Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.99. Aku Mencintaimu


__ADS_3

Yuda melihat arlogi ditangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


"Ini sudah jam 9, tumben Regia datangnya telat? apa dia memang izin tidak masuk hari ini?" ujar Yuda lirih.


Yuda membuat panggilan untuk Regia, namun nomor ponsel gadis itu sama sekali tidak aktif. Yuda kemudian pergi kebawah menuju tempat informasi dan melihat absensi para karyawan, dan nama Regia tercantum izin tanpa keterangan disana.


"Kemana Regia? kenapa dia tidak masuk kerja hari ini? apa dia sakit?" ucap Yuda lirih.


Yuda masuk keruangan Ezra, baru saja melangkahkan kaki kedalam, Ezra memerintahkan dirinya untuk memanggil Regia.


"Dia nggak masuk kerja hari ini," ujar Yuda.


"Nggak masuk kerja? kenapa? pantas saja dari tadi aku panggil nggak nyahut,"


"Mungkin dia sakit, karena kelelahan."


"Kalian sudah jadian?" tanya Ezra.


"Aku menganggapnya begitu."


"Kok menganggap? kamu sudah menyatakan perasaanmu belum?"


"Memangnya harus dikatakan ya? aku gugup sekali kalau mengatakan itu secara langsung."


"Dulu aja kamu sok menasehatiku, sekarang pas giliran kamu yang jatuh cinta kenapa jadi kamu yang mendadak bodoh?"


"Iya juga ya? kenapa ya?"


"Ckk...kamu tanya aku? lalu aku tanya siapa?"


"Hah...mana ponselnya nggak aktif lagi,"


"Datangi rumahnya. Barangkali dia beneran sakit, kamu jenguk dia, kasih perhatian."


"Aku lihat sampai besok saja deh, kalau dia masih nggak masuk, aku akan datangi rumahnya," ucap Yuda.


"Ya terserah saja kalau kamu bisa nahan kangen," ejek Ezra.


Yuda diam saja dan keluar dari ruangan Ezra. Melewati meja Regia yang kosong, sungguh perasaan pria itu jadi tidak enak dan gelisah, berkali-kali dirinya menghubungi nomor ponsel gadis itu, namun masih saja tidak aktif.


Kini sudah dua hari Regia tidak masuk kerja tanpa keterangan apapun. Nomor ponsel gadis itu juga sama sekali tidak bisa dihubungi, yang membuat Yuda gelisah dan khawatir.


"Kamu boleh pergi sekarang, temui dia. Kamu disini juga tidak konsentrasi bekerja, sekalian beli buket bunga yang cantik untuk dia," ujar Ezra.


"Bunga?"


"Ckk..belajar romantis Yud, meski sudah tua harus punya gairah muda. Apakah kamu tahu bunga lambang cinta?"


"Bunga apa? mawar merah?"


"Baguslah kalau kamu tahu, takutnya kamu malah membelikan dia karangan bunga, atau bunga bau tai ayam."


Mendengar itu Yuda jadi tertawa keras, jujur dirinya memang tidak punya pengalaman berkencan dengan seorang wanita, jadi sikap romantis yang Ezra katakan masih terlihat abu-abu dalam pandangannya.


Yuda memutuskan pergi kerumah Regia setelah pulang bekerja, pria itu juga membeli sebuket bunga mawar merah untuk gadis yang sudah dianggap sebagai kekasihnya itu.


Setelah berjalan kaki sekitar 50 meter dari depan gang, Yuda akhirnya sampai di kediaman Regia. Rumah sederhana itu tampak sepi, karena pintu bagian depan tertutup rapat.


Tok


Tok


Tok


Kriekkkk


Seorang gadis kecil membukakan pintu untuk Yuda. Gadis itu tampak melihat penampilan Yuda dari atas hingga bawah, terlebih pria itu membawa sebuket bunga ditangannya.


"Maaf kakak siapa?" tanya Bulan.


"Saya Yuda."

__ADS_1


"Emm...apa kakak pacar kak Regia?"


"Ya. Apa Regia ada dirumah?"


"Ada. Maaf apa kakak sedang bertengkar dengan kakak ku?"


"Tidak. Kenapa?"


"Sudah dua hari ini kak Regia mengurung diri dikamar, dia keluar hanya mau makan saja. Tapi itupun juga jarang. Aku juga sudah menanyakan kenapa dia tidak pergi bekerja, tapi kakak bilang dia sedang cuti. Apa itu benar?"


"Ya benar." Yuda menjawab asal karena dia juga ingin tahu apa yang terjadi dengan gadis itu.


"Tapi ada yang aneh dengan kak Regja,"


."Maaf. Apa kakak boleh masuk dulu?"


"Astaga...maaf kak, aku jadi lupa. Ayo silahkan masuk kak,"


"Apa yang aneh?" tanya Yuda.


"Silahkan duduk kak. Mata kak Regia bengkak seperti habis menangis berhari-hari. Apa kakak yakin kalian tidak ada masalah?"


"Ah...ya sebenarnya dia juga sedang marah padaku, itulah sebabnya kakak kesini karena ingin minta maaf padanya."


"Oh gitu. Ya sudah, temui dia langsung saja. Kamarnya yang itu," bulan menunjuk pintu berwarna coklat.


"Kemana ibumu?" tanya Yuda.


"Ibu masih dirumah sakit, untuk sementara Bulan yang jagain ibu dirumah sakit."


"Apa beliau sudah melakukan operasi?"


"Sudah 4 hari yang lalu."


"Baguslah. Kamu mau pergi kerumah sakit sekarang? atau tunggu kakak saja, nanti biar kakak antar."


