Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.155. Pengacau


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Kriekkkkkk


Marinka memindai matanya dari ujung rambut Ezra hingga ujung kaki pria itu. Marinka merasa heran dengan penampilan pria didepannya, karena pagi ini pria itu tidak lagi ribut minta Marinka memasangkan dasinya. Ezra tampak mengenakan baju kaos berwarna hitam, dengan sedikit ketat ditubuhya. Ezra juga mengenakan sebuah trening berwarna senada dan tidak lupa sepatu olahraga yang menunjang penampilannya.


"Tuan tidak ke kantor?" tanya Marinka.


"Tidak. Tubuhku terasa sudah berat, aku pengen olahraga di pusat kebugaran. Bukankah dua hari kemarin kamu pergi kesana? aku ingin ikut bersamamu,"


"Eh? kapan aku bilang pergi ke pusat kebugaran pada anda? perasaan aku tidak pernah bilang," tanya Marinka.


"Eh? ma-masak sih? terus tahu darimana kalau bukan dari kamu? mungkin kamu lupa atau tidak sadar saat mengatakannya." Ezra mengelak.


"Apa iya aku keceplosan? tapi buat apa aku menceritakan padanya?" batin Marinka.


"Kalau tuan pengen ke pusat kebugaran, mending tuan pergi ke tempat yang ada di ujung jalan rumah kita. Disana kan ada juga, kenapa harus ikut dengan saya?"


"Saya bosan, sudah sering ketempat itu. Saya mau cari suasana baru,"


"Orang ini kenapa sih? alasannya nggak masuk akal banget. Kalau begini, bagaimana aku mau melancarkan misiku? dia akan mengacaukan semuanya," batin Marinka.


"Kamu kenapa? nggak suka aku pergi sama kamu?" tanya Ezra yang melihat Marinka , yang wajahnya sudah berubah jadi masam.


"Ti-Tidak. Ya sudah kalau tuan mau ikut, tapi tuan jangan jadi pengacau disana."


"Pengacau?"


"Ya. Soalnya saya kesana mau ketemu pacar saya,"


"Pacar? kamu pacaran sama siapa?" Ezra sudah mulai emosi.


"Ada apa dengan si duda? kenapa dia terlihat marah-marah?" batin Marinka.


"Aku pacaran dengan pemilik pusat kebugaran." Jawab Marinka asal dan segera berlalu ke kamar karena ingin mengganti bajunya.


Mendengar itu tentu saja Ezra jadi bertambah emosi. Ezra bahkan tidak sadar sudah mengikuti Marinka hingga ke kamarnya.


"Eh? tuan mau apa? ini kamar saya loh? tuan nggak boleh masuk kamar orang sembarangan, apalagi ini kamar seorang wanita," ujar Marinka.


"Kamu nggak boleh pacaran sama orang itu."


"Kenapa nggak boleh?"


"Ya pokoknya nggak boleh?"


"Ya tapi kenapa? alasannya apa? tuan suka sama aku?" tanya Marinka yang langsung menutup mulutnya karena keceplosan.


Ezra jadi ikut terdiam, pria itu bingung harus mengatakan apa. Dia takut di tolak oleh istrinya sendiri.


"Kalau aku bilang suka sama kamu, apa kamu mau menerima? aku nggak mau diblang nggak masuk akal, karena kita baru saja mengenal. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku, kalau aku beneran suka sama kamu,"


"Ya...salammmm...ungkapan macam apa ini? kenapa aku seperti anak ABG yang baru saja minta jadian."


Marinka tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Baginya pria yang usianya 8 tahun lebih tua itu tampak imut dimatanya, terlihat ekspresi wajahnya yang sedang memelas seperti bocah minta dibelikan mainan.


"Aku butuh waktu untuk menjawabnya, lagipula tuan tidak bisa sembarangan ngungkapin perasaan seperti ini."


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Ya saya kan punya privasi sendiri. Ya sudahlah, tuan mau ikut aku kan? tuan tunggu di luar dulu, aku mau ganti baju dulu."


"Bisakah kamu ganti nama panggilanmu itu? aku merasa terganggu mendengarnya,"


"Tuan mau dipanggil apa? saya rasa itu sudah pas, karena kita ini cuma majikan dan pelayan."


"Panggil aku abang." Jawab Ezra.


"Abang?" Marinka terkekeh.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Ezra.


Marinka jadi berhenti tertawa, dia takut kalau pria didepannya itu jadi tersinggung.


"Tidak ada. Baiklah, aku akan panggil anda dengan sebutan abang." Jawab Marinka sembari menyunggingkan senyumnya.


Ezra perlahan meraih wajah Marinka dan mencium kening wanita itu, tubuh Marinka jadi kembali menegang namun anehnya dia tidak menolak atau marah sama sekali. Setelah itu Ezra keluar dari kamar itu dan menutup pintu.


Setelah menunggu Marinka hampir 10 menit lamanya, Marinkapun turun dengan baju senam berwarna hitam. Marinka terlihat cantik dan sexy dengan pakaian yang ia kenakan.


"Abang kenapa melihatku seperti itu?" tanya Marinka.


"Kamu sangat cantik." Jawab Ezra yang membuat pipi Marinka jadi merona.


"Emm...ayo kita pergi bang, nanti kelas yogaku keburu selesai."


"Emm." Ezra mengangguk.


Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, mereka tiba ditempat yang mereka tuju.


"Kenapa kita tidak turun?" tanya Ezra.


"Tunggu sebentar lagi. Kita harus menunggu seseorang keluar dulu," ujar Marinka.


"Abang lihat wanita itu?"


"Ya. Kenapa?"


"Itulah ciri-ciri wanita penghuni kerak neraka. Punya suami tapi mencari kepuasan diluar rumah." Jawab Marinka.


