
Joana keluar dari kamar mandi dengan mata sembab. Abizard yang mengerti dengan perasaan Joana langsung membawa istrinya itu kedalam pelukkannya. Sudah 3 bulan belakangan, Joana sangat sensitif perihal mengapa dirinya tidak kunjung hamil juga. Dirinya merasa sangat was-was, dan takut terjadi apa-apa dengan rahimnya.
"Sayang sudahlah. Tidak masalah, kita juga baru menikah belum ada satu tahun. Anggap saja saat ini kita sedang dalam masa pacaran," ujar Abizard yang berusaha menenangkan perasaan Joana.
"Tapi keluargamu keluarga besar, dan tidak memiliki keturunan yang mandul. Aku sangat takut, bagaimana kalau ternyata akulah yang bermasalah? kamu pasti akan mencampakkanku," ujar Joana.
"Hussttt sayang. Kamu bicara apa sih? bagaimanapun keadaan kamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Abizard.
"Sekarang begini saja, bagaimana kalau kita pergi kedokter saja buat konsultasi?" tanya Abizard.
"Tapi aku takut menerima kenyataan. Bagaimana kalau ketakutanku benar-benat terjadi? aku takut kamu ninggalin aku. Hiks...."
Abizard menghela nafas panjang. Dia kehabisan cara, buat meyakinkan Joana, bahwa dirinya sama sekali tidak mempermasalahkan soal itu.
"Sekarang aku mau tanya, bagaimana kalau posisinya dibalik?" tanya Abizard.
"Maksudnya?"
"Ya bagaimana kalau ternyata akulah yang bermasalah? apa kamu akan meninggalkan aku juga?" tanya Abizard.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu. Ketimbang urusan anak yang belum jadi, aku lebih takut kehilanganmu." Jawab Joana.
"Nah...begitu juga denganku. Sayang, aku memang dulu seorang casanova, bisa jadi ujian untukku yang dulu berprilaku buruk. Tapi bukan berarti aku seorang casanova sembarangan meninggalkanmu dalam keadaan tidak berdaya," ujar Abizard.
"Bagini saja. Kita akan periksa kedokter setelah satu tahun pernikahan kita. Kita harus tahu masalahnya dimana. Jaman sekarang pengobatan sudah canggih, jadi kamu tidak perlu khawatir ya?"
"Emm." Joana mengangguk.
"Ketimbang bersedih, mending kita coba buat lagi," ujar Abizard sembari menaik turunkan alisnya.
Griyuuuttt
Joana mencubit pelan pinggang Abizard, dengan biibir mengerucut.
"Kamu mah suka gitu. Suka nyari kesempatan dalam keluangan. Aku kan lagi sedih, masak diajak gituan?" tanya Joana.
"Eh jangan salah. Justru gituan bisa mengembalikan mood yang sedang rusak." Jawab Abizard.
"Bisa aja modusnya mas, belum pernah kelilipan sendal ya?" tanya Joana.
"Jadi mau nggak nih?"
"Mau apa?" tanya Joana.
"Gituan." Jawab Abizard.
"Mau," ujar Joana sembari tersenyum.
"Try again," ucap Abizard, sebelum akhirnya mencium bibir istrinya itu.
Abizard dan Joana berpagut mesra. Abizard langsung mendorong istrinya itu diatas tempat tidur. Dia berusaha agar istrinya itu melupakan kesedihannya, meskipun dengan caranya yang tidak biasa.
Tidak seperti biasanya, kali ini Abizard melakukannya dengan sangat lembut. Joana benar-benar merasa nyaman dibuatnya, hingga Joana sesaat lupa dengan semua kesedihannya.
__ADS_1
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas keduanya memburu, setelah usai melakukan percintaan yang cukup panjang. Abizard kemudian membawa istrinya kedalam pelukkannya.
"Sayang,"
"Hem?" ujar Abizard.
"Aku sebenarnya heran. Padahal ini adalah hari ketiga aku terlambat datang bulan. Biasanya aku tidak pernah telat seperti ini. Tapi kenapa saat di testpack hasilnya negatif? apa itu pengaruh hormon?" tanya Joana.
"Sayang. Kalau kamu bertanya tentang perusahaan, aku pasti bisa menjawabnya. Tapi kalau kamu bertanya tentang medis, itu sama sekali bukan keahlianku."
"Emmm...begini saja, bagaimana kalau kamu berkonsultasi saja dengan kak Moza. Atau kak Anser. Mereka semua dokter kandungan. Barangkali mereka lebih paham," sambung Abizard.
"Tidak mau. Malu yank. Nanti dikiranya aku lebay dan baperan." Jawab Joana.
