Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.152. Duda Kesepian


__ADS_3

Ezra dan anak-anak beserta Lilian tiba di rumah sakit tepat pada pukul 5 sore. Ada perasaan membuncah di dada Ezra saat akan bertemu Marinka. Entah mengapa jatungnya berdebar saat ini, terasa baru akan bertemu kekasih yang sudah lama tidak bertemu.


"Sial, kenapa aku gugup sekali. Bahkan tangankupun terasa dingin," batin Ezra saat mereka sebentar lagi hampir mencapai ruangan Marinka.


Krieeeeekkkkkk


Lilian menekan handle pintu dan membuka pintu itu cukup lebar. Tampak Marinka juga melihat ke arah pintu dan tersenyum ke arah lilian.


"Ah....istriku," batin Ezra saat melihat Marinka yang tampak baik-baik saja, namun masih ada perban di kepalanya.


Air mata Ezra cepat sekali merebak, bahkan saat ini dia lupa kalau Marinka sedang mengalami amnesia.


"Sayang,"


Ezra segera berlari kearah Marinka yang tengah duduk sembari membaca tabloid, yang dia pinjam dari seorang perawat.


Grepppp


Ezra memeluk Marinka dengan erat sembari terisak. Mendapat pelukkan yang tak terduga dari pria yang dianggapnya asing, membuat tubuh Marinka jadi menegang. Namun ada hal aneh yang dia rasakan, dia seperti sama sekali tidak keberatan dipeluk oleh pria itu saat ini. Ada perasaan familiar yang tidak bisa Marinka jelaskan. Disisi lain Lilian memijat keningnya karena Ezra yang sudah keluar jalur dari kesepakatan akting mereka.


Tidak jauh berbeda dengan Lilian, Ezka dan Rakha juga menepuk kening mereka karena melihat papa mereka yang mudah sekali baper.


"Ehemmm...papa," ujar Rakha.


"Papa? astaga, jadi pria ini suami orang? tapi kenapa dia sembarangan peluk-peluk wanita lain? pakai panggil kata sayang lagi," batin Marinka.


"Maaf tuan. Anda siapa? kenapa main peluk-peluk orang sembarangan?" tanya Marinka sembari mendorong dada Ezra.


Kini giliran tubuh Ezra yang menegang, dia merutuki dirinya sendiri karena tidak mampu mengendalikan diri. Ezra secepat kilat menyeka air matanya.


"Ah...maaf, aku hanya terlampau senang, karena melihat orang yang ku tolong sudah baik-baik saja."


"Tapi bukan berarti anda bisa main peluk-pekuk orang sembarangan. Apalagi tuan sudah memiliki istri dan anak, nanti saya di kira pelakor loh?"


"Maaf, tapi saya tidak punya istri, istri saya..."


"Anda duda?"


"Eh? i-iya."


"Oh tenyata duda kesepian," batin Marinka.


"Maafkan abang sayang, abang terpaksa bilang begitu. Abang nggak mau memaksamu buat mengingat semuanya. Tidak masalah kalau kamu melupakan semua memori lama tentang kita, maka abang akan mengisinya dengan memori yang baru. Dan yang baru ini semuanya abang jamin tidak ada yang menyakitkan seperti yang dulu,"


"Ini orang kelamaan duda kali ya? kok liatin aku sampai segitunya, dasar mesum."


"Terima kasih karena tuan sudah menolong saya. Nanti saya akan mencari kerja, buat ganti biaya operasi wajah saya."


"Cari kerja?"


"Ya. Saat ini saya memang tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan, tapi tuan jangan khawatir, saya pasti ganti kok."

__ADS_1


"Ah..bagaimana ini? aku nggak mungkin mau berjauhan dengan dia? bagaimana caraku menahannya?"


"Tante cantik, bagaimana kalau tante bekerja dilumahku saja?" tanya Rakha yang tiba-tiba menggenggam tangan Marinka.


Genggaman itu seketika membuat hati Marinka menghangat, ditambah ekspresi wajah Rakha saat ini sedang memelas, dengan mata dibuat menghiba.


"Busyet...sejak kapan bongkahan es ini belajar akting? baru kali ini aku melihat wajahnya yang begitu. Ah...dia memang putraku, ayo sayang...rayu terus mamamu hehehe...."


"Bekerja dirumahmu?" tanya Marinka.


" Ya tante. Kami nggak punya pengasuh, tante mau kan mengurus kami? tante mengingatkan aku pada mama, kalau tante bekerja dirumahku, papa pasti memberikanmu gajih yang besar, iya kan pa?" tanya Rakha dengan kedipan mata.


"I-Iya." Jawab Ezra.


"Berapa papa akan memberikan tante cantik gajih?" tanya Rakha.


"20 juta." Jawab Ezra asal.


"20 juta?" Marinka terkejut. Pasalnya itu sangat banyak menurutnya.


