Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.55. Sedikit Menghindar


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Ezra gelisah, Marinka sangat jarang sekali membalas chat darinya. Bahkan Marinka juga tidak mengangkat telpon darinya, dengan alasan banyak tugas kuliah dari kampusnya.


"Yud."


"Ya?"


"Coba suruh orang kita untuk mengikuti kegiatan Marinka, dan segera laporkan padaku."


"Ada apa?"


"Aku tidak tahu, dia seolah sedikit menghindariku akhir-akhir ini."


"Apa kalian sedang bertengkar?"


"Tidak. Bahkan selama kami menikah, kami tidak pernah bertengkar,"


"Aku percaya itu, bahkan kalaupun ada masalah antara kalian, itu pasti berasal dari dirimu."


"Apa maksudmu?"


"Coba kamu pikir, apa kamu sudah melakukan kesalahan tanpa kamu sadari?"


"Tidak ada. Kalau soal Jihan ada di paris, itu tidak pernah menjadi masalah baginya. Dia kan tahu hubunganku dengan Jihan seperti apa."


"Apa kamu yakin Marinka tidak masalah dengan hubunganmu dengan Jihan? kamu harus belajar peka dengan perasaan wanita, jangan sampai kamu membuat kesalahan, tapi orang lain yang kamu suruh memahami dirimu."


Ezra terdiam, dia mengingat-ingat lagi apakah Marinka tahu tentang pertemuannya dengan Jihan atau tidak.


"Tapi Marinka tidak tahu kalau aku bertemu Jihan disini,"


"Aku tahu mulut kamu tidak ember, tapi Jihan? aku sama sekali tidak percaya dengan wanitamu itu,"


"Ckk...kami selalu menjelek-jelekkan dia. Biar dia begitu, aku sangat mencintainya."


"Terserah saja. Jadi sekarang kamu maunya bagaimana?"


"Ya itu, aku ingin kamu menyuruh orang untuk mengawasi kegiatan Marinka, mulai bangun tidur, sampai dia tidur lagi."


"Bagaimana kalau ternyata dia sedang berkencan dengan seorang pria?"


Deg


Jantung Ezra terasa ada yang sedikit menghantam.


"Beri pria itu pelajaran!"


"Kamu jangan egois, bukankah didalam surat kontrak itu kalian tidak boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing?"


"Tapi dia istriku, aku ingin menjaganya dari pria yang tidak benar,"


"Mungkin saja saat ini Marinka sedang melakukan hal yang sama,"


"Apa Maksudmu?"

__ADS_1


"Tidakkah kamu berpikir, kalau sebenarnya Marinka tahu kalau saat ini kamu sedang berdua dengan Jihan disana? kamu adalah suaminya, tapi kamu sedang bersama wanita lain. Tapi karena terikat kontrak itu, dia tidak bisa marah padamu. Kamu pasti akan berdalih itu urusan pribadimu."


"Sudah ku katakan, Marinka tidak tahu aku bertemu Jihan disini,"


"Maka dari itu jangan egois, biarkan Marinka menemukan kebahagiaannya sendiri. Zra, waktu kebersamaan kalian hanya kurang dari 2 bulan lagi, biarkan dia menemukan tambatan hatinya yang baru. Tidak perlu kamu menyuruh orang mengintainya, itu artinya kamu tidak percaya padanya. Padahal disini secara tidak langsung, kamulah yang sedang bermain api."


Ezra terdiam. Semua yang Yuda katakan memang benar. Pria itu jadi teringat kata-kata Marinka, ketika istrinya itu sedang mabuk. Marinka memang tidak mengatakan secara gamblang, bawah dia mencintai dirinya. Namun kata-kata sayang, dan ingin hidup berdua selamanya pernah terucap dari bibir istrinya itu.


"Baikklah, tidak usah menyuruh orang untuk mengikutinya. Minggu depan aku akan pulang,"


"Ya sudah, aku tutup telponnya. Pekerjaanku sangat menumpuk."


"Emm."


Yuda mengakhiri panggilan itu lebih dulu, sementara Ezra jadi kepikiran dengan semua ucapan Yuda.


"Katakanlah dia memang mencintaiku, tapi aku tidak mungkinkan mencintai dua wanita sekaligus? Marinka mungkin saja bisa menerima dimadu, tapi Jihan? dia pasti tidak akan mau."


"Lagipula hubunganku dengan Jihan bukan hanya sehari dua hari, aku tidak mau mengecewakan dia. Terlebih dia pernah menyelamatkan hidupku."


