Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 64


__ADS_3

Habibi tampak terlihat lebih santai dari pada hari- hari kemarin.


“Arum, terimakasih ya kamu sudah menyelamatkan papi.”


“Iya mas,” mungkin karena Arum selalu berada di samping Habibi, entah mengapa Arumi merasa ada yang berbeda di hatinya, dia merasa lebih nyaman saat di dekat Habibi. Habibi yang terlihat tenang, namun ramah. Dengan tutur kata yang sopan membuat Arumi menyukainya.


“Kamu punya senjata api ?” Habibi yang tidak pernah tau tentang senjata api yang dimiliki oleh Arumi.


“Iya mas, Arum punya izin dalam kepemilikan senjata api secara legal setelah mendapatkan pelatihan menembak saat masa pendidikan. Untuk mendapatkan izin memiliki senjata api, Arum melewati serangkaian ujian dan semua ujian tersebut lebih mengarah kejiwaan, tingkat emosional, dan kepribadian.”


“Arum.”


“Iya mas.”


“Apa mas boleh nambah kerjaan kamu.”


“Boleh mas, dengan senang hati.” Walaupun gak tau pekerjaan apa yang di maksud Habibi, tapi sudah pasti semua kerjaan yang di berikan Habibi pasti sesuai dengan kapasitas Arumi.


“Mas mau kamu jadi guru mas.”


Mendengar apa yang di sampaikan Habibi, membuat Arum terkejut dan matanya langsung melotot dengan bulat sempurna. “Maksud mas apa?”


“Iya aku mau jadi murid kamu. Bukankah kamu ahlih bela diri? Mas mohon, terimalah mas jadi murid.” Sambil merapatkan kedua tangannya dengan gaya memohon.


Arum tersenyum bahkan tertawa saat dia mendengar permohonan Habibi.


“Boleh.”


“Jadi kamu mau ngajarin mas?”


“Mau mas. Tapi bela dirinya lebih mengarah boxing kick. Yang mana yang akan di latih kekuatan tangan dan kaki.”


“Sepertinya itu sangat menarik.”


Kalau bela diri seperti ini, kita tidak memiliki tingkatan hanya di perlukan latihan yang sering.


Mas siapkan ring tinju serta perlengkapan lainnya nya. Nanti kalau sudah siap kita bisa mulai


Oke. Siiiipppp


atur aja bos sambil senyum.


Kita siang ini makan di luar ya .


Boleh.


Mereka bercerita berdua. Dengan di selingi dengan tawa yg menghiasa bibir mereka.


Habibi merasa sangat senang berada dekat dengan Arumi. Gadis kecil yg terlihat sangat mandiri.


******


“Hai Sasa.” Sapa dokter Wahyudi yang datang ke kantor Habibi.


“Hai juga dokter.”

__ADS_1


“Kamu cantik sekali hari ini. Setiap kali saya lihat kamu, kamu sepertinya tambah cantik.” Akhirnya dokter Wahyudi yang jomblo mulai melakukan gombalannya. Ya selalu ngaku jomblo tetapi pacar di mana-mana.


“Dokter bisa aja.” Sambil tersenyum malu. Sasa yang terlihat cantik dengan lipstik yang merah, sasa selalu menarik perhatian setiap orang yang melihat. Memiliki tubuh yang seksi dan menggoda.


“Sa, nanti jam makan siang udah ada janji?”


“Belum dok.”


“Mau temani saya makan siang?”


“Boleh dok,” menjawab dengan malu-malu.


“Bos kamu ada?”


“Ada dok.”


“Kasih tau dong, sama bos kamu kalau ada aku.”


“Baik dok.”


Sasa berjalan ke ruang Habibi.


“Permisi pak, di luar ada dokter Wahyudi.” Kata Sasa kepada Habibi.


“Suruh masuk.” Jawab Habibi.


“Baik pak.”


Wahjudi berjalan menuju ruang Habibi, kemudian membuka pintu. Dilihatnya ada Arumi di dalam.


“Hai Arum. Apa kabar?”


“Iya rum,” balas Habibi dan Wahyudi.


Arum melangkah ke luar. Langkah Arum terhenti saat berada di depan meja Sasa. Ya, dari pada keruangannya, sepertinya lebih asyik kalau ngobrol sama mbak Sasa. Bisiknya dalam hati.


“Hai mbak sasa.”


“Hai juga Rum.”


“Mbak sendiri?”


