Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 94


__ADS_3

Siti membuka lembaran-lembaran foto tersebut. Foto ayah Arum yang berdiri memakai baju putih dokter dengan tangan di lipat di dada. Terlihat sangat tampan, Mardi yang bertubuh tinggi dengan kulit yang putih, hidung mancung, alis yang tebal. Dilihat wajahnya sangat mirip dengan Arumi. Begitu banyak foto ayah Arum yang ada d album foto Anita.


“Jadi kamu istri Mardi?” Anita memeluk Siti dan terdengar suara tangisnya. “Aku sangat berharap bisa berjumpa dengannya. Namun yang aku tahu sekarang dia sudah meninggal.” Air mata Anita mulai bercucuran. Perlahan Anita melepaskan pelukannya.


“Mardi sahabat akrab saya. Kami berteman sejak kecil.” Anita melihatkan foto anak laki-laki dan perempuan yang sedang berdiri pegangan tangan. “Ini Mardi dan ini saya.” Sambil menunjukkan ke foto tersebut. “Mas Jhoni usianya jarak 3 tahun dari kami. Mas Jhoni sahabat akrab Mardi. Mereka bertetangga dekat. Saya mengenal mas Jhoni, karena Mardi yang mengenalkannya. Sebelumnya papa dan mamanya Mardi pergi keluar kota untuk menemui rekan bisnis mereka Mardi juga ingin ikut. Berhubung perjaan bisnis tersebut hari sabtu. Namun karena ada dosen yang minta masuk hari sabtu disebabkan bapak itu gak bisa datang hari selasa pergi ke luar kota. Akhirnya Mardi tidak jadi ikut. Mobil yang di bawah oleh orang tua Mardi, mengalami rem blong sehingga mobil masuk ke dalam jurang yang dalamnya 50 meter. Kondisi mobil sangat hancur. Tubuh mayat kedua orang tua Mardi, di temukan di dalam mobil dengan sangat mengerikan. Dalam kecelakaan tersebut ada semacam sabotase yang sudah di rencanakan. Namun karena kurang bukti yang didapatkan pihak kepolisi tidak bisa menjerat pelaku. Mardi pewaris tunggal dari seluruh perusahaan dan juga harta-harta yang lainnya. Pada saat itu nyawanya yang sangat terancam. Om Mardi tidak akan mau melepaskan Mardi begitu saja. Kalau mArdi masih hidup semua harta, tidak akan bisa berpindah tangan kepadanya. Akhirnya Mardi melarikan diri dan tidak tahu entah di mana. Kami berusaha keras untuk menemukannya. Namun selalu gagal. Pada waktu itu kami sudah semester 6.


“Siapa yang sudah melakukan sabotase terhadap orang tua mas Mardi?” tanya Siti.


“Adik dari papanya Mardi. Om Hendro. Seluruh harta dari papanya Mardi di ambil paksa oleh om Hendro. Termasuk rumah yang di pakai oleh papa Mardi. Namun sekarang om Hendro sudah mendapatkan karma dan azabnya. Perusahaan-perusahan kecil milik ayahnya Mardi di jual om hendro. Perusahaan yang besar yang bergerak di bidang industri plastik yang terbesar di asia terbakar. 150 karyawannya meninggal dalam kebakar itu. Begitu banyak kerugian yang dialami. Namun yang membuat om hendro bangkrut, disaat dia mengetahui perusahaannya tidak masuk asuransi sudah 3 tahun terakhir. Padahal uang asuransi selalu di berikannya kepada anaknya. Uang asuransi jamsostek karyawan dan asuransi jiwa tidak ada yang di bayar. Om Hendro menghabiskan semua uang dideposito miliknya. Rumah mewah serta beberapa mobil mewahnya di sita bank. Terkait hutang bank. Istri om hendro stres dan masuk rumah sakit jiwa. 2 minggu di RSJ akhirnya tante Melly bunuh diri di kamar mandi pasien dengan mengantungkan lehernya memakai kain selimut. Anak -anak om Hendro tidak ada yang mau mengurusnya dan memilih untuk mengantar om Hendro ke pantai jompo.” Jelas Anita sambil mengenang masa lalunya.


“Apa ibuk masih sering berkunjung ke panti jompo?” tanya Siti penasaran.


“Iya ada. Setiap saya berkunjung. Dia selalu menagis dan bertanya tentang Mardi. Kamu gak usah panggil saya ibuk. Panggil aja mbak. Kamu istri dari sahabat kami.”

__ADS_1


“Baik mbak.” Siti masih fokus dengan album foto yang dipegangnya.


“Bik, panggil kan bapak ke sini.”


“Baik buk.”


“Apa kamu mau berkunjung ke panti jompo tempat om Hendro Siti?”


“Saya akan meminta pendapat Arum.”


Papi yang baru datang dari taman belakang, mendekati istrinya.


“Ada apa mi?”

__ADS_1


“Pi, Kalau papi lihat Arumi, kira-kira mirip siapa pi?”


“Sepertinya, wajahnya familiar. Tapi mirip siapa ya.” Jhoni tampak sedang mengingat-ingat. “Mardi mi.”


“Iya pi. Arum anak Mardi.”


“Apa...,” seakan tidak percaya. Mata Jhoni melebar dengan sempurna. “Ya allah. Mereka anak-anak kita.” Sambil menangis memeluk Anita.


Walaupun mereka sudah tidak dapat berjumpa dengan Mardi, tapi mereka sangat bersyukur bisa berjumpa dengan keluarga dari sahabat mereka yang sudah dicarinya selama puluhan tahun.


“Mas Mardi gak pernah bercerita tentang masa lalunya. Dia hanya bercerita tentang dia pernah kuliah kedokteran dan putus karena orang tuanya meninggal. Jadi saya benar-benar kurang tahu tentang hal pribadinya.” Kata Siti.


“Pantas saja Arumi sangat pintar ternya turun dari ayahnya.” Puji Jhoni. Ya allah. Begitu indah rahasia Allah.

__ADS_1


“Yuk kita kebelakang.” Anita mengandeng tangan Siti. Mereka berjalan ke halaman belakang. Tampak anak-anak mereka berkumpul di sana sambil tertawa.


__ADS_2