Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.7. Karin Bahagia


__ADS_3

"Jangan memaksakan diri menjadi istri yang baik, kalau memang lagi sakit. Kamu jangan lupa, istriku bukan kamu saja. Karin juga bisa melayaniku."


"Aku baik-baik saja Mas, karena aku sama sekali tidak sakit."


"Maksud Kakak apa? kakak mau membuat citraku didepan suami kita menjadi buruk? tadi kakak sendiri yang bilang padaku, kalau kakak sedang tidak enak badan, kenapa sekarang seolah aku yang berbohong?"


"Tapi aku...."


"Mau kamu apa sih? bercerai tidak mau, sekarang malah ingin menjatuhkan Karin didepanku? apa kamu fikir dengan kamu sakit, aku akan perduli denganmu? nggak akan!" hardik Galang.


Kata-Kata Marinka tercekat ditenggorokkan saat mendengar bentakan Galang yang menyakitkan. Namun Marinka berusaha untuk sabar, dan duduk diseberang meja untuk makan malam bersama.


"Sayang. Kita makan diluar yuk?"


"Makan diluar? kenapa? makanan ini kan banyak sayang,"


"***** makanku mendadak hilang saat melihat wajahnya." Jawab galang.


"Sayang. Nggak boleh gitu, walau bagaimanapun dia kakakku loh. Selain istrimu, dia juga kakak iparmu, jadi kamu harus hormat sama dia."


"Kamu dengar itu Marinka? bahkan orang yang kamu sakiti saja, masih mau membelamu. Beginilah jadinya kalau tidak pernah sekolah di perguruan tinggi, atitude nol besar,"


"Maaf Mas," ucap Marinka lirih.


Saat ini Marinka hanya bisa mengalah saja tanpa mau berdebat lagi dengan suaminya. Karena percuma saja dia membela diri, Galang pasti akan bertambah marah.


Marinka makan dalam diam, sembari menikmati pemandangan yang memuakkan didepan matanya. Pasangan itu seolah tidak menganggap kehadiran Marinka dihadapan mereka, dan malah asyik saling menyuapi satu sama lain.


"Ini sudah tidak benar, bagaimana bisa aku


menyarankan pada Nyonya Marinka agar mau bertahan sebentar lagi. Harga diri Marinka benar-benar terinjak-injak. Lebih baik Marinka hidup sendiri saja dan mencari kebahagiaan lain diluar sana," batin Maryam.


Selesai makan malam, Marinka membantu Maryam membersihkan peralatan makan. Sementara Karin dan Galang sudah kembali kedalam kamar.


"Nyonya,"


"Ya Bi."


"Sepertinya saya sudah membuat kesalahan besar."


"Kesalahan besar?"


"Ya. Sepertinya saya salah sudah menyarankan Nyonya untuk bertahan bersama dengan Tuan Galang. Melihat sikap mereka pada Nyonya, rasanya mustahil Tuan Galang akan berpaling dari wanita itu."


Marinka mendekati Maryam, dan meraih kedua tangan wanita yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya itu.


"Ini bukan salah bibi, karena memang aku yang ingin bertahan. Mungkin aku memang bodoh, karena terlalu mencintainya begitu dalam, hingga aku tidak perduli meski harus disakiti berkali-kali. Aku hanya punya satu keyakinan, suatu saat Mas Galang akan mencintaiku juga."


"Tapi mempunyai Madu seperti dia sangat sulit membuat Tuan Galang berpaling mencintai Anda. Bibi takut ada akan terskaiti hingga akhir."


"Bibi jangan khawatir ya? suatu saat, kalau aku memang tidak mampu lagi bertahan, dan tidak ada lagi sisa cinta dalam diriku untuknya, aku akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan mereka."

__ADS_1


"Emm."


"Sekarang kita harus segera selesaikan ini, mataku mulai kembali mengantuk."


"Nyonya naik saja duluan, bibi yang akan meyelesaikan semuanya."


"Jangan. Bibi pasti sudah lelah bekerja seharian, biar aku bantu agar cepat selesai."


"Bodoh sekali Tuan Galang menyia-nyiakan mutiara berkilau seperti anda."


"Husssttt ntar dia dengar,"


Maryam dah Marinka terkekeh bersama. Setelah menyelesaikan semuanya, Marinka kembali kedalam kamarnya. Renungan wanita itu sangat jauh, saat menatap plafon kamarnya. Sejauh dirinya yang menembus alam mimpi, dan bertemu dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.


