa pisah kamar dibutuhkan saat ini?" tanya Marinka.
Dan ancaman Marinka itu berhasil membuat Ezra jadi panik. Pasalnya dia tahu betul, dirinya tidak bisa tidur nyenyak tanpa memeluk tubuh istrinya yang empuk itu.
__ADS_1
Marinka beranjak dari pangkuan Ezra, dan hendak turun dari atas tempat tidur.
Greppppp
Ezra memeluk tubuh Marinka dari belakang. Tanpa Ezra tahu, Marinka menyunggingkan senyumnya.
"Abang kenapa?" tanya Marinka.
"Jangan pisah kamar." Jawab Ezra.
"Siapa yang mau pisah kamar!" tanya Marinka.
"Tadi adek bilang mau pisah kamar dan langsung mau pergi gitu aja."
"Adek mau turun kebawah, buat makan malam. Mana mungkin adek mau pisah kamar ninggalin guling hidup yang menghangat adek tiap malam." Jawab Marinka sembari mengedipkan mata dengan nakal.
"Sepertinya sekarang kamu sudah pandai menggoda suamimu. Kamu tahu sendiri abang paling nggak tahan melihat rona nakal diwajahmu itu," ujar Ezra yang sudah bermain di ceruk leher jenjang milik Marinka.
"Abang. Kita makan dulu yuk? butuh tenaga buat bertempur kan?"
Ezra sangat senang mendengarnya, karena setahunya Marinka masih datang bulan 3 hari yang lalu. Ezra tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia pun menarik tangan Marinka untuk segera makan malam.
"Aku akan membuatnya menyerahkan diri sendiri kepihak berwajib." Jawab Marinka.
"Dia tidak akan mau. Pria selicik dia, pasti akan menggunakan berbagai cara dan alasan agar bisa lepas dari jerat polisi."
"Adek punya cara sendiri buat dia mengakui semua perbuatannya," ujar Marinka.
Ezra menghela nafasnya, dia hanya bisa mendukung apapun yang akan Marinka lakukan kedepannya. Meskipun dia sedikit takut Galang, akan menggunakan kesempatan itu untuk menarik perhatian Marinka kembali.
Marinka menghentikan gerakkan tangannya saat akan memasukkan makanan kembali kedalam mulutnya. Dia begitu penasaran, kenapa wajah pria di sampingnya itu begitu sangat murung saat membahas masalah mantan suaminya itu.
"Abang kenapa lagi? sebenarnya apa yang abang takutkan dari pertemuanku itu?" tanya Marinka.
Ezra menghentikan kunyahannya dan menatap istri yang sangat di cintainya itu.
__ADS_1
"Sejujurnya abang takut kalau pendirian adek akan goyah."
"Maksudnya?" tanya Marinka.
"Abang takut adek akan tergoda dengannya lagi."
Marinka menghela nafasnya dengan begitu berat.
"Darimana abang punya pemikiran sempit seperti itu."
"Kenapa? bukankah adek sendiri yang bilang, dulu adek sangat mencintainya, rela berkorban perasaan demi dia, bahkan meski sudah di selingkuhi masih saja adek bertahan. Bukankah itu artinya dia memiliki hal istimewa dalam dirinya? abang hanya takut dia memiliki kepandaian merayu lebih baik dari abang, hingga adek berpaling lagi ke arahnya. Kalau sampai itu terjadi, mungkin abang akan benar-benar gila."
Mendengar itu Marinka jadi tertawa begitu keras. Tawa yang sama sekali tidak pernah Ezra dengar selama mereka menikah.
"Kenapa adek tertawa?" tanya Ezra.
"Maaf," ujar Marinka yang langsung mengerem tawanya saat melihat wajah Ezra yang bertambah suram.
Marinka meletakkan sendok dan garpu diatas piring, dan kemudian meraih kedua sisi wajah suaminya.
"Bukankah abang tadi bilang itu dulu? lagipula tidak ada satupun hal istimewa dari dalam diri pria itu. Sangat jauh berbeda jika harus dibandingkan dengan abang. Dulu aku mencintainya membabi buta, karena mataku belum terbuka sepenuhnya. Aku masih jadi orang yang paling naif sedunia. Aku hanya berpikir saat itu suamiku adalah tempat aku berlindung dan bersandar diri. Padahal pemikiranku itu sangatlah keliru."
"Tapi saat aku bertemu dengan abang, semua kekeliruan itu berubah jadi suatu kebenaran. Beruntung dulu aku tidak menganggap dia adalah duniaku, karena aku menemukan duniaku yang sebenarnya yaitu abang. Abang memberikan segalanya yang tidak pernah aku dapatkan dari dia sebelumnya."
"Jadi jangan pernah berpikir dia adalah saingan buat abang, karena seujung kukupun dia belum layak jika dibandingkan dengan abang. Abang itu bagiku pria sempurna, justru adek yang merasa takut suatu saat abang akan meninggalkan adek dan berpaling dengan wanita yang lebih segalanya."
"Jadi abang jangan takut lagi ya? hidup dan matiku sudah kupasrahkan pada abang seorang," ujar Marinka panjang lebar.
Cup
Marinka mencium bibir Ezra dan sedikit **********.
"Apa adek sudah selesai makan?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Abang sudah tidak tahan lagi. Nggak cuma hati abang yang meleleh saat ini, yang dibawah juga mau dilelehkan." Jawab Ezra dengan kekehan khasnya.
Marinka hanya bisa menepuk dahinya, sudah panjang lebar dirinya membuat pria itu terkesan, tapi tetap saja berujung di atas tempat tidur. Tanpa berbasa basi lagi, Ezra membopong Marinka dan segera pergi ke kamar mereka.