
"Tolong untuk persiapan, diantara keluarganya ada yang bersedia mendonorkan darah AB untuk pasien," ucap seorang perawat saat keluar dari ruang operasi.
"Ambil darah saya suster. Saya golongan darahnya juga AB," ujar Joana langsung menawarkan diri.
"Saya juga," ujar Ezra.
"Jangan! om sudah tua, Meiza juga tengah hamil Dia butuh om buat menjaganya," ujar Joana.
Ezra menghela nafas. Apa yang dikatakan Joana ada benarnya. Ilyas dan Meiza butuh perlindungannya saat ini.
"Bersabarlah. Abizard cuma butuh darahmu sedikit saja saat ini. Sebentar lagi keluarganya datang kesini. Akan ada banyak yang mendonor," ujar Ezra.
"Aku tidak perduli, meskipun darahku dihisap hingga kering. Aku hanya ingin Abizard selamat," ucap Joana.
Meiza dan Ilyas saling memandang satu sama lain. Mereka yakin Joana benar-benar sudah jatuh cinta pada Abizard. Joana kemudian dibawa perawat untuk mengambil darah gadis itu. Sementara itu tidak lama kemudian, dua orang petugas dari kepolisian menghampiri Ezra. Ternyata insiden penembakkan itu tidak bisa luput begitu saja dari hukum di Jerman.
"Maaf Tuan. Kami dari kepolisian ingin meminta keterangan anda atas insiden penembakkan yang terjadi di halaman rumah sakit ini," ujar salah seorang petugas kepolisian.
Ezra memijat keningnya. Dia tengah berpikir keras, agar tidak pergi dari situ. Terutama dia tidak ingin hukum itu diambil alih oleh petugas hukum di Jerman.
"Maaf pak. Saat ini saya tidak bisa memberikan keterangan lebih dulu. Saya harus menjaga anak-anak saya, terlebih keponakkan saya sedang berada di ruang operasi saat ini. Nanti sore keluarga akan tiba, setelah itu saya akan ke kantor polisi untuk memberi keterangan," ujar Ezra.
"Baiklah. Mohon kerja samanya pak. Agar pelakunya segera tertangkap, dan tidak meresahkan warga sipil lagi," ucap Polisi.
"Baik pak. Terima kasih." Jawab Ezra.
Polisi itupun pergi dari situ. Tidak berapa lama kemudian seorang dokter keluar, dan mengabari kalau Abizard saat ini tengah kritis, dan butuh donor darah secepatnya.
Saat sedang bicara, seorang suster datang dengan membawa kantung darah yang diambil dari Joana.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat Mario dan istrinya tiba di rumah sakit. Air mata istri Mario tidak mau berhenti, saat tahu Abizard tengah kritis saat ini. Disisi lain Joana yang merasa cukup beristirahat, segera pergi ke ruang operasi kembali. Dari kejauhan dia bisa melihat orang tua Abizard sudah datang untuk menjenguk putra semata wayang mereka.
"Sayang. Tenanglah, Abizard pasti akan baik-baik saja. Kita harus bangga padanya, karena dia sudah bisa jadi pahlwan untuk masa depannya," ujar Mario.
"Tapi dia putra satu-satunya kita mas. Aku nggak bisa hidup kalau sampai kehilangan dia,"
"Banyaklah berdo'a agar putra kita baik-baik saja, dan segera siuman," ujar Mario.
Kriekkkkk
__ADS_1
Seorang dokter keluar dengan wajah lesu. Mario dan istrinya segera maju, untuk mengetahui keadaan putranya.
"Bagaimana keadaan putra kami dok?" tanya Mario.
"Maaf dengan sangat menyesal saya katakan kalau saudara Abizard dinyatakan koma." Jawab dokter.
"Ah...hiks...," istri Mario terisak dalam dekapan suaminya itu.
Disisi lain Joana yang mendengar kabar itu hanya bisa menutup mulutnya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Drapp
Drapp
Brukkkk
Joana berlutut didepan Mario dan istrinya sembari terisak.
"Maafin saya om, tante. Gara-Gara melindungi saya, Abizard jadi seperti ini. Harusnya saya saja yang terkena tembakkan itu. Karena matipun tidak akan ada yang menangisi saya," ujar Joana sembari terisak.
Milana meraih pundak Joana, dan membuat gadis cantik itu berdiri.
