Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.282. Ketahuan


__ADS_3

"Ehemm...Ehemmm" Ezra berdehem, agar menghentikan aksi Rakha yang lupa diri itu.


Rakha yang tengah memagut bibir istrinya itu jadi menghentikan perbuatannya dengan wajah yang sudah memerah. Dia baru sadar kalau diruangan itu ada orang lain selain mereka.


Tidak jauh berbeda dengan Rakha, Gadlynpun juga tersipu malu. Tapi jujur saja, dia sangat merindukan suaminya itu meski hanya beberapa jam berpisah.


"Apa kamu tadi takut. Hem?" tanya Rakha.


"Tidak. Karena aku yakin kamu tidak akan membiarkan aku ketakutan." Jawab Gadlyn.


"Maafkan aku. Jika selama aku jadi suamimu, aku pernah melakukan kesalahan atau pernah menyakiti hatimu," ujar Rakha.


"Tidak pernah. Aku bahagia bersamamu. Kamu suami terbaik di dunia. Aku mencintaimu," ujar Gadlyn.


"Aku juga cinta dan sayang kamu," ucap Rakha.


Rakha dan Gadlyn kembali lupa diri dan mereka akan berciuman lagi.


"Ehemm...ehemm"


Ciuman itu tidak jadi mendarat, saat terdengar suara deheman keras dari arah belakang.


"Kalian ini terlalu bergairah. Sehingga kalian menganggap kami didunia ini hanya mengontrak," ujar Ezra.


Rakha dan Gadlyn tersipu malu. Karena mertua mereka ada lengkap bersama mereka saat ini.


"Lalu apa nama anak kalian sudah ada?" tanya Marinka.


"Sudah Ma. Kami sudah menyiapkan semuanya." Jawab Rakha.


"Oh ya? siapa nama anak kalian?" tanya Karin tidak sabar.


"Putriku bernama Ralyn putri Hawiranata putraku bernama Raga Putra Hawiranata." Jawab Rakha.


"Kalian ini malas mikir nyari nama ya? semua anak-anak adikmu juga gabungan nama dari orang tuanya. Si Yugie juga gitu. Nggak kreatif sekali," protes Ezra.


"Papa juga gitu. Nama-Nama kami juga nama gabungan dari nama kalian," cebik Rakha.


"Lagian ya pa. Ini sebagai tanda kalau mereka berasal dari keturunan kami berdua," sambung Rakha.


Para orang tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Rakha.


"Moza sekarang sudah hamil berapa bulan kak?" tanya Karin pada Marinka.


"6 bulan. Sama kayak Meiza. Ya mungkin karena mereka menikahnya bersamaan." Jawab Marinka.


"Senang sekali keluarga kakak akan ramai nantinya. Soalnya anak-anak kakak mengandung anak kembar semua. Jadi nggak terasa sudah punya delapan cucu dalam waktu singkat," ujar Karin.


"Iya. Ini seperti mimpi bagi kami," ujar Marinka bahagia.


"Oh ya. Bagaimana perkembangan kaki suami Meiza? apa ada kemajuan?" tanya Karin.


"Untuk saat ini belum memperlihatkan hasil yang signifikan. Tapi terapi tetap dijalani selama seminggu 3 kali. Yah...semoga saja kedepannya nanti bisa terlihat hasilnya. Kasihan Meiza," ujar Marinka.


"Semoga," timpal Karin.

__ADS_1


*****


"Dia...." Ilyas tertegun, saat melihat nama seseorang yang dia kenal membuat panggilan untuk dirinya.


Ilyas menggeser layar ponselnya dan menerima panggilan telpon itu.


"Hallo...adikku tersayang. Apa kabarmu. Hem? aku dengar kamu sudah selamat dari maut. Tapi sayangnya kakimu itu tidak berguna ya?" ucap seorang pria diseberang telpon.


"Apa maumu?" tanya Ilyas tanpa basa basi.


"Aduh. Sombong sekali kamu? tapi tidak apalah, aku nelpon cuma mau memberitahumu. 6 bulan aku tidak bereaksi, karena memang menunggumu sadar dulu. Karena kamu sudah menghianatiku, jadi sasaran utamaku kali ini adalah istri dan anak-anakmu,"


"Jangan gila. Istriku tidak bersalah. Kamu bunuh saja aku."


"Kalau itu sudah pasti. Tapi aku ingin melihat dulu rasa sakit dimatamu. Sama dengan rasa sakit yang aku rasakan karena kamu khianati."


"Kak aku mohon berhentilah untuk balas dendam. Kakak tidak akan dapat apa-apa dari dendam kakak itu. Terlebih keluarga Hawiranata bukan keluarga yang bisa kamu sentuh dengan mudah. Kakak akan susah sendiri nanti," ujar Ilyas.


"Tidak usah mengajariku. Yang harus kamu pikirkan, bagaimana caramu menyelamatkan anak dan istrimu dari maut. Hah...aku lupa, bagaimana kamu mampu ya? kamu kan lumpuh. Jadi nikmati saja rasa sakitmu saat melihat anak istrimu meregang nyawa."


Tuttt


Tutt


"Kak...hallo...hallo...brengsek!" hardik Ilyas.


Ilyas sangat kesal, karena pria itu mematikan panggilan itu secara sepihak.


"Sial. Kira-Kira dia mau melakukan apa kali ini? aku harus mengantisipasinya. Aku harus bagaimana sekarang? siapa yang bisa menolongku?" Ilyas terlihat panik.


Tanpa Ilyas tahu, Meiza mendengar semua pembicaraan Ilyas dengan pria asing diseberang telpon.


"Jadi kamu dengan sengaja mengabaikan aku dan anak-anak? apa belum cukup selama 6 bulan kamu menyiksaku? kamu kejam sejali. Hikz...." Meiza terisak.


