
"Bagaimana arisannya?" tanya Ezra saat mobil yang dia bawa, sudah membelah jalanan.
"Ya, yang namanya arisan gitu-gitu aja. Seperti yang adek bilang sebelumnya, selesai mengocok arisan, yang dilakukan ibu-ibu itu menggosip hal yang tidak penting."
"Bagaimana dengan temanmu itu?"
"Siapa?"
"Karin."
"Ckk...dia bukan temanku. Adek mau bergaul dengannya karena tidak ingin merusak citramu sebagai sesama pengusaha seperti suaminya itu."
"Kok demi abang? abang tentu saja mengizinkanmu berteman dengan siapa saja. Asalkan jangan sampai salah pilih teman saja,"
"Sepertinya adek tidak cocok berteman sama dia,"
"Ya terserah adek saja, yang penting adek senang."
"Sudah hampir malam, adek nggak sempat masak buat makan malam abang, nggak apa ya bang?"
"Tidak apa-apa. Apa kamu mau kita makan diluar saja?"
"Abang mau?"
"Ya kalau adek mau, abang mau."
"Ya udah ayo,"
"Adek pengen makan apa?"
"Cari pecel lele yang enak yok bang?"
"Pecel lele?"
"Abang belum pernah makan ditempat seperti itu ya?"
"Belum."
"Mau coba?"
"Boleh,"
"Ya udah nanti kalau adek bilang stop, berhenti ya?"
"Oke."
Marinka melihat-lihat arah jalanan yang masih dipadati oleh kendaraan. Berhubung hari ini adalah hari libur, tentu saja suasana jalanan sedikit ramai dari biasanya. Orang-Orang akan lebih banyak keluar untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Abang lihat yang didepan itu? kita berhenti disitu aja ya bang?"
"Yang mana? yang ada spanduk itu?"
"Ya. Disitu sambalnya terkenal enak,"
"Oke."
Ezra mulai menepikan mobilnya saat melihat tempat yang ditunjuk oleh Marinka. Marinka dan Ezra kemudian mencari tempat duduk, beruntung tempat itu belum terlalu ramai dikunjungi pembeli.
"Abang mau makan apa? lele, ayam, nila, atau bebek?"
"Adek mau makan apa?"
"Lele."
"Ya sudah samain aja."
"Minumnya apa? mau es teh apa es jeruk?"
"Jeruk."
"Oke."
__ADS_1
Marinka berdiri dari kursi karena ingin memesan menu yang dia inginkan. Ezra melirik kearah tempat penjual yang sedang menggoreng makanan yang sedang mereka pesan.
"Dek. Apa makanan disini yakin higienis? lihatlah, minyak untuk menggorengnya sudah hitam sekali," bisik Ezra.
"Maaf ya bang, seharusnya adek nggak ngajak abang jajan ditempat seperti ini. Disini memang bukan makanan yang sehat seperti di restaurant, karena ini untuk kalangan menengah kebawah. Tapi kalau abang nggak mau, kita bisa pindah tempat makan kok?"
"Tidak, sesekali mungkin tidak masalah bukan?"
"Apa abang yakin? jangan dipaksakan kalau abang nggak mau,"
"Abang ingin mencoba dulu, kalau memang nggak cocok, kita bisa pindah nanti."
"Ya."
Setelah menunggu beberapa saat, makanan yang mereka pesanpun sudah siap disantap.
"Adek pesan kangkung sama pete juga?"
"Iya. Jangan dimakan kalau abang tidak suka pete goreng, ini makanan kesukaan adek."
"Adek suka pete?"
"Hehhehe...iya. Nanti tidurnya jangan deket-deket adek dulu, bauk pete soalnya."
"Kalau gitu jangan dimakan."
"Kenapa?"
"Tentu saja nggak adil buat abang. Nanti tidurnya abang gimana? adek kan tahu abang nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu."
Marinka terdiam mendengar ucapan Ezra.
"Bang, kenapa kamu berkata begitu? apa saat kita pisah nanti kamu akan merindukan kebersmaan kita? apa kamu masih tidak bisa tidur kalau tidak memelukku? atau Jihan lebih bisa membuatmu lebih cepat tertidur?" batin Marinka.
"Jangan sedih begitu, abang cuma bercanda. Kamu boleh kok makan petenya. Meskipun kamu bau pete, abang akan tetap memelukmu saat tidur,"
Marinka tersenyum tipis mendengar ucapan Ezra. Mereka pun mulai makan dalam diam. Ezra akui rasa makanan dikedai itu sangat enak dan sesuai dengan lidahnya. Tanpa terasa pria itu menghabiskan semuanya.
