
Arum masuk ke dalam kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur. Cukup lama Arum duduk di sana. Otaknya masih belum bisa mencerna sikap Habibi. Habibi yang selalu sopan dan humoris. Sikapnya di dalam mobil, masih meninggalkan tanya bagi. Bagaimana mungkin Habibi berubah jadi dingin dengan tiba-tiba. Arum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Arum berdiri di bawah air shower. Cukup lama Arum berdiri di bawah cucuran air shower kkemudian Arum mengambil wudhu.
Arum keluar kamar mandi dan memakai baju casual dan celana kulot. Saat azan maghrib Arum mengenakan mukenanya kemudian sholat. Arum mulai merias wajahnya dengan tipis dan natural. Ia turun ke bawah mengambil sepatu sport berwarna merah di rak sepatu dan di pakainya.
Arum turun ke bawah duduk di ruang tamu menunggu Ardi. Siti datang dari belakang dan duduk di shofa di sebelah Arum.
“Kalau nanti kamu kuliah, apa kita akan pindah dari sini?” Tanya Siti.
“Kalau Arum gak kerja lagi di perusahaan mas Bibi. Mungkin iya bu. Soalnya gak enak kita tinggal di sini. Tapi Arum gak kerja. Tapi ibu jangan takut. Uang tabungan Arum insyaallah cukup untuk biaya kuliah dan membeli rumah sederhana tipe 36. Gaji Arum 1 bulan 20 juta dan di tambah dengan bonus lainnya. Semuanya Arum tabung. Kita akan hidup sederhana bu.” Jelas Arumi.
“Iya gak apa nak. Yang penting kita tetap berkumpul.”
__ADS_1
“Selama Arum kerja sama mas Bibi. Arum gak pernah pakai gaji Arum. Semua biaya bulanan dia yang kasi langsung ke mbak Keke untuk belanja keperluan harian dan dapur. Di ruang kamar belakang, di buat mas bibi seperti mini market bu. Semua ada di sana, Ibu tahu kan?” Tanya Arum
“Gak tahu nak. Ibu sering lihat keke keluar masuk dari kamar itu. Tapi ibu gak pernah tanya, dan juga gak pernah masuk ke dalam.”
“Itu di buat mas Bibi, sewaktu Arum masih ngekos. Ada klien mas Bibi orang asing berkebangsaan Amerika yang sedang membangun mall cabang di Indonesia. Namanya Androw. Dia setiap hari datang ke kos Arum membawakan kebutuhan harian Arum. Setiap hari bawa satu karton besar dengan berbagai jenis. Ya sampai banyak sekali. Isi kamar Arum sampai padat dengan barang kebutuhan bulanan. Mas Androw berharap kebutuhan bulanan Arum tercukupi selama 6 bulan ke depan. Tapi waktu Arum sakit, mas Bibi ke kos dan dia lihat stok makan Arum, dia nanya. Ya Arum jelaskan apa adanya. Mas bibi langsung marah. nyuruh Arum buang. Ya Arum gak mau. Arum kasi ke teman-teman satu kos. Waktu itu dilang. Dia akan pindahkan isi supermarket ke rumah. Makanya satu kamar belakang yang besar, isinya seperti mini market. Ayo ibu mau lihat gak?” jelas Arumi.
“Iya ibu jadi penasaran.”
“Habibi itu beneran tulus sayang sama kamu nak.”
“Masalah gaji pegawai yang kerja di sini, mas bibi yang bayar. Termasuk uang jajan dan uang sekolah adek-adek bu. Makanya uang Arum selalu utuh dan Arum tabung.”
__ADS_1
“Kalau tinggal di sini. Kita udah ngerasa jadi orang kaya ya nak. Ibu, rasaya sampai saja.”
“Iya bu. Tapi ini semua gak punya kita. Kita menikmati semua yang di kasih mas Bibi. Tapi yang Arum takut.” Arum menundukkan kepalanya.
“Apa nak,” tanya Siti.
“Arum takut mas bibi cari asisten pribadi pengantin Arum yang perempuan. Kalau bayangkan itu, rasanya Arum sesak hingga ke ulu hati.”
Terdengar suara mobil Ardi. Arum mengangkat kepalanya ke luar untuk mengintip.
“Bu, Arum berangkat dulu ya. Ardi udah datang.”
__ADS_1
“Iya nak. Hati-hati.”