Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.113. Pertemuan Adek dan Abang


__ADS_3

"Tuan. Kapan anda akan ke Paris lagi?" tanya sang manager.


"Kenapa?"tanya Ezra.


"Bangsawan yang memesan perhiasan itu ingin bertemu dengan anda secara langsung. Kami belum membuat jadwal pertemuan anda, karena ingin mengkonfirmasinya dulu dengan anda.


"Kalau begitu aku akan terbang ke Paris besok. Soalnya dua hari lagi asisten saya yang sedang berbulan madu baru akan pulang ke negara I."


"Baiklah saya mengerti. Berarti saya akan menjadwalkan pertemuan anda lusa ya tuan?"


"Baiklah. Atur pada saat jam makan siang saja."


"Baik tuan."


Ezra mengakhiri panggilan telpon itu dan menghela nafas panjang. Kepergian Yuda dan Regia benar-benar membuatnya kewalahan. Pekerjaan sangat menumpuk, dan terkadang dia harus lembur bekerja.


Ezra menatap pigura kecil yang ada di atas meja kerjanya. Foto saat resepsi pernikahan dirinya dan Marinka.


"Nggak terasa ya? adek ninggalin abang sudah 7 bulan lamanya. Apa sedikitpun tidak ada rasa rindu di hati adek buat abang? kenapa nggak pernah kasih kabar? bahkan uang dari abang tidak sekalipun adek tarik. Apa adek sangat membenci abang?"


Sementara itu ditempat berbeda Marinka tampak begitu kelelahan. Dirinya memang mengurus anak-anaknya sendiri, tanpa menggunakan jasa seorang baby sitter.


"Apa tidak sebaiknya kita mencari seorang baby sitter Rin? aku kasihan sama kamu, mata kamu sampai ada lingkaran hitam gitu," ujar Sera.


"Kayaknya belum dulu deh Ra. Aku masih ingin menikmati moment ini soalnya,"


"Ya baiklah. Nanti kalau kamu memang butuh itu, bilang ya? biar bisa dicarikan secepatnya."


"Emm."


*****


"Kamu jadi ke Paris hari ini Zra?" tanya Yuda.


"Ya. Aku sudah di bandara ini,"


"Kita mau ketemuan dimana? apa aku datang ke penginapanmu saja?"


"Nggak usah. Kita ketemu di kantorku saja, sekalian temani aku berbincang dengan bangsawan itu."


"Widihhh...suatu kehormatan bro, mau lihat seperti apa wajah orang beruntung itu."


"Orang beruntung?"


"Ya, setidaknya dia beruntung lahir dari keluarga bangsawan. Kalau diberi kesempatan aku juga mau Zra."


"Mimpi aja dibesarin," ujar Ezra.


"Ya sudah aku tutup telponnya ya? kamu hati-hati dijalan,"


"Oke."


"Hufff...sekarang jam 8 pagi, berarti disana sekitar jam 2 pagi. Aih..."


Ezra menghembuskan nafas, sungguh perjalanan 6 jam yang dia bayangkan cukup membuatnya menyerah sebelum berperang. Saat terbang di udara, Ezra memutuskan untuk tidur. Akhir-Akhir ini dirinya benar-benar merasa kelelahan, karena pekerjaan kantor yang menumpuk.


Tepat pada pukul 8 lewat 15 menit, Ezra turun dari pesawat. Karena memiliki janji saat makan siang, Ezra memutuskan untuk pulang kepenginapan untuk beristirahat.


"Huffffttt...capeknya..." ujar Ezra.


Tring


Tring


Tring


"Ya Yud?"


"Udah sampe?"


"Sudah. Aku baru saja nyampe hotel,"


"Baguslah. Jadi jam berapa kita ketemu dikantor?"

__ADS_1


"Datanglah jam 11, soalnya bangsawan itu akan datang saat jam makan siang. Ada kemungkinan kita akan makan siang bersama dengannya."


"Baiklah." Jawab Yuda.


Tepat pukul 11 siang Ezra dan Yuda tiba dikantor nyaris bersamaan. Merekapun melihat persiapan penyambutan, karena mereka memutuskan membuat perjamuan untuk makan siang bersama.


Saat pukul 12 siang lewat 10 menit, seseorang memberitahu Ezra bahwa seorang bangsawan yang memesan perhiasan sudah datang.


"Antar orang itu langsung ke ruang perjamuan," ujar Ezra.


"Baik tuan."


"Yud. Kita keruang perjamuan sekarang,"


"Oke."


Ezra dan Yuda pun pergi menuju ruangan itu untuk menunggu kedatangan orang yang mereka nantikan.


Tap


Tap


Tap


Sebuah kaki jenjang memasuki aula perjamuan. Kaki jenjang tanpa cacat itu, tampak sempurna ditunjang dengan kecantikan dan kemolekkan dari sang pemilik tubuh itu.


Disebelahnya ada seorang asisten yang setia melayani sang lady kemanapun dia pergi.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau dia seorang gadis cantik dan sexy?" ujar Yuda setengah berbisik.


"Jaga matamu, ingat ada istri dirumah."


"Ingat Zra. Cuci mata kan boleh?"


