Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 305


__ADS_3

May Sarah berjalan menuju kearah kamarnya yang berada di bagian belakang dengan menyeret travel bag miliknya. Kamar bagian belakang memang di sediakan khusus untuk pekerja wanita. May Sarah melewati deretan kamar, berhubungan dirinya berada di kamar nomor 4. May Sarah masuk ke dalam Kamarnya yang memiliki fasilitas yang cukup lengkap. spring bed, lemar dan tv serta AC. Setelah Imam mengantarnya ke rumah pak Habibi, pria itu langsung kembali.


May Sarah membuka jilbab dan pakaiannya. Dilingkarkan nya handuk di dadanya dan masuk kedalam kamar mandi. Ia berdiri dibawah cucuran air shower yang menyirami sekujur tubuhnya. Di pegang nya pinggang nya saat diingatnya Iman yang memeluknya saat hampir terjatuh.


May sarah memejamkan matanya seakan-akan merasakan kembali bayangan yang dialaminya saat di jalan tadi. "Yaampun mengapa pikiran aku jadi seperti ini," ucap May Sarah yang memukul-mukul keningnya sendiri.


May Sarah keluar dari dalam kamar mandi setelah merasa tubuhnya sudah bersih dan segar. Dipakainya piama tidurnya.


Ia berdiri di depan lemari yang memiliki cermin setinggi tubuhnya. Matanya menatap pantulan wajahnya dari dalam cermin. Di sentuhnya pipinya. Masih terasa oleh nya saat imam mencubit-cubit Pipinya dengan lembut. "Tadi Kenap gak pura-pura tidur aja ya biar di cium," ucapnya yang tersenyum geli. ketika mengingat ucapan pria tersebut. "Tapi pak Imam pasti hanya sekedar bercanda. Mana mungkin dia berani," ucapnya yang tersenyum sendiri. May Sarah memegang dadanya. "Kenapa dada aku berdetak sangat kuat bila dekat dengan nya. Sudah bertahun-tahun aku tidak pernah merasakan hal ini. Apa aku suka ya sama pak imam? Tapi pak imam beneran ganteng sih. Ngapain juga aku mikirin dia, paling dia cuma bercanda aja. Dia pasti sengaja ngerjain aku. Logikanya aja, mana mungkin dia suka sama aku. Sedangkan kelasnya aja cowok ganteng yang sukses termasuk kedalam kategori ekslusif. Mana mungkin suka sama bodyguard seperti aku sih. Pasti seleranya sekertaris seksi di kantornya," ucap May Sarah sambil memandang wajah di pantulan cermin.


May Sarah memperhatikan wajahnya dan kemudian memajukan bibir bawahnya. "Apa benar aku cantik?" ucapnya saat mengingat pria itu memujinya.


May Sarah mencoba tersenyum di depan cerminan dengan bermacam-macam gaya. "Kalau senyum dikit gini, seperti orang yang gak ikhlas. Kalau senyum lebar gini, gimana kalau ada nempel cabe di gigi, pasti di ketawain. Senyum tidak kelihatan gigi gini seperti, malah mirip seperti orang ompong. Duh mana ya senyum yang paling manis," ucapnya setelah melihat berbagai macam senyumman yang di cobanya.


"Ya udah deh senyum alakadarnya aja. ucapnya yang tersenyum dengan mengangkat dagunya dan sedikit menarik bibirnya. "Ya malah seperti sombong dan angkuh," ucapnya yang menghempas nafasnya.


Setelah puas memandang wajah di depan cermin, May sarah kemudian berbaring di atas tempat tidurnya.


***


Ara dan Arum duduk santai dibawah pohon sambil melihat anak-anak mereka bermain sepeda bersama dengan suaminya masing-masing.


"Gimana apa sudah dapat?" tanya Ara.


Arum menggelengkan kepalanya. "Belum tau. Kalau program Kali ini nggak juga sukses Arum gak mau program lagi," ucapnya parah.


"Kenapa?" tanya Ara.


"Sudah 1 tahun lebih Arum program, tapi nggak ada hasil," ucapnya yang memandang Ara.


