
“Begini tiap hari yang kita lihat ya ak.” Kata Arum kepada Yuda.
Yuda yg tampak sangat murung dan tidak banyak bicara tidak seperti biasanya. Seakan-akan dia tidak rela kalau harus berpisah.
“Iya.” Yuda menjawab singkat.
“WAH salut gue lihat lu bro. Bisa tahan lihat dua bucin gini.” Kata Heri sambil tertawa lepas.
“Ya mau gimana lagi mas, kita usir, nih pasangan barbar gak mau minggat. Bukan cuma cipika cipiki mas. Tapi juga cibibi. Sampai-sampai mata Arum yang suci jadi ternoda.” Sahut Arumi.
Mereka hanya tersenyum mendengar kan celote Arum.
Rizal dan Tiar hanya cukek. Mereka tetap memamerkan kemesraannya di depan teman-temannya.
“Duh nih orang seperti sengaja pamare di depan para jomblo,” kata Heri.
“Jangan pasangan barbar dong Rum, pasangan romantiskan jauh lebih asyik.” Protes Tiar.
“Romantis apanya.” Arum memanjang kan bibir mungilnya. Melihat bibir mungil tersebut, Yuda merasa sangat gemas.
“Ya mau apa lagi. Ini kantin mereka yang punya. Kita cuman pembeli.” Balas yuda sambil tersenyum.
“Kamu emang gak pernah pacaran Rum?” Tanya Rio.
“Belum,” jawab Arum singkat.
“Satu kali pun belum?” balas Heri.
“Iya belum.” Kata Arum
“Sewaktu kamu sekolah. Apa gak ada yang suka sama kamu Rum?” tanya Rio penasaran.
“Sepertinya gak ada,” jawab Arum.
“Kamu cantik, pintar, multi talenta. Masak sih kamu yang sesempurna itu gak ada yang naksir?”protes Harun
“Gak ada tuh seperti nya, lagian mana ada yang mau sama Arum. Arum nih orang miskin. Bisa sampai di sini aja serasa lagi mimpi.”
“Satu orang pun cowok gak ada yang suka sama kumu?” tanya Heri meyakinkan.
“Ada, sampai sekarang Arum masih sering komunikasi dengan dia. Dia teman Arum sejak Arum masih SD. Dia satu-satunya orang yang gak pernah ninggalin Arum walaupun seperti apa pun kondisi arum.”
__ADS_1
“Pasti kamu suka dia kan Rum.” Tembak heri.
Arum hanya tersenyum.
“Kalau sekarang ada yang suka sama kamu. Apa kamu mau menerimanya Rum?” pancing Heri.
“Kan Arum dah bilang gak mau pacaran.”
Mendengar cerita Arum, Yuda tampak sangat marah. Wajahnya tampak merah menahan cemburu. Tak terasa sudah jam 12 malam
“Ak. Arum ke kamar ya.”
“Aak antar”
Yuda dan Rizaldi mengantarkan Tiar dan Arum. Tiar dan Rizaldi berjalan di depan mereka. Rizal berjalan sambil mencium-cium punggung tangan Tiar.
“Ak,” sapa Arumi.
“Iya.”
“Aak jangan sedih gini dong ak. Arum jadi sedih lihatnya.” Kata Arum sambil memandang wajah Yuda.
“Gak mungkin aak gak sedih Rum, kan kamu mau pergi.” Balas Yuda. “Udah malam. Dah... masuk langsung tidur ya.”
“Iya rum.” Rum tunggu. “Aak akan selalu sayang dan cinta Arum. Tolong jangan Arum lupakan itu.” Kata Yuda tiba-tiba kepada Arum sambil memandangnya dengan wajah serius.
Wajah arum tampak memerah, mendengar pertanyaan cinta Yuda.
“Iya ak. Makasih.” Arum masuk ke dalam kamar. Dengan detak jantungnya tidak menentu.
******
Jam 9 pagi Anita sudah bersiap untuk ke bandara bersama dengan Jhoni. Pesawat pribadi mereka sudah menunggu. Jam 9 30 pesawat sudah berangkat. Herman mengantarkan bos mereka ke bandara, sedangkan pak Diman sudah berangkat ke Jogja subuh tadi dengan mengendarai mobil dan menunggu kedatangan bos nya di bandara. Anita sudah tidak sabar untuk sampai di Jogja menjemput Arum. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana senangnya Arum saat di jemput. Dia sangat merindukan gadis cantik itu.
********
Jam 10, Anita sudah sampai di sekolah Arum. Anita masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Pak Heru sudah menunggu kedatanga, pemilik central grup.
“Selamat datang pak Jhoni dan ibuk Anita.” Sapa akrab Heru ke pada pasangan suami istri tersebut.
“Baik pak. Bagaimana kabar gadis tersebut. Apa dia sudah menyelesaikan semua kelasnya?” tanya Jhoni.
__ADS_1
“Sudah pak. Dia gadis yang sangat pintar dan cepat tanggap. Semua yang di perolehnya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan.”
“Hari ini kami mau menjemputnya.” Kata Jhoni.
“Baik pak. Saya akan memangilnya.” Jawab Heru.
Arum yang sedang belajar di kelas kepribadian di panggil oleh seorang TU sekolah.
“Permisi miss Yolanda. Saya memanggil siswa yang bernama Arumi Nanadia. Di tunggu ke kantor.”
“Oh baiklah.” Miss Yolanda mendatangi Arum. Dia sedikit berbisik di telinganya. Arum berdiri dari duduknya.
“Baik miss.”
Arum pergi meninggalkan kelasnya. Mata teman satu kelas memperhatikannya. Mereka berfikir positif. Karena pendidikan Arum akan segera berakhir. Jadi banyak yang harus diselesaikan. Arum melangkahkan kakinya mengikuti TU sekolah yang memanggilnya. Begitu sampai di ruangan kepala sekolah Arum terkejut. Saat melihat Anita dan Jhoni duduk di depan kepala sekolah.
“Ibuk?” Arum langsung menyalami bosnya, dengan menempelkan punggung tangan Anita kening. Anita langsung memeluknya. Mereka tampak seperti pertemuan ibu dan anak.
“Bapak.” Arum menyalami Jhoni dengan menempatkan punggung tangan Jhoni ke keningnya. Arum mengganggap kalau Jhoni seperti ayahnya sendiri.
“Ibuk, Bapak apa kabar?”
“Baik.”
“Kamu apa kabar di sini.” Tanya Anita.
“Baik buk. Ibuk cantik sekali berhijab.”
“Iya nih Habibi yang minta.” Anita yang biasanya tidak berhijab dan kini telah memakai hijab setelah Habibi memintanya.
“Tapi ibuk tampak cantik sekali.”
“Ah kamu bisa aja. Kamu kelihatannya makin gemuk selama di sini.” Anita memperhatikan Arumi. Tampak pipinya yang semakin berisi dan cabi. Membuat orang merasa gemes dibuatnya. Anita mencubit pipi itu dengan gemasnya.
“Iya buk. Berat badan Arum naik 2 kg. Arum latihan sampai jam 11 malam. Makanya lapar. Jadi makan lagi.”
“Tapi kamu makin tambah cantik.” Puji Anita.
“Ibuk ke sini ngapain?”
“Jemput kamu.”
__ADS_1
“Kenapa gak pak Diman aja buk. Ibukkan jadi capek.” Kata Arumi.
“Pak Diman juga jemput kamu. Ibu juga sekaligus mau jalan-jalan. Sudah lama gak ke Jogja.” Balas Anita menjelaskan.