Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.258. Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Aku mencintaimu," bisik Yugie di telinga Vania.


"Apaan sih?" ucap Vania sembari memalingkan wajah yang sudah merona itu.


Melihat Vania sudah sedikit tenang, Yugie segera melanjutkan perjalanan. Dia tidak ingin Istrinya itu masuk angin malam.


"Peluk aku," ujar Yugie sembari menarik kedua tangan istrinya itu kearah pinggangnya.


Vania yang masih malu-malu berpura-pura menolak, namun Yugie memaksanya. Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, merekapun akhirnya tiba dirumah. Rumah sederhana yang Vania rindukan dua hari ini.


"Aku baru sadar, rumah ini terasa luas kalau ada orang yang kita rindukan dan kita cintai di dalamnya. Kini aku baru mengerti, tidak perduli sebesar dan semewah apapun rumah kita, kalau tidak ada orang yang kita cintai maka akan terasa hampa," batin Vania.


"Cuci muka, tangan dan kakimu. Tidak usah mandi ini udah terlalu malam, nanti kamu sakit," ujar Yugie.


Vania menuruti ucapan Yugie, namun dia begitu penasan dengan status hubungannya dengan Yugie saat ini. Setelah bersih-bersih hampir 15 menit, Vania keluar dengan wajah yang sudah segar. Vania kemudian mengganti pakaiannya dengan gaun malam bertali spagetti.


Vania mematut wajahnya di cermin dan memakai krim malam di wajahnya. Semua gerak gerik Vania tidak luput dari pantauan Yugie yang tengah berbaring sembari melihat wajah cantik Vania dari pantulan cermin.


"Kemarilah!" ujar Yugie.


Vania perlahan mendekat, dan berbaring disamping Yugie.


"Jangan lagi ikut balapan liar seperti itu. Apa kamu tidak tahu, jantungku terasa mau berhenti berdetak saat tahu kamu ikut balapan itu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?" ucap Yugie


"Kenapa kamu perduli? bukankah kamu sudah memiliki kekasih si Polwan itu?" tanya Vania.


"Tentu saja aku perduli. Disamping kamu itu istriku, aku juga mencintaimu. Lagipula dia bukan kekasihku, aku mengatakannya karena aku cemburu melihatmu berpelukkan dengan kak Yure." Jawab Yugie.


"Ka-Kamu sungguh-sungguh mencintaiku?" tanya Vania.


"Emm. Bagaimana kamu sendiri?" tanya Yugie memastikan.


"A-Aku juga mencintaimu." Jawab Vania.


"Soal malam itu...."


"Kak Yure dan kak Ezka sudah menjelaskannya. Apa perasaanmu terhadap kak Yure ...."


"Aku yakin sudah tidak mencintainya lagi. Soalnya ada pria yang jauh lebih bisa menghargai perasaanku." Jawab Vania dengan tersenyum manis kearah Yugie.


"Vania. Bo-Bolehkah aku meminta hak ku sekarang?" tanya Yugie.


"Eh? ta-tapi aku lagi haid." Jawab Vania tertunduk malu.


Yugie menepuk dahinya. Padahal dia sudah sangat ingin merasakan malam pertama dengan Vania. Terlebih istrinya itu tampak menggoda dengan gaun tipis yang tengah ia kenakan.


"Kalau DP nya aja boleh?" tanya Yugie.


"Dp?"


Yugie yang tidak tahan lagi, Langsung meraih dagu Vania dan melabuhkan ciuman lembut di bibir manis istrinya itu. Ini merupakan ciuman pertama keduanya, mereka bisa merasakan kalau ciuman mereka masih sama-sama kaku.

__ADS_1


"Apa ini ciuman pertamamu?" tanya Yugie.


"Emm." Vania mengangguk dan kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Yugie.


"Kapan selesai haidmu?" tanya Yugie sembari mengelus-elus kepala Vania.


"Dua hari lagi." Jawab Vania.


"Apa kamu ingin kita berbulan madu kesuatu tempat?" tanya Yugie.


"Tidak perlu. Rumah baru ini cukup menjadi saksi perjalanan kisah cinta kita." Jawab Vania.


"Kenapa kamu mencintaiku?" tanya Yugie.


"Mungkin karena kamu sangat sabar menghadapiku yang manja dan kekanankkan. Kamu sendiri kenapa mencintaiku?"


"Mungkin karena aku suka memanjakanmu, dan suka membujukmu disaat sifat kekanakkanmu muncul secara tiba-tiba." Jawab Yugie.


Vania semakin membenamkan dirinya di dada Yugie. Terasa nyaman bagi Vania, saat memeluk pria yang dicintainya itu.


"Jangan pernah lelah untuk mencintaiku. Aku memang istri yang jauh dari kata sempurna jika dibandingan dengan istri orang lain. Tapi percayalah, aku istri yang setia untukmu sampai maut memisahkan kita," ujar Vania.


"Memang hanya itu yang kubutuhkan. Kalau kamu memiliki kelebihan yang lain, maka itu aku anggap sebagai bonus." Jawab Yugie.


Vania mendongakkan kepalanya, Yugie jadi melihat kearah istrinya itu. Dan mereka kembali tenggelam dalam ciuman yang panjang dan memabukkan.


