
“Kalau begitu besok kita bawa Rangga kesini, tapi sebelum itu mas ingin bertemu dengan dia secara langsung,” ucapnya.
“Arum siapkan barang Arum dulu Mas,” ucap Arumi.
“Ya sayang,” jawab Habibi yang mencium kening istrinya. Ia tahu istrinya sangat cemas sekarang.
Habibi memandang wajah istrinya dan mengusap mata istrinya yang masih basah. "Adek lagi hamil, nggak boleh seperti ini, kasihan si kembar." Pria itu mengusap pipi istrinya.
Arum nggak mau Mas kalau Rangga diambilnya." Arumi kembali menangis.
“Mas yakin kalau dia nggak bakalan mengambil Rangga. Rangga itu punya kita,” ucap Habibi.
“Arum nggak bisa pisah sama Rangga. Sejak Rangga bayi, Arum sudah merawatnya. Arum yang memperhatikannya, Arum yang merawatnya." Arumi menangis dengan terisak.
“Bahkan saat Rangga sedang sakit, Rangga nggak mau pisah dari Arum. Sewaktu Rangga demam setelah imunisasi, Arum gak tidur jagain Rangga." Arumi kembali mengingat bagaimana dirinya yang sudah begitu sangat dekat dengan Rangga sejak anak laki-laki itu di tinggalkan Ibunya.
“Iya mas tahu sayang, tapi adek nggak boleh kayak gini. Adek Sekarang lagi hamil sayang." Habibi berusaha menenangkan istrinya.
“Mas, apa Arum salah kalau Arum egois?” tanya Arumi yang memandang suaminya.
Habibie menggelengkan kepalanya, “nggak sayang. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama seperti kita. Mas juga nggak akan mau kalau seandainya ada orang yang mau mengambilnya, karena dia sudah besar sama kita, kita yang mendidiknya,” jelas Habibi.
Arum menganggukkan kepalanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Jangan gini lagi ya sayang. Ingat ada si kembar, kasihan sama si kembar. Mas gak mau terjadi apa-apa sama adek dan si kembar," pintanya. Apa yang didengarnya dari istrinya bangun kita sangat mengejutkan baginya, namun pria itu selalu bersikap setenang mungkin di depan istrinya.
“Iya Mas,” jawab Arum.
Habibi memegang tangan istrinya dan berjalan keluar dari ruangan Istrinya. Mereka berjalan menuju ke kamar perawatan Yuli.
Yuli yang duduk di tempat tidur memandang ke arah Arum dan juga Habibi. Dengan cepat ia mengusap air matanya ketika melihat pasangan suami istri tersebut.
“Pak, dokter Arumi," sapa Yuli.
Habibi sdikit tersenyum memandang wanita tersebut. Habibi menarik dua kursi yang ada di dalam kamar itu. Ia duduk di kursi bersama dengan istrinya.
"Saya sudah mendengar, istri saya mengatakan bahwa anda ibunya Rangga,” ucapnya.
Yuli menangis dan menganggukkan kepalanya. “Setelah ini saya akan kembali ke kampung saya. Saya memutuskan untuk mengurus masalah dengan suami saya melalui pihak keluarga saya. Saya tidak akan lagi datang ke sini. Saya hanya ingin satu kali saja bisa memeluk Rangga. Saya tidak akan mengatakan kepada Rangga apapun juga,” ucapnya yang sudah tidak mampu menahan suara tangisnya.
“Besok pagi saya akan membawa Rangga ke sini,” ucap Habibi.
Yulia tersenyum mendengar jawaban dari pria tersebut. “Terima kasih Pak Habibi. Terima kasih.” ucapnya yang menakupkan tangannya didepan dadanya.
“Besok disaat anda akan pergi meninggalkan rumah sakit ini, Saya ingin anda menandatangani surat perjanjian bahwa anda tidak akan datang ke sini dengan alasan apapun juga. Semua biaya pengobatan Anda di sini akan saya gratiskan. Saya akan memberikan Anda uang untuk Anda pergunakan membuat usaha di kampung anda nanti,” jelasnya.
__ADS_1
Yuli menggelengkan kepalanya, “tidak usah Pak, saya akan menandatangani surat itu, dan saya janji tidak akan datang lagi ke sini,” ucapnya.
“Anggap saja uang yang saya berikan merupakan bentuk bantuan saya untuk anda,” ucapnya.
Yuli hanya diam memandangnya. “Saya malu Pak,” jawabnya. “Saya sangat malu untuk mengambil bantuan dari bapak.”
“Tidak apa-apa asalkan Anda memang benar-benar tidak mengganggu Rangga. Jujur saja bila Rangga tahu siapa anda, Rangga pasti sangat sedih. Jadi biarkan Rangga bahagia bersama dengan kami. Bersama dengan kami, Rangga tidak pernah kekurangan kasih sayang,” jelas Habibi.
Yuli tidak mampu menahan tangisnya. Yuli menganggukkan kepalanya. “Saya tahu itu Pak,” ucapnya.
