
Setelah Seminggu berada dirumah sakit, kini Marinka sudah membaik. Dokter juga sudah mengizinkan Marinka pulang, namun tetap harus rajin kontrol kerumah sakit. Lilian juga memutuskan untuk ikut ke kota J, dengan alasan ingin menjenguk anaknya yang sedang berkuliah di kota itu.
"Anak ibu kuliah dimana?" tanya Marinka saat mereka sedang berada dalam mobil Ezra, yang menjemput mereka di bandara.
"Di universitas indonesia,"
"Wah...itu salah satu kampus terbaik yang negara kita miliki."
"Ya." Lilian menyunggingkan senyumnya.
"Saya stop disini saja, " sambung Lilian saat mobil itu sudah hampir sampai disalah satu gang.
"Anak ibu kost disini?" tanya Marinka.
"Ya. Karena lebih dekat dengan kampus kan?"
"Benar juga, jadi lebih irit ongkos." ujar Marinka.
Lilian kemudian turun dari mobil, sang supir kemudian membantu Lilian menurunkan koper. Marinka melambaikan tangan saat mobil yang dia tumpangi melaju kembali.
Ting tong
Ting tong
Marinka menekan bel rumah Ezra. Ezra dan anak-anaknya memang pulang lebih dulu, karena waktu itu dokter belum mengizinkan Marinka pulang.
Krieeekkkkk
Seorang pelayan membukakan pintu, sementara Rakha dan Ezka berada dibelakang pelayan itu.
"Mama..." seru Ezka dan Rakha bersamaan.
Kedua anak itu langsung berhambur ke tubuh Marinka. Marinka terpaksa membuat tubuhnya sejajar dengan tubuh kedua anak itu.
"Mama sudah datang? kami sangat melindukan mama," ujar Ezka yang memeluk Marinka dengan erat.
"Kalian manis sekali sih. Hem? mama juga merindukan kalian," ujar Marinka sembari mengusap puncak kepala kedua anak itu.
Sementara itu Ezra hanya bisa menatap haru, saat melihat adegan itu. Sejujurnya dia juga ingin sekali ikut bergabung dalam pelukkan itu.
"Kalau sama papa lindu nggak ma?" tanya Ezka.
"Eh?" Marinka melirik kearah Ezra, sementara pria itu membuang muka kearah lain sembari menggigit lidahnya.
"Emm...selamat datang Marinka, semoga kamu betah ya kerja disini," ujar Ezra mengusir kecanggungan.
"Terima kasih tuan."
"Masuklah, biar kamu saya antar melihat kamarmu," ujar Ezra.
Ezra kemudian mengantar Marinka ke kamar atas. Kamar yang bersebelahan dengan kamar utama yang biasa dia tempati dengan Marinka.
"Karena kamu tidak memiliki pakaian, kalau kamu tidak keberatan, kamu mau kan memakai pakaian mantan istri saya? tapi kalau kamu nggak mau, saya akan membuangnya dan membelikanmu yang baru," ucap Ezra sembari membuka lemari khusus pakaian Marinka.
"Tidai usah tuan. Itu mubazir namanya. Kalau memakai pakaian ini tidak menimbulkan masalah dikemudian hari, lebih baik saya pakai ini saja."
"Baguslah," ujar Ezra.
"Oh ya tuan. Apa saya boleh meminjam motor anda?"
__ADS_1
"Motor? untuk apa?"
"Mulai besok saya mau menjalankan misi saya, saya butuh motor itu."
"Jangan pakai motor, itu terlalu beresiko. Kamu pakai mobil saja,"
"Tapi saya tidak bisa mengendarai mobil."
"Kamu kan...."
"Oh iya, ingatannya kan belum kembali. Seingat dia, dia belum bisa mengendarai mobil," batin Ezra.
"Baiklah, sore nanti akan aku ajari kamu mengendarai mobil."
