Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 133


__ADS_3

Arum terlihat sangat cantik dengan gaun yang dipakainya. Gaun tersebut melekat sempurna ditubuhnya yang langsing dan tinggi semampai. Makeup yang merias wajahnya terlihat sangat cantik, dan tidak menampilkan kesan menor dan berlebihan. Ia keluar dari dalam kamarnya bersama Sarah dan Naura.


Siti sedang duduk bersama dengan Ardi, Doni dan Ari. Saat dilihat Arum yang sudah keluar dari kamar, Siti berpamitan pergi untuk memastikan keadaan dan pastinya sibuk menyambut para tamu.


Arum tersenyum melihat kearah tiga pria tersebut. Tatapan mata mereka tertuju ke Arum. Saat Arum sudah mendekat dengan pria tersebut, ia melihat wajah Ardi yang tidak seperti biasanya. Wajah pria tersebut tampak sangat dingin. Arum melihat tangan Ardi yang dibalut perban dan tampak masih ada sedikit bercak darah yang Tempus dari perban tersebut.


" Di, tangan kamu kenapa?" tampak wajah Arum panik saat melihat tangan Ardi yang terperban. Dengan reflek Arum memegang tangan yang dibalut perban tersebut.


"Numbuk kaca." jawab Ardi sambil menarik tangannya.


"Kenapa kamu numbuk kaca sih Di. Terus gimana kabar kacanya sekarang?" ucap Arum yang sedikit becanda melihat sahabatnya.


"hancur, biasa latihan." jawab Ardi dengan tatapan dingin.


"kamu latihan taekwondo atau kuda lumping?" gadis itu tampak mengomel, “ceroboh banget sih kamu." ucap Arum.


Ardi menatap Arum dengan tatapan tajam. "kalau aku bilang, aku numbuk kaca karena kamu. Kamu bakal ngomong apa?" tanyanya dengan suara yang terdengar bergetar.


"kok karena aku?" gadis tersebut memajukan bibirnya.


Ardi tersenyum tipis.


"sini aku obatin." ucap Arum kemudian sambil meraih tangan tersebut.


Ardi menepisnya, pemuda itu menggelengkan kepalanya. "aku bisa mengobatinya sendiri. Aku gak mau tangan kamu jadi kotor karena memegang tangan aku." ucapnya.


"gak apa aku bisa nyucinya." jawab Arum yang tetap memaksa.

__ADS_1


"Ardi menggelengkan kepalanya. Kamu ingat gak,waktu kecil kamu paling sering terjatuh, lutut dan juga siku kamu terluka dan berdarah. Aku selalu mengobati luka kamu. Kamu terkadang bisa jatuh di mana saja. Pada saat itu aku selalu mengantongi benda ini kemana-kemana." Ardi mengeluarkan betadin, hansaplas dan juga perban dari dalam saku celananya.


"aku selalu mengantongi benda ini, aku juga selalu memasukkan benda ini di dalam tas sekolah aku. Sampai sekarang aku masih mengantonginya dan menyimpannya di dalam tas kuliah aku. Namun aku baru sadar, bahwa mulai saat ini kamu bukanlah gadis kecil yang selalu terjatuh, yang aku gendong di punggung saat kamu menangis saat lutut kamu terlalu. Saat ini kamu sudah menjadi gadis yang dewasa, pintar, cantik dan kuat. Kamu sudah bisa melindungi diri kamu sendiri dan juga orang lain. Aku sudah tidak perlu menjaga kamu. Sudah saatnya aku tidak membawa benda ini kemana-mana" Ucapnya sambil memberikan benda tersebut ke tangan Arum.


Arum memegang benda yang di berikan Ardi. Mata Arum berkaca-kaca mendengar apa yang disampaikan Ardi. “Di, kamu gak ningalin Arumkan.” Terdengar suara Arum yang mulai bergetar. Ia memeluk tubuh pria yang berstatus sahabatnya.


Ardi menunjukkan sikap tegarnya di hadapan Arumi. "aku sayang kamu Rum, lebih dari nyawa aku. Aku gak akan pernah ninggalin kamu. Aku tetaplah Ardi sahabat kecil kamu hingga sekarang. Namun sekarang kamu sudah ada yg menjaga dan mencintaimu dengan sangat baik. Jadi aku sudah tidak perlu menghawatirkan kamu." ucap pria tersebut yang tampak berusaha untuk tegar. Terlihat raut kecewa diwajahnya.


