Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 103


__ADS_3

Habibi turun dari mobil melihat Arum yang memakai baju putih rok hitam.


“Yang mau ujian.” Habibi mulai mengoda Arum


“Mas apaan sih?”


Habibi hanya senyum. “Ibuk mana?”


“Ada di belakang.”


Habibi masuk ke dalam rumah menuju dapur. Tampak Siti sedang duduk di meja makan sambil mengotak-atik hp. “Ibuk, ”Habibi duduk di depan Siti.”


Siti mengangkat kepalanya dan memandang Habibi yang duduk di depannya.


“Arum tadi di depan.”


“Iya udah jumpa. Ibuk lagi ngapain?” Tanya Habibi.


“Ini, ibu lagi buka lagi lihat IG teman-teman di kampung. Sekalian mau video call, dengan teman-teman.”


Habibi mengangguk-angukkan kepalanya. “Vote IG saya dong buk.”


“Iya boleh, tapi nanti nak Habibi vote back IG ibuk ya.”


“Siiip buk.”


“Nak Habibi mau sarapan?”


“Gak buk. Udah sarapan tadi.”


“Buk Bibi berangkat dulu ya.” Sambil menyalami tangan Siti.


Arum yang sedari tadi melihat Habibi dan ibunya. Berjalan mendekati sang ibu dan menyalaminya serta berpamitan untuk berangkat ke kantor.


********


“Mas, Arum izin ujian ya.”


Habibi yang tampak terfokus dengan komputer di depannya, mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Arumi. “Mau pergi sama siapa dek?”


“Sendiri mas.”


“Jam berapa tes nya?”


“Jam 10.”


“Mau di antar supir?”


“Gak usah mas, berangkat sendiri aja.”


Habibi memberikan kunci mobilnya.


“Gak usah mas, Arum naik taksi online aja.”


“Pakai mobil.” Nada memerintah yang terdengar sangat tegas.


“Tapi Nanti mas mau keluar, gak bisa.”


“Mas gak ada keluar.”


“Mana tau ada keperluan mendadak.”


“Mobil kentor banyak.”


“Tapi mas.”


“Arum, jangan buat mas geram sama kamu. Kalau mas Udah geram Mas gak bisa janjian untuk nahan diri mas. Kalau mas sudah lepas kontrol, bisa-bisa kamu batal ujian.”


Arumi langsung membesarkan matanya. “I..i...iya mas. Arum berangkat.” langsung menyambar kunci mobil di tangan Habibi.


Arum keluar dari dalam ruangan tampak dengan berlari-lari kecil.


Habibi senyum-senyum sendiri melihat Arum yang tampak ketakutan mendengar ancamannya.

__ADS_1


Aku benar-benar gak tahan lihat sikap kamu yang ngemesin Rum. Mungkin ini hukuman untuk aku yang dahulunya pencipta kehidupan bebas. Sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“Rum mau kemana?” saat melewati meja Sasa.


“Arum ada urusan keluar sebentar mbak Sasa.”


“Rum, iya mbak.”


“Hati-hati ya.”


“Siip mbak.”


Arum memasuki lif karyawan. Lif tersebut berhenti di lantai satu. Arum berjalan menuju parkiran. Saat menaiki mobil Habibi, Arum tersenyum sendiri saat mengingat Habibi. Namun ia juga merinding waktu Habibi mengancamnya.


Arum melajukan mobil ke kampus. Hampir satu jam Arum mengemudikan mobilnya,


jalanan yang padat dan lokasi UI yang cukup jauh dari kantor Arum. Arum memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Semua mata tertuju padanya saat ia turun dari mobil. Sudah pasti mereka melihat mobil yang di pakai Arum. Image orang kaya. Itu yang terlintas dari mata yang memandang. Arum menarik nafasnya kuat dan membuangnya dengan sangat kasar.


Ia sudah berencana naik taksi atau ojek untuk menghindari penilaian orang terhadapnya. Namun, ia malah di suruh bawa mobil Alphard hitam milik Habibi. Ia sudah bersusah payah menolak. Namun ancaman Habibi, membuat bulu kuduknya berdiri dan tidak berani bicara apa-apa.


Arum menuju ruangan ujian. Tampak sudah ramai calon mahasiswa yang berada di depan ruangan tersebut. Mereka tampak di temani orang tua, kakak, abang dan juga pacar. Arum duduk di anak tangga.


