
Habibi masuk kamar Ia melihat istrinya yang sedang duduk diatas kasur. Arum tersenyum lega ketika acara pernikahan adiknya telah selesai. Ia duduk diatas tempat tidur sambil selonjor kaki.
"Kita langsung pulang besok?" ucap Habibi yang memandang istrinya. Ia kemudian naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelah istrinya.
Arum menganggukan kepalanya. "Arum sudah lebih 2 minggu nggak ke Rumah sakit, Arum nanti juga mau langsung ke rumah sakit lihat Rangga," ucapnya. Sudah lebih 2 minggu Ia meninggalkan anak itu. Walaupun ia selalu dapat laporan dari orang yang di minta nya untuk menjaga Rangga selama ia tidak ada di Jakarta. Namun tetap saja ia begitu sangat tidak tenang.
Habibi mengusap kepala istrinya. Ia menganggukkan kepalanya. "Kita besok pakai jet milik Mas Androw aja ya," ucap Habibi.
"Jet kita masi ada di sinikan mas, kenapa pakai jet mas Androw?
Apa sudah mas suruh ke Jakarta?" ucap Arum yang memandang suaminya.
"Iya pesawat jet kita masih ada disini, Ardi dan teman-temannya akan berangkat ke Bali. Jadi Pesawat jet kita mau mas suruh pakai Ardi aja," ucapnya.
"Boleh juga kalau gitu, apa mas udah kasih tau mas Androw?" ucap Arum yang memandang suaminya.
"Habibi mengangukan kepalanya. "Sudah," jawabnya.
" Setelah kembali dari sini, kak May Sarah mengajukan cuti," ucap Arum.
"Cuti apa?" tanya Habibi yang memandang istrinya.
"Kak May mau pulang kampung," ucap Arum.
Habibi mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari istrinya. " Dalam rangka apa?" tanya nya.
"Kak May cerita sama Arum, Kak May mau dijodohin."
Habibi mengangukan kepalanya saat mendengar ucapan istrinya. "Iya sih May sarah sudah sangat wajib untuk menikah," ucapnya.
"Iya, sebenarnya sudah lama orang tuanya minta dia pulang cuman dianya selalu nolak," ucap Arum.
"Kenapa?" tanya Habibi.
"Iya Kak May masih mempertimbangkan," ucap Arum.
"Jadi sekarang ini bakalan diterima?" tanya Habibi.
"Iya kali ini kan May nggak bisa nolak lagi. Keluarganya minta agar kak May membawa calonnya sendiri. Tapi dia nggak punya. Ya mau nggak mau wajib terima pilihan orang tuanya," ucap Arum yang memberikan penjelasan yang ia ketahui dengan suaminya.
Habibi menganggukkan kepalanya saat mendengar istrinya bercerita.
"Mas si genit mana?" ucapnya yang menanyakan putrinya.
"Tadi lagi main main sama teman Ardi yang Bule-bule dari Amerika," ucapnya.
"Vira main sama dokter-dokter dari Amerika itu?
Apa ada Vino bersama dengan Vira?" tanya Arum.
Habibi tersenyum memandang istrinya. Vino gak mau biarkan Vira main sama bule-bule itu gitu aja, dia pasti ngawasin," ucapnya.
Arum menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar cerita Putri nya dan juga anak dari sahabatnya. "Menurut mas, apakah mereka akan terus seperti itu sampai besar?" ucap Arum .
Habibi hanya tersenyum memandang istrinya. Ia kemudian mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Tapi itu Vino sepertinya posesif loh mas," ucapnya yang memandang suaminya.
Habibi tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anak mas Androw. Sifatnya juga seperti mas Androw," ucap Habibi.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya mas, Vino itu karakter nya mirip Mas Andrew bukan mirip Ara," ucapnya.
"Mas aja bingung kalau lihat anak gadis kita sama anak lajang tetangga depan rumah," ucapnya.
"Mas tau nggak, tadi Arum Sampai sakit perut nahan ketawa liat Vira sama Vino," ucapnya
"Kenapa?" tanya Habibi.
"Vino dan Vira duduk Satu meja namun duduknya itu tidak bersebelahan, mereka duduknya berjarak. Waktu pergi ambil makanan, Vino jalan di depan Vira, dan Vira ngikut di belakang. Gak seperti biasa kalau mereka jalan suka pegang tangan," ucap Arum yang menceritakan putrinya.
Habibi tersenyum saat mendengar ucapan istrinya tersebut. "Ternyata kita sudah tua Sayang," ucapnya.
Arum tertawa saat mendengar ucapan suaminya. "Arum gak nyangka anak-anak kita sudah pintar," ucapnya yang tersenyum geli mengingat tingkah putrinya dan putra sahabatnya
Habibi hanya senyum-senyum saja mendengar ucapan istrinya.
"Padahal tadi gak ada Ara, tapi tetap aja sikap Vino seperti itu," Ucapnya.
"Ara pasti ngasih pendidikan agama yang baik untuk anaknya," ucap Habibi.
"Yang buat Arum itu heran, lihat Vira itu bisa nurut. Mereka itu beneran kayak orang dewasa," ucap Arum yang terbayang bagaimana sikap anak-anak itu berjalan berdua tanpa harus saling bersentuhan.