"Dia sangat mencintaimu, itulah sebabnya dia melindungi. Kami memang sedih, tapi kami juga bangga padanya. Untuk pertama kalinya dia melakukan hal ini untuk seorang wanita. Tante harap kamu tidak akan mengecewakannya," ujar Milana.
Milana membawa Joana kedalam pelukkannya. Untuk pertama kalinya Joana merasa nyaman dipeluk oleh seorang ibu. Dan dia sangat menyukai pelukkan hangat itu.
Sementara itu disisi lain, Ezra kini tengah memberi keterangan palsu hasil rekayasa dirinya sendiri. Dia tidak ingin Deryl diambil alih oleh hukum di Jerman, karena Deryl saat ini sudah berhasil diamankan dan di bawa ke markas besar Ezra di kota J.
Ezra tidak ingin Deryl dihukum dengan ringan, karena dia sudah berjanji dengan Joana akan menyerahkan Deryl pada gadis itu.
*****
Dua minggu kemudian...
"Katakan pada tuan kalian, aku ingin bertemu dengannya untuk membicarakan perjanjian damai," ujar Deryl yang ingin menggunakan senjata pamungkasnya agar bisa lepas dari jerat Ezra.
"Akan kami sampaikan," ujar anak buah Ezra sembari mencibir sinis.
"Ada apa?" tanya Ezra diseberang telpon.
__ADS_1
"Deryl ingin membicarakan tentang perjanjian damai dengan anda bos,"
"Heh. Orang gila! pasti saat kecil otaknya banyak kemasukkan air tajin. Katakan padanya sabar saja dulu. Disini kami sedang menangani kekacauan yang sudah dia ciptakan," ujar Ezra.
"Baik bos,"
Ezra mengakhiri panggilan telponnya itu.
"Ada apa kak?" tanya Mario.
"Deryl ingin mengajak kita berdamai." Jawab Ezra.
"Enak saja. Tunggu sampai Abizard sembuh dari koma. Aku yang akan melubangi kepalanya," ujar Joana.
Ucapan yang terdengar mengerikan itu membuat semua orang terdiam. Mereka bisa mengerti perasaan Joana saat ini.
"Ya sudah. Kalian pergilah beristirahat dan makan siang," ujar Mario.
"Tidak om. Hari ini biarkan saya yang menjaga Abizard sendiri. Kalian pergi saja," ucap Joana.
"Ya sudah. Nanti kami bawakan saja makanan untukmu," ujar Milana.
Merekapun membiarkan Joana dan Abizard berdua. Joana mendekat kearah Abizard dan menggenggam tangan pria itu.
"Mau sampai kapan kamu terbaring seperti ini? aku sangat merindukan rayuanmu. Aku merindukan kegilaanmu. Aku merindukan semua yang ada dalam dirimu," air mata Joana kembali merebak.
"Aku mohon cepatlah sadar. Jangan membuatku menunggu terlalu lama. Aku ingin segera kamu nikahi. Kalau kamu lama bangun aku mau menikah dengan orang lain saja," ucap Joana.
"Enak saja. Apa kamu lupa, aku sudah memberimu cap stempel didadamu yang banyak waktu itu? itu artinya kamu hanya punyaku saja," ucap Abizard yang mendengarkan ocehan Joana sejak tadi.
"A-Abi," Joana menghapus air matanya dan berhambur kepelukkan Abizard.
Abizard hanya bisa menahan sakit dipunggungnya, karena gadisnya itu sedikit menekan tubuhnya.
"Sayang. Bisa-Bisa aku mati nggak karena peluru, tapi karena sesak nafas," ucap Abizard.
Joana sedikit menarik tubuhnya, dan menatap mata Abizard. Pria itu kemudian menyeka air mata Joana, dan Joana tiba-tiba mencium bibirnya dengan lembut. Mendapat serangan tiba-tiba, tentu saja Abizard tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pria itu menekan kepala Joana, untuk memperdalam ciuman mereka.
"Dasar bocah sialan. Setua ini malah disuguhi pemandangan mesum. Mana jauh dari istri. Ah...aku sangat merindukan belahan jiwaku," ujar Ezra dari balik pintu.
__ADS_1
Ezrapun pergi dari situ. Membiarkan Joana dan Abizard melepas rindu.
To be contonue...🤗🙏