
"Jadi sebelumnya kami ingin meminta maaf pada pihak keluarga pak Sudirjo. Dengan berat hati kami ingin membatalkan rencana pernikahan antara putri pak Sudirjo dengan putra kami Yure bagaskara," ucap Yuda.
Mendengar ucapan Yuda, tentu saja Sudirjo jadi berang. Tidak jauh berbeda dengan pria itu, sang istri juga menatap sinis kearah Yuda dan Regia. Sementara itu, wajah Vania sudah berubah jadi pucat.
Brakkkkkk
Sudirjo menggebrak meja. Sehingga membuat Yuda sekeluarga terjengkit kaget.
"Apa-Apaan ini pak Yuda? apa keluarga anda ingin mempermalukan keluarga kami? apa putri kami ingin kalian jadikan bulan-bulanan masyarakat? mau di letakkan dimana wajahku ini? semua rekan bisnis dan kolega sudah tahu semua perihal pernikahan putriku. Apa anda ingin Vania dibully oleh teman-temannya?" hardik Sudirjo tidak terima.
"Kami betul-betul minta maaf pada anda pak Sudirjo. Ini benar-benar diluar kendali kami. Kami juga tidak ingin ini terjadi. Percayalah, putri anda sangat ingin kami jadikan menantu, tapi kami benar-benar tidak bisa karena kami baru saja terkena musibah." Jawab Yuda.
"Omong kosong! kalian dari mempelai laki-laki tidak ada ruginya kalau membatalkan pernikahan ini. Lalu bagaimana dengan nasib putriku? masyarakat pasti akan mengecap buruk dirinya," ujar Sudirjo.
"Aku bisa menjamin tidak akan ada yang berani melakukan itu pada keluarga pak Sudirjo. Aku akan mengurus semuanya," ucap Yuda.
"Tidak bisa. Tidak semua hal bisa di selesaikan dengan uang. Berapapun anda ingin ganti rugi, tidak akan bisa mengembalikan rasa malu keluarga kami. Kalian juga harus memikirkan mental putriku," ucap Sudirjo.
"Jadi anda mau apa dari kami? kami hanya bisa memberikan kompensasi berupa uang atau property untuk keluarga bapak," ujar Yuda.
"Kami tidak menginginkan itu semua. Kami juga bukan orang kere, kami sudah punya segalanya. Pokoknya kami ingin harga diri kami diselamatkan," ucap Sudirjo.
"Jadi apa solusi yang anda minta?" tanya Yuda.
"Bukankah kalian memiliki seorang putra lagi? nikahkan dia dengan putriku." Jawab Sudirjo.
"Apa???" Yuda, Regi, Yure, termasuk Vania terkejut mendengar keputusan dari mulut Sudirjo.
"Kenapa? bukankah itu adil? kalian bisa mengatasi masalah kalian, kami juga bisa terhindar dari rasa malu," ujar Sudirjo.
"Sebenarnya musibah apa yang kalian alami, sehingga harus membatalkan pernikahan Yure dan Vania," tanya Susan.
"Ini masalah internal jeng. Tapi yang pasti kami tidak akan menutupinya dari kalian. Yure akan menikah dengan gadis lain, untuk alasannya kami tidak bisa memberitahu kalian." Jawab Regia.
"Tidakkah kalian pikir kalian itu keterlaluan? kalian seenaknya membatalkan pernikahan mereka, sementara Yure akan menikahi gadis lain?" ucap Sudirjo.
"Kami tahu kami salah pak. Tapi membuat keputusan menikahkan Vania dan Yugie, juga bukan hal yang bisa dibilang benar." Jawab Yuda.
"Kenapa?" tanya Sudirjo.
__ADS_1
"Kita harus menanyakan dulu pada putri dan putra kita. Apa mereka setuju di jodohkan? sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik." Jawab Yuda.
Sudirjo menoleh kearah Vania. Gadis itu sedang tertunduk, dengan mata berkaca-kaca dan tangan terkepal.
"Vania. Apa kamu keberatan, kalau harus menikah dengan putra pak Yuda yang lain?" tanya Sudirjo.
"Aku tidak keberatan." Jawab Vania, namun dengan wajah yang masih tertunduk.