"Kalau Mas bilangin sama Androw tingkah Vira dan juga Vino. Mas Androw bakalan ngomongnya gini. Tidak apa mereka masih kecil dan bila nanti mereka sudah dewasa, aku hanya tinggal menikahkannya saja," ucap Habibi yang menirukan gaya bicara Androw yang begitu sangat santai tanpa beban.
Arum tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Vira," ucap Arum.
"Pengawal banyak yang lihatin, lagian juga tadi sebelum mas ke kamar,. Mas sudah kasih tau, ibu, Mami dan Papi," ucapnya.
"Gak enak mas, di luar masih rame," ucapnya.
"Gak lama," ucapnya.
Arum tersenyum memandang suaminya. Ia kemudian menganggukkan kepalanya. Ia tahu apa yang diinginkan oleh suaminya.
Habibi naik ke atas tempat tidur setelah ia mengunci pintu. Ia mencium bibir istrinya. dan mencium leher istrinya.
Arum menjauhkan tubuhnya dari suaminya saat ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Suara putrinya yang melengking memanggil-manggil Mimi dan Pipi nya.
"Mas Vira," ucapnya.
Habibi memejamkan matanya, ia kemudian membuka matanya sangat lebar dan mengangkat alis matanya. "Sayang mas bener pengen," ucapnya yang terlihat kesal.
Arum tersenyum memandang suaminya. Ia tapi Vira manggil," ucapnya. Ia tahu putrinya tidak akan berhenti memanggilnya bila ia tidak keluar.
Habibi menarik nafasnya dan kemudian menghempaskannya. "Besok sampai di rumah, mas gak mau ada yang ganggu," ucapnya kesal. Ia kemudian turun dari atas tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
Arum hanya tersenyum memandang suaminya.
"Pipi," ucap Vira yang tersenyum begitu sangat manis. Putri kecilnya itu memperlihatkan deretan gigi nya yang putih dan tertata rapi. putri kecilnya berdiri di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa," ucap Habibi yang mengendong putrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Vira mau ikut jalan-jalan sama Aunty Ana, uncle Tian dan juga uncle Tomy. Om Ari Aunty Derlin, Aunty Erika dan om Azzam juga ikut. Vira boleh ikut ikut ya Pi, Vino juga ikut. Papi Androw ngasih izin Vino ikut pi," ucapnya yang meminta izin.
Habibi memandang putrinya. Ia kemudian mengelengkan kepalanya.
"Pi, boleh ya," ucapnya yang memajukan bibirnya.
"Cium pipi banyak-banyak, baru boleh," ucapnya.
Vira tersenyum dan kemudian mencium bagian wajahnya. "Vira udah cium banyak pi," ucapnya.
Habibi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Arum tersenyum memandang putri dan juga suaminya tersebut. "Vira belum cium Mimi," ucapnya.
"Oh iya lupa," ucap Vira yang kemudian mencium miminya sebanyak mungkin.
Arum tersenyum memandang putrinya. "Vira jangan nakal ya. Harus nurut sama om Azzam," ucapnya.
"Iya mi," jawab Vira.
"Ya udah ayo pipi antar," ucapnya.
Vira mengangukan kepalanya, Ia melingkarkan tangannya di leher pipinya.
"Sayang bentar ya, Mas mau kasih tau Azzam untuk jagain Vira," ucapnya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Vino juga," ucapnya.
"Iya sayang," ucap Habibi yang mengendong putrinya dan keluar dari dalam kamar tersebut.
***
Arum beserta keluarganya langsung ke bandara bersama dengan rombongan Ardi. Ia akan kembali ke Jakarta sedangkan Ardi dan Aisah akan langsung ke Bali bersama teman-teman mereka. Handoko dan Mira mengantarkan mereka di bandara.
*
Arum memegang tangan suaminya, ia benar-benar sudah tidak sabar untuk pulang ke Jakarta. Saat ini yang terbayang olehnya hanya wajah Rangga. Ia sudah tidak sabar untuk untuk melihat anak lelaki itu.
"Mas Arum kangen Rangga, Arum nggak sabar pengen ketemu Rangga," ucapnya.
Habibi tersenyum memandangnya. "Nanti kita akan langsung ke rumah sakit ucapnya," Ia tahu bahwa istrinya begitu sangat merindukan anak laki-laki itu. Sebenarnya ia juga sangat merindukan Rangga. Selama ia di rumah Ardi, ia selalu memikirkan anak tersebut. Namun ia bisa tenang karena setiap harinya Ia mendapat laporan dari mas Didi security rumah sakit.
"Arum nggak nyangka kalau kita bakalan lama di sini. Kalau tahu lama Arum bakal bawa Rangga," ucapnya.
"Iya gak apa ditinggalkan Di sana, Rangga di sana rame yang jagain," ucap Habibi.
Arum menganggukkan kepalanya.
Mereka tidak ada membawa barang-barang ke bandara karena barang-barangnya dibawa oleh pengawalnya. Pengawalnya yang ikut naik pesawat bersama nya hanya beberapa orang yang terpilih.
***
...Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya. ...
__ADS_1
😊😊🙏🙏