"Padahal Arum dan mas Habibi gak ada masalah," ucap Ara.


Arum menganggukkan kepalanya. "Masalahnya di atas belum ngasih bonus," ucapnya.


Ara hanya tersenyum saat mendengar ucapannya.


"Ara bayangin aja, selama Peromil, Arum selalu dilarang Mas Habibi. Mau ngapa-ngapain nggak boleh. Mau kerja sedikit lebih nggak boleh. Kadang mau gendong Vira juga nggak dibolehin. Katanya jangan sayang, siapa tahu jadi. Tapi nyatanya belum ada tanda-tanda sampai sekarang," ucapnya dengan wajah yang sedih.


Ara menganggukkan kepalanya.


"Tapi nanti kalau anak Ara udah lahir Arum Bisa pinjam kan?" ucapnya sambil tersenyum.


Ara tersenyum mendengar ucapan sahabatnya tersebut. " Iya boleh," jawabnya.


"Ara tahu nggak pagi tadi Vira sama Vino itu bicara lewat pagar rumah masing-masing," ucap Arum.


Ara tertawa. "Iya Ara lihat dari dalam," ucapnya.


"Vino sekarang udah enggak pernah lagi gandeng-gandeng tangan Vira. Arum baru kerasan waktu di pesta Aisah," ucapnya.


"Iya Ara larang, Ara bilang nggak boleh pegang-pegang tangan Vira kalau belum jadi istri," ucap Ara yang tersenyum.


Arum tertawa saat mendengar ucapan Ara. "Kenapa dia bisa nurut banget?" tanya Arum.


Arum yang sangat kenal sifat anak laki-laki itu.


"Kalau enggak nurut Ara ancam kirim ke Amerika. Vino paling takut kalau di ancam ke Amerika. Dia takut ningalin Vira di sini, takut di tikung Daffa,"ucapnya yang tersenyum geli.

__ADS_1


Arum tertawa hingga perutnya terasa sakit. "Arum gak nyangka, anak gadis Arum bakal jadi primadona," ucapnya.


"Iya mereka tu pada merebutkan Vira. Kadang Ara geli sendiri kalau udah lihat tu anak-anak,"


"Apa mungkin mereka bakal sampai besar seperti ini," ucap Arum.


"Tapi adakan yang cinta sejak kecil sampai bawa Betadine, Hansaplas, kasa kemana-mana karena cinta Sejak kecil," ucap nya yang membuat Arum tertawa.


"Sekarang sudah jadi Adek ipar Arum," ucapnya.


"Untung aja Aisah pandai mengambil hatinya. Dengan sifatnya yang genit dan polos buat bang Ardi jadi bucin," ucap Ara.


Arum tertawa."Iya Arum senang lihat dia bahagia.


"Apa sampai besar anak-anak kita seperti ini? Seperti apa nanti bila mereka sudah besar?" ucap Arum yang memandang jauh ke depan.


"Ara sering bilang gitu sama Mas Androw, kata Mas Anto biarkan saja mereka masih kecil nanti kalau sudah besar tinggal kita nikahkan saja," ucap Ara yang berbicara meniru gaya suaminya.


Arum tertawa mendengar ucapan sahabatnya.


"Bagaimana dengan Rangga?" tanya Ara.


"Sekarang kami sengaja bawa Rangga ke rumah. Walaupun mungkin harinya di selang selang seling biar Vira terbiasa dan menerima kehadiran Rangga dengan sendiri. Biar terkesan tidak tidak dipaksakan," ucapnya.


"Arum masih ingat kan biodata orang tuanya Rangga?" tanya Ara.


Arum menganggukkan kepalanya. "Data-data tentang keluarganya masih disimpan di rumah sakit," ucapnya.


Ara menganggukkan kepalanya.


"Arum sudah adopsi Rangga secara sah jika orang tuanya juga datang orang tuanya nggak mungkin lah bisa ngambil seenaknya," ucap Ara.


Arum menganggukkan kepalanya. "Rangga juga nggak pernah nanya tentang orang tuanya. Mungkin dia tahu orang tua gak mengharapkan dia," ucap Arum.


