
Arum menghubungi Habibi, tak lama panggilan tersebut langsung di angkat.
“Hallo, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam mas.”
“Ada apa dek?”
“Mas, Arum baru pulang kuliah. Apa Arum perlu ke kantor?”
“Gak usah sayang. Mas juga udah mau pulang.”
“Mas,”
“Iya ada apa?”
“Ada yang mau Arum Omongin.”
“Apa?”
“Gak enak kalau lewat telepon.”
“Ya udah, nanti malam mas ke rumah.”
“Iya mas dah ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Udah nelponnya,” Ara bertanya saat dilihatnya Arum sudah berjalan disebelahnya.
“Udah. Yuk, Aku antar kamu pulang. Aku juga pinjam catatan ya. Yang kemarin aku gak masuk.”
“Iya. Tapi besok ada tugas yang di kumpul.”
“Kamu udah siap?”
“Belum. Rencananya Ara baru mau buat pulang dari kampus.”
“Kalau gitu, kita kerjaain bareng ya.”
“Iya boleh.”
Setelah sampai di parkiran, mereka naik ke atas mobil. Layaknya sahabat yang baru bertemu. Mereka tampak sangat bahagia, dan tidak ada henti-hentinya bercerita.
Arum mengikuti instruksi dari Naura. Mobil Arum memasuki perumahan tipe 36. Mobil Arum berhenti di depan rumah sederhana yang ada pohon mangga di depannya. Rumah sederhana tapi terasa sangat nyaman. Rumah yang memiliki ukuran tanah 9 x 12 m. Sudah dibangun menghabiskan seluruh tanah dengan model minimalis.
Naura mengetuk pintu rumah. Seorang wanita yang berusia 40an membuka pintu rumah tersebut. Wanita yang memakai busana syar'i.
“Assalamu’alaikum umi.” Naura mencium punggung tangan uminya
“Wa’alaikumsalam. Anak umi sudah pulang? Kenapa gak telpon biar di jemput Aby.”
“Ara pulang di antar Arum, mi.”
Linda memajukan langkahnya dan mengeluarkan kepalanya dari balik pintu. Sosok gadis yang amat cantik, kulit putih , tinggi semampai dan langsing. Jauh berbeda dengan putrinya yang bertubuh mungil.
“Assalamu’alaikum buk.” Arum menyalami tangan Linda. Wanita yang tampak masih sangat cantik dan wajah nya mirip dengan Naura. Tampak berbeda dihidungnya. Naura memiliki hidung yang sangat mancung seperti orang Arab sedangkan ibunya hidung kecil namun berbatang.
“Jangan panggil ibuk. Panggilan umi aja,” sambil mengusap pundak Arum.
“Ara sudah pulang,” mendengar suara anak gadisnya Amin keluar dari dalam.
“Aby,” gadis tersebut menyalami sang ayah dan mencium punggung tangan pria tersebut. “Ara sama Arum by.”
“Ini yang namanya Arum?” Tanya Amin.
“Iya pak,” Arum senyum dan menundukkan kepalanya.
“Gak usah pangil bapak. Pangil Aby aja nak.”
Pria yang berusia hampir 47 tahun yang masih tampak ganteng walaupun tubuhnya kecil. Ia memiliki Tinggi 160 cm dan hidung yang mancung seperti orang Arab.
“Kami mau buat tugas by.”
“OOO kalau gitu langsung aja. Anak Aby sudah sholat?”
“Belum by. Ini Ara mau langsung sholat, pas keluar kampus. Langsung pulang.”
“Ya udah kalian langsung sholat ya.”
“Iya by.”
__ADS_1
“Arum,”
“iya mi.”
“Nanti makan malam di sini ya. Terus umi juga mau foto boleh?”
Arum senyum, “boleh mi. Nanti kita foto banyak-banyak.”
“Umi mau upload ke FB dan Ig umi. Pasti heboh di sekolah. Kalau teman-teman umi dan siswa-siswi umi lihat foto kamu.”
“Umi jangan norak.” Naura berbisik ditelinga uminya.
“Siapa yang norak.”
Arum ketawa. “Gak apa kok mi. Nanti Arum juga minta foto bareng umi dan Aby.”
“Mi, kami belum sholat.”
“Iya... Iya sholat dulu.”
Setelah selesai sholat, mereka melanjutkan membuat tugas. Mereka duduk di lantai. Arum mulai sibuk dengan ketikan dilayar laptopnya.
“Arum, apa benar mobil bang Ardi mau di beli orang 1 M.”
“Iya. Orang nya udah transfer DP 50 JT.”
“Kata bang Ardi mau kasi kita 5 juta ya.”