*****


Satu bulan telah berlalu, tak ada tanda-tanda perubahan dalam hubungan Marinka dan Galang. pria itu masih saja bersikap dingin dan ketus padanya, namun Marinka yang mulai terbiasa, sama sekali tidak menggubris hinaan dan cacian yang dia peroleh dari pria itu. Baginya asal selalu berada disisi pria itu, itu sudah lebih dari cukup.


Hoekk


Hoekk


Hoekk


Sejak dua hari perut Karin merasakan mual yang sangat luar biasa, hingga wajah wanita itu sangat pucat dan juga lemas.


"Sayang. Kita kerumah sakit saja ya? wajahmu sangat pucat,"


"Mau kemana Mas?" tanya Marinka saat melihat Galang memapah tubuh Karin.


"Kerumah sakit, Karin sedang sakit."


"Aku boleh ikut Mas?"


"Tidak usah."


"Sayang. Biarkan saja, siapa tahu kak Inka bisa membantu kita nanti," ujar Karin.


"Baiklah. Cepat kalau mau ikut!"


"Iya Mas. Aku ambil tas dulu,"


Marinka bergegas naik dan menyambar tas selempangnya. Marinka berusaha menjadi madu yang baik untuk adiknya itu, meskipun perlakuan Karin padanya sangat bertolak belakang dengannya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, akhirnya mereka tiba disebuah rumah sakit terkenal di kota J. Marinka bergegas turun dan meminjam kursi roda untuk Karin.


Setelah berkonsultasi dengan dokter umum, akhirnya Karin dirujuk ke dokter kandungan. Karena dicurigai saat ini Karin sedang berbadan dua. Wajah dokter kandungan itu tampak tersenyum saat melihat sesuatu di layar monitor.


"Selamat Tuan, ternyata kecurigaan kami benar. Istri anda sedang mengandung 5 minggu saat ini."


"Benarkah?" wajah Galang tampak semringah.

__ADS_1


"Ya. sekali lagi selamat ya? jangan lupa minum vitamin yang teratur, konsumsi buah dan sayur."


"Terima kasih Dok."


"Sama-Sama."


"Sayang. Kamu hamil," Galang mengusap-usap perut Karin.


"Iya sayang. Ini buah cinta kita."


Karin melirik Marinka yang sudah membuang muka, diam-diam Marinka menyelinap pergi dari ruangan itu. Marinka tidak mau seorangpun melihat air matanya yang sudah meluncur bebas hingga kedagu.


"Marinka."


"Ya Mas."


"Tolong kamu tebus vitamin Karin di apotik, Karin tidak boleh kelelahan. sekarang dia lagi hamil muda, harus banyak istirahat."


"Ya Mas."


Marinka beranjak dari ruang tunggu dan pergi ke apotik rumah sakit untuk menebus obat.


"Sayang. Masih lama ya?"


"Kenapa?"


"Aku lemas sekali, kita pulang saja ya?" rengek Karin.


"Tunggulah sebentar lagi, Marinka sedang membelikan obat untukmu."


"Aku benar-benat tidak tahan lagi Mas. Kita pulang sekarang ya? biar kak Inka naik taksi saja."


"Baiklah."


Galang langsung menginjak gas mobilnya, karena mereka memang sedang menunggu ditempat parkir. Sedangkan Marinka tampak kebingungan saat mendapati mobil mereka sudah tidak ada ditempat parkir.


"Mas. Kalian dimana? aku baru selesai beli vitaminnya,"


"Kami pulang duluan, Karin merasa lemas dan ingin segera istirahat. Kamu pulang saja naik taksi."


Galang mematikan panggilan telpon itu secara sepihak. Sementara Marinka hanya bisa menghela nafas kasar dan bersabar. Marinka pun memutuskan untuk memanggil taksi, dan kembali pulang kerumahnya.


"Sayang. Aku pengen makan nasi goreng seafood buatan kak Inka," ujar Karin setelah sampai didalam kamarnya.


"Tunggu ya sayang. Marinka pasti lagi dalam perjalanan."


"Telpon dia. Aku benar-benar ingin makan itu,"


"Oke baiklah Ratuku."


Karin tersenyum puas. Dia benar-benar diperlakukan seperti seorang ratu oleh Galang.

__ADS_1


__ADS_2