Air mata Naura meluncur dengan lancar begitu juga dengan Sarah. Ia melihat Ardi yang tampak begitu terpukul, Sarah yang menjadi pejuang cinta untuk mendapatkan Ardi begitu sangat kasihan melihat Ardi saat ini. Doni melihat benda yang di keluarkan Ardi dari kantongnya mengingatkan dirinya pada saat ada kecelakaan lalu lintas yang menyerempet anak sekolah dasar. Ardi mengeluarkan betadin dan juga perban dari dalam tasnya.


Arum masih menagis saat memeluk tubuh Ardi. Ardi memeluk tubuh Arum dengan sangat erat dan kemudian ia melepaskannya. Ia melihat Arum yang masih menangis.


"kamu masih ingat gak? Waktu kita kecil, kita main rumah-rumahan. Kamu jadi mama, aku jadi papa. Kita memiliki keluarga bahagia. Aku memberikan kamu perhiasan yang aku buat dari tangkai daun ubi. Aku memberikan kamu kalung dan juga gelang. Pada waktu itu itu, aku berjanji sama kamu, jika kita sudah besar dan aku punya uang Aku akan membelikan kamu perhiasan emas yang asli dan sebuah cincin berlian." ucap Ardi yang masi memandang Arum.


"Arum gak pernah menganggap itu janji." ucap Arum sambil menangis.


"tapi aku udah janji dengan diri aku sendiri." jawab Ardi. Ardi mengeluarkan kotak perhiasan yang ada di saku kemeja yang dipakainya. Ia membuka kotak perhiasan tersebut. "ini hutang janji aku untuk kamu. Maaf kalau cincin berliannya aku gak bisa ngasi." ucapnya kemudian.


"aku gak mau kamu menagis, aku ingin kamu bahagia. Ini hari penting untuk kamu. Air mata kamu sudah membuat makeup kamu berantakan. " ucapnya sambil berusaha untuk tersenyum.


"Maafkan arum." hanya itu kalimat yang mampu keluar dari mulutnya.


"Kamu gak salah." jawab Ardi. "Jika kamu tidak berjodoh dengannya, maka aku akan jadi jodoh kamu." ucapnya lagi kemudian.


Ardi membantu Arum untuk berdiri. Ia memegang tangan Arum. “Udah rapikan lagi makeup kamu. Sebentar lagi calon tunangan kamu akan datang.” Ucapnya disaat gadis itu sudah berdiri.


Bayangan dimasa kecil mereka seakan terputar otomatis di pandangan Arum. Arum merasa sedang menonton film dirinya dimasa lalu. Arum mengingat semua peristiwa satu persatu yang membuat ia terus menangis. Ardi pria pertama yang ia cintai sebelum Habibi. Ia tidak pernah tahu ternyata Ardi juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Arum masuk ke kamar merapikan makeupnya kembali. Sarah dan Naura tidak ada yang berbicara. Mereka hanya memandang Arum dari pantulan cermin.


********


Ke tiga pria tersebut duduk di salah satu meja yang berada di taman samping rumah mewah tersebut. Berbagai pilihan makanan sudah ada terhidang di sana. Seorang gadis kecil datang berlari menabrak tubuh Ardi.


"Bang Ardi" ucap gadis kecil yang cantik tersebut.


“Cantik amat.” Doni mengeluarkan pujian saat melihat gadis cantik, putih dan terlihat centil tersebut.


Ari menabok pundak sahabatnya tersebut.


"Itu cewek belum cukup umur." ucap Ari mengingatkan sahabatnya.


"Kalau yang namanya cantik, belum cukup umur juga pasti sudah cantik." jawab pemuda tersebut setelah mendapatkan tabokan dari sahabatnya.


Doni berbisik di telinga Ardi.


"Dunia belum berakhir bro. Gak dapat kakaknya masih ada adeknya. Nih si adek gak bakalan kalah dari si kakak. Bibit unggul ini." ucap pemuda itu.


Ardi memandang Doni dengan tatapan tajam. Membuat Doni menghentikan kalimatnya.


*********


ini lah yang membuat author gak tega kalau lihat ardi di undang.


author gak tega beneran deh,. sampai nagis author. 😭😭😭

__ADS_1


tinggal kan like , komen dan vole nya ya reader. biar author semangat.


😃😃😍😍🙏🏼🙏🏼


__ADS_2