
Habibi mengantar Arum sampai di depan pintu rumah.
“Mas langsung pulang ya dek.”
“Iya mas. Hati-hati.”
Arum berdiri di teras, melihat Habibi masuk ke dalam mobil hingga mobil bergerak dan menghilang dari pandangan nya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”
Arum menyalami tangan ibunya.
“Bu, Arum mau mandi bentar. Tadi Ardi nelpon. Katanya mau ngantar kartu peserta ujian Arum.”
“Kenapa Ardi yang ngantar?”
“Kemarin Arum login gak bisa masuk. Jadi Ardi yang daftarkan punya Arum.”
“Oh gitu. Ya udah mandi sana.” Kata ibunya.
“Nanti panggil Arum ya bu. Kalau Ardi udah datang.”
“Iya.” Balas ibu.
Arum naik ke kamarnya. Ia mengambil baju dan handuk yang berwarna biru lalu masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama Arum menyiram tubuhnya dengan air shower. Akhirnya menyudahi mandinya. Arum memakai piyama berwarna toska dan memakai jilbab. Ia duduk di atas tempat tidur, sambil membuka buka soal tes SPMBnya.
*******
Setelah melewati pos security, Ardi berada di pagar tinggi rumah Arum. Security yang berjaga, sudah cukup kenal dengan Ardi sehingga langsung membuka pagar tersebut. Tidak banyak tamu Arum yang datang karena itu security jadi begitu mengenal setiap tamu yang datang. Ardi yang membuka jendela mobilnya.
“Terimakasih kasih mas.” dengan senyum terlihat di wajahnya.
“Iya mas Ardi.”
Ardi sampai di rumah Arumi setelah sholat maghrib. Ardi memarkirkan mobilnya di parkiran rumah Arum dan memecet bel. Seorang art membukakan pintu.
“Eh mas Ardi.”
“Mbak Keke masih ingat sama saya?”
“Masih dong mas. Cowok ganteng seperti mas Ardi, sulit untuk di lupakan.” Sambil senyum-senyum malu.
Keke seorang art di rumah Arum. Wanita yang berusia di atas 30 tersebut belum menikah. Menurut kisahnya, Mbak Keke pernah ditinggal kekasih disaat hari akad nikah. Setelah itu, Keke sudah tidak pernah berhubungan dengan laki-laki
Ardi tertawa. “Mbak keke bisa aja.”
__ADS_1
“Silahkan masuk mas. Mau di buat minum apa mas.” Art tersebut bertanya dengan sopannya.
“Terserah aja mbak Keke. Yang penting manis, jangan pedas.”
“Mas Ardi bisa saja.” Terlihat senyum mengembang di bibir wanita tersebut.
Siti datang dari belakang. “Nak Ardi.”
“Iya buk.”
Siti berjalan mendekat kearah Ardi. Ardi berdiri dari duduknya. Ia menyalami tangan wanita paruh baya tersebut.
“Ibuk sehat?”
“Alhamdulillah sehat nak. Nak Ardi apa kabar? Gimana kuliahnya?”
“Alhamdulillah baik buk. Kuliah juga baik.”
“Tadi gitu pulang, Arum langsung naik ke atas. Mandi tapi sekarang mungkin sudah siap.” Jelas ibu Arumi.
“Iya gak apa buk. Azzam dan Aisah mana buk?”
“Mereka di mesjid nak. Sholat dan ngaji.”
Ardi menganggukkan kepalanya. Ardi melihat foto yang di pajang dengan pigura besar. Foto seorang pria berjas putih dokter. Berdiri dengan tangan dilipat di dadanya. Postur tubuh yang tinggi, badan yang tegap, kulit putih dan rambut belah tengah lurus. Kalau di lihat seperti mirip Oki Alexander. Artis jadul dalam film Catatan Si Boy. Foto yang sudah di diedit oleh seorang editor foto dan di cetak dengan ukuran yang besar.
“Arum mirip ayahnya ya buk.”
Mbak keke meletakkan 2 gelas jus jeruk di atas meja. “Di minum mas, ibuk.”
“Makasih ya Ke. Ke, tolong panggil Arum di atas ya.”
“Iya buk.” Mbak keke melangkah kan kakinya menuju ke lantai atas.
“Jadi ternyata bos Arum, sahabat ayah Arum ya buk.”
“Iya nak.”
“Saya kaget juga, waktu dengar cerita Arum. Saya juga gak nyangka ternyata kisah hidup almarhum om Mardi sangat tragis.”
“Iya nak. Seperti itulah takdir. Kita tidak tau seperti apa takdir kita. Takdir kita bahkan sudah di tentukan sebelum kita dilahirkan.”
Ardi mengangguk kan kepala.
“Ardi,” Arum yang datang dari belakang. Membuat Ardi mendongakkan kepalanya ke arah belakang.
“Udah lama?” tanya Arumi lagi.
__ADS_1
“Belum. Minuman nya aja belum di minum.” Jelasnya
Arum senyum. “Ya udah minum. Sepertinya kamu haus.” Balas Arum
“Bismillahirrahmanirrahim.” Ardi meminum jus yang di mejanya.
“Non Arum mau mbak buat minum apa?”
“Teh tarik mbak.”
“Oke non.”
Ardi mengeluarkan kertas dari dalam tas. “Ini kartu ujian kamu.”
Arum mengambil kartu ujian yang sudah di prin Ardi. Ia melihat jadwal tes tersebut dan lokasi tesnya.
“Ibu ke belakang ya nak. Oh iya, kamu makan malam di sini ya.”
“Iya buk. Boleh, kalau gak merepotkan.”
Siti tertawa. “Kamu ini, seperti sama orang lain aja.”
“Gak buk. Cuman bercanda.” Balas Ardi.
“Kamu ini nak.” Siti berjalan ke belakang.
“Kamis depan Di. Ini lokasinya?”
“Iya, kamis depan. Nanti aku antarin kamu lihat lokasi dan ngantarin kamu pergi tesnya.”
“Apa aku gak repotin kamu?”
“Gak, kebetulan kami libur.”
“Makasih ya Di. Ini berapa uang daftarnya?”
“Udah aku bayarin.”
“Makasih ya Di.” Dengan melihat kan senyum termanisnya memperlihatkan gigi putihnya.
“Ingat, kamu harus lulus.”
“Oke, sipppp do’ain ya.”
“Pasti.”
“Non Arum, mas Ardi, makan malamnya sudah siap. Ibuk sudah nunggu di ruang makan.”
__ADS_1
“Iya mbak keke. Makasih ya.” Jawab Arumi.
Ardi dan Arum melangkah keruang makan.