
“Mana mungkin aku bisa menolak kamu.” Habibi berbicara dengan tatapan mata yang terlihat sendu. Arumi dudu di depan Habibi, saat mereka mulai menyantap hidangan yang tersedia di meja khusus. Arum duduk dengan sangat anggunnya meneguk jus yang tersedia. Dia makan dengan gaya yang sangat sopan dan anggun. Habibi memandang Arumi yang tampak jauh berbeda, baik cara berbicara, berjalan, duduk dan cara dia menyantap makanan.
Begitu banyak yang tersimpan di dalam benak kepala Habibi, ingin tau seperti apa yang terjadi saat Arumi pergi sekitar 1 bulan lamanya.
“Apakah dia tidak pernah merindukan aku, saat berjumpa dengan ku, raut wajahnya terlihat sangat tenang. Seakan tidak ada yg terjadi.” Terlintas pertanya dalam pikiran Habibi saat ini. Matanya tidak pernah lepas dari tatapan melihat Arumi. Terlihat bahwa Habibi tak mampu untuk menutupi perasaannya yang saat ini tampak begitu bahagia.
“Hai..... Apa kabar cantik.” Seseorang duduk di kursi samping Arumi
“Hai.... Kabar baik dokter.”
Wahyudi langsung duduk di meja bersama dengan Habibi. Wahyudi, dokter keluarga Jhoni, yang menjabat sebagai wakil direktur di rumah sakit keluar Habibi dan sekaligus sahabat Habibi sejak kecil. Habibi mulai memperlihatkan tatapan tidak senangnya ketika melihat Wahyudi yang datang.
__ADS_1
“Maaf bro, gue telat. Selamat ya,” sambil memberikan tangannya ke arah Habibi.
Habibi menyambut tangan wahyudi. “Lu gak datang juga, bagi gua gak ngaruh.”
“Ya sepertinya lu dah balik nih.”
Arum tampak senyum melihat pertikaian dua orang yang ada di depannya.
“Alhamdulillah dok.”
“Saya harap kamu bisa betah jadi asisten pribadi dia.” Kata Wahyudi sambil mencibir kearah Habibi.
__ADS_1
“Insyaallah dok.”
Mereka makan bersama, dan sambil bercerita, karakter Wahyudi yang ramah dan cerita membuat mereka tertawa bersama-sama. Habibi mewarisi karakter seperti Jhoni. Mereka terlalu berfikir positif ke pada orang lain tanpa memikirkan orang tersebut berniat jahat dan sebagainya. Sifat mereka yang terlalu percaya dan banyak kasihan melihat orang lain.
Berbeda dengan Anita, walaupun terlihat sangat santai, namun Anita memiliki kejelian dalam menilai karakter orang lain. Rasa waspada yang tinggi dan tidak mudah memberikan kepercayaan kepada orang lain. Ia merupakan benteng pertahanan terhadap Jhoni yang sebenarnya memiliki banyak musuh pesaingnya. Habibi yang tidak pernah menerima di berikan seorang pengawal dan asisten pribadi, seakan yakin akan keselamatannya.
Yakin bahwa tidak mungkin ada orang yang berminat jahat kepadanya. Karena Habibi ingat bahwa dirinya tidak punya musuh dan ramah kepada semua. Hal ini membuat Anita frustasi, apa lagi saat dia melihat putra semata wayangnya yang memang sengaja untuk di bunuh.
Sebenarnya Anita kurang yakin untuk menjadi Arumi asisten pribadi Habibi, mengingat gadis tersebut tidak memiliki pengalaman, dan masih sangat muda. Mana mungkin Arumi bisa menjadi asisten pribadi dan sekaligus orang yang bertanggung jawab penuh terhadap Habibi.
Begitu ingat bahwa dia bisa memasukkan Arumi ke sekolah bodyguard dengan memilih keahlian khusus. Sudah pasti Arumi bisa menjadi asisten terbaik. Mengingat ilmu bela diri gadis tersebut tidak bisa di anggap remeh. Karena alasan itu maka Arumi secepat kilat langsung di kirim ke sekolah bodyguard. Anita takut, apa bila menunggu lama, bisa-bisa Habibi akan menolak niat Anita.
__ADS_1