Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 143


__ADS_3

Habibi menawarkan kepada Androw, agar pengislamannya di mesjid keluarg nya, dan


Androw menyetujuinya. Ara mengangkat kepalanya dan memandang kearah sahabatnya yang berada disebelahnya.


“Ara mau ke kamar mandi ya.” Ucap gadis tersebut.


“Mau Arum temani?”


“Gak usah Ara sendiri aja.”


“O ya udah. Hati-hati ya.” Ucap Arum.


Androw memperhatikan percakapan dua gadis tersebut. Namun ia tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Ia melihat Ara yang berdiri dan pergi. Ia memandang punggung gadis tersebut sampai tak terlihat. Dadanya selalu berdebar-debar saat melihat gadis tersebut.


“Ara mau ke mana? Tanya Androw


“Mau ke kamar mandi.” Jawab gadis tersebut.


Androw memandang ke arah Arumi.


“Apa Ara pendiam?”


“Gak. Ara tu cerewet. Cerewet banget malah.” Ucap gadis tersebut sambil memasukkan bakso pedas ke dalam mulutnya.


“Tapi kenapa dia selalu diam saja bila bersama ku dan menundukkan kepalanya. Apa dia suka milihat lantai, tanah atau sepatunya.” Tanya pria bule tersebut.


Arum ketawa mendengar pertanyaan pria yang berada didepannya. “Ara itu memang gitu kalau jumpa laki-laki.”


“Kenapa seperti itu?”


“Iya Ara itu anak tamatan pondok pesantren. Perinspnya wanita seharusnya tidak seperti bulan yang setiap orang bisa melihatnya tanpa tertutupi apa pun, tapi wanita seharusnya menjadi seperti matahari yang membuat mata tertunduk sebelum melihatnya."


Androw diam sesaat ketika mendengar kan kata-kata Arum.


“Mata bisa membuat kita zinah mata. Maka dari itu, menundukkan kepala untuk tidak melihat lawan jenis, hal tersebut dilakukan untuk menghindari zina mata. Bukan tidak sopan karena tidak memandang lawan bicara kita.” Arum memberikan penjelasan yang sederhana kepada Androw.


“Apa memang seperti itu, anak pondok pesantren? Dan apa semua anak pondok pesantren seperti itu?”

__ADS_1


“Sekitar 80 % iya. Sebenarnya, hal tersebut bukan hanya untuk anak pondok saja. Untuk semua wanita muslimah. Agar mereka menjaga pandangannya. Laki-laki juga melakukan hal yang sama untuk menjaga pandangannya. Segala hal yang berupa nafsu, semua itu di mulai dari mata. Namun biasanya yang menerapk hal tersebut, mereka yang menamatkan sekolah pesantren. Karena mereka memang mempelajari ilmu agama secara keseluruhan dan mereka juga sangat memahami hadits-hadits dan memahami tafsir Alquran.”


“Arumi kenapa tidak?”


“Arum tamatan sekolah SMA biasa. Ilmu agama Arum gak setinggi dia. Ara itu didikan agamanya sangat tinggi. Ia sejak tamat sekolah dasar sudah mondok sampai tamat SMA. Abynya guru agama, sedangkan uminya guru tafis dan hadits. Makanya ia sangat muslimah.”


“Apa mungkin, aku manusia yang hina di beri jodoh yang begitu sempurna dan bersih.” Ucap Androw dalam hati sambil mengerutkan keningnya.


“Takut di tolak ya.” Ucap gadis tersebut, yang seakan ia tau akan kecemasan yang di pikirkan oleh pria bule tersebut.


“Iya. Aku takut dia menolak ku.” Ucap nya.


Arum tampak tersenyum. “Arum do’ain agar di terima Ara. Arum bakal bantu jadi mak comblangnya,” ucap gadis tersebut.