"Eh?" Marinka terkejut.
"Tidak usah terkejut, aku yakin kamu cepat bisa."
"Baiklah, aku menurut saja."
"Kamu beristirahat saja dulu ya, nanti sore kita akan belajar menyetir," Ezra hendak mengusap puncak kepala Marinka, namun tangannya menggantung di udara.
Sementara itu Marinka tampak heran dengan prilaku majikan barunya itu.
"Hisssttt...rasanya nggak enak sekali. Orang yang pengen kita peluk ada di depan mata, tapi malah sama sekali nggak bisa disentuh. Ya Tuhan...sampai kapan aku puasa," batin Ezra.
Ezra bergegas meninggalkan kamar Marinka. Dia tidak ingin lepas kendali dan menerkam istrinya itu.
"Sepertinya dia itu duda yang berbahaya. Entah mengapa aku seperti merasa dia ingin memakanku hidup-hidup tiap kali melihatku. Aku harus berhati-hati dengannya," ujar Marinka lirih.
"Sepertinya aku harus berjuang kembali merebut hati istriku. Aku akan membuatnya jatuh cinta sekali lagi padaku," ucap Ezra dibalik pintu.
Dua hari kemudian...
"Sial, aku ini kenapa? sejak istriku tidak ada, aku nggak bisa melakukan apapun dengan benar. Ayolah sayang, cepatlah kembali. Aku benar-benar tersiksa kalau begini," gerutu Ezra yang kesal karena sejak tadi memasang dasi hasilnya selalu tidak benar.
Marinka yang tidak sengaja lewat setelah membuat sarapan, terpaksa menghentikan langkahnya didepan pintu kamar saat melihat Ezra begitu kesulitan memasang dasi.
Tok
Tok
Tok
"Apa saya bisa membantu anda?" tanya Marinka.
Ezra menyunggingkan senyumnya, dia sangat senang punya kesempatan berdekatan dengan Marinka. Marinka kemudian masuk ke kamar itu yang entah mengapa dirinya tidak merasa asing sama sekali. Marinka melihat sekeliling kamar itu, dan tidak menemukan foto apapun disana. Karena Ezra memang menyimpan seluruh foto didalam gudang.
Marinka mulai meraih dasi yang sudah tergantung dileher Ezra. Jarak yang terlampau dekat membuat jantung keduanya berdebar.
"Ah...ya Tuhan, rasanya aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin sekali menciumnya saat ini," batin Ezra.
"Aku akui duda ini memang sangat tampan dan mempunyai daya tarik luar biasa. Entah mengapa jantungku selalu berdebar tiap kali dia menatapku seperti ini,"
Marinka memang bisa merasakan kalau saat ini Ezra selalu menatap kearahnya, dan itu membuat Marinka jadi salah tingkah.
"Tuan, bolehkah saya meminjam mobil anda? sekarang saya sudah berani nyetir kejalan raya. Saya juga tidak menyangka bisa belajar secepat ini."
"Kamu boleh memakai mobil manapun yang kamu suka. Mintalah kuncinya pada mang Udin."
__ADS_1
"Baik tuan,"
"Berhati-Hatilah saat diluar, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu karena anak-anak sangat membutuhkanmu," ujar Ezra sembari menatap mata Marinka.
Deg
Deg
Deg
"Ya Tuhan...duda ini, jantungku bisa meledak kalau begini," Marinka bergegas memasangkan dasi dan menjaga jarak setelahnya.
"Tuan sarapan dulu, saya sudah membuat sarapan untuk anda."
"Benarkah? kalau begitu kamu juga harus menemani saya sarapan. Oh ya apa kamu mau gajih tambahan?"
"Gajih tambahan? emm...ma-mau,"
"Mulai besok tugas kamu tidak hanya menjaga anak-anak. Tapi tugas kamu juga memasangkan aku dasi, membuatkan sarapan dan bekal makan siang untukku."