*****


Yugie meraba-raba tempat tidurnya, dan tidak menemukan keberadaan Vania disampingnya. Namun Yugie yakin Vania tengah berada didapur, karena pria itu mencium aroma wangi masakkan yang mengguncang perutnya.


Grepppp


Yugie memeluk Vania dari belakang, dan meletakkan dagu di bahu istrinya itu.


"Masak apa?" tanya Yugie dengan suara serak khas bangun tidur.


"Aku belajar buat nasi goreng, dan juga telur dadar. Kalau nggak enak bilang ya? terus jangan dimakan juga kalau nggak enak, takutnya kamu sakit perut," ujar Vania


"Aku akan memakan apapun yang istriku masak. Terima kasih sayang, aku mencintaimu."


Cup


Yugie mencium pundak Vania yang telanjang.


"Mandilah! sebentar lagi subuh, kamu mandi saja sekalian buat pergi kerja," ujar Vania.


"Motor tadi malam mau diapakan?" tanya yugie.


"Mau dijual Anita. hasilnya bagi dua." Jawab Vania.


"Berikan saja pada Anita. Kalau kamu mau motor seperti itu biar aku belikan," ucap Yugie.

__ADS_1


"Uang darimana mau beli? kan ATM gaji kamu aku yang pegang. Mana ada duitnya di ATM itu? lagian kenapa nggak kita ambil saja uang penjualan motor itu?" tanya Vania.


"Uang hasil taruhan itu haram dimakan. Aku nggak mau istriku makan duit haram." Jawab Yugie.


Vania terdiam. Dia lupa kalau suaminya itu Polisi berjiwa lurus. Tidak seperti dirinya yang masih kadang lurus juga terkadang bengkok. Melihat raut murung diwajah istrinya, Yugie mengusap puncak kepala istrinya itu.


"Ikutlah denganku," ujar Yugie sembari menarik tangan Vania agar mengikutinya ke kamar.


Vania mengikuti langkah kaki Yugie, dan pria itu membuka lemari dan meraih sebuah kotak beludru berwarna merah. Yugie kemudian membuka kotak itu dan terlihat ada sebuah kalung berlian didalamnya.


"Tunggu! apa ini berlian asli?" tanya Vania menyelidik.


"Tentu saja. Mana mau aku membelikan istriku dengan yang palsu." Jawab Yugie.


"Ini untukku?" tanya Vania terkejut.


"Ya. Waktu di toko perhiasan aku mengajak temanku untuk membantuku memilihkan kalung yang cocok untukmu. Soalnya aku kurang mengerti dengan selera wanita. Bagus tidak?" tanya Yugie.


"Emm. Ini sangat indah." Jawab Vania sembari meraba kalung berlian itu.


"Aku bantu pakaikan ya?"


Vania mengangguk. Yugie kemudian memakaikan kalung itu dileher Vania.


"Cantiknya istriku," ucap Yugie.


"Terima kasih," Vania.


Vania melihat kertas pembelian dalam kotak itu dan meraihnya untuk dia baca. Mata Vania terbelalak saat melihat harga yang tertera di nota itu.


"750 juta?" Vania langsung menoleh kearah yugie, sementara Yugie jadi terkekeh saat melihat mata istrinya yang sedikit sipit dipaksa melebar.


Yugie meraih dompet yang berada di saku celana baju seragamnya yang tergantung di dalam lemari. Yugie mengambil sebuah kartu berwarna gold dan menyodorkannya pada Vania.


"Kamu simpan kartu ini. Ini memang masih berwarna gold. Tapi aku janji akan merubah warnanya menjadi hitam suatu saat nanti," ujar Yugie.


"Yugie. Aku tidak perduli dengan warna kartunya atau isi didalamnya. Yang aku mau tanyakan, darimana kamu mendapatkan uangnya? bukankah ATM gajimu ada padaku?" tanya Vania.


"Itu memang ATM gajiku, tapi kan aku nggak bilang padamu kalau aku memiliki usaha." Jawab Yugie.


Vania terdiam. Kepalanya tiba-tiba tertunduk.


"Kenapa. Hem?" Yugie meraih wajah cantik Vania.


"Jadi waktu itu kamu tidak percaya padaku? bahkan saat aku bilang kamar kita tidak punya ac dan kasur empuk, kamu bilang uangnya tidak cukup. Tapi ternyata...."


"Aku ingin mendidik istriku hidup sederhana, karena aku benar-benar ingin menumbuhkan rasa cinta diantara kita dalam kesederhanaan itu. Aku berpikir dengan rumah kecil, kamar kecil, ruang lingkup bertemu denganmu akan lebih banyak. Dan ternyata aku berhasil, karena aku memang jatuh cinta padamu."


"Bagiku tidak perduli besar atau kecil rumah kita. Tidak perduli ada Ac atau kasur empuk didalamnya. Bagiku asalkan di rumah kita ada kamu, itu jauh lebih sempurna." sambung Yugie.


Greppppp

__ADS_1


Vania berhambur kepelukkan Yugie. Vania terisak didada bidang suaminya itu. Kini dia menyadari harta bukanlah segalanya, namun cintanya pada Yugielah yang benar-benar nyata.


To be continue...🤗🙏


__ADS_2