Ara masuk ke dalam kamar mandi. Telapak tangannya sudah dingin. Detak jantungnya yang berdegup sangat kuat. Membuat ia memilih untuk mengatur nafasnya. Agar ia tidak terlihat seperti orang yang sedang deg-degan. Ara mengusap wajahnya dan kemudian membasuhkan air dari keran tersebut kewajahnya agar ia tampak lebih segar.


Ara duduk di tempatnya semula. Ia hanya menundukkan wajahnya tanpa melihat pria yang sejak tadi memperhatikannya. Setelah menghabiskan makanan mereka memutuskan untuk pulang.


**********


Mereka masuk ke dalam super market. Semua mata pengunjung dan juga karyawan super market tersebut, tertuju kearah Androw. Naura tampak merenggut, saat pria tampan tersebut menjadi perhatian setiap wanita. Ia merasa betapa ia terlihat jelek saat berjalan dengan pria tersebut.


Ara melihat pria bule yang mendorong keranjang belanjanya. “Kenapa belanja banyak sekali?” Ucap Ara.


Androw tersenyum. “Iya, umi suka masak. Aku ingin meminta umi memasakkan aku spaghetti.”


Mata gadis tersebut terbuka lebar. “Belanja sebanyak ini untuk dibawa ke rumah Ara.” Tanya gadis itu lagi.


Androw tersenyum. “Tentu saja grill. Aku di sini hidup seorang diri. Mana mungkin aku membawa belanjaan sebanyak ini ke hotel ku.”


Naura kembali diam. Mereka berjalan menuju kasa. Tampak kasir cantik nan seksi tersebut, tersenyum mengoda saat melihat Androw. Naura menundukkan kepalanya dengan bibir mungilnya maju ke depan. Ia begitu kesal saat melihat kasir tersebut menyapa Androw dengan genitnya. Androw hanya sedikit menganggukkan kepalanya dan kemudian ia tidak memandang gadis kasir itu lagi. Ia lebih memilih memandang ke arah yang berbeda.


Naura memperhatikan sikap Androw yang tampak jauh berbeda. Biasanya ia akan sangat ramah bila berjumpa wanita. Namun kali ini, ia tampak menjaga pandangannya. Seorang karyawan mini market tersebut mengeluarkan isi keranjang tersebut satu persatu. Ara melebarkan matanya saat ia melihat di monitor. Belanja mereka yang mencapai 2 juta.


Androw dengan santai mengeluarkan kartu kredit black miliknya. Setelah selesai membayar, beberapa pekerja di supermarket tersebut mengangkatkan belanjanya ke mobil.


********

__ADS_1


“Hai grill. Jumat depan aku akan disunat.”


Ara menganggukkan kepalanya.


“Grill apakah ada kemungkinan itu mengalami kegagalan.”


“Kegagalan seperti apa.” Tanya gadis itu kemudian.


“Misalnya salah potong,” ucap pria tersebut.


Arah tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Androw. “Ada,” jawaban gadis tersebut.


Wajah pria tersebut tampak mulai memucat. “Mengapa bisa salah potong.”


“Biasanya pasien tersebut terlalu merasa ketakutan dan kemudian juga dia histeris sehingga dokter kehilangan konsentrasi dan malah bukannya membuang kulit atas itu malah memotong bagian tersebut.”


“Grill apakah kau menemani ku nanti disaat aku sunat.”


Ara kembali tertawa. Ia merasa geli sendiri mendengar pertanyaan Androw. “Bagaimana Ara bisa menemani mas sih.” Ucap gadis tersebut. “Lagi pula ini sunat bukannya melahirkan dan kita tidak muhrim.”


“Ini sungguh berat bagiku grill.”


“Tidak akan terjadi apa-apa tenang saja.”


“Grill, nanti disaat aku sudah menjadi seorang muslim kau menerima lamaranku kan?”


*************


lagi-lagi author lama up nya.


maaf ya reader.


🙏🙏🙏🙏🙏🙏


jangan lupa ya like, vole dan komen Nya.


😃😃😃

__ADS_1


author tunggu


__ADS_2