
"Hah...nyerah, benar-benar nggak bisa tidur," gerutu Ezra sembari melempar bantal gulingnya kelantai.
Setelah lama berpikir dan berperang batin, Ezra akhirnya menemukan ide gila yang membuatnya bersemangat. Ezra mencari sesuatu di loker lamarinya, dan menyeringai setelah menemukan apa yang dia cari.
Ceklekkkk
Setelah berjuang cukup lama, akhirnya Ezra berhasil membuka pintu kamar Marinka. Malam ini Marinka terlihat begitu sexy, dengan hanya menggunakan gaun tipis bertali spagetti.
"Sepertinya ini malam tersialku. sudah susah tidur, sekalinya masuk kesini, membuatku semakin sulit tidur. Kalau begini caranya, yang dibawah bisa bangun dan minta di tidurkan "
Perlahan tapi pasti Ezra mendekati tempat tidur Marinka. Pria itu naik keatas ranjang dan mengamati wajah cantik istrinya itu.
Glekkkk
Ezra menelan salivanya saat melihat dua benda yang pernah ia mainkan itu tampak sedikit menyembul, dengan bulatan tengahnya menjiplak pakaian Marinka yang tipis dan tanpa menggunakan penyangga.
"Oh God...siksaan macam apa ini, bagaimana kalau aku sampai tidak bisa mengendalikan diri lagi? Marinka dalam keadaan sadar sekarang, bisa-bisa aku kena gampar."
Ezra perlahan merapatkan dirinya pada Marinka, dan memeluk erat istrinya itu. Merasakan ada tangan yang menindih perutnya, Marinka pun terjaga.
"Eh? apa aku sedang berhalusinasi? bukankah ini bang Ezra? tapi itu tidak mungkin kan? jangan-jangan aku sedang berada dialam mimpi," ucap Marinka saat dirinya mendapati Ezra yang berada tepat didepan wajahnya.
Sementara itu Ezra yang tengah pura-pura tidur, hanya bisa menahan tawa saat mendengar ucapan Marinka.
"Kalau ini benar mimpi, sebaiknya aku manfaatkan saja. Aku sangat merindukannya," ucap Marinka lirih sembari masuk kedalam pelukkan Ezra.
Mendapat pelukkan hangat dari Marinka, Ezra menyeringai dan tambah mengeratkan pelukkannya.
Karena tidak ingin ketahuan, kali ini Ezra bangun lebih dulu. Pria itu bergegas kembali ke kamarnya dengan semringah, karena keinginannya ingin tidur dengan Marinka sudah kesampaian. Sementara itu, Marinka yang ditinggal Ezra sendirian dikamar jadi terbangun karena merasa kehilangan sumber kehangatannya.
Marinka mematikan ac yang membuat kulitnya terasa dingin.
"Hah...ternyata memang cuma mimpi ya? tapi jujur saja, semalam itu sungguh terasa nyata," ucap Marinka lirih.
__ADS_1
Marinka melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Wanita itu bergegas turun kebawah setelah mengganti pakaianya untuk membuat sarapan dan bekal suaminya.
"Dek. Waktu di Paris abang tidak sengaja bertemu Jihan," Ezra mencoba mengorek sumber masalah yang membuat Marinka sedikit berubah terhadapnya.
"Oh ya? bagus dong bang, jadi kalian bisa melepas rindu disana. Kalian kan jarang bertemu,"
"Iya."
"Lalu, apa yang dilakukan kak Jihan di Paris? sangat kebetulan sekali ya, tiap abang keluar negeri, Kak Jihan pasti berada ditempat yang sama."
"Dia sedang ada pemotretan sebuah brand ternama di paris,"
"Marinka kamu kenapa? membicarakan dia kamu langsung berapi-api. Sekarang sudah jelas kan? perbedaan kamu dan Jihan? jihan seorang model papan atas yang jam kerjanya sudah melambung, sedangkan kamu? dasar wanita tidak tahu diri kamu ini Marinka,"
"Oh...kesempatann berarti ya bang, bisa liburan bareng lagi." ujar Marinka dengan wajah datar.
Ezra menatap ekspresi wajah Marinka, pria itu ingin menjabarkan arti dari raut wajah wanita itu.