"Memang hutang saya ada berapa tuan?" sambung Marinka.


"2 milyar." Jawab Ezra.


"Du-Dua milyar?" mata Marinka terbelalak.


"Itulah sebabnya tidak ada pekerjaan baby sitter dengan gajih sebesar itu di kota J. Kalau kamu mau, itu bisa melunasi hutangmu dengan cepat." Jawab Ezra.


"Tantu saja." Jawab Ezra.


"Saya sedang punya misi di luar. Saya membutuhkan waktu 3 jam dalam sehari untuk berada diluar rumah. Saya juga butuh uang, bolehkah saya membayar hutang saya 10 juta perbulan? sementara 10 jutanya buat saya gunakan untuk keperluan misi saya."


"Tidak masalah." Jawab Ezra.


"Tante nggak usah khawatir ya? mengurus kami sangatlah gampang. Tante bisa menghabiskan waktu lebih dali 3 jam, kami cuma butuh disuapi makan dan dimandikan saja. Setelah itu tante bisa pelgi lagi," timpal Rakha.


"Anak anda cerdas sekali tuan," ujar Marinka.


"Ah...ya...karena saya mempunyai istri yang juga luar biasa." Jawab Ezra.


"Sepertinya duda ini masih belum bisa move on dari mantan istrinya." batin Marinka.


"Kalau begitu, setelah pulih nanti kita akan kembali ke kota J?"


"Kota J? bukankah ini sudah di kota J?" tanya Marinka terkejut.


"Bukan. Ini tempat kota kelahiran ibu Lilian, ibu mertuaku." Jawab Ezra.


"Tapi kenapa aku bisa jadi disini?" tanya Marinka.


"Ceritanya panjang, tapi yang pasti ada beberapa alasan kami membawamu kesini, demi keamananmu saja." Jawab Ezra.

__ADS_1


"Tante, bolehkah Ezka peluk tante? Ezka kangen mama," ujar Ezka yang mendekat kearah Marinka.


"Eh? bo-boleh kok," ujar Marinka.


Ezka dan Rakha pun berhambur kepelukkan Marinka.


"Perasaan apa ini? kenapa aku merasa sangat bahagia bisa memeluk mereka," batin Marinka.


"Sayang, aku yakin cepat atau lambat kamu akan mengingat semua moment yang kita lalui selama ini," batin Ezra.


"Maaf tuan. Mama mereka kemana ya?" tanya Marinka setelah pelukkannya terlerai.


"Paris." Jawab Ezra seadanya.


"Kalau begitu tante saja yang kami panggil mama. Bolehkan tante?" tanya Ezka.


"Sayang. Kamu nggak boleh begitu, nanti tantenya jadi berubah pikiran. Lagian tantennya pasti keberatan, apalagi kalau tantenya masih gadis," ujar Ezra sembari melirik kearah Marinka.


"Lirikkan macam apa itu? apa pria ini sedang ingin mengorek statusku?" batin Marinka.


"Kebetulan saya juga seorang janda." Jawab Marinka.


"Begitu ya," ujar Ezra


"Kamu sudah makan dan minum obat?" tanya Ezra.


"Su-Sudah." Jawab Marinka.


"Mama cepat sembuh ya? biar kita cepat pulang," ujar Ezka.


"Sayang. Tantenya belum setuju loh di panggil mama," ujar Ezra.


"Tidak apa tuan, jangan kecewakan anak-anak. Saya tidak masalah kok," ucap Marinka.


"Maaf ya. Belum apa-apa mereka sudah membuatmu canggung," ucap Ezra.


"Tidak masalah. Namanya juga anak-anak. Oh ya kapan kita akan kembali ke kota J?"


"Aku akan membicarakannya dengan dokter. Kalau dokter sudah mengizinkan pulang, kita akan berangkat besok." Jawab Ezra.


"Iya. Soalnya saya sudah tidak sabar ingin menjalankan misi saya,"


"Sepertinya tanpa dia sadari misi balas dendam itu sudah menguasainya, jika dulu dia ingin menjadi orang berkelas baru akan balas dendam, tapi sekarang dia hanya ingin segera menuntaskan semuanya. Kamu tenang saja sayang, aku akan membantumu menuntaskan. semua dendammu itu," batin Ezra.


"Kamu yang sabar ya? semuanya pasti berjalan sesuai keinginanmu," ujar Ezra.


"Ya. Karena aku sudah tidak sabar untuk membalas rasa sakit hatiku pada pasangan laknat itu," batin Marinka.


"Kamu harus banyak istirahat, biar keadaanmu cepat pulih.


"Terima kasih tuan."

__ADS_1


Marinka merasa heran dengan pria didepannya ini. Pria itu dinilai Marinka terlalu perhatian terhadap orang yang baru dikenal. Namun itu tidak mengapa baginya, yang penting ada seseorang yang bisa menyokong dirinya untuk melaksankan aksi balas dendamnya.


__ADS_2