Ilyas panik, saat melihat Meiza menangis terisak. Ilyas segera memutar roda kursinya agar mendekat kearah Meiza. Ilyas kemudian memeluk pinggang Meiza dan mencium perut istrinya bertubi-tubu sembari menangis.


"Maafkan aku sayang. Aku hanya ingin kamu menyerah dengan hubungan kita. Aku tidak ingin membuatmu malu punya suami cacat sepertiku. Sekarang aku sudah tidak berguna dan mungkin tidak bisa melidungimu dan anak-anak."


"Kamu tahu aku tidak perduli soal itu. Kamu tahu nggak sih kalau aku itu sangat mencintaimu. Jangan egois, pikirkan anak-anak kita. Kamu rela mereka memanggil pria lain dengan sebutan papa?"


Ilyas menggeleng dengan cepat. Dia tahu hati dan mulutnya tidak sejalan. Mana rela dia membiarkan anak-anaknya memanggil orang lain dengan sebutan papa.


"Sampai mati aku tidak rela. Tapi...."


Meiza mensejajarkan diri dengan Ilyas. Diraihnya kedua sisi wajah suaminya itu.


"Aku tidak perduli meski kamu cacat seumur hidupmu. Aku hanya mencintaimu, dan tidak akan ada pria lain dalam hidupku. Kamu mencintaiku juga kan?" tanya Meiza.


"Sangat." Jawab Ilyas sembari mengangguk dengan cepat.


"Tapi tidak mungkin kamu hidup seperti ini terus. Aku tidak bisa melayanimu dalam segi apapun. Kamu suatu saat pasti akan butuh nafkah batin. Sementara aku tidak bisa melakukan itu padamu," ujar Ilyas.


"Siapa bilang? kalau belum di coba mana tahu," ujar Meiza.


"Ap-Apa maksudmu?" tanya Ilyas.

__ADS_1


Meiza mendorong kursi roda Ilyas dan membantu Ilyas naik keatas tempat tidur. Entah apa yang Meiza pikirkan. Wanita itu membuat dirinya tidak mengenaka pakaian apapun ditubuhnya.


"Dia terlihat Sexy dengan perut buncitnya," batin Ilyas.


Tanpa Ilyas sadari, benda pusakanya sudah mengacung sempurna. Meiza kemudian membantu Ilyas melepas pakaiannya, hingga terpampanglah benda pusaka kebanggaannya. Meiza dan Ilyas yang sudah menahan rindu sejak lama, bercumbu mesra. Ilyas tidak tahu bagaimana caranya membuat istrinya itu puas. Sementara kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Jadilah dia mencumbu istrinya sembari tangannya bermain dipusat inti istrinya itu.


"Ahhh...." Meiza tiba-tiba mengerang, saat Ilyas dengan gencar memainkan jarinya dipusat inti miliknya.


"Maaf," Ilyas masih saja merasa bersalah, meski dia sudah memuaskan istrinya itu dengan tangannya.


"Tidak ada gunanya minta maaf. Kamu belum memberiku kepuasan padaku sepenuhnya," ujar Meiza sembari mengedipkan matanya.


"Ap-Apa...."


Kata-Kata Ilyas terpotong dan digantikan suara desa**n dari mulut pria itu, saat Meiza menaikki tubuhnya dan membenamkan pusaka kebanggaan suaminya itu kedalam liang basah miliknya.


"Ah...sayang...kamu...ahh..."


Ilyas memejamkan matanya. Karena sudah lama dia tidak menikmati surga dunia milik istrinya itu. Dan dia benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa kali ini.


Meiza dengan lincah bergerak naik turun membenamkan milik suaminya itu tanpa sisa. Meski perutnya buncit, tapi tidak mengurangi kelincahannya, untuk melayani suaminya itu. Dan tidak lama kemudian merekapun mengerang bersamaan.


"Ahh..."


"Ahh...sayang...aku mencintaimu," tubuh Ilyas benar-benar mengejang sempurna sembari me**mas kedua aset berharga Meiza dengan erat.


Hosh


Hosh


Hosh


"Sekarang terbuktikan kan? cacat tidak menghalangi buat kita berbagi cinta?" ujar Meiza sembari mengedipkan mata dengan nakal.


ilyas tersenyum miris. Meski dia puas dengan pelayanan Meiza, tapi dia ingin melakukan lebih untuk istrinya itu.


"Kenapa. Hem?" tanya Meiza yang melepaskan miliknya dari milik suaminya.


"Aku puas. Tapi aku ingin memuaskanmu dengan lebih. Biasanya kita bisa bermain hingga 4- 5 kali dalam sehari,"


"Tentu saja bisa. Sekarangpun juga bisa."


"Tapi aku tidak mau kamu yang bekerja keras," ujar Ilyas.


"Aku tidak keberatan sayang. Lagi pula posisi itu memang yang paling aku sukai. Kamu juga tahu sendiri kan?" Meiza sebisa mungkin meyakinkan Ilyas, bahwa dirinya tidak masalah melayani suaminya dengan cara seperti itu.


"Sayang. Aku mohon jangan pergi kemanapun untuk saat ini. Ada bahaya yang nengintaimu,"


"Aku akan bicarakan hal ini dengan papa. Kamu tidak perlu khawatir.


"Emm." Ilyas mengangguk.


"Mau lagi?" tanya Meiza sembari menaik turunkan alisnya.


"Kamu mau lagi?" tanya Ilyas yang diangguki Meiza dengan malu-malu.

__ADS_1


Merekapun kembali melakukan pemanasan dari awal lagi. Kini tidak ada jarak lagi diantara mereka. semua sudah melebur bersama dengan keringat panas mereka.


To be continue...🤗🙏


__ADS_2