“Baiklah sepertinya tidak ada lagi yang harus saya bicarakan, kami permisi,” ucap Habibi.
Yuli menganggukkan kepalanya memandang suami-istri yang baru saja pergi meninggalkannya.
***
“Adek depan Rangga jangan sedih,” ucapnya Ketika istrinya masih menangis.
Arum Menganggukkan kepalanya.
Mereka turun dari mobil saat sampai di rumahnya. Arum memandang vira, Vino dan juga Rangga yang sedang bermain di halaman depan.
"Mimi pipi,” pekik Vira yang berlari mengejar Habibi.
"Vira main sama Vino nggak deket-deket kok pi,” ucapnya.
“Mami Ara mana,” tanya Habibi..
“Mami belum pulang pipi Habibi,” jawab Vino.
“Pantesan aja bisa main di sini,” ejek Habibi yang tersenyum memandang anak laki-laki yang berwajah tampan tersebut.
“Tadi saat Papi mau jemput Mami, aku minta sama Papi untuk main di sini sambil menunggu mereka pulang,” jelas Vino.
Habibi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Habibi menurunkan Vira dan menggendong Rangga. Matanya menatap anak laki-laki tersebut. Habibi mencium kening dan juga pipinya kiri dan juga kanan. Dirinya tidak berbicara apa-apa. Habibi hanya mencium pipi Rangga cukup Lama dan menurunkan anak tersebut. Habibi tidak tahu apakah tindakan yang dilakukannya sudah benar. Namun dia hanya ingin tetap menjadi pemilik anak tersebut.
Arum yang berdiri di sebelahnya, tidak tahan menahan air matanya agar tidak terjatuh. Arum pergi meninggalkan taman tersebut agar anak-anaknya tidak ada yang melihatnya menangis.
Habibi masuk ke dalam kamar. Ia memandang istrinya yang duduk di tempat tidur sambil menangis.
Habibi berjalan mendekati istrinya. Pria itu duduk di sebelah istrinya. "Jangan nangis lagi Mas bakalan urus semuanya. Adek harus percaya sama mas,”ucapnya.
Arumi memandang suaminya dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Mas Arum benar-benar enggak tenang,” ucapnya.
“Iya Mas tahu, tapi adek nggak boleh kayak gini. Ingat Sayang, adek lagi hamil," ucapnya yang mengusap perut istrinya. Habibi berusaha untuk menenangkan istrinya dan meminta agar Istrinya percaya kepadanya.
Arumi menganggukkan kepalanya. Sejak mengetahui bahwa Yuli adalah ibunya rangga, Arum merasa tidak tenang sama sekali, bahkan ia tidak makan sejak siang tadi.
"Udah makan belum,” tanya Habibi yang sedikit menarik hidung istrinya yang memerah karena menangis. Ia juga mengusap air mata istrinya.
“Belum Mas,” jawab Arumi.
“Sayang, mas janji bakalan selesaikan masalah Rangga dan nanti Rangga akan tetap sama kita. Adik nggak boleh kayak gini. Sekarang Adik wajib makan, kasihan si kembar udah lapar,” ucapnya.
Arum sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Arum percaya sama mas,” ucapnya yang tersenyum memandang suaminya.
“Wajib sayang, nggak boleh nggak percaya sama suami," ucapnya yang tersenyum dan mencium bibir istrinya.
“Iya Mas,” jawab Arum.
“Adek mau makan apa, biar mas minta bik Ani antarin ke kamar,” ucapnya.
“Arum pengen makan ketoprak Mas,” pintanya.
Habibi tersenyum memandang wajah istrinya, “Mas minta Aldo untuk beli sebentar,” ucapnya.
“Ketopraknya beli yang di luar dari perumahan kita, pas di depan ruko dekat Simpang,” pinta Arum.
“Bila di sana nggak buka dan nggak jual mau cari di mana,” tanya Habibi.
“Pasti jual Mas, Arum mau yang itu. Kalau enggak jual enggak usah beli, Arum nggak mau yang lain,” ucapnya.
Habibi tersenyum memandang wajah istrinya. “Kalau ibu hamil yang minta pasti wajib ada,” ucapnya yang mengusap kepala istrinya.
"Anak mas yang mau." Arumi berkilah.
“Iya ini si kembar sudah pintar minta,” ucap Habibi.
Arum tersenyum dan mengusap perutnya. “Mas Arum sudah lapar,” ucapnya yang baru merasakan perutnya terasa lapar.
“Bentar ya,” ucap Habibi yang mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Aldo. Habibi memberikan keterangan tempat membeli ketoprak sesuai permintaan istrinya.
“Tunggu sebentar ya, Aldo akan kembali secepatnya,” ucapnya setelah memutuskan sambungan telepon kepada pengawal pribadinya tersebut.
“Iya Mas, nanti mas yang suapin Arum ya,” ucapnya.
****
__ADS_1
“Ini permintaan