
"Bagaimana? Sah?"
"SAH."
"Alhamdulillahirobbil'alamin,"
Semua orang mengucap syukur, saat Ezra dengan lancar mengucap Ijab Qobul untuk pernikahannya. Tak terasa air mata Marinka terjatuh, saat dirinya menikah untuk yang kedua kalinya.
Marinka mencium tangan suaminya, moment itu diabadikan oleh beberapa kamera yang menyaksikan acara sakral tersebut.
Marinka dan Ezra kemudian sungkem pada Baskoro dan Masayu dengan suasana haru.
"Semoga pernikahan kalian langgeng ya nak? dan cepat memberikan mama dan papa cucu."
"Amin." Marinka mengaminkan ucapan Masayu.
Acara pernikahan yang digelar di masjid dekat rumah Baskoro itupun berlangsung sederhana, karena hanya mengundang beberapa orang penting saja. Namun pada saat malam harinya mereka menggelar resepsi pernikahan disebuah hotel berbintang lima yang sangat mewah.
Mata Ezra tak bisa lepas saat melihat kehadiran Marinka yang disulap bak bidadari oleh Yuanita.
"Alamakkkk Zra, beruntungnya loe. Gue saranin jangan sentuh dia kalau emang loe mau lepas dari dia setelah 6 bulan nanti. Gue yang akan gantiin posisi loe," bisik Yuda.
"Berisik! apa loe lupa dia janda? yang pasti bukan gue orang yang pertama sentuh dia."
"Kalau janda seperti dia, gue nggak nolak Zra."
"Berisik!"
Marinka perlahan mendekat kearah Ezra yang lebih dulu naik ke pelaminan megah. Mata Ezra benar-benar dibuat takjub oleh kecantikan Marinka yang seperti putri di negeri dongeng itu.
para wartawan dan kamera tidak luput mengabadikan moment bersejarah itu, karena mereka tidak ingin ketinggalan mendapat bahan berita untuk koran,majalah dan media masa lainnya.
Sementara itu ditempat berbeda, Jihan begitu frustasi saat melihat siaran langsung diponselnya detik-detik dimulainya acara resepsi pernikahan itu.
Jihan mengakui kecantikan yang Marinka miliki membuat dirinya sedikit khawatir, dia takut Ezra akan berpaling darinya.
"Nggak! aku sudah bisa memastikan Ezra cinta mati sama aku. Ini hanya untuk 6 bulan saja. Ezra sudah mengirimkan file pernikahan kontrak itu, kalau dia berani macam-macam maka aku akan menyebarkannya pada publik."
"Sial. Apa Ezra sengaja mencari wanita cantik sebagai istri kontraknya? awas saja kalau dia berani nyentuh ja*ang kecil itu."
Jihan langsung meneguk wine hingga tandas.
"Ini mana lagi si kampret, lama amat datangnya. Kenapa malam ini semua orang membuatku kesal."
Kembali keacara resepsi pernikahan Ezra dan Marinka, beberapa tamu dan pengantin sedang melakukan pesta dansa.
"Bang, kenapa acara resepsinya semeriah ini? sampai ada kamera dan wartawan segala. Aku kayak ngerasa nikah ama anak presiden bang,"
"Memangnya cuma nikah ama anak presiden doang bisa ngundang wartawan dan pakai kamera?"
"Ya enggak juga bang, tapi rasanya risih aja."
"Capek?"
"Emm, pegel kaki."
"Kita beristirahat di hotel malam ini."
"Disini?"
__ADS_1
"Ya."
"Kenapa nggak pulang kerumah aja bang?"
"Pihak hotel sudah menyiapkan paket bulan madu untuk kita."
"Bu-Bulan madu?"
"Maaf. Kamu jangan salah sangka, ini cuma paket kamarnya aja."
"Oh gitu, kirain."
"Kita duduk aja kalau kakimu pegel,"
"Emm." Marinka mengangguk dan menyudahi sesi dansanya dengan Ezra.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, saat sepasang pengantin baru itu memasuki kamar hotel. Para tamu undangan juga berangsur sepi karena pulang kerumah mereka masing-masing.
"Egghhh...susah amat sih..."
Ezra yang mendengar suara gerutuan Marinka terpaksa mengalihkan matanya dari ponsel.
"Kenapa?"
"Eh? anu bang, sleting gaunnya ada dibelakang. Tanganku nggak nyampe buat ngelepasnya."
"Butuh bantuan?"
"Sepertinya gitu bang, maaf harus ngerepotin abang."
"Tidak masalah,"
Ezra meletakkan ponselnya diatas tempat tidur, perlahan pria itu mendekati Marinka bermaksud membantu melepaskan gaun pengantin itu dari tubuh istrinya.
Ezra perlahan menarik resleting gaun Marinka, hingga memperlihatkan punggung putih mulus milik istrinya itu.
Glekkkk
Ezra yang terpesona akan kecantikan kulit Marinka terpaksa menelan sesuatu yang terasa nyangkut ditenggorokkannya. Ingin sekali rasanya Ezra menyentuh punggung mulus itu namun kesadarannya kembali saat suara lembut Marinka membuyarkan lamunannya.