"Tidak lama, dia disana cuma 2 hari,"
"Ya." Ezra tidak ingin menutupinya, terlebih Marinka sudah pernah tahu, bahwa dia dan Jihan pernah tidur dikamar yang sama ketika di Turki.
"Entah aku harus senang atau sedih mendengar kejujuranmu itu bang. Disisi lain aku senang ternyata kamu jujur padaku, tapi disisi lain, itu juga membuktikan bahwa kamu tidak perlu menjaga perasaanku karena kamu memang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku,"
"Kalian pasti puas jalan-jalan disana ya bang,"
"Cuma jalan biasa saja."
"Jalan biasa yang penuh dengan keromantisan, bahkan kamu membelikan hadiah-hadiah mahal,"
"Abang mau pergi ke kantor sekarang? adek pengen istirahat, kepala adek sedikit sakit," Marinka mencari alasan agar bisa segera pergi dari hadapan Ezra.
"Kepalamu sakit? apa kemarin kepalamu terbentur lumayan keras? kita kerumah sakit saja ya dek?" Ezra sedikit cemas.
__ADS_1
"Tidak perlu bang, adek cuma butuh istirahat saja."
"Ya sudah, ayo abang antar keatas."
"Emm." Marinka mengangguk.
Ezra menggandeng tangan Marinka saat akan naik keatas. Pria itu mengantar Marinka, hingga istrinya itu berbaring diatas tempat tidur.
"Tidurlah, abang akan menjagamu disini."
"Eh? nggak usah bang, abang pergi saja ke kantor. Adek cuma mau istirahat saja,"
"Sudah diamlah. Jangan membantah lagi, kalau abang memutuskan ingin tetap disini, maka abang akan disini. Sekarang pejamkan matamu,"
Marinka menurut saja dengan apa yang Ezra katakan, meskipun awalnya sulit terpejam karena pikiran-pikiran aneh yang bersarang dibenaknya, namun akhirnya Marinka terlelap juga.
Ezra menatap istri cantiknya yang sedang mendengkur halus, wajah polos yang katanya dia anggap seorang adik, namun hatinya selalu merasakan kerinduan yang tidak wajar pada wajah itu.
"Aku tidak tahu takdir rumah tangga kita seperti apa nantinya, disisi lain ada wanita lain yang aku cintai, tapi disisi lain kamu hadir membawa rasa aman dan nyaman yang tidak pernah aku rasakan dari sosok Jihan. Aku tidak tahu mengartikan perasaan ini seperti apa, tapi aku juga tidak bisa menjanjikan kebahagiaan yang lebih padamu, karena aku memiliki hati lain yang perlu aku jaga."
"Hah...semoga saja aku tidak salah mengambil keputusan nantinya. Meskipun sulit, tapi aku tidak mungkin membagi hatiku untuk dua wanita yang memiliki arti sendiri dalam hidupku. Mau tidak mau aku harus memilih salah satu dari kalian,"
Cup
Ezra mengecup kening Marinka, dan ikut berbaring disamping istri kecilnya itu. Lambat laun Ezra ikut tertidur pula.
Blammmm
Mata Marinka terbuka, ketika waktu menunjukkan tepat pukul 11siang. Marinka melirik kearah tangan yang melingkar lembut di perutnya. Marinka menatap kearah wajah suaminya, suami yang selalu memporak-porandakan perasaannya.
"Wajah tampan ini sebentar lagi akan meninggalkan aku. Aku pasti akan sangat merindukan dia. Entah setelah berpisah dengannya nanti, apa aku masih bisa membuka hatiku untuk pria lain atau tidak. Tapi untuk saat ini, seluruh hati dan pikiranku hanya dipenuhi dengan dia,"
"Semoga kamu selalu bahagia bang. Sesuai janjiku dari awal, tujuanku menikah denganmu memang hanya ingin membuatmu bahagia. Maka aku akan menepati janjiku itu, dan membuat abang bersatu dengan Jihan,"
__ADS_1
Tak terasa air mata Marinka menetes membasahi pipinya. Begitu besar Ezra bertempat dihatinya, meskipun dia sadar pria itu tidak akan pernah menjadi miliknya untuk selamanya.
TO BE CONTINUE...🤗🙏