"Mana ada mereka berpikiran begitu. Kita ini keluarganya, sekaligus adik sepupunya. Mereka pasti akan membantu dan memberikan saran-saran terbaik buat kita," ucap Abizard.
"Tidak mau ah. Biarin ajalah, siapa tahu ini memang karena pengaruh hormon. Lagipula aku mau mencoba tidak mikirin hal ini lagi," ujar Joana.
"Emm...apa kamu mau kita bulan madu keluar negeri lagi? siapa tahu kamu butuh refreshing," tanya Abizard.
"Apa boleh? sepertinya aku memang butuh itu. Tapi kamu kan sibuk kerja?"
"Sesibuk apapun itu, asalkan itu kamu pasti aku akan meluangkan waktu buat kamu." Jawab Abizard.
Joana memeluk erat Abizard. Pria itu paling bisa membuatnya terharu.
"Kalau begitu aku pengen kita pergi ke Jepang," ujar Joana.
"Jepang? kawasan asia saja? kenapa tidak Eropa saja?" tanya Abizard.
"Aku penasaran seperti apa bunga sakura itu." Jawab Joana.
"Baiklah. Aku akan lihat jadwal besok," ucap Abizard.
"Tapi jangan karena gara-gara aku, kamu jadi memaksakan diri buat pergi," ujar Joana.
"Iya." Jawab Abizard.
Joana mengeratkan pelukkannya pada Abizard.
"Apa kamu tidak ingin kerumah sakit, untuk mengetahui keluhanmu itu?" tanya Abizard.
"Tidak. Aku malu, takutnya cuma perubahan hormon yang buat aku jadi terlambat datang haid." Jawab Joana.
"Kenapa harus malu? kalau kita konsul ke dokter langsung, bisa buat perasaan kamu lega. Dan kamu nggak sedih lagi," ujar Abizard.
"Pokoknya aku nggak mau. Aku takut nggak sesuai harapan. Biarkan saja kita liburan dulu ya?" tanya Joana.
__ADS_1
"Oke baiklah sayangku." Jawab Abizard sembari mengusap puncak kepala Joana.
****
Dua hari kemudian....
"Huaaaaa...." Moza menangis histeris di dalam kamar mandi, yang membuat Anser jadi melompat dari atas tempat tidur.
Dor
Dor
Dor
"Sayang. Buka pintunya! kamu kenapa?" Anser menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Namun saat mendengar suara Anser, tangis Moza bertambah pecah. Yang membuat Anser tambah kebingungan.
"Sayang. Kamu kenapa sih? jangan menakutiku," ucap Anser.
Kriekkkkk
"Hiks...hiks...hiks..."
"Ini semua gara-gara kamu!" ucap Moza.
"Kok gara-gara aku? salahku apa yank?" tamya Anser bingung.
Moza masuk kedalam pelukkan Anser, dan Anser mendekap erat tubuh istrinya itu.
"Ada apa hem? kok kamu nangis begini? ada masalah di tempat kerja?" tanya Aser.
Moza tidak menjawab dengan kata-kata, namun langsung menyodorkan sebuah alat test kehamilan.
"Ka-Kamu hamil lagi?" tanya Anser terkejut.
"Emm. Hiks...gimana ini, anak kita masih kecil yank," ucap Moza.
Anser tersenyum. Pria itu justru bahagia saat mendengar Moza hamil lagi.
"Apa yang kamu risaukan. Anak itu adalah rejeki pemberian Tuhan. Kamu tahu sendiri, di luar sana ada banyak orang yang mengharapkan agar diberikan momongan, tapi belum tentu mereka memilikinya."
"Lagi pula apa yang kamu risaukan. Kamu hamil ada suaminya ini," sambung Anser.
"Tapi anak kita masih terlalu kecil yank. Masih butuh kasih sayang. Aku nyesel nggak dengar omongan kamu agar pasang KB IUD. Ini akibat aku bersikukuh pakai KB pil, dan pakai acara lupa minum segala selama 4hari," ujar Moza.
"Ya sudah mau diapakan lagi. Kita terima saja. Bagaimana kalau kita pergi ke dokter, kita lihat perkembangan anak kita?" tanya Anser.
"Bagaimana kalau mereka meledekku?" tanya Moza dengan bibir mengerucut.
"Katakan saja kalau suamimu ini sangat perkasa. Bahkan meski hanya dilangkahi saja, kamu bisa bunting." Jawab Anser sembari terkekeh.
Pukkkk
__ADS_1
Moza menepuk dada Anser pelan. Anser mencium puncak kepala Moza. Setelah bersiap-siap, merekapun pergi ke rumah sakit untuk melakukan USG. Karena Anser seorang dokter kandungan, Moza ingin Anser yang melakukannya. Saat melihat layar monitor, Anserpun mengembangkan senyumnya.