Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.170. Kenal


__ADS_3

Galang dan Karin sangat terkejut saat melihat wajah asli di balik topeng yang begitu buming akhir-akhir ini. Tidak hanya galang dan Karin saja, tapi seluruh karyawan MD collection mengalami hal serupa. Namun tidak bagi fans berat MD, mereka berteriak histeris, karena senang idola mereka benar-benar memiliki kecantikkan yang sempurna.


Galang terkekeh ringan saat mengetahui itu adalah sosok Marinka yang dia kenal sebagai istri dari pengusaha nomor satu di kota J. Tidak jauh berbeda dengan Galang, Karin pun ikut tertawa renyah.


"Tunggu-Tunggu! kenapa respon kalian berdua, seperti sudah mengenal sosok mbak MD ini?" tanya Rafly, sembari melihat ke arah Galang dan Karin secara bergantian.


"Ya betul sekali mas Rafly, kebetulan memang kita saling mengenal satu sama lain. Hanya saja saya tidak menyangka, kalau MD yang terkenal itu adalah orang yang saya kenal," ujar Galang sembari melirik kearah Marinka.


"Apa-Apaan dia lirik-lirik istriku, apa matanya mau aku colok?" gerutu Ezra.


"Anda sendiri bagaimana?" tanya Rafly pada Karin.


"Bisa di bilang dia temanku, tapi selama ini saya tahunya dia bekerja sebagai manager di MD collection. Padahal saya bertemu dengannya nyaris tiap hari." Jawab Karin.


"Benarkah? wah...surprise sekali kalau gitu ya?" ucap Raply.


"Sangat," ujar Karin.


"Kalian pasti bangga melihat orang yang kalian kenal, bisa sesukses ini. Iya kan?" tanya Rafly.


"Tentu mas Rafly. Tapi saya tidak heran kalau beliau ini sangat sukses, soalnya orang disampingnya adalah pria yang sukses." Jawab Galang.


"Apa itu suaminya?" tanya Rafly.


"Mungkin mbak MD nya bisa menjawab langsung," ujar Galang dengan senyum ramah.


"Betul. Suami saya adalah orang yang paling berjasa atas apa yang saya capai sekarang ini." Jawab Marinka.


"Saya benar-benar sangat menantikan program selanjutnya. Saya ingin tahu dan mengupas tuntas tentang sosok mbak MD dan suaminya," ujar Rafly.


"Tentu. Durasi saat ini sudah habis bukan? lain kali kita bisa bertemu lagi mas Rafly," ucap Marinka sembari terkekeh renyah.


"Huffttt...saya benar-benar sangat senang hari ini mbak. Saya juga salah satu fans anda loh," ujar Rafly.


"Wah...makasih loh. Saya di gemari oleh host kondang seperti mas Rafly, itu sangat menyenangkan buat saya," ucap Marinka.


"Saya juga ucapkan terima kasih banyak buat Karin dan tuan Galang, yang sempat hadir untuk mendukung acara ini," sambung Marinka.


"Sama-Sama."Jawab Galang dan Karin bersamaan.

__ADS_1


"Ini saya boleh minta satu permintaan mas Rafly?" tanya Marinka.


"Boleh mbak silahkan."


"Nanti di program selanjutnya saya tetap ingin mengundang teman saya Karin, dan teman suami saya tuan Galang. Apa boleh? apa Karin dan tuan Galang bersedia?" tanya Marinka.


"Tentu." Jawab Galang dan Karin.


Karin dan Galang punya pemikiran tersendiri kenapa mereka menyetujui permintaan Marinka. Bagi Galang itu kesempatan bagus buat membangun citranya di depan publik sebagai pengusaha yang hamble dan dia juga ingin mengambil hati Ezra karena sudah membantu istrinya dalam program itu. Dengan begitu dirinya punya kesempatan untuk mengajukan kerja sama dengan pria itu.


Tidak jauh berbeda dengan Galang, Karin juga memiliki pemikiran sendiri. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendompleng popularitas yang kini tengah di raih Marinka.


"Baiklah kita tutup acara kita hari ini. Makasih mbak MD sudah hadir, makasih juga buat Karin dan tuan Galang yang sudah menyediakan waktunya. Sampai jumpa di program selanjutnya pemirsa, bye...bye,"


Rafly, Marinka, Karin, dan Galang melambaikan tangan ke arah Kamera dengan senyuman. Seorang artis ibu kota muncul dan mendendangkan sebuah lagu untuk menutup acara itu.


Disela-Sela mendengarkan lagu, Galang mendekati Marinka.