"Yah...aku harus tegas, hubunganku dengan Marinka akan berakhir kurang dari dua bulan lagi. Aku hanya perlu memberikan dia kompensasi yang besar, jadi dia bisa melanjutkan hidupnya."


Sejak hari itu, komunikasi antara Ezra dan Marinka benar-benar merenggang. Meskipun mereka sama-sama merasakan kerinduan yang mendalam, tapi mereka seolah sama-sama menahan diri.


"Sebaiknya aku pindah kamar saja, agar saatnya tiba, aku sudah terbiasa tidur tanpa dirinya," ujar Marinka.


Marinka mulai memindahkan barang-barangnya ke kamar sebelah, dia ingin belajar menjauhi Ezra pria yang diam-diam dicintainya itu.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat Marinka tiba dirumah, dengan langkah gontai dia memasuki rumah itu. Bahkan dia sama sekali tidak menyadari, ada mobil Ezra yang terparkir didepan rumah itu.


Saat akan menaiki tangga, Marinka dikejutkan dengan kehadiran Ezra yang menunggu di ujung tangga. Melihat pria itu sudah datang, Marinka bergegas menaiki anak tangga bermaksud ingin berhambur kepelukkan suaminya itu.


Namun langkah itu tiba-tiba melambat, satu persatu potongan foto mesra Ezra dan Jihan, seakan menari-nari dipelupuk matanya.


Ezra mengerutkan dahinya dan menatap wajah Marinka. Pria itu menyadari Marinka seolah menahan diri.


"A-Abang sudah pulang?" tanya Marinka sembari maraih tangan Ezra untuk dia cium.


"Ya."


"Abang sudah makan?"


"Sudah."


"Abang pasti lelah, abang istirahat saja. Atau abang mau adek buatkan teh?"


"Tidak perlu,"


Marinka terdiam, dia bingung harus bicara apalagi. Suasana tiba-tiba menjadi canggung.


"Ka-Kalau begitu adek masuk kamar dulu,"


Marinka berbalik badan dan ingin melangkah pergi menuju kamarnya sendiri.

__ADS_1


Tap


Ezra menarik tangan Marinka, dan sedikit menyentak tangan istrinya itu.


"Sepertinya kamu salah kamar, kamar kita ada disitu,"


Glekkk


Marinka meneguk ludahnya dengan susah payah, dia bingung harus mengatakan apa pada Ezra atas keputusannya ingin pindah kamar.


"Kenapa?"


"Ke-Kenapa apa bang?"


"Kenapa kamu mau pindah kamar?"


"A-Adek cuma mau pindah saja,"


Sungguh alasan yang sama sekali tidak bisa Ezra terima. Ezra menyeret tangan Marinka untuk masuk kekamar yang sudah dipilih Marinka, Ezra kemudian mengeluarkan semua pakaian Marinka dari lemari, karena ingin membawanya kembali ke kamar utama.


"Meski abang membawanya ke kamar itu, adek akan tetap tidur disini."


Kata-Kata itu membuat tangan Ezra berhenti melakukan kegiatannya.


"Kenapa? apa abang sudah membuat kesalahan?"


"Tidak."


"Lalu kenapa kamu mau pindah kamar? bukankah kita sudah sepakat akan selalu berbagi kamar?"


"Apa abang mau berbagi kamar denganku seumur hidup?"


Ezra terdiam mendengar pertanyaan Marinka. Sungguh pertanyaan itu sangat sulit untuk dia jawab.


"Inilah maksud tujuanku, kurang dari dua bulan kita akan berpisah bukan? jadi kita harus terbiasa tidur tanpa satu sama lain. Kamar itu sebentar lagi akan ditempati oleh kak Jihan, aku tidak mau saat dia kembali mengetahui kalau kita tidur bersama. Abang jangan mempersulitku, aku hanya membantu abang agar urusan abang berjalan denga mulus."


"Oh begitu? kalau itu kemauanmu terserah, bahkan mulai detik ini kita tidak perlu saling bicara lagi, bukankah kamu ingin kita mulai membiasakan diri tanpa satu sama lain?"


"Bu-Bukan begitu juga bang,"


"Tidak. Sudah diputuskan seperti itu saja."


Ezra keluar dari kamar itu dengan membanting pintu cukup keras.


Brakkkkkk


Tubuh Marinka merosot didaun pintu itu, air matanya tidak tahan untuk tidak terjun bebas.


"Hikzzz....mengapa rasanya sakit sekali," Marinka terisak.


Sementara itu, Ezra yang belum benar-benar pergi dari kamar itu mendengar isak tangis Marinka dari luar kamar. Pria itu sedikit merasa bersalah karena bicara terlalu keras pada istrinya itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2