Yure bisa bernafas lega, begitu juga dengan Yuda dan Regia. Tapi mereka juga perlu membujuk Yugie, agar mau menikahi Vania.
"Kalian dengar itu? putriku tidak keberatan. Aku tahu putriku kecewa, tapi daripada dia dipermalukan, lebih baik dilanjutkan saja hubungan ini," ucap Sudirjo.
"Baiklah kalau begitu pak Sudirjo, kami akan berusaha membujuk Yugie agar mau menikah sesuai tanggal yang sudah di sepakati," ujar Yuda.
"Kami tunggu kabar baiknya. Yang pasti aku tegaskan pada anda pak Yuda. Kami tidak ingin keluarga kami di permalukan, semua undangan sudah terlanjur di cetak dan disebar. Sauvenir juga sudah di pesan. Jadi tolong pengertiannya," ujar Sudirjo.
"Baik. Saya mengerti," ucap Yuda.
"Kalau begitu kami permisi dulu pak. Masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan," sambung Yuda.
"Silahkan," ujar Sudirjo.
"Selesaikan masalah kalian," ujar Yuda saat tidak sengaja melihat adegan itu.
"Ya. Papa mama duluan pulang saja. Nanti Yure akan menyusul," ujar Yure.
"Emm." Yuda mengangguk.
Vania kemudian membawa Yure ke taman belakang rumahnya.
Grepppp
Vania tiba-tiba memeluk Yure sembari terisak.
"Kenapa kakak melakukan ini pada Vania. Vania mencintaimu kak. Vania jatuh cinta sejak pertama kali kita bertemu," ujar Vania.
Yure menjauhkan Vania dari dekapannya, karena pria itu sedikit merasa tidak nyaman.
"Vania. Jangan begini, kamu itu gadis yang cantik dan baik. Maafkan aku, karena tidak bisa menikahimu." ujar Yure.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Vania.
"Karena kakak sudah mencintai wanita lain. Hanya saja kami memang sedikit terlambat bersatu." Jawab Yure.
Gyuuuutttt
Hati Vania merasakan sakit luar biasa, saat mendengar pernyataan Yure.
"Tapi percayalah. Kalau Yugie bersedia menikah denganmu, dia juga bukan pria yang buruk. Dia pria yang baik, kamu pasti akan mudah mencintai dirinya," sambung Yure.
"Apa kakak menganggap Vania seperti bola? bisa kalian oper kesana kemari? cintaku tidak sedangkal itu, hingga mudah terhapus oleh hubungan yang baru," ujar Vania.
"Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi Vania, belajarlah untuk mengikhlaskan semuanya. Anggap saja kalau kita memang tidak berjodoh." Jawab Yure.
Vania menyeka air matanya, dan sesaat kemudian tersenyum ke arah Yure.
"Baiklah. Vania akan mencoba menerima semuanya. Kalau adikmu menerimaku, maka aku akan belajar menerima dia di hatiku," ujar Vania.
"Gadis pintar. Percayalah, kamu akan bahagia bersama Yugie," ucap Yure.
"Emm." Vania mengangguk sembari tersenyum.
"Kakak pulang dulu. Masih ada hal yang harus di selesaikan," ujar Yure.
"Bolehkah Vania memeluk kakak untuk terakhir kalinya?" tanya Vania.
Yure awalnya tampak ragu. Namun akhirnya dia mengizinkan gadis itu untuk memeluknya, sebagai pelukkan perpisahan.
"Kakak pulang ya?" ujar Yure setelah pelukkannya terlerai.
"Ya." Vania mengangguk dan tersenyum.
Yure berbalik badan seketika, dan senyum manis Vania sudah berubah menjadi senyum terdingin. Dinginnya melebih air yang berada dikedalaman samudera.
Sementara itu, di tempat berbeda. Yugie tengah sibuk mengatur jalan lalu lintas, yang tengah macet karena sudah jadwalnya orang-orang pulang bekerja. Polisi tampan itu tampak gagah dengan seragam coklatnya dan sebuah peluit yang bertengger di bibirnya.
Tin
Rakha mengklakson, saat melihat Yugie yang tampak sibuk di tengah jalan raya. Yugie hanya menoleh dan mengacungkan jempol, saat tahu Rakha lah yang membunyikan klakson untuk dirinya.
__ADS_1