
Rangga sudah berada di dalam kamarnya. Seperti biasanya ia hanya boleh keluar dari dalam kamarnya sebelum jam 6 sore. Bila sudah jam 6 sore maka Rangga diwajibkan untuk masuk ke dalam kamarnya. Mengingat di jam 7 keatas rumah sakit akan begitu sangat ramai. Anak laki-laki itu begitu sangat menuruti perintah, ia begitu sangat patuh.
Rangga duduk diatas tempat tidurnya, setelah ia salat di mushola rumah sakit. Setiap kali tiba waktunya salat, Ia akan salat di mushola yang berada di lantai dua rumah sakit tersebut. Perawat laki-laki akan selalu datang menjemputnya untuk salat ke mushola. Ia sudah begitu sangat hafal dengan jadwal salat, bila waktu magrib ia akan bersiap-siap memakai baju koko dan juga peci serta kain sarung sambil menunggu perawat laki-laki masuk ke kamarnya untuk mengajaknya salat ke mushola. Ia begitu sangat disiplin dengan waktunya. Ia tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apapun agar dokter Arum dan juga pak Habibi tidak kecewa terhadapnya.
Ia menonton televisi yang ada di dalam kamarnya. Ia mencari-cari film yang ada di televisi tersebut dengan memegang remote kendali. Ia mencari channel yang tidak tahu apa yang ingin ditontonnya. Ia begitu merasa jenuh dan juga bosan. Ia mengusap air matanya walaupun ia mengatakan ia anak laki-laki yang kuat namun tetap juga ia merasa sedih. Ia tidak lagi Mencari filem kartun favorit nya seperti biasa. Ia membiarkan tv itu menyala tanpa menonton nya.
Sudah beberapa hari ini, ia tidak bertemu dengan dokter Arumi. Arumi tidak masuk ke ke rumah sakit. Ia mendapat kabar bahwa dokter Arum sedang berada di luar kota untuk melaksanakan pesta pernikahan adiknya
Ia melihat menu makan malam yang sudah di letak Di nakas samping tempat tidurnya. Ia sangat tidak berselera untuk makan malam, walaupun menu yang disajikan untuk nya begitu sangat enak. Ayam goreng crispy ditambah dengan kentang goreng dan juga sayur sop. Segelas susu, Cake rasa pandan, buah serta jus melon.
" Apa dokter Arumi, pak habibi dan Savira tidak merindukan ku," ucapnya yang mengusap air matanya. Ia menangis saat menyadari bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Ia adalah anak yang di buang orang tuanya, dan hidup dengan belas kasihan orang lain. Sudah hampir 5 tahun Ia berada di rumah sakit tersebut. Sebentar lagi Ia akan bersekolah dan masuk TK. Bagaimana nanti saat pertama kali sekolah. Apakah dia akan datang ke sekolah itu sendiri, dan pulang juga sendiri. Walau bagaimanapun ia tidak ingin merepotkan dokter Arumi beserta keluarganya. Kebaikan mereka sudah begitu sangat banyak untuknya. Ia selalu bersikap sebaik mungkin, ia tidak mau menagis di depan orang. Agar orang-orang tidak membencinya.
Ia mengambil susu dan kemudian meminum susu yang ada di gelas tersebut, hingga tinggal setengah. Ia melihat nasinya yang belum di makannya. " Aku harus makan, bila aku tidak makan pasti nanti pegawai dapur akan memberi tau dokter arumi tentang ini," ucapnya.
Ia tidak ingin Arum mencemaskan nya. Ia mengambil piring tersebut dan mulai memakan nasi yang ada di dalam piring. Ia memakan nasi itu dengan air mata yang bercucuran di pipinya. Namun ia tetap memasukan nasi itu ke mulutnya. Ia berusaha agar suara tangisnya tidak terdengar oleh orang dari luar, mengingat di depan kamarnya terletak meja perawat yang piket.
Arum meletakkan meja perawat di depan kamar Rangga, agar mereka bisa mengecek Rangga setiap saat.
Rangga menghabiskan nasi yang ada di dalam piring tersebut, ia kemudian memakan cake dan juga buah seperti biasa.
"Dokter Arumi aku merindukanmu," ucapnya sambil mengusap air matanya. Ia tahu Arumi dan keluarganya sangat tulus menyayanginya.