"Emm." Ezra mengangguk sembari mengacungkan dua jempolnya.
"Kalau mau, lain kali kita bisa datang lagi."
"Iya. Ya udah tanya berapa total makanannya,"
"Ya." Marinka beranjak untuk menanyakan total makanan yang mereka beli.
"60rb bang."
"Apa? 60rb? apa nggak salah hitung dek?"
"Kenapa? kemahalan ya bang?" bisik Marinka.
"Bukan. Itu terlalu murah," bisik Ezra.
"Ya mau gimana lagi bang, memang segitu harganya."
Ezra mengulurkan uang satu lembar berwarna merah, Marinka kemudian meraih uang itu dan membayarkannya pada kasir.
"Ya Tuhan...seumur hidup baru kali ini makan degan harga 60rb tapi enaknya pake banget. Kira-Kira Jihan mau nggak ya diajak makan ditempat ini? saat bersama dia, paling murah makanan yang kami makan seharga 1 juta," batin Ezra.
"Nih bang kembaliannya,"
"Simpan saja. Atau masukkan saja kedalam kotak amal itu."
"Kita masukin kotak aja ya bang?"
"Emm."
Ezra dan Marinka pun melenggang pergi dari tempat itu.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Ezra.
__ADS_1
"Emang mau kemana? makan kan udah,"
"Ya barang kali kamu ingin jalan-jalan kemana, mumpung abang libur, jadi bisa mengajakmu jalan. Gimana kalau kita pergi ke mall?"
"Mall?"
"Ya. Abang perhatikan adek nggak pernah belanja ya? bukankah tiap bulan abang sudah mentransfer uang belanja untukmu?"
"Adek ngerasa belum perlu, soalnya baju yang abang belikan saja masih banyak yang belum dipakai."
"Tas?"
"Buat apa tas? adek juga jarang pergi."
"Tapi abang pengen membelikan adek tas. Ya minimal kita cuci mata saja dulu,"
"Baiklah kalau begitu,"
Marinka terpaksa menyerah menuruti keinginan Ezra yang ingin mengajaknya jalan kesalah satu pusat perbelanjaan terbesar dikota J.
"Wah...ramai sekali ya bang?" tanya Marinka saat mereka tiba di mall.
"Namanya juga hari libur, yuk masuk!"
Ezra mengulurkan tangannya, agar Marinka menggandeng tangannya. Pria itu kemudian mengajak Marinka untuk masuk kesebuah gerai yang menjual berbagai jenis tas branded.
"Kamu boleh pilih tas masa saja yang kamu sukai, abang akan membayarnya untukmu."
"Sudahlah bang, buat apa juga beli tas. Adek perginya paling banter ke kampus doang. Adek cuma butuh tas ransel buat masukin buku-buku kuliah, dan itu sudah adek beli dipasar."
"Pasar?"
"Ya. adek udah beli waktu pergi ke kota B. Harganya juga murah, tapi kualitasnya lumayan."
"Memang berapa harganya?"
"200rb."
"200rb?"
"Kenapa? kemahalan ya bang? atau abang punya toko langganan yang lebih murah lagi?"
"Ckk...kamu ini. Pokoknya abang nggak mau tahu, kamu harus pilih dua tas sekarang. Yang satu tas jalan, yang satu tas ransel."
"Kok gitu?"
"Jangan banyak tanya, kalau nggak beli, abang akan marah."
"Eh?" Marinka bergegas memilih-milih tas yang cocok dengan dirinya.
Melihat Marinka yang tampak bingung, Ezra membantu wanita itu untuk memilih tas yang bagus untuknya.
"Keluarkan tas edisi terbaru untuk bulan ini, sekalian tas ransel juga,"
"Baik tuan,"
Pegawai toko itu kemudian mengeluarkan 5 buah tas keluaran terbaru dan juga tas jenis ransel.
"Pilih yang mana kamu suka,"
"Ini dan ini," Marinka asal tunjuk.
"berapa totalnya? tanya Ezra.
"1 M tuan." Jawab Pegawai itu.
"1 M apa mbak?" tanya Marinka.
"1 Milyar nyonya."
Mata Marinka melotot saat mendengarnya, Ezra yang sudah mengeluarkan kartu berwarna hitam, langsung ditahan oleh Marinka.
__ADS_1