“Iya. Mau beli apa uangnya,” tanya Arum.
“Ara mau beli laptop. Di rumah laptop cuman satu. Jadi suka rebutan sama umi dan aby.”
“Nanti uang Arum untuk Ara aja.”
“Gak usah Rum.”
“Gak apa Ra. Untuk nambah beli leptop.”
“Ih gak usah Rum.”
“Gak apa.”
“Bang Ardi baik ya Rum.”
Setelah selesai mengerjakan tugas mereka shalat.
“Mi,” Ara berdiri di samping sang ibu yang masih mempersiapkan hidangan makan malam.
“Udah siap tugasnya?”
“Udah mi.”
Arum duduk di meja makan yang berada di dapur.
“Umi dah sholat?”
“Umi lagi libur.”
Ara memajukan bibirnya.
“Cepat letak piring di meja.”
“Iya mi.” Ara meletakkan perlengkapan makan di atas meja lengkap dengan serbet dan pisang.
“Buat teh hangat pakai teko.”
“Iya mi.”
Terdengar suara pintu terbuka. Amin masuk ke dalam rumah setelah pulang dari mesjid. Ia meletakkan peci serta sajadahnya di kamar. Ia berjalan ke ruang makan.
“Sudah masak mi.”
“Udah by.”
Mereka memulai makan malamnya.
“Sangat nikmat. Masakan umi enak.” Puji Arum.
“Oh iya, umi selalu menang lomba masak di sekolah dan tingkat RT. Kalau lomba masak dengan ibu-ibu PKK antar kampung, kecamatan, lelompok umi terus menang.” Amin tidak henti-hentinya memuji istrinya.
Arum senyum melihat keharmonisan keluarga tersebut.
__ADS_1
“Apa Ara pintar masak juga?” Tanya arum.
“Pintar sih gak. Tapi bisalah Linda,” memberikan jawaban.
“Orang tua nak Arum kerja di mana?” Tanya amin.
“Ayah Arum udah gak ada by. Ibuk di rumah aja.”
“Arum anak keberapa?”
“Anak pertama. Adek Arum 2 orang.”
“Jadi udah lama Ayah Arum meninggal?”
“Sudah sejak Arum kelas 6 SD.”
“Jadi biaya hidup dan sekolah Adek-adek dari mana? Amin Tampak penasaran karena yang diketahuinya dari sang putri, bahwa Arum itu orang kaya.
“Arum jualan by.”
“Jualan di mana?”
“Di sekolah.”
“Jualan apa?”
“Gorengan sejak kelas 6 SD sampai tamat SMA. Sejak ayah meninggal, ibu sakit-sakitan . Dan dokter bilang ibu sakit jantung jadi gak boleh kerja berat.”
“Jadi karena itu Arum yang cari uang?” Tanya Linda.
“Iya mi.”
Ara Tampak seakan tidak percaya.
“Gitu tamat SMA, Arum merantau ke Jakarta dan kerja di perusahaan pak Habibi. Awal kerja, Arum cleaning servis. Waktu Arum berangkat kerja, Arum lihat pak Habibi di serang orang di jalan. Jadi Arum tolong. Setelah peristiwa itu, ibuk Anita yang maminya pak Habibi meminta Arum jadi asistennya pak Habibi. Arum dimasukkan ke sekolah bodyguard.” Jelas Arumi.
“Jadi kamu memang punya keahlian khusus ya.” Tanya Linda.
Arum senyum. Dering ponsel menghentikan obrolan mereka.
“Maaf Arum angkat telepon dulu.”
“Iya nak silahkan.”
“Hallo Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Lagi di mana dek? Mas udah di rumah ini.”
“Arum lagi di rumah Ara. Ngerjain tugas.”
“Sama siapa aja? Udah siap ngerjain tugasnya?”
“Cuma berdua sama Ara aja. Soalnya, tugasnya besok di kumpul. Udah siap kok. Ini mau langsung pulang.”
“Perlu mas jemput?”
“Gak usah. Arum langsung pulang. Tunggu ya.”
“Iya mas tunggu.”
“My, by. Maaf ya Arum langsung pulang.”
“Oh iya nak. Gak apa-apa.”
“Maaf ya mi, Arum gak bisa bantu beres-beres.”
“Iya gak apa.”
Arum langsung memberikan ponselnya ke Ara.
“Tolong foto in ya Ra.”
Ara mengangguk.
Setelah banyak foto yang di ambil. Arum pamit pulang.
“My, foto nya nanti Arum kirim ke wa Ara.”
“Iya nak. Makasih ya.”
__ADS_1
“Arum yang mesti nya terima kasih. Arum pamit ya. Assalamu’alkum.”
“Wa’alaikumsalam.”