"Tidak usah kak, Bulan pergi sendiri saja. Bulan titip kak Regia saja, ayo kita temui kak Regia sekalian Bulan mau pamit."


Tok


Tok


Tok


"Kak. Bulan pergi ke rumah sakit ya?" ujar Bulan seraya mendorong pintu.


"Ya hati-hati." Jawab Regia tanpa menoleh kearah pintu, karena gadis itu membelakangi pintu itu.


Yuda dan Bulan saling berpandangan, karena suara Regia terdengar berat dan serak.


"Kak. Ada seseorang yang ingin menemui kakak," ujar Bulan.


"Siapa?" tanya Regia sembari membalikkan badan. Mata gadis itu terbelalak, saat melihat sosok Yuda didepan pintu.


"Aku pergi dulu ya kak, takutnya kemalaman dijalan."


"Eh? i-ya."


"Titip kak Regia ya kak?"


"Ya." Jawab Yuda.


Bulan berlalu dari hadapan Yuda dan pergi. Yuda perlahan mendekati Regia, yang membuat gadis itu jadi gugup.


"Kamu kenapa nggak masuk kerja?" tanya Yuda.


"Aku memutuskan untuk risign, aku sudah membuat surat pengunduran diriku."


"Kamu kenapa sih sebenarnya? ada apa lagi kali ini?"


"Aku sudah memutuskan untuk menerima lamaran pria itu,"

__ADS_1


"Jangan bicara omong kosong. Lalu kamu anggap apa aku ini?"


"Memangnya anda kenapa? kita kan tidak memiliki hubungan apa-apa."


"Jadi kamu hanya ingin mempermainkan perasaanku saja?"


"Maaf tuan. Sepertinya balas dendamku sudah berhasil, dulu kamu selalu menghinaku, sekarang kamu kemakan dengan omongan sendiri kan?"


Yuda menatap mata Regia, pria itu tahu Regia seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa aku boleh memastikan sendiri perasaanmu padaku?"


"Me-Memastikan apa?" tanya Regia gugup.


Tanpa menjawab ucapan Regia, Yuda meraih kedua sisi wajah Regia dan melabuhkan sebuah ciuman lembut di bibir Regia. Sungguh hati Regia menjerit saat ini, tidak terasa air mata gadis itu kembali tumpah.


"Terasa sekali kamu berbohong padaku, tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu. Dan air matamu itu juga jadi saksi atas kebohonganmu. Katakan! apa ada yang mengganggu pikiranmu? kamu bisa membaginya denganku, kita pecahkan bersama."


"Regia maaf. Mungkin aku bukan tipe lelaki peka atau romantis seperti yang kamu inginkan. Tapi jujur aku sudah memutuskan untuk memilihmu untuk menjadi masa depanku. Jadi tolong jangan menyimpan dendam padaku atas perbuatanku padamu di masa lalu."


"Bu-Bukan itu masalahnya. A-Aku merasa tidak layak untuk mendampingi pria hebat sepertimu,"


"Ckk...hanya aku yang boleh memutuskan kamu layak atau tidak. Jadi jangan bicara omong kosong lagi. A-Aku mencintaimu Regia," ucap Yuda gugup.


Yuda bertambah bingung saat melihat air mata Regia bertambah deras dan gadis itu terisak.


"Hey...kamu kenapa? terharu atau bagaimana?"


"Maaf tuan, tapi aku tidak bisa menerima cintamu. A-Aku sudah tidak layak lagi untukmu."


Yuda mengerutkan dahinya, dan mencerna ucapan Regia.


"Apa maksudmu?"


"A-Aku sudah tidak suci lagi."


Tanpa memasang wajah terkejut atau marah, Yuda malah larut dalam pemikirannya sendiri. Pasalnya Yuda ingat betul kalau Regia pernah bilang, bahwa gadis itu tidak pernah berpacaran.


"Apa ini hanya alasan untuk menolakku?"


Regia menggelengkan kepalanya dengan cepat, secepat air matanya yang mengalir.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Yuda.


Regia terdiam, gadis itu menatap lekat ke arah mata Yuda.


"Aku cuma butuh kamu menjawab iya atau tidak, tak perlu dengan embel-embel yang lainnya."


"Iya aku memang mencintaimu, tapi aku sudah tidak..."


Greppp


Yuda memeluk Regia dengan erat, hingga gadis itu terkejut.


"Aku sudah bilang, aku cuma butuh jawaban singkat. Gadis bodoh, jadi kamu tidak masuk kerja dan memutuskan risign hanya karena takut aku tidak menerima kekuranganmu?" Regia mengangguk cepat.


"Aku mencintai dirimu, bukan selaput darahmu. Jadi persetan dengan hal itu."


"Tapi itu mustahil," Regia dengan cepat melepaskan pelukkan mereka.


"Itu mustahil bukan? bukankah semua pria sangat mementingkan hal itu? dan bahkan tuan tidak bertanya padaku, kenapa aku bisa kehilangan selamput darahku?"


"Aku tidak tahu apa alasan kamu bisa kehilangan hal yang paling berharga dari dirimu itu. Tapi aku percaya kamu bukan gadis seperti yang orang-orang pikirkan,"


"Ba-Bagaimana mungkin anda percaya denganku begitu saja?"


"Aku tidak bisa menjelaskannya kenapa aku seyakin itu. Tapi jika kamu berkenan, kamu bisa menceritakan semua yang kamu alami padaku." pancing Yuda.


Regia lagi-lagi terdiam, sesaat gadis itu ragu untuk menceritakan semua kejadian malam itu. Tapi dia bertekad, apapun yang terjadi, Yuda harus tahu yang sebenarnya. Agar pria itu tidak akan menyesal memilih dia dengan segala kekurangannya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2