"Cuci pakai deterjent biar bersih,"


"Selamat siang tuan E-Ezra?" ujar Aceline.


"Mari silahkan duduk!" sambung Ezra.


"Thank you,"


Ezra menarik sebuah kursi, agar gadis itu bisa mendudukkinya.


"Thank you," ujar Aceline.


"Silahkan duduk lady..."


"Agathe. Nama saya Agathe,"


"Ah... ya silahkan duduk," ujar Yuda yang menarik kursi untuk Agathe.


"Maaf karena saya minta bertemu dengan pemilik diamond corp secara langsung. Saya sangat penasaran setelah bertahun-tahun jadi pengagum brand milik anda, tapi tiba-tiba terjadi suatu kesalahan yang menutut saya ... yah.."


"Ah...ya..itu juga salah satu kecerobohan saya yang kurang memperhatikan detail pembuatan. Biasanya kami akan memfilter setiap design yang masuk sebelum benar-benar di cetak."


"Yah...saya bisa memaklumi itu, setiap bisnis pasti ada saja kendalanya,"


"Ya. Tapi kami sangat beruntung memiliki langganan seperti anda yang sangat pengertian,"


"Ya karena saya yakin ada sesuatu yang tidak beres."


"Baiklah Lady Aceline, silahkan dinikmati hidangannya," ujar Ezra.


"Apa pria ini seorang pria beristri? dia sangat menarik, sopan dan berwibawa," batin Aceline.


"Masalah baru. Sepertinya gadis ini tertarik dengan Ezra," batin Yuda.


Setelah berbincang lama dan saling bertukar nomor ponsel, Aceline berpamitan pulang setelah memesan kembali sepasang cincin berlian untuk kakaknya yang akan bertunangan.


"Sepertinya punya pengagum baru nih," ujar Yuda.


"Aku tidak perduli. Cintaku cuma buat Marinka seorang." Jawab Ezra.

__ADS_1


"Jam berapa kita ke butik jandanya si Ando itu?" tanya Yuda.


"Kata Ando dia akan menunggu kita jam 3 sore disana."


"Apa kamu mau kasih uang cash untuk si Arin itu?"


"Tidak. Aku akan beri dia cek saja." Jawab Ezra.


"Masih ada waktu 1 jam, apa kita kesana saja sekarang? kita pergi duluan saja, biar Ando saja yang menyusul. Kalau kelar, aku mau siap-siap buat pulang ke kota J besok pagi,"


"Baiklah. Biar aku konfirm dulu pesanan Lady Aceline," ujar Ezra.


"Baiklah."


Setelah selesai dengan urusan kantor, Ezra dan Yuda akhirnya pergi kesalah satu cabang butik milik Ando. Ezra mengerutkan dahinya saat melihat tempat yang dia datangi, butik itu adalah butik yang pernah dia datangi dan tidak sengaja bertemu dengan wanita hamil waktu itu.


"Apa alamatnya tidak salah?"


"Kenapa?" tanya Yuda.


"Aku pernah kesini soalnya."


"Ya bagus dong. Ayo kita masuk,"


"Bentar. Biar aku hubungi Ando dulu,"


Ezra membuat panggilan untuk Ando, yang kebetulan sedang berada dijalan dan membeli sebuket bunga mawar merah.


"Ada dimana?" tanya Ando.


"Aku sudah berada didepan butikmu, kamu ada dimana?"


"Aku lagi mampir ditoko bunga. Rencananya aku mau nembak Arin didepan kalian. Aku ingin kalian jadi saksinya,"


"Jangan lebay. Kamu itu bukan anak ABG lagi."


"Aku tahu aku bakal ditolak nantinya. Dia pasti terkejut karena aku tiba-tiba nyatain perasaan, sementara dia baru saja melahirkan. Tapi itu nggak apa-apa, aku ingin dia tahu niat awalku dulu."


"Ya terserah saja. Buruan datang kesini ya?"


"Kamu masuk aja duluan Zra. Aku bentar lagi sampai kok,"


"Oke." Ezra mengakhiri panggilan itu.


"Ayo kita masuk duluan, Ando bentar lagi sampai."


"Yuk,"


Ezra dan Yuda berbincang sembari melangkah masuk kedalam. Sementara itu Marinka yang baru saja menidurkan anaknya, pergi keluar dari kamar dan bermaksud menggantikan posisi Sera yang sedang sibuk di dapur membuat makanan sehat untuk dirinya.


Marinka yang hendak ke meja depan, berpapasan dengan karyawan lain yang ingin memanggil dirinya.


"Ada apa?"


"Ada tamu yang menunggu kedatangan tuan Ando."


"Baiklah saya akan menemuinya. Kamu buatkan teh ke belakang,"


"Ya."


Ezra dan Yuda yang tengah melihat-lihat koleksi pakaian, cukup terkejut saat suara seseorang menyapa mereka.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Marinka.


Ezra perlahan membalikkan badan, dan terkejut saat mendapati Marinka berada dihadapanya.


"Ab-Abang..."


"A-Adek..."


Suara mereka begitu lirih nyaris tak terdengar saat menyebutkan nama panggilan sayang itu.


TO BE CONTINUE....🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2