Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 107


__ADS_3

“Gitu ya jadi orang kaya. Untuk bayar aja rebutan,” celetuk Doni. Ari menganggukkan kepalanya seakan dia setuju akan perkata sahabatnya.


Mereka melihat Ardi dan Arumi yang berjalan menuju kasir. Gadis yang ada di depannya, tampak hanya menunduk.


“Namanya siapa dek?” Tanya Doni.


“Naura bang. Panggilan Ara.”


“Nama Abang Doni dek.”


“Udah tahu.” Jawab Naura singkat.


“Tau dari mana dek?”


“Itu blazer Abang ada namanya.” Namun gadis itu tetap tidak melihat lawan bicaranya. Ia hanya menundukkan kepalanya.


“Kalau Abang dek?


“Ari.” Jawab Naura.


“Kamu hebat ya dek. Walaupun gak lihat kita tapi tau nama kita. Menurut adek, Abang ganteng gak dek.” Doni yang berusaha mengoda gadis yang tampak sangat lugu tersebut.


“Insyaallah,” jawab gadis tersebut.


“Kok insyaallah dek?”


“Wajah ganteng itu bonus, yang terpenting ahlak.” Naura menjawab dengan suara yang sangat lembut.


Ari Tampak sedang menahan ketawanya saat di lihat nya wajah sahabatnya. Doni masih belum mau menyerah. Berusaha supaya gadis di depannya mau mengangkat kepalanya. Naura hanya diam.


“Umurnya berapa dek.”


“19 tahun.”


“Ya Allah, Abang kirain 15 tahun.”


Naura mengangkat kepalanya beberapa detik dan kembali menunduk.


“Kalau naik angkot, ibu yang di dalam angkot suka ngirain Ara anak SMP.” Balas Naura.


Naura gadis yang bertubuh mungil, kulit putih mata besar hidung mancung, bulu mata lentik. Wajahnya Tampak sangat imut-imut dan baby face. Pipinya yang chubby.


“Udah lama kenal Arum dek?” Ari memulai pertanyaan.


“Baru ketemu tadi.”


Obrolan mereka terhenti saat melihat Ardi dan Arum yang mendekat ke meja tersebut.

__ADS_1


“Kalian mau tinggal di sini? Aku mau ke kampus.” Ardi berjalan meninggalkan teman-temannya.


“Tunggu bro.”


Kedua pria tersebut berlari mengejar Ardi. Arum dan Naura berjalan dengan santainya di belakang mereka.


“Arum, makasih ya traktirannya.”


“Iya.” Balas Arumi.


********


Hari yg melelahkan sudah terlewati. Mendengarkan penjelasan yang di sampaikan Dekan Fakultas, Kajur, Ketua Prodi dan para dosen. Berbagai arahan di dengar dengan seksama. Mulai dari kontrak perkuliahan, sistem kuliah, pengambilan mata kuliah, cara membuka portal online untuk mengisi KRS, apa itu PA yang membuat Arum semakin paham bahwa kuliah itu tidak seenak film FTV.


Arum keluar dari ruangan dengan wajah yang melelahkan. Ia berjalan bersama dengan Naura. Arum merasa nyaman dengan teman yang baru di kenalnya. Setelah bercerita lumayan banyak. Arum tahu bahwa Ara, tamatan pondok pesantren ternama di Jakarta dan menamatkan SMA nya di salah satu MAN Negeri di Jakarta. Ara Tampak sangat sederhana.


“Ra, bentar ya aku mau nelpon dulu.”


“Iya Rum.”


Arum sedikit menjauh dari Ara. Ia menghubungi Habibi.


“Hallo Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam. Mas lagi di mana?”


“Belum pulang?” tanya Arumi.


“Belum. Masih banyak kerjaan.”


“Arum sudah pulang. Arum langsung ke kantor ya.”


“Iya dek. Mas tunggu.”


“Ya udah Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Mereka kembali berjalan bersama.


“Kamu pulang pakai apa?” tanya Arumi.


“Pakai busway. Nanti di simpang perumahan ayah nunggu.”


Setelah bertanya alamat rumah Ara, akhirnya Arum minta maaf karena mereka beda arah.


Mereka berpisah di parkiran.

__ADS_1


*********


Arum masuk ke dalam ruangan Habibi. Tampak pria tersebut sedang sibuk dengan monitor komputer di depannya. Habibi mengangkat kepala saat di lihatnya gadis yang tidak di lihatnya dari pagi itu datang. Jantungnya berdetak dengan cepat. Baru beberapa jam gadis itu tidak di sampingnya, ia sudah merasakan rindu yang menggelora.


“Mas, sibuk?”


“Iya lumayan.”


“Apa yang bisa Arum bantu?”


“Buatin kopi.”


“Iya.”


Sasa sudah tidak ada di mejanya. Para karyawan sudah pulang hanya beberapa ruangan yang tampak masih ada penghuni. Ruangan-ruangan yang pemiliknya masih sibuk menyelesaikan pekerjaan yang diwajibkan untuk selesai besok. Saat rapat direksi.


Saat Arum hendak keluar, ia bertemu dengan Rasid yang masuk ke ruang bos nya itu.


“Mas Rasid belum pulang?”


“Belum.”


“Arum turun dulu. Mau buat kopi.”


Rasid mengangguk kepalanya.


Arum kembali dengan membawa 2 cangkir kopi di Napan. Ia meletakkan kopi tersebut di depan pria yang duduk berhadapan membahas pekerjaan.


“Ini untuk saya Rum?”


“Iya mas,” jawab Arum.


Ia duduk di kursi sopa putih tersebut sambil membuka-buka ponselnya. Gadis tersebut mulai bosan membuka IG nya. Ia mengeluarkan headset dari tasnya. Mendengarkan musik dari benda kecil tersebut. Arum terdidur di sofa.


Habibi melihat gadis itu tertidur di sofa. Ia memandang wajah yang selalu ia rindukan. Gadis yang tampak sangat menggemaskan saat tidur. Cukup lama ia memperhatikan setiap senti dari wajah gadis tersebut. Membuka jasnya dan menutup tubuh gadis tersebut, ia kembali dengan pekerjaannya.


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya Habibi saat Rasid masuk ke dalam ruangan.


“Bagaimana?”


“Sudah pak. Jumlah pekerja sudah di tambah dan di pastikan bagunan mall tersebut bisa selesai sebelum akhir bulan.”


“Saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun.”


“Iya pak. Saya paham. Saya permisi.”


Rasid meninggalkan ruangan tersebut dan matanya melihat sosok cantik yang tertidur berselimutkan jas.

__ADS_1


__ADS_2