"Dia pasti sayangnya sama Arum, mas Habibi dan Vira. Cara dia jaga Vira juga kelihatan sekali kalau dia benar-benar sayang sama Vira layaknya saudara. Tapi dia gak mau mangil Vira kakak ya," ucap Ara.


"Menurutnya dia itu lebih besar dari Vira," ucap Arum.


Ara menganggukkan kepalanya.


Arum dan Ara tersenyum saat melihat Vira yang datang mendekatinya.


Arum tau bahwa putrinya sudah sangat capek. Wajah putrinya sudah penuh dengan keringat.


"Mimi, Vira sudah gak mau main sepeda lagi," ucapnya yang mendekati mendekati Arum.


Arum tersenyum dan melambaikan tangannya kearah gadis kecilnya.


Vira turun dari sepeda dan kemudian memeluk miminya. "Mi, Vira sudah capek dayung sepedanya," ucapnya yang duduk di atas pangkuan miminya.


Arum tersenyum memandang putrinya."Kalau sudah capek di sini aja sama Mimi," ucapnya sambil mencium pipi putrinya.


Ara yang duduk di sampingnya hanya tersenyum memandang gadis kecil tersebut.


"Mami Ara," ucap Vira yang kemudian memeluknya dan mencium pipinya.


Ara tersenyum memandangnya. "Vino ditinggalin?" ucap Ara.

__ADS_1


"Iya mami, Vira capak," ucapnya.


Ara tersenyum dan mengusap keringat gadis kecil itu dengan tisu. " Jadi mau jadi menantu Mami Ara?" ucapnya.


Vira tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Arum hanya tersenyum memandang tingkah genit gadis kecilnya.


"Vira ayo naik sepeda lagi,"ucap VIno yang berhenti di depan Vira.


"Vira capek dayung sepedanya," ucapnya yang memajukan bibirnya.


"Ayo boncengan sama Rangga," ucap Rangga yang berhenti di samping sepeda Vino.


"Vira duduk di belakang, Vino yang bonceng," ucapnya yang memaksa.


Vira tersenyum dan menganggukkan kepalanya."Vira naik sepeda lagi ya mi," ucapnya.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tapi hati-hati," ucapnya.


"Mami Ara Vira naik sepeda ya sama Vino. Vira nggak pegang-pegang," ucapnya meminta izin.


"Kalau Vira nggak pegang, nanti jatuh," ucap Ara yang sengaja memancing nya.


"Vira akan pegang tempat duduk," ucapnya.


Ara tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Vino tersenyum saat melihat Vira yang sukses meminta izin kepada Maminya.


Vira berdiri dan berlari ke arah Vino. Gadis kecil itu duduk di kursi boncengan sepeda Vino. Tangan kecilnya memegang tempat duduk Vino.


Vino mendayung sepedanya begitu sangat pelan.


"Vira, kamu begitu sangat pintar, bisa meminta izin sama mami," ucapnya.


Vira duduk di belakangnya sambil memegang kursi tempat duduk sepeda tersebut. "Vira kan pintar," ucap Vira.


Vino hanya tertawa sambil mendayu sepedanya.


"SaVira jangan goyang-goyang naik sepedanya nanti jatuh," ucap Rangga yang mengikuti sepeda Vino dari belakang.


Vira memutar kepalanya dan memandang Rangga. "Iya Rangga, Vira enggak goyang-goyang lagi," ucapnya.


"Sepertinya Vino tidak kuat membawa sepedanya," ucap Rangga.


"Aku kuat membawa sepeda," ucap Vino.


"Sejak tadi Rangga perhatikan Vino goyang-goyang membonceng Vira. Kalau Vino tidak bisa membonceng Vira, biar Rangga yang bonceng," ucap Rangga yang meragukan Vino.


"Siapa bilang," ucap VIno yang kemudian mendayu sepedanya dengan kecepatan yang stabil.


***


Jangan lupa like, komen dan votenya ya Reader. Terimakasih atas dukungannya.


😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2