“Iya. Rum”


“Mau Arum temani?”


“Boleh.” Jawab Sasa.


Arum duduk di samping Sasa. “Mbak Sasa cantik sekali.”


“Makasih Rum.”


“Iya mbak sasa cantik sekali. Pantas aja jadi pusat perhatian di kantor ini.” Puji Arum dengan polosnya.


“Kamu gak ada yg lirik, karena orang yang di kantor ini sudah yakin, kalau dia pasti tidak bisa menang lawan pak Habibi.” Jawab Sasa enteng.

__ADS_1


Arum langsung mencubit bahu sasa. “Mbak sasa, jangan gosip.”


“Siapa yang gosip. Seisi kantor sudah tau.”


“Tau apa mbak?”


“Tu,” sambil menoleh ke ruang Habibi.


“Mbak sasa jangan gitu. Arum belum ada niat untuk nikah muda.” Rengek Arumi kepada Sasa.


“Loh, pacaran aja, kenapa buru-buru nikah?”


“Arum gak mau pacaran mbak. Arum maunya langsung nikah dan pacarannya nyusul.” Sambil senyum.


“Salut lihat kamu. Jarang ada cewek seperti itu. Tapi mbak tadi benaran salut lihat kamu Rum. Kamu benar-benar hebat. Pantas aja ibu Anita memilih kamu untuk jadi asisten pribadi pak Habibi.”


“Mbak jangan berlebihan.”


“Berlebihan gimana sih Rum. Mbak sampai nonton cctv di kantor ini berulang ulang kali Rum. Sepertinya mbak sudah menjadi pengemar kamu.” Kata Sasa sambil menunjukkan rekaman cctv di laptopnya.


“Mbak Sasa bisa aja.”


“Kalau kamu gak percaya, ini videonya ada juga di hp mbak.”


Sedang asyik-asiknya berbicara, tiba-tiba pintu di ruangan Habibi terbuka. Arum dan Sasa dengan spontannya langsung berdiri. Ternyata Wahyudi dan Habibi keluar dari ruangan itu. Habibi berjalan mendekati meja Sasa. “Rum, udah mau jam makan siang kita makan siang di luar aja ya.”


“Iya pak,” balas Arum.


“Sa, ayo.” Wahyudi memandang ke arah Sasa.


“Ke mana dok.” Sasa tampak sangat gugup saat melihat Habibi.


“Ya makanlah Sa. Masak bos kamu aja yang makan kita engak.”


“Tapi dok.”


“Udah ayo,” Wahyudi langsung memotong kalimat Sasa. Dengan percaya dirinya langsung menarik tangan Sasa. Membuat Sasa harus mengikuti Wahyudi.


“Bi, aku numpang mobil kamu. Aku malas nyupir. Jam makan siang macet.”


Habibi menghembuskan nafas nya secara kasar sambil menjawa. “Iya.” Habibi tampak kesal karena dia niat makan berdua dengan Arumi.


Saat menuju parkiran Arumi memencet remote mobil.


“Rum, saya aja yang nyupir.” Kata Habibi.


“Gak usah pak Arum aja.”


Arum langsung duduk di kursi kemudi. Dengan bingung melihat kondisi seperti ini, Sasa mengambil inisiatif duduk di sebelah Arumi. Wahyudi mau gak mau harus duduk di kursi belakang bersama Habibi. Wahyudi tampak sangat kesal sambil berbicara “kalau tau gini, aku mending bawa mobil sendiri,” berbicara dengan Habibi dengan suara yang sangat kecil agar tidak terdengar ke depan.


“Lu, juga. Ngapain nyebeng mobil gua.” Balas Habibi tidak mau kalah.


“Kita makan di mana pak?” Arumi yang tidak tau tempat tujuan mulai bertanya dengan Habibi.


“Restoran citra rasa bu Dewi.” Jawab Habibi. Restoran letaknya tidak terlalu jauh dari kantor.

__ADS_1


“Baik pak.” Arum dan sasa sama-sama diam duduk di depan.


Arum merasa ada yang lain melihat kondisi yang sangat sepi. Akhirnya Arum menghidupkan mp3 di mobil. Tak lama mobil sambil di restoran besar tersebut. Arum berjalan berdua dengan Sasa tampak begitu akrab. Sedangkan Wahyudi dan Habibi yang jalan di belakang mereka seperti orang yang sedang bertengkar.


__ADS_2