
Seorang gadis melambaikan tangannya saat mobil Marinka melintasi jalan yang lumayan sepi. Gadis itu mengenakan pakaian putih hitam, dengan membawa sebuah map coklat di tangannya.
"Berhenti," ujar Marinka pada supir pribadinya.
Melihat mobil didepan menepi, terpaksa dua buah mobil yang mengiringi mobil Marinka jadi ikut menepi. Orang suruhan Ezra itu memperhatikan apa yang istri majikannya itu lakukan.
"Tunggu sebentar, aku ingin bicara dengan gadis itu. Sepertinya mobil dia sedang mogok," ujar Marinka.
"Baik nyonya," ujar sang supir.
Marinka membuka pintu mobil, dan mendekati gadis yang tengah berdiri di pinggir jalan itu.
"Hai...ada yang bisa kami bantu?" tanya Marinka.
Marinka menatap wajah cantik gadis didepannya, gadis yang memiliki wajah oriental itu berpenampilan lumayan sopan meskipun tubuhnya jelas sangat terlihat seksi.
"Maafkan saya nyonya. Saya lancang sudah menyetop mobil anda, tapi saya tidak punya pilihan lain. Jalan ini lumayan sepi, saya takut dirampok sementara ban mobil saya sedang kempes saat ini."
Marinka melihat kearah ban mobil belakang yang memang terlihat kempes.
"Apa kamu memiliki ban serep dan dongkrak?" tanya Marinka.
"Ban serep punya, kalau dongkrang tidak punya."
"Baiklah. Mungkin orang-orang saya bisa membantumu mengganti bannya," ujar Marinka.
Marinka melambaikan tangan pada anak buah suaminya. Dua orang bertubuh besar tampak turun. Marinkapun menyuruh mereka agar membantu gadis itu mengganti ban mobilnya.
"Apa itu CV?" tanya Marinka.
"Ah ya...susah sekali cari kerja zaman sekarang. Saya baru saja resign dari sebuah perusahaan. Saya pikir bisa mendapat pekerjaan dengan mudah, karena saya memiliki banyak pengalaman."
"Memangnya pengalaman kamu di bidang apa?" tanya Marinka.
"Saya pernah menjadi seorang serketaris dan juga seorang asisten pribadi."
"Wah kebetulan sekali kalau begitu. Saya sedang membutuhkan seorang asisten pribadi. Sebenarnya sudah ada kandidat, tapi saat ini dia sedang hamil, jadi saya membutuhkan asisten pribadi buat 3 bulan kedepan."
" 3 bulan?"
"Ah...ya kamu tenang saja, kalau pekerjaan kamu bagus, saya akan menempatkan kamu dibagian lain." Jawab Marinka.
"Baiklah saya setuju nyonya."
"Kalau begitu berikan nomor kontakmu padaku, aku akan menghubungimu nanti," ujar Marinka.
Gadis itu kemudian memberikan nomor kontaknya. Setelah ban serep sudah terpasang, Marinkapun pamit pergi.
"Baiklah...eh..."
"Maaf saya lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama saya Veronica nyonya."
__ADS_1
"Baiklah Veronica, senang berjumpa denganmu. Sampai jumpa nanti ya?"
"Saya ucapkan terima kasih banyak atas bantuannya nyonya. Semoga perjalanan anda selamat sampai tujuan."
"Amiin...makasih ya?"
"Emm." Veronica menganggukkan kepalanya.
Marinka kembali menaiki mobilnya dan sang supir memberikan satu kali klaksoan mobilnya untuk gadis itu.
"Hah...kena kau Marinka. Aku pastikan setelah hari ini, hari-harimu akan menjadi suram sampai akhirnya kamu akan menemui ajalmu. dan akhirnya semua yang kamu milikki akan menjadi milikku," Jihan tertawa jahat, hingga rongga dimulutnya terlihat.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, Marinka akhirnya tiba dengan sebuah penyamaran. Marinka juga puas, karena target yang ingin dicapai akan segera selesai.
Setelah selesai meninjau pabrik, Marinka langsung kembali ke ibu kota hari itu juga. Dia tidak ingin bermalam, karena teringat akan anak-anaknya.
"Mama," teriak Ezka , saat melihat Marinka memasuki pintu utama rumah mertuanya.
"Mama sudah pulang?" tanya Ezka.
"Iya. Apa Ezka nakal hari ini? apa Ezka membuat repot oma dan opa?" tanya Marinka.