"Apa Nyonya mau saya antar pulang?" tanya Galang dengan setengah mendekati telinga Marinka karena takut suaranya tertelan alunan musik.


"Tidak perlu. Suami saya menunggu saya di bawah," ucap Marinka dengan melambaikan kedua tangannya.


"Baiklah," ujar Galang.


"Aku merasakan ada aura-aura dingin di belakang tengkukku," batin sang supir.


"Kamu! pulang saja pakai taksi, biar aku bawa mobil sendiri," ujar Ezra.


"Ba-Baik tuan." Jawab Supir.


Supir itu kemudian turun dari mobil. Sementara di layar kaca tampak Marinka turun dengan di iringi beberapa wartawan yang tengah melontarkan pertanyaan. Marinka juga tampak menyapa ke arah fans, yang di sambut teriakkan histeris dari para penggemar.


Setelah menyapa para fans dan menjawab semua pertanyaan wartawan, Marinkapun pergi menuju tempat parkir. Dimana Ezra dengan setia didalam mobil.


Ceklekkk


Marinka membuka pintu belakang, karena mengira Ezra masih berada disana dan supir masih berada di depan kemudi. Ezra memang masih berada di belakang, tapi sang supir sudah raib entah kemana.


"Pindah ke depan!" ujar Ezra.

__ADS_1


"Loh supir kita bagaimana bang?" tanya Marinka saat melihat Ezra sudah turun dari mobil, dan pindah ke depan untuk mengemudi.


Ezra diam saja tanpa menjawab, Marinka langsung pindah ke depan untuk menuruti perintah suaminya. Pria itu langsung menginjak gas mobil dan mengemudi dengan kecepatan sedang.


"Bang Ezra kenapa ya? kok dia diam saja? mukanya juga nggak enak diliat, ya meskipun masih terlihat tampan," batin Marinka.


Saat melihat ada hotel terdekat, Ezrapun membuat mobilnya berbelok dan parkir di basemant.


"Bang. Kita mau ngapain kesini? apa kita akan menghadiri acara lain?" tanya Marinka.


"Ya." Jawab Ezra singkat.


Marinka kembali mengekor di belakang Ezra dan diam saja saat Ezra memesan sebuah kamar hotel suite room.


"Apa kita akan beristirahat dulu sebelum acaranya di mulai?" tanya Marinka.


Ceklekkk


Ezra membuka pintu kamar dengan kartu di tangannya. Saat Marinka masuk kamar, Ezra tiba-tiba langsung menyerang dirinya dengan menciumnya sedikit kasar.


"Abang kenapa sih bang?" tanya Marinka yang bibirnya sedikit merasa perih karena ulah suaminya itu.


"Bagus sekali Marinka Diningrat. Kamu sangat pandai sekali membuatku cemburu. Senyum-Senyum dengan mantan, pakai acara bisik-bisik segala. Apa yang dia katakan?" tanya Ezra.


"Oh astaga...jadi dia ini sedang cemburu? apa kalau aku sedikit menggodanya, dia akan bertingkah lebih imut dari ini?" batin Marinka bersorak.


"Dia bilang, aku sangat cantik. Maukah aku meninggalkan abang dan menikah dengannya?" ujar Marinka asal.


Namun di luar dugaan Ezra malah benar-benar marah mendengar hal itu. Tanpa bicara pria itu akan beranjak pergi dari kamar itu, namun Marinka menghalanginya dengan memeluk Ezra dari belakang.


Marinka berpindah berdiri tepat di hadapan suaminya. Wanita itu memegang kedua sisi wajah Ezra, dan mencium bibir suaminya dengan lembut. Karena tak ada respon, Marinka melepaskannya dan menatap mata suaminya itu.


"Maaf, adek cuma bercanda. Dia cuma bertanya apa adek datang sendiri? dia hanya ingin menawarkan tumpangan dan kemudian adek menolaknya dengan tegas. Abang jangan marah ya? adek jadi takut melihat abang begini," ujar Marinka dengan wajah tertunduk.


Ezra meraih kedua sisi wajah Marinka, dan mencium bibir istrinya itu sekilas.


"Jangan lagi membuat abang cemburu berat, apalagi bercanda seperti itu. Apa adek tahu? jantung abang seperti akan meledak karena cemburu."


"Maaf,"

__ADS_1


"Maaf saja tidak cukup. Kamu harus mendapat hukuman yang setimpal," Ezra menyeringai.


Marinka tahu sekali hukuman apa yang Ezra maksud. Karena hatinya berbahagia hari ini, Marinka lebih banyak memimpin pertempuran kali ini. Hingga meski melakukannya berkali-kali, kedua insan itu tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa puas.


__ADS_2