
Sesampainya di rumah Habibi jam 11 malam.
“Ibuk, Arum langsung ke kamar ya.” Ucap gadis tersebut.
“Iya kamu istirahat ya. Kamu pasti capek. Besok kita jalan-jalan, dan shopping.” Jawab Anita.
“Oke buk.”
Anita memeluk Arumi dan mencium pipi kanan dan kiri nya.
“Mas juga Rum.” Kata Habibi yang ingin ikut memeluk Arumi.
“Masa’ mami aja. Apa mas mau ikut shopping juga?” Arum bertanya dengan polosnya tidak tau maksud Habibi.
Anita dan Jhoni yang tau akan arah pembicaraan Habibi ketawa. Ngakak. 😂
“Bukan itu,” kata Arumi dengan wajah yang tampak merah .
“Udah Arum jangan kamu gombalin. Ya udah kamu tidur ya.” Anita mengelus puncak kepala Arumi.
“Iya buk.” Arumi masuk ke dalam kamarnya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Entah mengapa Arum sering ngerasa jantungnya berdetak dengan kuatnya saat dia berada di dekat Habibi, sehingga lidahnya terasa keluh untuk memulai pembicaraan. Arum masih memegang dadanya. Untung ibuk Anita cepat menyuruh Arumi masuk. Kalau gak. Entah bagaimana caranya untuk mengatasi jantung yang mengebu-gebu.
Sedangkan di kamar sebelah Habibi masih tersenyum-senyum. “Seperti nya, aku harus lebih extra dekatin dia.” Batinnya.
Sudah jam 12. Tapi tetap aja mata nya gak mau tidur. Mungkin karena mengingat pujaan hatinya berada di kamar sebelah. Tiba-tiba perutnya lapar. Biasanya setelah gym pria itu membutuhkan makan lebih banyak. Habibi turun ke bawah untuk makan. Tapi ternyata, gak ada makanan. Mungkin si bibi gak masak karena mereka makan di luar. Biasanya menu makanan siang gak habis. Pasti akan di bawa si bibi pulang. Habibi duduk di depan meja makan. Dengan tatapan yang kosong melihat meja yang kosong. 😂
Terdengar suara kaki menuruni tangga, Arum melihat langsung ke Habibi. Arum sangat terkejut. Di kiranya karena sudah malam Penghuni rumah pasti sudah pada tidur. Arum keluar tampa memakai jilbab.
“Arum kamu belum tidur? Kamu mau ngapain?” tanya Habibi sambil menatap Arumi yang tidak memakai jilbab.
__ADS_1
“Arum haus mas. Mau minum.” Arumi memakai piyama tidur panjang tangan.
Habibi melihat Arumi yang gak berhijab sangat cantik dengan rambutnya yang terurai hitam, lurus dan panjang. Arum turun ke bawah.
“Kamu mau air hangat atau yang biasa.” Tanya Habibi.
“Gak usah mas Arum ambil sendiri aja.”
“Udah gak apa. Ini mas ambilkan.”
“Makasih mas, mas kok belum tidur.”
“Mas belum ngantuk. Mas lapar. Tapi gak ada yang bisa di makan. Mungkin karena kita makan di luar malam ini. Jadi nya si bibi gak sediakan makan malam.”
“Arum masakin mau?”
“Mas sangat berterima kasih kalau Arum mau masakin mas, dengan ekspresi wajah yang memelas.” Duh, kapan lagi bisa lihat Arum macam ini. Ini momen harus di manfaatkan. Pikirnya dalam hati.
“Mas mau makan apa?” Tanya gadis itu kembali.
“Kamu bisa masak apa aja?”
“Nasi goreng, capcay, tomyam,. Sup daging, ikan goreng sambal kecap, ayam goreng sambal kecap atau sambil terasi.”
“Mas mau sup daging, tomyam, dan ayam sambal kecap.”
Arum memandang Habibi. “Mas yakin?”
“Yakin.”
__ADS_1
“Tunggu sebentar ya,” Arum masakan.
Arum mulai mengiris-ngiris bawang-bawang dan merebus daging mengungkapkan festo. Kemudian memotong-motong cumi dan ayam, kemudian membumbukan ayam untuk di goreng. Habibi memperhatikan Arumi dari belakang. Tampak kalau Arumi sangat lihai memegang pisau, dan tangannya terlihat sangat cepat.
“Mas bantu apa?” Tawarnya
“Do’a dan diam.” Ucap gadis tersebut
“Yakin gak mau mas bantu?”
Dilihatnya Habibi. Kemudian dia menggeleng. Arum yang baru sadar kalau dia turun gak pakai jilbab. Langsung berlari ke kamarnya. Habibi merasa heran kenapa dia kabur.
Tak lama, Arumi sudah turun dengan jilbabnya. Habibi senyum lihat Arum yang sudah pakai jilbab.
“Kok di pakai jilbab nya. Kan udah malam. Lagian juga gak ada orang.” Kata Habibi sambil tersenyum.
“Mas kok gak ngomong, kalau Arum gak pakai jilbab. Emangnya mas bukan orang?”
Habibi tertawa dengar Arumi yang ternyata pandai marah juga. “Mas kirain sengaja.”
“Ini salah mas,” bawang Arum gosong.
“Maafin mas,” sambil tersenyum.
“Arum gak mau tau. Iriskan lagi,” sambil cemberut dengan bibirnya panjang ke depan
“Iya mas tanggung jawab.”
Arum meletakkan bawang-bawang, daun sladri dan daun bawang. “Potong.” Perintah Arum terdengar sangat tegas. “Mas, tunggu di meja makan. Jangan ganggu Arum masak.” Di saat ia merasa konsentrasi nya yang sudah hilang saat melihat pria tersebut.
__ADS_1
“Baiklah.” Pria tersebut menuruti perintah gadis tersebut.