“Hai...,” terdengar suara seseorang menyapa Arumi.


Arum menolehkan kepalanya saat mendengar ada yang menegurnya.


“Hai juga.” Balas Arum.


“Nama kamu siapa?” Tanya gadis yang bertubuh mungil dan dari penampilannya Tampak dia anak dari desa.


“Aku Arumi,” sambil memberikan tangannya ke arah gadis tersebut.


Gadis tersebut menyalami Arumi.


“Aku Nina.”


“Asal dari mana?” Tanya Arum


“Aku Jakarta. Di sini ngekos atau tinggal sama saudara?” tanya Arumi.


“Untuk semtara aku mah tinggal di rumah teteh. Kakak aku yang paling tua.”


“O...,” Arum membulatkan mulutnya. “Ngambil fakultas apa?”


“FMIPA”


“Jurusan apa?”


“Biologi dan matematika. Kalau Arum?”


“Keren kamu. Aku kedokteran.” Jawab Arumi.


“Wah hebat mah atuh.”


“Hebat apanya?”


“Kalau ngambil kedokteran sudah pasti mah, Arum orang yang pintar atuh.”


Arum senyum. “Lulus aja belum.”


Mereka mulai bercakap-cakap sampai jam ujian mereka di mulai.


******


Nina menunggu Arum di luar ruangan. Ia melambaikan tangannya saat melihat Arum keluar dari dalam ruangan. Arum mendekat ke arah Nina.


“Pulang yuk Rum.”


“Iya.”


“Rum, aku mah berencana mau naik bas way biar ngerasa jadi orang Jakarta. Oh iya Rum, kamu tadi pakai apa?”


Arum hanya senyum. “Rumah kamu di mana?”

__ADS_1


“Di jalan A.”


“Kita searah. Gimana kalau kamu aku antar pulang. Hitung-hitung biar tahu rumah kamu. Naik busway nya, kapan-kapan aja.” Ajak Arumi.


“Aku jadi repotin kamu Atuh.”


“Ya gak apa, biar aku tau rumah kamu.”


“Makasih atuh Rum.”


Arum mengirim pesan wa ke Habibi.


Arum: mas, Arum makan sebentar ya sama temen.


Habibi: teman cewek atau cowok?


Arum: cewek mas. Apa mas ada urusan ke luar dan perlu mobil?


Habibi: gak ada. Adek pakai aja mobilnya. Makan aja dulu. Udah jam Makan siang ini. Mas juga lagi makan di restoran depan kantor.


Arum” Ok bos. Thank you


Habibi: Iya. Cium dulu.😘


Arum” gak mau.😛


Habibi: pelit 😡


Arum: biarin 😂 mas Arum sudah di parkiran. Udah ya chat nya.


Habibi: hati-hati ya sayang. 😘😘😘😘😘😘


Arum: iya mas 👌


Arum sambil tersenyum melihat di layar hp nya.


“Arum.”


“Iya.”


“Parkiran motor di sana.”


“Iya.”


“Terus kita ngapain ke parkiran mobil?”


Arum senyum. “Aku bawa mobil.” Sambil memencet remote dan membuka pintu mobil.


Arum jalan menuju mobil di ikuti Nina dari belakang. Mereka naik ke dalam mobil.


Nina tampak memperhatikan Arum. Kalau di lihat dari penampilannya sudah jelas terlihat, Arum orang kaya.


“Kamu kaya ya Rum.”


“Gak ah. Ini mobil pinjam.”


Selain cantik, kaya gak sombong. Nina tampak melihat kagum terhadap Arumi. Arum mulai menjalankan mobilnya.


“Kita makan dulu ya Nin.”


“Boleh.”


Arum memarkirkan mobilnya di areal parkir restoran.


“Rum, kita makan di rumah makan biasa aja. Di sini nampaknya mahal.”


Arum senyum. “Aku yang teraktir kamu.”


“Arum, aku gak enak sama kamu.”


“Kamu jangan gitu kali lah. Kesempatan langka ini aku bisa bayar sendiri dan jajan pakai uang sendiri.”


Mereka berjalan memasuki restoran tersebut. Mereka duduk di meja sudut. Para pelayan mulai sibuk meletakkan hidang di meja. Lengkap dengan menu pembuka.

__ADS_1


__ADS_2