Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.67. Pelukkan Terakhir


__ADS_3

Sebelum Marinka membubuhkan tanda tangannya diatas materai, Wanita itu menatap sejenak kearah Ezra. Untuk beberapa saat pandangan mata itu saling bertaut, seolah mereka ingin berbicara lewat tatapan mata itu.


"Izinkan aku menatap wajahmu untuk yang terakhir kalinya bang. Saat tanda tanganku sudah bertengger diatas materai ini, haram bagiku untuk menatapmu seperti ini. Ingin rasanya aku mengatakan padamu, aku mencintaimu bang."


"Apa kamu akan baik-baik saja dengan perceraian kita dek? aku tidak tahu kenapa, dadaku tiba-tiba merasa sesak,"


Sesaat kemudian Marinka menyunggingkan senyumnya ke arah Ezra.


"Adek tanda tangan ya bang? adek Do'akan abang bahagia bersama kak Jihan,"


Sekuat tenaga Marinka membuat tangannya agar tidak gemetar, saat menandatangani surat perceraian itu. Perlahan tapi pasti, Marinka mulai mengukir kertas perceraian itu dengan tanda tangan miliknya. Dan entah mengapa pula Ezra memalingkan wajahnya, saat melihat Marinka tanpa ragu menandatangani surat perceraian itu.


Jihan menyunggingkan senyumnya saat melihat tanda tangan Marinka sudah bertengger diatas kertas perceraian itu.


"Oh ya. Karena hari ini hari terakhir kontrak pernikahanmu, jadi kamu harus pergi juga dari rumah ini."


"Oh gitu ya kak? ya sudah, kalau begitu Inka siap-siap dulu." Jawab Marinka dengan menahan luka dihatinya.


"Baguslah kalau kamu ngerti," ujar Jihan.


"Kalau begitu adek siap-siap dulu ya bang."


Ezra sama sekali tidak mengeluarkan suara sejak Marinka masuk, bahkan keluar dari ruangan itu. Sementara itu Marinka bergegas keluar dari ruangan kerja Ezra dan kembali masuk kedalam kamarnya.


"Hikz..."


Lagi-Lagi tubuh Marinka merosot dibalik pintu. Wanita itu benar-benar merasakan sakit yang luar biasa. Meski dia tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan kesedihannya.


"Maafkan mama ya nak? bukan maksud mama menyembunyikanmu dari papamu, tapi kalau mama memberitahunya, mama takut akan merusak kebahagiaannya. Mama janji, meskipun mama membesarkanmu seorang diri, kamu tidak akan merasakan kurang kasih sayang sedikitpun. Karena mama cuma punya kamu, maka kita akan hidup berdua selamanya," ujar Marinka disela isak tangisnya.


Marinka segera bangkit dari duduknya, dan kembali memasukkan seluruh barangnya kedalam koper.


"Biar aku saja yang memberikan ini padanya," ujar Jihan.


Jihan meraih lembaran cek dari tangan Ezra.


"Biar aku saja yang memberikannya," ucap Ezra.


"Kenapa? apa kamu yakin tidak akan baper?" tanya Jihan.


"Sayang. Jangan mulai lagi, aku sudah menuruti semua keinginanmu. Apa ini tidak cukup sebagai bukti kalau aku mencintaimu?" ujar Ezra.


"Ya aku percaya. Hanya saja aku perlu bicara dengannya empat mata."


"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak padanya. Dia bukan wanita yang seperti kamu pikirkan."


"Sepertinya kamu sudah mengenal dia sekali ya? bahkan kamu begitu takut kalau aku menindasnya, padahal kita jauh sudah mengenal bertahun-tahun daripada dia."


"Bu-Bukan begitu maksudku. Ah...ya sudah kamu berikan saja itu untuknya."


"Tunggu disini,"


"Emm."


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Masuk!"


Yuda menekan handle pintu dan masuk kedalam ruang kerja Ezra.


"Yuda? kenapa kamu kemari? apa ada sesuatu?"


Yuda tidak langsung menjawab pertanyaan Ezra, pria itu melirik kearah berkas yang sudah ada tanda tangan Marinka disana.


"Dia sudah menandatanganinya?"


"Ya."


"Apa dia baik-baik saja?"


"Ya."


"Dimana dia sekarang?"


"Ada dikamarnya, disana juga ada Jihan. Jihan ingin memberikan cek yang kuberikan untuk Marinka."


"Zra. Bisakah kamu pikir ulang lagi?"


Ezra hanya diam saja. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Yuda yang akan membuat dirinya kembali bertengkar dengan sahabatnya itu.


"Hah...ya sudahlah, aku mau ke toilet dulu,"ujar Yuda setelah menghela nafas.