Ia mematikan televisi yang menyala, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan memeluk bantal guling spider-man miliknya. Aku ingin sekali membayangkan seperti apa ibuku. Apakah ibuku wanita yang cantik seperti dokter Arumi?
__ADS_1
Atau dia adalah wanita yang lemah lembut dan juga baik seperti dokter Arumi," ucapnya kemudian. Ia menggelengkan kepalanya aku tidak menuntut ibu yang seperti dokter Arumi, yang sangat sempurna di mataku. Namun aku juga merindukan sosok Ibu ku. Seperti apapun dia aku pasti sangat menyayanginya," ucapnya yang mengusap air matanya.
Ayah, apakah ayahku ganteng, gagah seperti Pak Habibi, Om Rio, Om Heri?
Apakah ayahku seperti Pak Habibi yang pintar ganteng sangat penyayang dan baik namun sangat tegas dan berwibawa ucapnya. Ia begitu sangat mengidolakan sosok Habibi. Baginya Habibi adalah pria yang begitu sangat sempurna. Ia kemudian menggelengkan lagi kepalanya. Aku tidak mengharapkan ayah yang sempurna seperti Pak Habibi. Aku tau saat ini ayahku pasti sedang mencari uang yang banyak untuk menjemputku," ucapnya.
Ia masih berharap kedua orang tuanya datang untuk menjemputnya dan seandainya mereka tidak menjemputnya, setidaknya mereka mau bertemu dengannya.
"Apakah aku punya Adik, punya abang, punya kakak?" ucapnya yang berpikir sendiri.
"Spider bolehkah Aku menganggapmu seperti dokter Arumi, Aku ingin memeluknya," ucapnya yang memeluk gulingnya begitu sangat erat. Ia menangis tanpa suara dan kemudian tertidur setelah puas bercerita dengan dirinya sendiri.
***
Setelah ia selesai mandi Dia kemudian mengambil bajunya yang tersusun rapi di dalam lemari. Ia memakai baju koko kemudian kain sarung kecil dan juga peci.
Ia kemudian duduk di pinggir tempat tidur sambil menunggu perawat laki-laki yang datang menjemputnya untuk salat ke mushola.
Rangga tersenyum saat melihat pintunya yang terbuka." Rangga sudah siap?" ucap Tofik yang berdiri diambang pintu tersebut.
Rangga tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Sudah Om," ucapnya.
Topik memegang tangannya, keperawat laki-laki akan selalu datang menjemputnya.
__ADS_1
Setelah ia salat di mushala, ia kembali ke dalam kamarnya. Pagi ini setelah ia sarapan, Rangga berkeliling, Ia akan mengelilingi Rumah sakit tersebut dan mengunjungi tiap-tiap ruangan dokter yang ada di dalam rumah sakit itu. Namun ia selalu dilarang untuk Jangan pergi ke ruangan paling belakang Karena disana adalah kamar mayat.
Ia masuk ke setiap ruangan dengan begitu sangat sopan. Ia akan menyapa dokter yang ada di dalamnya. Ia berada di depan ruangan Arumi, ia melihat pintu ruangan tertutup. Ia membuka Grendel pintu tersebut dan mengintip ke dalam ruangan. Ia melihat ke dalam, keadaan kosong. Dia kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. setelah Ia menyapa dokter-dokter serta perawat-perawat dan juga bidan bidan yang ada di rumah sakit itu termasuk pegawai yang lain nya. Ia kemudian berjalan ke taman rumah sakit. Ia duduk di taman itu sendiri dengan memandang jauh kedepan.
" Hai Rangga," ucap seorang perawat menyapanya.
" Hai sus Rani," ucapnya menyapa perawat tersebut.
" Rangga sudah sarapan?" tanya Rani yang duduk disebelah anak tersebut.
Rangga menganggukkan kepalanya. "Di sini jadwal makan ku sangat tepat waktu," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Rangga ngapain sendirian di sini," ucap sus Rani.
"Saya ingin menikmati keindahan taman ini," ucapnya yang memang ke depan.
Rani tersenyum dan kemudian mengusap pundak nya.
****
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. terimakasih atas dukungan nya.
😀😀🙏🙏
__ADS_1