"Nggak ma. Kita jadi anak baik kok. Iya kan Da?" tanya Ezka pada Rakha yang masih asyik dengan ponselnya.
"Iya."Jawab Rakha singkat.
"Kamu sudah pulang?" tanya Masayu.
"Nggak nginep aja?" tanya Masayu.
"Kayaknya belum dulu kalau hari ini. Soalnya Inka juga belum tahu, apa bang Ezra sudah pulang atau belum. Nanti kalau abang nggak capek, Inka akan ajak dia nginap disini." Jawab Marinka.
"Baiklah." ujar Masayu.
"Ayo anak-anak, ambil tas kalian ya? kita pulang sekarang!" ucap Marinka.
Ezra dah Rakha bergegas mengambil tas ransel mereka dan pulang bersama Marinka. Saat Mobil Marinka tiba dipekarangan rumahnya, tampak mobil Ezra baru tiba.
"Abang baru pulang juga?" tanya Marinka.
"Iya. Kamu pulang? abang pikir bakal izin menginap."
"Nggak tenang ninggalin anak-anak. Keinget terus. Daripada nggak bisa tidur, mending adek pulang saja."
"Syukurlah, abang senang adek pulang."
"Kenapa?"
"Jadi guling hangat abang bisa dipeluk malam ini." Jawab Ezra sembari terkekeh, dan diapun mendapat pukulan ringan di lengannya yang kekar.
Mereka pun memasuki rumah dengan saling merangkul pinggang satu sama lain.
__ADS_1
"Abang mau kopi atau teh?" tanya Marinka, saat suaminya menjatuhkan bokong di sofa ruang tamu.
"Teh saja." Jawab Ezra.
Marinkapun bergegas pergi kedapur untuk membuatkan suaminya teh.
"Bang. Sepertinya adek sudah menemukan asisten pribadi untukku," Marinka mulai membuka percakapan, saat secangkir teh sudah dia letakkan diatas meja.
"Oh ya? apa kamu mengambilnya dari berkas yang ada di kantor HRD?" tanya Ezra sembari meraih cangkir teh dan menyesapnya perlahan.
"Nggak bang. Kebetulan tadi pagi adek bertemu secara tidak sengaja. Mungkin ini jodoh atau rejekinya dia .Kebetulan dia berpengalaman dibidang serketaris dan seorang asisten."
"Apa dia seorang wanita?"
"Ya."
"Baguslah. Sebab meski dia sepintar apapun dibidangnya, abang tidak akan pernah mengizinkanmu mempekerjakan seorang pria menjadi serketaris atau asisten pribadimu."
"Kenapa?"
"Mereka pasti mencuri-curi lihat istriku, abang nggak suka kamu dilihat seperti itu. Enak saja, orang-orangku saja tidak kuperbolehkan melihatmu lebih dari 5 detik,"
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak abang akan mencolok mata mereka pakai garpu." Jawab Ezra yang dibalas cebiran bibir dari Marinka.
"Pantas saja mereka melihatku seperti melihat hantu. Rupanya abanglah yang jadi biang kerok,"
"Baguslah, itu artinya mereka patuh pada perintahku." Jawab Ezra.
"Keatas yuk bang? pengen mandi, lengket banget rasanya." tanya Marinka.
Ezra menyeringai mendengar kata-kata mandi ditelinganya.
"Iya abang juga, kita mandi bareng ya dek? punggung abang pengen digosok,"
"Nggak ah bang..."
"Kenapa?"
"Ih...malu tahu bang,"
"Kenapa mesti malu. Lagian kita sudah punya anak dua, masak masih malu aja,"
"Dosa loh nolak perintah suami," sambung Ezra
Marinka memutar bola matanya, dia tahu persis apa yang terjadi selanjutnya saat pria itu menggosok punggungnya lebih dulu. Tangan pria itu sama sekali tidak bisa di kondisikan, dan ujung-ujungnya acara mandi bersama berganti menjadi mandi berlama-lama.
Sesuai yang Marinka duga, Ezra sama sekali tidak bisa mengendalikan diri saat melihat tubuh polosnya. Ezra selalu berhasil merayu dirinya baik dengan kata rayuan, maupun dengan sebuah tindakkan. Dan setelah melakukan pemanasan cukup lama, suara-suara merekapun memecah kesunyian ruang yang banyak mengandung air itu.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1