"Sudah bang?"
"Eh? su-sudah."
"Makasih ya bang,"
"Sama-Sama."
"Abang boleh ngadep sana dulu nggak bang? Inka mau ganti baju soalnya,"
"Oke."
Ezra segera berbalik badan, dan Marinka segera meloloskan gaun itu dari tubuhnya untuk berganti pakaian tidur.
Glekkkk
Lagi-Lagi Ezra meneguk ludahnya, saat dia berbalik, tepat didepan matanya ada sebuah cermin besar yang bisa melihat apapun yang ada dibelakangnya.
"Benar-Benar cobaan berat punya istri secantik dan sesexy dia," batin Ezra.
__ADS_1
"Bang aku mau mandi dulu ya?"
"Eh?"
"Mau mandi,"
"Apa kamu tidak takut masuk angin?"
"Nggak nyaman, lengket banget soalnya."
"Iya sih. Ya udah jangan lama-lama, nanti masuk angin."
"Ya bang."
Marinka bergegas masuk kedalam kamar mandi, sementara itu Ezra bisa bernafas lega saat melihat Marinka menghilang dibalik pintu yang sarat akan air itu.
Ezra meraba milik kebanggaannya yang terlanjur mengacung sempurna saat melihat kemolekkan tubuh Marinka.
"Ini tidak bisa dibiarkan, untung pernikahan kontraknya cuma sampai 6 bulan, kalau nggak bisa gawat. Moga aja aku kuat nahan godaan selama 6 bulan ini."
"Sabar ya Jer, pasanganmu sedang ada di Amerika. 6 bulan lagi kalian bisa bersatu." Ezra berbicara dengan miliknya yang seolah pandai merespon apapun yang dia katakan.
Ezra kembali berbaring dan sengaja mengambil tempat tidur lebih ujung agar dia bisa terlelap lebih dulu. Tubuhnya yang kelelahan begitu cepat tertidur ketika Marinka keluar dari kamar mandi.
"Bang, abang nggak mandi?" tanya Marinka sesaat keluar sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Karena tidak ada respon, Marinka mengitari tempat tidur, dan melihat Ezra sudah mendengkur dengan masih memegang ponsel ditangannya.
Marinka mengambil ponsel itu, dan tidak sengaja melihat walpaper diponsel itu.
"Oh ini yang namanya kak Jihan? cantik, sexy, pantas saja bang Ezra tergila-gila padanya. Mereka pasangan yang serasi," ucap Marinka lirih.
Marinka meletakkan ponsel itu diatas meja, dan menutupi tubuh Ezra dengan selimut tebal. Setelah rambutnya kering sempurna, Marinka juga ikut tertidur disamping Ezra. Tidak menunggu berlama-lama, dia pun jatuh tertidur dengan lelap.
*****
Blammmm
Mata Ezra terbuka lebih dulu, saat merasakan hembusan hangat diceruk lehernya. Posisi tidur Marinka dan Ezra saat ini benar-benar sangat intim. Mungkin mereka sama-sama tidak menyadari apa yang mereka lakukan, hingga bisa tidur dengan saling berpelukkan.
"Sial Jer, please jangan bangun dong. Perasaan dekat Jihan kamu nggak gini-gini amat Jer," batin Ezra.
"Aku harus bagaimana ini? Marinka meluknya erat banget, jujur sangat nyaman banget posisi gini,"
Tiba-Tiba tubuh Marinka menggeliat, wanita itu sepertinya hendak terbangun dari tidurnya. Ezra yang melihat pergerakkan Marinka, terpaksa berpura-pura tidur kembali. Dia tidak ingin Marinka tahu, kalau diam-diam dia menikmati pelukkan hangat wanita itu.
"Astaga...kenapa posisi tidurnya gini? kalau bang Ezra tahu, pasti ngira aku mesum dan mencari kesempatan dalam kesempitan," ucap Marinka lirih namun masih bisa didengar oleh Ezra.
Marinka segera menggeser tubuhnya untuk menjaga jarak dengan suami kontraknya itu. Sejenak Marinka menatap kearah Ezra dan menyunggingkan senyumnya.
"Aku tahu pernikahan kita singkat, tapi aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan abang. Abang sangat baik denganku, jadi aku akan berusaha jadi istri yang baik buat abang selama 6 bulan ini. Semoga aku nggak ngecewain abang ya?" ucap Marinka lirih.
"Meskipun nanti kita sudah bercerai, aku akan menganggap abang seperti kakak kandungku sendiri. Karena aku hanya punya abang saja saat ini, aku do'akan semoga rejeki abang dilancarkan dan bisa berjodoh dengan gadis pilihan abang itu."
Cup
"Marinka sayang abang," Marinka mencium puncak kepala Ezra.
SEEEEERRRRR
__ADS_1
Hati Ezra mendadak basah saat menerima ciuman manis dan kata-kata manis dari mulut Marinka. Ezra membuka matanya setelah Marinka memasuki kamar mandi dan menutup pintu itu.
To be continue...🤗🙏