"Eh? ba-baik tuan,"
Marinka dan Ezra turun kebawah untuk sarapan bersama. Marinka senang, karena sepertinya majikannya itu sangat menyukai masakkannya. Padahal tanpa Marinka sadari, semua menu yang dia masak, merupakan makanan kesukaan Ezra.
2 jam kemudian...
Marinka melepas kaca mata hitam yang dia temukan didalam laci lemari kamarnya. Saat ini dia sedang menatap pintu gerbang sebuah rumah yang tak lain rumah dari mantan suaminya. Dari dalam mobil Marinka bisa melihat, seorang babysitter mengajak seorang anak berjenis kelamin perempuan bermain ditaman samping rumah.
"Sepertinya aku memang sudah lama mengalami koma, bahkan anak Galang dan Karin sudah sebesar itu. Heh...kalian menjalani kehidupan kalian dengan sangat baik rupanya, sementara aku kalian buat sangat menderita.Tapi sekarang tidak lagi, karena mulai hari ini ketenangan yang kalian miliki, akan berubah menjadi huru hara.
Marinka melihat Karin keluar rumah dengan menggunakan celana trening ketat dan baju kaos sedikit longgar. Marinka melirik kearah jam, waktu menunjukan pukul 9 pagi.
"Mau kemana pelakor itu?" ujar Marinka.
Marinka memasang tutup hoddy dikepalanya, dan mengenakan kaca mata hitam beserta maskernya kembali. Marinka mengikuti kepergian Karin, sebab setahunya Karin bukan tipe orang suka berolah raga.
Karin menghentikan mobilnya disalah satu pusat kebugaran. Marinkapun turun dari mobil dan berpura-pura ingin mendaftar kelas senam.
"Apa dia sungguh ingin olah raga disini? tapi kenapa dia naik ke atas? bukankah alat-alat olahraganya ada dibawah?" batin Marinka.
"Maaf kakak, numpang tanya. Kalau diatas apa ada alat-alat olah raga seperti ini juga?" tanya Marinka pada seorang kasir.
"Tidak ada mbak. Diatas hanya lantai kosong, yang digunakan untuk kegiatan senam atau Yoga."
"Oh gitu. Apa selain itu tidak ada ruangan lain? yang dipakai untuk berolah raga?"
"Tidak ada mbak. Di atas cuma ada ruangan pelatih, sekaligus pemilik dari pusat kebugaran ini. Diatas juga ada toilet, apa anda ingin pergi ke toilet?"
"Apa saya bisa pinjam toilet diatas? saya agak merasa kurang nyaman pakai toilet bawah, karena ramai sekali disini."
Kasir itu tampak diam, sepertinya ada hal yang dia pikirkan saat ini.
"Sepertinya aku mencium ada yang tidak beres disini. Tapi apapun itu, aku harus tahu apa yang Karin lakukan disana. Apa Karin sedang main gila dengan pemilik Gym ini? ah...ya Tuhan...saking pengen menghancurkan wanita ini, aku sampai memikirkan hal yang tidak-tidak. Mana mungkin Karin mengkhianati Galang yang pengusaha sukses, demi seorang pemilik pusat kebugaran. Kalau itu benar, fiks si Karin ini otaknya sudah kesurupan," batin Marinka.
"Ya sudah kalau tidak boleh, saya akan pakai toilet bawah saja. Sebenarnya saya ingin mendaftat kelas senam, tapi saya pengen melihat tempatnya. Apa tidak boleh juga? kalau tidak boleh juga, saya mau cari tempat lain saja,"
"Eh? bo-boleh kok,"
Kasir itu seperti serba salah. Marinkapun naik keatas, dan berjanji tidak akan lama. Setelah sampai diatas, Marinka memang tidak menemukan siapapun dilantai kosonh itu, hanya saja sebuah ruangan tertutup cukup menjadi pusat perhatiannya.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