"Sepertinya kehidupanmu sangat baik selama 6 bulan ini. Bagaimana rasanya menjadi orang kaya selama 6 bulan? enak?"


"Terima kasih kakak sudah memberikanku kesempatan untuk menjadi orang kaya selama 6 bulan. Tanpa bantuan kakak, mungkin seumur hidupku tidak akan merasakan yang namanya tinggal dirumah mewah seperti ini."


"Ya. Makanya aku segera kembali, aku ingin segera membangunkanmu dari buaian mimpi. Aku takut kau terlena, dan lupa bangun."


"Kakak tenang saja. Aku tahu diri kok. Aku Do'akan semoga kakak bahagia bersama bang Ezra."


"Oh tentu dong. Kita kan pasangan yang saling mencintai, bukan seperti seseorang yang hanya bertepuk sebelah tangan."


"Apa maksud kakak?"


Jihan mendekati Marinka dan berbisik sesuatu di telinga wanita itu.


"Jangan kamu mengira, aku tidak tahu bahwa kamu menyukai kekasihku. Tapi Marinka, satu hal yang harus kamu tahu, tidak satu ekor anjingpun sanggup berebut denganku, apalagi hanya seekor tikus pencuri hati sepertimu,"


"Terlihat sekali ya kak? sayangnya bang Ezra tidak bisa melihat itu."


"Tentu saja. Karena mata dan hatinya hanya tertuju padaku. Karena kamu sudah berani mencintai kekasihku, maka anggap saja ini biaya kompensasi karena kelancanganmu itu "


Jihan menunjukkan selembar cek. Marinka melirik kearah nominal yang tertera diatas kertas itu.


"Ya. Kamu tidak salah lihat. Ezra memang memberikanmu tunjangan sebesar 500 milyar sebagai kompensasi perpisahan kalian. Tapi setelah kupikir-pikir kamu tidak layak mendapatkan uang sebanyak ini, jadi buatku saja."


Jihan memasukkan cek itu kedalam saku celananya. Marinka menyunggingkan senyumnya sembari menatap kearah Jihan.

__ADS_1


"Aku percaya bang Ezra memang orang baik. Katakan padanya, terima kasih atas semua kebaikkannya itu. Karena cintaku padanya memang suci, dan bukan karena uang, maka aku tidak masalah kalau kak Jihan ingin meminta sedekah dariku."


"Kau..."


Jihan mengepalkan tangannya karena merasa terhina oleh ucapan Marinka.


"Sebaiknya kak Jihan keluar dulu, aku tengah bersiap-siap. Semakin lama kak Jihan disini, maka semakin lama pula kak Jihan menahanku agar segera pergi dari sini."


Tanpa banyak bicara, Jihan segera beranjak pergi dari kamar itu. Senyumnya terbit karena merasa sudah mendapatkan pundi-pundi uang yang banyak dari cek yang diberikan Ezra.


"Hikz..." Marinka kembali terisak.


"Sudah?" tanya Ezra.


"Ya."


"Apa dia menerima cek itu?"


"Tentu saja. Jaman sekarang siapa yang tidak menyukai uang, terlebih dia bisa kaya mendadak karena uang 500 milyar itu."


"Syukurlah kalau dia menerimanya, aku sedikit lega. Aku pikir dia akan menolak pemberianku."


"Kamu terlalu memandang tinggi dirinya. Dia tidak senaif itu. Bahkan dia mengucapkan terima kasih atas pemberianmu itu."


"Baguslah. Sekarang dia dimana?"


"Lagi bersiap."


Tok


Tok


Tok


"Masuklah!"


Marinka meletakkan koper didepan pintu ruang kerja Ezra. Wanita itu perlahan masuk kedalam, dengan senyuman yang selalu terpancar dari sudut bibirnya.


"Bolehkah aku bicara dengan bang Ezra empat mata saja?"


Ezra melirik kearah Jihan. Gadis itu membalas memutar bola mata dengan malas.


"Tunggu aku di kamar," ujar Ezra.


"Ckk..." Jihan berdecak kesal kemudian pergi dari ruangan itu.


Setelah pintu ruangan itu tertutup rapat, Marinka perlahan melangkah kearah Ezra dan menatap dalam kearah mata pria itu.


"Maukah abang memberikan aku pelukkan terakhir?"


.


Nyuuuttttt


Kata-Kata Marinka berhasil mencubit hati Ezra. Tanpa banyak kata, Pria itu langsung membawa Marinka kedalam pelukkannya. Pelukkan yang teramat erat, Marinkapun membalas dekapan itu tidak kalah erat. Kedua insan itu sama-sama memejamkan mata, mereka sama-sama menikmati pelukkan terakhir itu, pelukkan yang tanpa mereka sadari akan menjadi pelukkan yang sama-sama mereka rindukan.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2