"Apa kamu tidak seperti itu kalau sudah bersuami?" tanya Ezra yang ingin mengetes Marinka.


"Mana mungkin aku begitu? apa abang tahu kenapa aku ingin melakukan misi balas dendam ini?"


"Jadi kamu pergi tiap hari hanya karena misi balas dendam?"


"Ya. Karena mereka sudah menghancurkan hidupku, terutama mantan suamiku. Dia mencampakkanku hanya demi wanita seperti itu. Aku ingin agar dia tahu dan membuka matanya lebar-lebar, bahwa wanita yang dia pilih tidak lebih baik dari wanita yang dia campakkan. Bahkan dengan teganya dia menceraikan aku dalam keadaan masih perawan."


"Kamu masih perawan?" tanya Ezra yang menahan tawanya mati-matian.


"Eh? i-iya." Marinka tersipu malu.


"Kalau begitu aku akan menjadi orang yang paling beruntung nanti,"


"Kenapa?"


"Karena kalau kita sudah menikah, aku bakalan dapat janda rasa perawan."


"Abang jangan asal. Aku kan belum menjawab mau jadi pacar abang," ujar Marinka dengan wajah memerah karena malu.


"Ya terserah kamu saja. Yang pasti kamu harus jadi milikku, aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu selain aku."


"Huuu...dasar duda posesif." gerutu Marinka sembari turun dari mobil, sementara itu Ezka jadi tertawa keras melihat bibir Marinka yang cemberut.

__ADS_1


"Abang olahraga saja dibawah, aku mau latihan yoga diatas."


"Diatas? ada siapa saja diatas?"


"Cuma aku dan pelatih."


"Apa yang kamu maksud pelatih itu adalah pemilik tempat ini."


"Iya."


"Aku nggak suka kamu kelas yoga sama dia."


"Ckk...bang, aku ini punya misi sendiri."


"Kenapa tidak kamu lupakan saja misi balas dendammu itu. Apa sebenarnya kamu masih belum bisa move on dari mantan suamimu itu?"


"Apaan sih bang?" Marinka meninggalkan Ezra begitu saja, dan segera naik keatas. sementara itu Ezra menghembuskan nafas kasar karena dia harus banyak bersabar menghadapi karakter Marinka yang berbeda setelah mengalami amnesia.


Ezra dengan alat penyadapnya cukup merasa tertekan, saat mendengar Marinka mengeluarkan kata-kata manis untuk pria yang ada diatas sana. Sampai puncaknya dia hilang kesabaran, saat pria itu berkata ingin menjadi kekasih Marinka.


"Dia nggak akan jadi kekasihmu," ujar Ezra yang muncul tiba-tiba.


"Anda siapa? ini bukan tempat yang bisa anda datangi sembarangan. Saya sedang melatih Yoga sekarang ini."


"Yoga? kenapa tidak kita latihan gulat atau tinju saja?"


Reza terkekeh saat mendengar ajakan Ezra. Pria itu merasa tubuh berototnya sudah sangat bagus, dan ilmu bela dirinya juga tak tertandingi.


"Sejak tadi aku mengingat-ngingat pria didepanku ini. Pantas saja aku merasa begitu familiar dengan Marina. Ternyata dia adalah istri dari pengusaha nomor satu di kota ini. Heh, bahkan istri dari pria nomor satu saja tidak puas diranjang, apalagi karin istri dari pengusaha nomor 3? sepertinya keberuntungan ada di pihakku. Aku bisa menang banyak kalau bisa mendapatkan hati istrinya. Pertama tubuhnya, dan kedua hartanya. Hehehe...."


"Apa anda tidak melihat bentuk tubuh indahku? anda ingin bertarung denganku, anda punya apa?"


Ezra dengan kesal melepas baju kaos ketatnya, dan memperlihatkan tubuh atletis yang jauh lebih indah dari milik Reza. Melihat pemandangan itu Marinka jadi merona.


"Oh my god. Lama disini bisa-bisa aku kena mimisan." Batin Marinka.


"Abang ayo kita pulang," ujar Marinka yang menarik tangan Ezra.


Ezra segera meraih pakaiannya dan memakainya dengan cepat.


"Baby, nanti telpon aku ya?" teriak Reza yang membuat Ezra jadi naik pitam.


"Abang," Marinka menarik tangan Ezra dan mengajaknya segera masuk mobil.


"Abang kenapa sih? semua usahaku bisa kacau kalau begini."


"Lakukan apapun aku nggak akan melarangmu. Tapi jangan lagi dekat-dekat dengan laki-laki itu."


"Lah abang ini kenapa? kita ini nggak punya hubungan apa-apa. Abang cemburu?"


"Ya iyalah cemburu. Kamu kan tahu aku suka sama kamu. Mana aku tahan melihat kamu dekat-dekat dengan pria lain."


"Aduh biyung, si duda ini mengerikan kalau lagi cemburu. Tapi kenapa denganku? aku sangat senang saat melihat dia cemburu padaku," Marinka senyum-senyum sendiri.


"Sepertinya aku tidak perlu juga mendekati pria itu, aku harus merubah semua rencanaku. Besok aku akan mulai mengintai pria laknat itu,"


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? kamu mengingat pria itu?" tanya Ezra.


"Ckk...pria kalau sudah cemburu jadi nggak masuk akal. Kalau begini caranya aku juga mikir, apa abang cocok jadi suamiku? takutnya sudah nikah malah KDRT sama aku."


"Eh? amit-amit, aku juga sering cemburu, tapi nggak pernah kan KDRT sama dia? kecuali diatas ranjang, itu hukumannya kalau dia membuatku cemburu," kini giliran Ezra yang senyum-senyum sendiri.


"Huuu...dasar duda gila," gerutu Marinka.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2